Suatu hari aku berdiskusi dengan temanku.
Kami membahas hal-hal seperti:
"Kenapa ya ada orang yang tadinya baik berubah tiba-tiba jadi ga baik atau kenapa ya bisa ada orang yang tega melakukan sesuatu yang jahat ke orang lain?"
"Sebenernya ketika orang melakukan hal buruk itu ia sadar nggak yah apa yang dia lakukan menyakiti orang lain?"
"Kalau misal ga sadar, kok bisa ya ada orang melakukan hal yang jelas-jelas ga baik tapi tetap melakukan tanpa menyesalinya."
Hingga kami berkesimpulan:
Ada ungkapan populer bahwa "orang jahat adalah orang baik yang tersakiti"
Tapi ternyata orang yang pada dasarnya ingin menjadi orang baik, ketika keburukan apapun menimpa tidak akan serta merta menjadikan ia berubah menjadi orang yang tidak baik.
Berarti kebaikan itu hanya akan bisa bertahan selama masih ada keinginan dalam diri bahwa "aku harus menjadi orang baik". Ya baik aja pokoknya.. Mau dibalas baik kek, mau dibalas jahat kek, mau dilupain kek, mau diakuin kebaikannya sama orang lain kek, ya ga peduli juga. Yang penting ia melakukan kebaikan murni karena ia ingin menjadi orang baik.
Nah supaya ada keinginan untuk menjadi orang baik, kita harus menemukan "strong why" nya yang bakal kita pegang teguh di sepanjang hidup kita.
Setelah itu aku masih memikirkan diskusi itu. Lalu bertanya pada diri, 'strong why berbuat baik itu harus sekuat apa ya biar ga gampang goyah'.
Kemudian aku menemukan salah satu alasan kita berbuat baik itu karena Allah yang menyuruh kita berbuat demikian. Kita berbuat baik ya karena setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan. Kita berbuat baik karena kita hamba dari Yang Maha Baik. Sebenernya alasan itu aja dah lebih dari cukup nggak sih (?)
Kemudian di lain hari aku menemukan ayat di Al Qur'an:
"Dia telah menurunkan air dari langit, lalu mengalirlah air itu di lembah-lembah sesuai dengan ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buih seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang hak dan batil. Buih akan hilang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di dalam bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan." QS. Ar Ra'd:17
Setelah bertadabbur tentang ayat tersebut aku belajar bahwa:
Kebaikan itu seperti air yang mengalir. Satu kebaikan yang dibagikan akan melahirkan kebaikan-kebaikan lainnya, seperti air yang akan terus mengalir melalui celah sesempit apapun. Allah menurunkan air dari langit, yang kemudian mengalir sesuai dengan kapasitas lembah-lembah. Ini mengajarkan bahwa setiap orang punya kapasitasnya sendiri dalam menerima ilmu, hidayah, dan kebaikan. Jadi jangan remehkan kesempatan untuk berbuat kebaikan sekecil apapun itu dan jangan ragu untuk berbagi kebaikan.
Keburukan itu seperti buih yang mengapung. Dalam derasnya aliran air, yang mencolok adalah buihnya padahal buih itu kosong dan tidak ada isinya. Sama seperti keburukan, yang terlihat "indah", terlihat "menarik" di mata manusia. Tapi buih itu cepat hilangnya, sama halnya dengan keburukan yang terlihat indah, itupun sifatnya hanyalah sementara. Jangan terkecoh dengan yang sementara.
Kebaikan dan keburukan itu pada dasarnya tidak bisa bersatu. Keburukan sewajarnya akan luruh dan kebaikan tidak akan pergi karena ia akan tertanam di dalam hati. Dan untuk mem-filter itu tuh ga mudah karena kita akan ditempa sedemikian rupa untuk menguji sejauh mana kita teguh berpegang pada kebaikan.
Masya Allah. Selamat berjuang menjadi orang baik ya. Please jangan lelah berbuat kebaikan. Minta terus pertolongan Allah. Allah pasti menolong kita.
Aku menemukan ayat ini ketika belajar tentang penambangan emas secara manual/tradisional karena sedang mempelajari tentang penambangan ilegal, dan ternyata cara menambang logam (emas) secara garis besar itu sama persis seperti yang diuraikan dalam ayat ini. Masya Allah malah dapet bonus belajar tentang konsep kebaikan.