Barangkali benar kata orang, aku terlalu idealis? Menjebakku dalam pikiran yang terus bertambah, penuh, masih enggan dikeluarkan. Kupikir masih perlu diolah. Nyatanya, menumpuk, tertimbun, gelap, sesak. Nyaris tak berguna.
styofa doing anything

★
DEAR READER
No title available
will byers stan first human second
Stranger Things
AnasAbdin
Three Goblin Art

Janaina Medeiros
NASA

JVL
h

oozey mess

No title available
I'd rather be in outer space 🛸
taylor price

No title available
Peter Solarz
Jules of Nature

Kaledo Art
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Russia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Chile
seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
@bilik-retorika
Barangkali benar kata orang, aku terlalu idealis? Menjebakku dalam pikiran yang terus bertambah, penuh, masih enggan dikeluarkan. Kupikir masih perlu diolah. Nyatanya, menumpuk, tertimbun, gelap, sesak. Nyaris tak berguna.
Belakangan ini, sepertinya aku kerap menulis tanpa nyawa
Kalimat demi kalimat yang sudah kususun indah dengan rasa dalam benak
Berubah hambar ketika kutuangkan menjadi tulisan
Selamat hari ibu
Kapan terakhir kali kamu menatap wajahnya?
Menikmati senyuman yang terlukis indah
Berbincang bersama dalam dekapannya
Kapan terakhir kali kamu mencecap masakannya?
Menu yang selalu menggunakan racikan cinta
Kapan terakhir kali kamu menelponnya?
Mendengarkan nasihat yang terkadang membosankan
Sadarkah?
Pertanyaan dari ibu yang selalu mengkhawatirkamu, mungkin seringkali membuatmu muak
Kamu merasa sudah dewasa dan tidak mau diperlakukan demikian
Masakan ibu yang menurutmu membosankan, telah diraciknya dengan cinta
Terkadang disertai air mata dan keringat, sementara itu ditahannya lapar
Di sisi lain, ada anak yang hanya bisa meratap
Kasih sayang yang kau anggap berlebihan itu, ternyata hanyalah angan bagi mereka
Bagi anak-anak yang "ibu" masih menjadi tanda tanya
Ada kalanya kesederhanaan milikmu adalah impian orang lain
Kita sering lupa bersyukur yah?
Cinta Dalam Ikhlas
(sebuah refleksi)
Obrolan setelah nonton
🌻 Menurutmu, apa bagian terberat dari melepaskan?
🌼 Membiasakan diri tanpanya
🌻 Setuju, aku sudah melewatinya
Berat, tapi bukan berarti tak bisa. Bukankah sebelumnya kita juga sudah menjalani hari-hari kita dengan baik tanpanya?
Mungkin kehadirannya telah memberikan warna baru dalam hidup kita. Apakah warna itu akan memudar setelah kepergiannya?
Kita jaga terus ya warna itu. Kita lanjutkan mewarnai hidup dengan orang-orang yang kita temui di kemudian hari. Tugas dia sudah selesai untuk mewarnai hidup kita di masa itu. Selanjutnya, menjadi tugas kita untuk mewarnai bagian-bagian yang masih kosong.
"Aku tidak meninggalkan diriku sendiri Justru kini aku lebih sering memeluknya"
Benarkah? Dalam hari ini saja, sudah berapa kali kamu memberinya penghargaan? Apakah lebih sering dibandingkan kamu menyalahkannya?
Seberapa yakin kamu pada kemampuannya meraih mimpi-mimpi yang telah ia buat? Bagaimana kamu memandangnya, ketika ia mendapatkan kegagalan?
Hai, apa kabar? Senang sekali akhirnya melihatmu kembali Lihatlah, sudah seberapa jauh kamu melangkah Apakah kamu senang? Sudahkah bisa menikmatinya?
Akankah kami kembali merangkulku 'tuk temani perjalananmu? Atau kini lebih suka sendirian?
Aku melihatmu mencari banyak hal baru Itu bagus Sayangnya, kamu malah meninggalkan dirimu sendiri
Kau bahkan sangat jarang mengunjungiku? Membagikan kisah yang seharusnya 'kan selalu bisa kau baca ulang Baik-baik ya di sana
Selamat malam, memasuki waktunya overthinking
Ucapan selamat beristirahat menyapa telingamu
Sedang berbagai tanya telah lebih cepat menerobos masuk
Bagaimana perasaamu melihat teman-teman yang lain?
Tetap berjalan dan tersenyum ya, kamu sudah berusaha melakukan yang terbaik
Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, hasil akhirnya biar ditentukan oleh-Nya
Kita tidak bisa memaksa semua orang menyukai kita. Tidak bisa memuaskan seluruh
Gagal lagi, gapapa
Alhamdulillah
Aku sudah melewati sekian banyak kegagalan
Kali ini, gagal di harapan terbesar
Sangat sakit, tapi cukup sebentar saja
Allah masih ingin aku lebih kuat
Banyak hal lain yang bisa kucoba
Yang harus kuperjuangkan
Di setiap kegagalan yang kuhadapi
Harus menjadikanku lebih kuat dari sebelumnya
Berharap boleh, tapi sekadarnya saja
Sedangkan tawakal memang kewajiban
Apa kabar diri?
Hei, sebenarnya apa maumu? Apa yang sudah kamu lakukan sejauh ini? Tidakkah semakin jauh dari inginmu? Sudahkah sesuai dengan aturan-Nya? Bahagiakah kamu? Tenang kah hatimu?
Kapan terakhir kali kamu khusyuk dalam sholat? Kapan terakhir kali lantunan ayat suci dari bibirmu turut menggetarkan hati? Kapan terakhir kali kamu merasa buka puasa menjadi suatu kenikmatan?
Bagaimana perasaanmu saat ini? Apa yang kamu pikirkan dan akan lakukan?
Ayo kembali, kita kejar ridho-Nya
Aku lelah, wajar kan? Adakah yang bersedia mendengarkanku? Menemaniku melepas resah yang kian subur Aku lelah Ingin bercerita, ingin didengar Abaikan saja kata-kata yang tak karuan ini Aku sedang berusaha menguatkan diri Meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja Aku bisa, meski tak ada kamu yang mendengar ceritaku Pun tak ada yang lain Biarlah cerita ini kusimpan Hei, tapi ini menyesakkan Bagaimana?
Semakin kamu ingin melupakan, besar kemungkinan kamu akan semakin teringat.
Semakin ingin kamu menjauh, hatimu justru ingin mendekat. Tak siap kehilangan.
Semakin kamu berpura-pura, semakin jelas kenyataan di hadapanmu.
Yang kamu butuhkan sesungguhnya, adalah berdamai.
Tetaplah melangkah, meski terkadang harus berlari sebelum kembali berjalan santai. Setidaknya, kamu terus berproses. Tak masalah jika sesekali harus mundur, untuk bisa maju lebih jauh.
Jika suatu ketika kamu terjatuh, bangkitlah. Segera obati jika terluka. Kembalilah berjalan dengan keadaan lebih baik dan lebih siap.
Akan ada banyak orang kau temui. Beberapa akan bertahan cukup lama, sebagian lainnya berguguran satu persatu. Lepaskan yang tak seharusnya bersama. Hargai dan pertahankan yang ada, selagi memberikan dampak positif. Pegang prinsipmu baik-baik.
Tak ada yang benar-benar bisa dipercaya. Maka, jangan biarkan diri ketergantungan pada siapapun.
Perihal Pengaruh
Ketika memasuki sebuah lingkungan, kita diberi dua pilihan, terpengaruh atau mempengaruhi.
Nyatanya tidak mudah untuk bisa menjadi orang berpengaruh. Harta tanpa otak adalah kebodohan. Kecerdasan tanpa harta menjadi lemah. Pintar dan kaya tapi tak punya relasi maka tak berdaya. Jadi, bagaimana?
Ketika ketakutan menguasai diri, maka lingkungan akan mempengaruhi kita. Untuk menjadi berpengaruh, kita harus kuat. Kuat untuk dijatuhkan karena mungkin akan mendapatkan banyak penentang.
Tanyakan diri, apa tujuanmu? Siapa yang menjadi backinganmu?
Barangkali Sejauh ini aku masih sering mengeluh tanpa kusadari Seperti terucap begitu saja meski tanpa niat Keberatan dengan ujian yang Dia berikan Berandai bukan begini kisahku
Tetapi Andai diberi kesempatan menemui diriku di masa lalu Takkan ada pesan yang akan kusampaikan Tak ada yang ingin kuubah
Karena Aku bangga pada diriku yang kini Yang tetap kuat meski tak jarang tangis menemani Yang terus melangkah meski kadang tertatih Bahkan beberapa kali terjatuh
Aku hanya perlu terus belajar Mengamati untuk bisa mengerti Merasakan untuk bisa memahami
Pada akhirnya, setiap luka adalah penguat
Pembelajaran berharga
Ilmu-ilmu penting yang amat berharga, ternyata lebih banyak kita temui pada hal-hal yang terlihat sederhana. Bukan di bangku pendidikan formal bergengsi. Bukan dari pelatihan bersertifikasi. Bukan dari forum-forum diskusi para pembesar.
Cobalah berbincang dengan orang-orang tua yang masih kuat meminggul dagangan di jalanan. Tukang becak ringkih yang terus tersenyum menawarkan jasanya. Atau yang mudah-mudah saja, nenek kalian di rumah. Apa lagi yang di masa tuanya masih sangat bersemangat melakukan banyak hal.
Tidak menutup kemungkinan akan ada rasa malu yang muncul begitu saja. Kita yang katanya lebih cerdas, nyatanya mati rasa.
Banyak rencana yang berujung wacana belaka. Keinginan demi keinginan masih dalam antrean untuk terwujud. Mimpi yang terukir indah menanti terealisasikan. Tak jarang harapan terpatahkan.
Kita manusia, bebas untuk berkeinginan. Berencana. Berusaha dan berdoa. Tak ada larangan untuk bermimpi tinggi. Bahkan menjadi ambis memperjuangkan ingin.
Namun Dia lebih bebas menentukan akhir dari sebuah proses. Apapun yang ditetapkan-Nya, bahkan selalu yang terbaik. Meski tak selamanya terlihat demikian di mata manusia.
Kerap kali apa yang terlihat tidak menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi. Tangis tidak selalu bermakna sedih, atau tawa yang tidak selalu berarti bahagia. Terlalu banyak kepura-puraan. Lantas bagaimana kita tahu yang sebenarnya terjadi?
Boleh jadi seseorang tertawa oleh perkataan kita, namun hatinya terluka.Berhati-hati tanpa harus terlalu membawa hati. Jangan terlalu mengedepankan perasaan. Namun juga jangan abai. Ingatlah bahwa keistimewaan manusia ada di akalnya. Tempatnya akal ada di hati.