satu kata yang terlihat begitu sederhana tapi mungkin akan berat terucap oleh sebagian manusia.
entah apa yang membuatnya begitu enggan tuk keluar dari lekuk bibir.
mungkinkah karena ada peringatan dari sang waktu bahwa ia harus dihukum atas keterlambatannya?
ataukah ia terlalu naif tuk mengakui "yeah,i'm wrong, and all happened because my fault"
tapi apakah ia masih tetap enggan kala hati ini berbisik?
daya itu kian kuat tuk menembus dinding keangkuhan dan dengan begitu cepatnya menyeruak meramaikan dunia.
mungkin akan banyak yang hanya memicingkan mata, atau mendadak terkena serangan tuli bak efek ledakan bom,
atau bisa jadi ejekan yang akan menyambut kata sakral di atas tadi.
entahlah,
rasanya tak ingin otak yang bahkan belum 10% digunakan dengan optimal ini kemudian harus disibukkan dengan pikiran-pikiran ala setan.
tak ingin menggubris bendera peperangan, walau akan tetap perih melihat diri bak invisible girl di tengah keramaian.
bahkan air ini pun enggan tuk sekedar menuangkan 1 tetes saja, seakan takut harus melewati rintangan jerawat bak batuan cadas di pipi.
ia hanya tertahan, menambah perih.
luka..
banyak luka yang telah dengan bodohnya aku ciptakan.
dan kini karma menunjukkan kekuasaannya.
entah berapa waktu yang tersisa, entah akan mengukir kenangan atau justru terbuang di timbunan sampah.
satu harap jika memang masih dibuka sebuah peluang.
setidaknya ijinkan kata sakral di atas terucap, walaupun itu hanya akan sekedar lewat. ijinkan ia memenuhi segala penjuru ruang, walaupun ia tak dapat menambal luka.
ijinkan ia menyapa, walau sapaannya terdengar membosankan.
kelak,
saat mata tak dapat melihat lukisan alam, hidung pesek yang tidak tumbuh bahkan hingga 22 tahun ini tak lagi menghirup aroma hujan, kulit kasar yang bahkan telah menghabiskan banyak botol lotion berlabel "nutrition skin" tak mampu meraba jendela usang berdebu, dan kedua kaki pendek ini tak lagi sanggup melakukan putaran sepeda kala olahraga ringan 1000 putaran.
saat itu lah mungkin, hanya mungkin, hanya berharap, kau, kalian, mereka, kiranya bersedia mengucapkan kata sakral dengan ataupun tanpa bumbu "ya aku maafin".
dan jika memang sinetron itu benar, mungkin di alam sana setidaknya aku bisa sedikit menciptakan sesimpul senyum dan berucap "terima kasih"