Aku ingin menenggelamkan diriku di laut lepas walau sejujurnya aku payah dalam urusan berenang. Aku ingin duduk ditepi pantai menatap langit sore dari abu abu perlahan berubah menjadi orange, aku ingin menyaksikan bagaimana matahari perlahan menutup diri. Aku ingin terbangun tepat di jam 5 pagi lalu berlari menembus hawa dingin, lalu kembali duduk ditepi pantai dan melihat matahari perlahan menampakan diri. Aku ingin berjalan dipematangan sawah, dan jika aku beruntung aku ingin menyaksikan capung-capung mungil beterbangakan, sayang keberadaan mereka sudah mulai langka. Aku tak keberatan jika aku harus jatuh ke dalam sawah dan membuat bajuku penuh dengan lumpur. Sesekali aku akan pergi camping, tak masalah jika aku pergi sendiri atau ditemani teman. Aku akan membuat tenda di atas bukit, atau ditengah hutan. Berusaha tidur dengan selimut tebal sementara hawa dingin membuatku tetap terjaga. Aku akan menyalakan api unggun untuk membuatku tetap hangat. Paginya aku akan terbangun oleh sinar matahari yang diam diam masuk di balik tendaku. Aku duduk termangu didepan tendaku dengan selimut yang masih menempel, kedua tanganku memegang erat kopi yang masih hangat. Dengan perlahan ku sesap kopi hangat ku saat hawa dingin pagi hari merasuk tulang rusukku. Bisa kurasakan bau embun yang menyegarkan. Aku akan tetap duduk disana dan menyaksikan betapa menakjubkannya alam. Tapi yang bisa kulakukan saat ini hanyalah duduk termangu di balik jendela menyaksikan hujan yang perlahan mulai reda. - Tak peduli seberapa kali hatimu patah, kurasa alam punya cara sendiri untuk menyembuhkan lukamu
















