Mengenang Bapak di Hari Ayah Nasional
Hari Ayah Nasional tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya aku akan menuliskan beberapa percakapan bersama bapak. Entah bentuk candaan ataupun nasihat. Tetapi tidak untuk tahun ini. Segala nasihat sudah menjadi wasiat.
Percakapan saat makan malam itu adalah percakapan terakhir kami. Sekitar 1,5 jam sebelum bapak wafat. Iya, bapak sudah wafat 3 bulan lalu.
Saat aku hanya berduaan dengan bapak di rumah. Kakak-kakak dan adik sedang ada urusan, termasuk Mama sedang bersilahturahmi ke rumah saudara.
Kalau ditanya, mengapa orang-orang tidak ada di rumah juga? Ya karena sebetulnya ini situasi yang normal, dalam kondisi yang baik-baik saja. Termasuk bapak pada hari itu.
Beliau beraktivitas normal. Menjaga toko, bahkan sempat maintenance toko, bersilahturahmi dengan saudara dan tetangga. Termasuk menghadiri undangan pada sore hari.
Aku ingat sore itu di tempat kami menghadiri undangan yang sama, bapak berkata "Yuk hil kita pulang" lalu aku mempersilakan bapak pulang duluan karena aku masih ingin bertemu dengan teman-teman. Saat di perjalanan menuju rumah aku bertanya ke saudara, "bapak sudah pulang" dan mereka jawab bapak sudah pulang. Ternyata, malam itu bapak benar-benar pulang ke Tuhannya.
Seharian itu kami bersama-sama. Aku menuruti semua keinginan bapak mau makan apa. Pikiranku cuma satu, aku hanya berdua di rumah, harus menjaga suasana hati bapak.
Aku ingat, ketika aku mengajar di depan rumah. Materi hari itu tentang praktik ibadah. Entah mengapa para murid itu berulang kali aku tes tentang perbedaan tahiyat awal dan tahiyat akhir. Terus diulang-ulang, bapak ada di balik pintu itu. Seperti biasanya.
Setelah sholat isya, bapak tidur. Tak seperti biasanya, kali ini langsung mengambil posisi nyaman. Langsung tidur di kamarnya, padahal ia terbiasa tidur di ruang keluarga sebelum nanti sepertiga malam akan pindah ke kamar.
Aku, juga tak seperti biasanya. Malam itu aku beres-beres rumah. Dalam pikiranku, besok setelah mama kembali ke rumah, maka rumah ini sudah beres. Begitu aku istirahat sebentar, terdengarlah suara yang berbeda dari kamar bapak.
Aku langsung berlari ke kamar. Dalam memoriku langsung muncul kepada adegan tahun 2012 ketika bapak pingsan di rumah, lalu muncul bagian memori lain bahwa bapak pernah terdeteksi riwayat serangan jantung. Jantungku sangat berdegup. Tercantum heart rate sampai 166 malam itu.
Sekalipun aku sudah belajar, otakku menolak menerima bahwa malam itu yang aku lihat bapak sedang menghadapi ajalnya. Ku telpon kakak, sambil terus berusaha mengembalikan kesadaran dan respon dari bapak. Kakakku datang bersama paman. Pamanku langsung berusaha mentalqin. Sementara aku langsung beranjak mengambil berkas dan berpikir mau ke rumah sakit mana.
Meski pamanku sudah berkata bapak sudah tiada, pikiranku masih terus berkata masih bisa RJP. Sepanjang perjalanan menuju RS aku masih terus berdoa, "Yaa Rabb, satu kali lagi beri kami kesempatan" meski pada saat itu kakak dan saudara yang mengantar sudah mengucapkan tahlil saja.
Pada akhirnya, di RS aku menerima keputusan itu. Takdir itu. Qodarullah bapak wafat. Innalilahi wa inna ilaihi raaji'uun.
Aku berusaha mengumpulkan dalam satu folder segala kenangan bersama bapak. Entah itu foto atau video. Bahkan catatan-catatan obrolan kami aku kumpulkan. Termasuk apapun yang aku tulis saat ini dalam upaya menjaga kenangan tentang bapak pun di detik-detik terakhir kontrak hidup di dunianya akan habis.
Sekalipun ada banyak momen obrolan, liburan atau kenangan lainnya. Nyatanya sisi manusiawi kita berkata, bahwa itu tidak cukup.
Aku teringat pesan nenekku dahulu. Bahwa manusia bukanlah milik kita sekalipun kita sangat mencintai. Manusia milik Allah, maka ia akan kembali. Ya, sekalipun aku sangat menyayangi bapak, ia tetap bukan milikku. Ia kembali kepada Allah Yang Maha Pencipta Yang Maha Penyayang.
Obrolan terakhir kami malam itu berujung pada nasihat bapak, "Jangan menyusahkan orang yang sudah susah. Jangan mengambil hak orang lain."
Bapak, aku sangat menyayangimu. Orang-orang yang menyayangimu akan mengusahakan agar kelak kita dikumpulkan di surga.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ
Tangerang, 12 November 2024