Sebuah kontemplasi dari cerita hari ini (1/2)
Pagi ini cuaca tidak bersahabat. Hujan terus mengguyur kota dengan derasnya sepanjang aku berada dalam perjalanan menuju kantor. Meski begitu, aku terlindungi dari hujan, ibu bisa mengantarku ke halte dan aku bisa duduk manis di dalam bis.
Ku isi waktu yang ada dengan membaca postingan-postingan tumblr yang sudah lama tidak terbaca. Tulisan yang bisa mengisi kembali baterai prasangka baik kepada kehidupan & Sang Sutradara.
Hingga akhirnya bis yang kutumpangi ini berhenti secara mendadak.
Duk, terdengar bunyi dari luar
Kupikir awalnya ini hanyalah kejadian sementara. Aku optimis sekali bis akan lanjut berjalan.
Namun ternyata aku salah. Bis ini tidak bisa lagi melanjutkan perjalanannya.
'Ga bisa, ga bisa dipaksain, bannya lepas'
Setidaknya itulah yang supir bis katakan kepada petugas dan sayup-sayup suara yang terdengar saat ia melaporkan kejadian melalui telpon. Entah apa yang dimaksud dengan lepas, secara nyata atau kiasan.
Bersamaan dengan itu, hujan pun turun semakin lebat. Setiap penumpang sibuk mengambil foto, segera memberi kabar atas kejadian yang mereka alami. Begitu pun diriku, yang mengabari orang kantor bahwa aku akan datang terlambat.
Meski kejadiannya di luar kebiasaan, aku merasa diriku tenang. Sepertinya tulisan-tulisan tumblr itu memang manjur untuk menjadi mantra hari ini. Aku terus berpikir kemungkinan positif dari kejadian ini:
"Oh mungkin Allah mau mengulur waktu, supaya aku sampe kantor ga keujanan. Aku akan menghabiskan waktu dengan aman dengan berada di bis ini".
"Pak, saya boleh turun ga? Kantor saya udah deket banget"
Tiba-tiba ada seseorang yang meminta izin untuk diturunkan
"Kalo buat berangkat kantor, harusnya gapapa dibolehin aja"
Terdengar suara imbalan dari penumpang lainnya
Aku yang tadinya merasa nyaman dengan keadaanku, kini jadi merasa ragu
'Apa iya aku harus menunggu terus di dalam bis?' 'Aku juga ga pingin telat' 'Hari ini ada banyak yang harus kukerjain, dan sebenernya aku berencana untuk dateng lebih pagi ke kantor'
Hujan mereda, aku semakin yakin dengan pilihanku kedua.
"Ya boleh yang mau turun, tapi satu kali aja ya, kami hitung ada berapa orang yang turun"
Mendengar jawaban dari petugas, keputusanku semakin bulat.
'Hm belum ada tanda-tanda solusi yang akan diberikan oleh petugas. Oke aku turun!'
Pikirku, aku bisa menyebrang dan naik gojek setelahnya. Iya memang itulah yang kulakukan. Setelah melipir ke bawah jembatan untuk membeli jas ujan aku pun menyebrang jalan.
Saat sudah berhasil menyebrang, barulah terpikir olehku 'Eh tapi kan kalau keluar dari halte, harus tap kartu sekarang. Nanti gimana ya, apa ga keblokir? Kalo tapnya baru di sore, masih bisa ga ya?'
"Mba itu bisnya udah dateng"
Ucap bapak-bapak yang menyaksikan kejadian ini. Ternyata, bis yang melewati rute yang sama diberhentikan, dan penumpang bis kami secara berangsur dimasukkan ke dalamnya.
Ku pandangi bis pergi satu per satu. Satu bis. Dua bis.
"Oh iya pak, tapi boleh ga ya saya kesana lagi? Tadi kan saya udah turun"
Akhirnya walaupun hujan-hujan aku pun kembali ke TKP.
"Pak saya tadi dari bis yang berhenti, tadi udah turun, boleh naik lagi?"
Alhamdulilah, ternyata masih diperbolehkan.
Tapi kini, aku basah kuyup.
Lalu apa ya maksud dari kejadian ini?
Tak lama, sampailah aku di halte tempat pemberhentian kantorku.
Lagi-lagi, hujan hari ini labil banget. Tadi sudah reda, eh sekarang deres lagi.
Aku coba untuk mencari gojek, tapi ternyata tidak ada yang ambil. Saat kebingungan, ada bapak gojek yang menghampiri. Mukanya sangat kukenali, bapak gojek yang biasa mangkal di halte ini. Ia terlihat sudah berumur, dan masih sehat. Aku hampir selalu melihatnya tiap datang dan pulang kantor, meskipun sudah malam. Namun anehnya, bapak ini tidak pernah mendapat orderan gojek ku.
Bukan hal asing lagi yang ku dengar darinya. Sampai-sampai aku pun penasaran, kenapa ya bapak ini tidak pernah dapat orderanku. Memesan gojek dari jarak jauh - dekat, sudah kucoba, dan tidak pernah berhasil.
Tapi hari ini berbeda, tidak ada gojek yang mengambil orderanku. Bapak ini pun menawarkan untuk diantar tanpa melalui aplikasi dan aku bersedia.
Pikirku selama berada di atas motor