Nun jauh di sana, ada sebuah hutan indah yang dihuni oleh banyak makhluk bumi, satu di antara sekian makhluk bumi ini bernama Hijau, tulangnya sejajar dan menggulung ketika panas menerpa, ia salah satu pemberi udara bersih bagi makhluk lainnya, yang kemudian hari manusia menamainya oksigen.
Suatu hari, terjadilah sebuah bencana yang menerpa hutan itu, air yang mereka miliki dapat membuat diri mereka hancur, air itu tak dapat dibuat menjadi udara bersih dan makanan. Tak hanya itu, mentari yang selalu menyinari mereka tak terhalang gas biru hingga warnanya tak lagi dapat diambil oleh semua makhluk hutan yang menitipkan akar mereka di dalam tanah.
Kemudian makhluk hutan mulai mengeluhkan tentang beratnya hari mereka, bumi ini akan mati. Seisi makhluk hutan ini mulai resah, salah satu pohon yang sudah berusia ratusan tahun, dengan daun rimbun nan indah berkata, "Apa yang akan kita berikan pada makhluk bumi?"
"Bagaimana kalau kita pakai saja sinar mentari yang tak berwujud biru dan hijau itu?" Usul sebuah pohon yang memiliki daun kemerahan di ujungnya.
"Bagaimana dengan air, kita akan mati memakan air itu?" Sanggah pohon berdaun lebat.
Tak jauh dari mereka, Hijau menyimak pembicaraan mereka. Ia pun melamun, tak pernah terpikirkan olehnya bahwa hari seperti ini akan ia hadapi. Sementara itu, semua pohon terus berselisih, apakah mereka akan memakai air yang akan menghancurkan mereka atau menunggu keajaiban.
Kemudian Pohon tertua memutuskan untuk menggunakan air yang menhacurkan mereka, seisi hutan berselisih, tak ada yang menginginkannya tapi hanya ini yang bisa mereka lakukan. Si Hijau yang tingginya tak lebih dari dua hasta mengutarakan pendapatnya, "Tuan Pohon yang saya hormati, jika kita semua memakai air yang menghacurkan itu, bukankah kita akan mati, jika kita mati, bukankah seisi bumi akan ikut mati?"
"Kau benar, tetapi aku tak memiliki pilihan." Sanggah Pohon yang paling besar.
"Bukankah kalian memiliki akar yang mampu menembus bebatuan?" "Tak mungkin, bebatuan terlalu keras, kami tak mampu menembusnya."
"Bagaimana kalau kita menunggu sebentar saja, tak apa jika kita harus layu sejenak."
"Membuat oksigen dan makanan adalah tugas kita sebagai tumbuhan, kau tak berguna jika kau diam saja!"
"Bagaimana dengan gas biru yang tak kunjung menebal?"
Pohon besar terdiam lama, lalu berkata, "Hijau, kau terlalu lemah mengerti tentang bagaimana bumi ini, bumi ini sudah terlalu rusak, kita tak punya pilihan lain kecuali memakan yang menghancurkan kita, tubuh kita akan mengering dengan mentari yang menyengat seperti ini, lihatlah daunmu mulai menggulung."
"Tak adakah manusia yang menolong kita?" Tanya Hijau.
"Apakah kau tahu mengapa air menjadi asam? itu semua karena mereka."
"Mengapa mereka berbuat kerusakan?" Tanya Hijau tak mengerti. Pohon besar terdiam kembali, kali ini ia tak kunjung bicara. Lalu pohon berdaun merah menjawab, "Karena manusia tak melaksanakan aturan Allah, Tuhan semesta alam."
"Apa hubungannya?" Hijau menjadi bingung.
"Keserakahan mereka yang membuat Bumi ini rusak, keserakahan ini karena mereka tidak mau diatur aturan Tuhan semesta alam." Jawab Pohon besar sedikit merendahkan suaranya.
Hijau terdiam, menerawang jauh ke arah mentari yang panasnya tak bersahabat. "Apakah kita akan tetap mati?"
Pohon berdaun merah berkata, "Kita tak memiliki pilihan lain, ini akhir bagi kita."
Stomata Hijau terbuka menghela napas, "Lalu untuk apa kita mati hanya agar manusia itu hidup?"
"Kita diciptakan untuk mereka..." Ucap pohon berdaun indah. "Apakah benar-benar tak ada pilihan lain?" Hijau berharap.
"Jika saja mereka sadar dan kembali ke jalan yang ditunjuk Tuhan-Nya ..." Pohon Besar tak melanjutkan kata-katanya.