Pernahkah kamu menyambut Ramadan dalam kesunyian?
Tak ramai oleh euforia yang kini lebih terasa sebagai repetisi tahunan nan simbolis. Ucapan yang sama, konten media sosial yang serupa, obrolan soal menu makanan berbuka, dan acara penyambutan yang lebih mirip upacara bendera.
Tak bising oleh ceramah kaku dan kering yang tidak membuat hati tersentuh apalagi jatuh cinta. Tak relevan, tak terdengar akrab dalam keseharian, dan tak melibatkan perasaan.
Tak penuh oleh agenda mendengarkan seminar yang narasumbernya gemar sekali berbicara. Seolah-olah makin banyak yang berbicara, pendengarnya akan makin paham (padahal makin tak paham).
Tak terkekang oleh berbagai target yang mengunggulkan kuantitas dibandingkan kualitas. Tentu alasannya karena lebih mudah mengukur kesalihan lewat angka daripada kualitas amal.
Hanya ada kamu dan Ramadan, berdua saja.
Mendalami dan mengalaminya dengan kaki dan tanganmu sendiri.
Menggali dan menemukan sendiri rasa yang tersembunyi.
Sebuah petualangan sunyi untuk mencintai Ramadan.
Sebuah perjalanan spiritual yang tak semua orang mengerti.
:)




















