Kenapa harus berjuang “segitunya”? Kenapa harus kecewa “segitunya”? Kenapa bisa bahagia “segitunya?
Seperti biasa yang sudah sekian lamanya, ini bukan cerita tentang aku. Tapi tentang Nata de Coco di sebuah minimarket pada pukul 11 malam.
Aku tak pernah tau bagaimana penjualan minuman Nata de Coco (atau makanan? ah tapi karena ia diletakan di rak minuman maka sebaiknya ku sebut saja ia minuman) . Namun malam ini, saat ku sedang memilih kopi kaleng untuk menemani perjalanan, ku sempatkan mendengar ceritanya.
Ia bingung, ia tidak pernah merasa kecewa. Saat roti berkumis dan roti berwarna merah-biru menangis tersedu-sedu, ia hanya bisa mendengarkan tanpa bisa mengerti perasaan mereka.
Nata de Coco hanya jadi pendengar yang baik, ia hanya mendengar tanpa pernah mengerti.Â
Tanpa bisa memahami.Â
Tanpa pernah berhasil berempati.
.......
Roti-roti itu bercerita tentang perjuangan mereka. Diskon, buy 1 get 1, bahkan pindah ke depan meja kasir dan ditawarkan langsung ke calon pembeli.Â
Namun...
Selalu roti tawar satunya yang habis dibeli.
Nata de Coco hanya jadi pendengar yang baik. Karena ia tidak mengerti.
Kenapa harus berjuang segitunya?
Tidak pernah sekalipun terpikirkan oleh Nata de Coco untuk mendiskon dirinya...atau berpindah ke depan meja kasir? Sepertinya tidak juga.Â
.......
Roti itu kembali bercerita, usia emas mereka tidak lah lama. Lewat dari itu, tak akan ada yang mau membeli. Roti-roti itu menangis saat tau usia emas mereka hanya mereka habiskan untuk diam ditempat.Â
Kali ini, Nata de Coco sedikit mengerti. Usia emasnya pun hanya hitungan hari. Namun tetap saja, ia tidak bisa memahami.Â
Kenapa harus kecewa segitunya?
Apa yang salah dengan diam ditempat? Menunggu usia emas habis dan memasuki masa kadaluarsa dengan tenang rasanya cukup.
......
Mendengar ceritanya, kuputuskan untuk membeli temannya. tahukah kamu? betapa senangnya roti-roti itu?
Melihat itu, Nata de Coco pun tak bisa berempati.
Kenapa bisa senang “segitunya”?
Saat ku beli Nata de Coco itu...ia merasa biasa saja.
.......
Di perjalanan pulang. tiba-tiba sepertinya aku tahu jawabannya.
Nata de Coco, ia selalu berpikir dengan kelapa dingin.
Sementara roti-roti itu lahir dengan hembusan bread yang panas.
Iya kan?










