Field Trip Solo : Saksi Bisu Kelahiran Media (Bagian 1)
Hai hai!!! Apa kabar? Lama sekali saya tidak menyambangi blog ini yang mungkin jika diibaratkan tumblr ini sebuah rumah pasti sudah sangat kotor dan dipenuhi jaring laba-laba. Saya pada hari ini kembali dengan kabar baru tapi sudah ber-hashtag latepost. Yahh... beginilah mahasiswa setumpuk tugas membuat kita harus semakin pandai mengatur waktu, kalau deadline semakin lama ya disambi untuk mengerjakan yang lain, hehehe.
Oke! Kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman saya dalam field trip yang dilaksanakan pada hari Senin, 12 Mei 2014 kemarin. Jurusan Ilmu Komunikasi UGM selalu rutin mengadakan field trip untuk mahasiswa smester 2 dalam rangka kuliah lapangan mata kuliah Sejarah Ilmu Komunikasi dan Media. Berikut cerita saya selama satu hari di kota Surakarta, kkeut~
Senin pagi seluruh anggota Composer (sebutan untuk Ilmu Komunikasi UGM 2013) sudah berkumpul di kampus untuk bersiap menuju kota Surakarta. Tidak biasa memang ketika Senin pagi adalah hari yang sangat menyebalkan bagi sebagian besar orang tapi jika tujuanya untuk ‘bermain’ siapa pun kini menjadi sangat exited walau itu terjadi di Senin pagi. Memang kalau urusan bermain apalagi keluar kota pasti pada semangat walau harus datang pagi-pagi ke kampus.
Kami akhirnya berangkat menuju Solo dengan 3 bus. Angkatan 2013 memang angkatan besar dibandingkan sebelumnya sehingga diperlukan armada yang besar pula. Kami berangkat tepat pukul 07.30 WIB. Jarak Jogja-Solo yang tidak terlalu jauh membuat perjalanan lebih santai dan tidak terburu-buru. Selama perjalanan saya dan teman-teman yang lain memanfaatkan waktu untuk mengisi energi untuk nanti dikeluarkan untuk bertempur menghadapi kota Solo. Kami tidur.
Kami sampai di Solo tepat pukul 10.00 WIB dan langsung menuju Lokananta. Bagi yang belum tahu, Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia dan dimiliki oleh negara. Ketika sampai di depan bangunan Lokananta saya berpikir bahwa bangunan tersebut sangatlah sederhana. Berbeda dengan apa yang saya lihat di video Glenn Fredly yang baru-baru ini melakukan rekaman disana (buka: http://www.youtube.com/watch?v=z6Mpt6K3BS8 ) yang terlihat megah dan menarik.
Setelahnya kami digiring masuk ke dalam studio rekaman Lokananta. Disana kami disambut oleh para pengurus dan pengelola Lokananta. Benar, ternyata studio rekamanya sangat luas dan bisa untuk menampung lebih dari 100 orang. Tembok dan atapnya juga didesain khusus yang berguna untuk mengeluarkan suara asli dari penyanyi dan instrumen yang ingin direkam di studio rekaman Lokananta. Kata pak Andi selaku juru Teknis Lokananta, kalau mau rekaman di Lokananta harus benar-benar memiliki kemampuan vokal dan bermusik yang profesional jika ingin hasilnya bagus karena suara asli akan benar-benar terekam. Wah... berarti penyanyi dan band yang merekam karya mereka di Lokananta sudah tidak diragukan lagi kemampuanya.
Dalam studio rekaman tersebut kami mendengarkan penuturan mengenai sejarah singkat Lokananta. Saya dan yang lain mendengarkan dengan khidmat apa yang disampaikan beliau-beliau yang sudah sejak lama berada di Lokananta. Jadi, Lokananta berdiri sejak 29 Oktober 1956 dan disahkan oleh Menteri Penerangan R.I Soedibjo dengan nama Pabrik Piring Hitam Lokananta, Jawatan Radio Kementrian Penerangan Republik Indonesia di Surakarta. Pada awalnya Lokananta hanya merekam dan menggandakan suara sebagai bahan siaran RRI di seluruh Indonesia dan bukan untuk keperluan Komersil. Baru setelah muncul keputusan Menteri Penerangan pada 1 April 1959 Lokananta digunakan untuk keperluan komersil. Lokananta terus mengalami perkembangan di dunia rekaman. Pada 1960 Lokananta dijadikan sebagai perusahaan negara. Pringan hitam yang diproduksi pada waktu itu juga diperjualbelikan kepada umum. Lokananta juga selalu mengikuti perkembangan zaman dimana wujud fisik rekaman tidak hanya berupa piringan hitam melainkan juga berwujud kaset, CD, dan bahkan kini Lokananta tengah melakukan digitalisasi terhadap rekaman-rekaman masa lalu guna menjaga keberadaanya agar tidak rusak atau hilang.
Lokananta sebenarnya tidak hanya merekam musik dari para musisi. Lokananta merupakan lembaga dokumentasi suara yang dimiliki negara. Lokananta menyimpan pidato-pidato presiden RI yang pertama, Ir, Soekarno. Lagu-lagu daerah Indonesia juga pertama direkam di Lokananta sebagai dokumentasi dan bukti orisinalitas lagu tersebut. Jika kita ingat kasus negara sebelah yang mengklaim lagu Rasa Sayange, Lokananta memiliki file pertama lagu tersebut direkam beserta tanggal rekamanya sehingga jelas bahwa lagu tersebut milik Indonesia. Luar biasa peran Lokananta dalam dunia rekaman di Indonesia!
Lokananta menjadi saksi lahirnya musisi dan penyanyi legendaris Indonesia. Gesang, Titiek Puspa, Waldjinah, Bing Slamet, dll yang pernah merekam karyanya di studio Lokananta. Karya-karya mereka direkam dalam bentuk piringan hitam dan kaset yang saat itu sudah diperjualbelikan. Sebenarnya, hingga sekarang pun kita masih bisa membeli karya-karya tersebut dalam bentuk fisiknya karena memang masih ada dan diproduksi oleh Lokananta.
Setelah puas mendengar cerita dari para pengurus dan pengelola Lokananta, kami berkeliling mengunjungi ruangan-ruangan yang ada di Lokananta. Pertama saya mengunjungi ruang kontrol yang ada tepat di depan studio rekaman tersebut. Alat –alat yang ada masih kuno tapi memiliki kualitas yang sangat prima untuk dapat menghasilkan rekaman yang sempurna, begitu kata Pak Andi selaku teknisi dalam ruang kontrol ini. Saya takjub dengan apa yang ada dalam ruangan ini, walaupun masih kuno tapi semua terawat dengan baik dan terjaga baik fungsi maupun keutuhan fisik masing-masing alatnya.
Selanjutnya saya berkunjung ke ruangan yang seperti museum. Dalam ruangan ini terdapat berbagai macam alat-alat kuno yang biasa digunakan untuk kegiatan rekaman. Untuk nama-namanya saya tidak begitu jelas mengingat saya tidak begitu lama di sana. Saya lebih tertarik dalam suatu ruangan yang ada di dekat ruangan tersebut. Suatu ruangan yang menyimpan ribuan piringan hitam. Saya bisa menemukan banyak sekali jenis musik yang disimpan dalam piringan-piringan hitam tersebut. Mulai dari lagu-lagu masa lalu hingga rakaman ayat-ayat suci Al-Quran. Semua tersimpan rapi sesuai dengan urutan sehingga memudahkan untuk kita mencari berdasar kategorinya.
Tepat di sebelah ruang penyimpanan piringan hitam terdapat satu lagi ruang penyimpanan. Yang disimpan dalam ruangan ini ada beberapa VCD palyer kuno era pertama dan berbagai kaset rekaman. Sepertinya rekaman pidato presiden dan sebagainya ada dalam ruangan ini. Di bagian luar dari ruangan ini terdapat lagi satu ruangan yang sepertinya lagi adalah ruang kerja untuk proses digitalisasi rekaman yang sebelumnya saya singgung. Selama di ruangan ini kami bernyanyi dan bahkan bergoyang karena diputarkan musik-musik yang telah digitalisasi dan terdengar keras melalui speaker besar yang terletak persis dihadapan kami. Seru!
Setelah puas berkeliling sambil mendengarkan musik-musik hasil rekaman Lokananta, kami bersiap untuk ke tempat tujuan selanjutnya! MONUMEN PERS NASIONAL! Tapi sebelum kita membahas yang kedua,ada beberapa fakta yang harus kalian ketahui tentang Lokananta! Check this out!
Lokananta itu adalah nama seperangkat gamelan dari Suralaya dalam legenda pewayangan yang konon memiliki suara yang sangat indah dan bisa berbunyi sendiri tanpa adanya penabuh (oke, ini serem)
Lokananta itu terbuka untuk umum. Jadi, kalau kamu ingin rekaman di Lokananta itu bisa banget. Banyak band Indie yang mulai merekam karya mereka di Lokananta.
Hingga sekarang, hasil rekaman Lokananta yang orisinil masih bisa dibeli. Apalagi sekarang era digital semakin memudahkan untuk transaksi.
Rencananya hasil rekaman Lokananta juga akan dipasarkan secara online. Entah kenapa saya sedikit khawatir dengan yang satu ini. you know what i mean lahhh
Lokananta sekarang bukan lagi perusahaan milik pemerintah melainkan lebih ke peninggalan budaya. Subsidi dari pemerintah kini sudah berhenti. Sangat disayangkan mengingat apa yang sudah dilakukan Lokananta dari masa lalu hingga sekarang dalam manajemen arsip rekaman negara.
Itu yang kalian harus tahu tentang Lokananta. Sayang memang suatu perusahaan negara yang kini tidak lagi mendapat perhatian pemerintah secara utuh. Oleh karenanya kita harus setia menjaga kelestarian peninggalan sejarah bangsa Indonesia. Lokananta bukan hanya menjadi saksi bisu kelahiran musisi-musisi kegendaris Indonesia melainkan penyimpan beribu-ribu arsip rekaman yang kapan pun siap jika diperlukan.
Oke! Karena sudah siang dan kami sudah lelah, kami putuskan untuk megisi tenaga dahulu. Destinasi selanjutnya adalah Monumen Pers Nasional yang tak kalah seru dengan Lokananta. Cerita selanjutnya ada di bagian 2 yaa...