Lesson Learned Terus-terusan
hai, long time no see. Aku gatau nih semoga blog ini ga dibaca orang2 lah ya. Aku mau journaling disini soalnya. Yap aku mau update dulu kali ya. Aku saat ini jalan 2 bulan di posisi as a sekretaris seorang kepala kantor gitu. Ya agak aneh laki-laki tapi jadi sekretaris. Biar ga aneh makanya jangan stereotype.wkwk Tau ga sih, aku tuh semakin hari semakin bingung tapi juga kalau dipikir bersyukur buanget. WHy? Karena Allah tuh keren banget bawa aku ke posisi-posisi yang aku ga expect dari dulu. Kerjaan aku dari dulu tuh biasa aja, normal aja, but you know what yang luar biasa tuh lingkungannya. Aku diketemuin sama lingkungan yang orang-orangnya jahat, jutek, self centered bahkan kalo aku kasih skala aku kayaknya udah pernah di lingkungan yang minus sampe di lingkungan yang +++++. Nah kalau yang current posisi aku kayak tengah2 gitu. Dari segi spiritualitas lingkungan, baik buruknya. Tapi kepala kantor aku tuh greenflag banget. Jadi 2 bulan terakhir aku mendampingi beliau tuh kayak belum pernah deh ketemu di pengalaman-pengalaman aku sebelumnya. Alhamdulillahnya tuh kepala kantor aku tuh, well educated, well behaviour, almost well in everything. YA KARENA BELIAU MASIH MANUSIA YAA> Beliau ini leader yang kalau dari pengamatan aku dia tuh paham banget ttg psikologi manusia, jadi dalam memimpin dan menghadapi rekan kerja tuh dari preferensi psikologi. GImana ya jelasinnya. Gitulah. Karena dunia ini the real ketidakidealan, disetiap lingkungan ada yang oke ada yg kurang oke. Nah disini tuh aku gamau bilang KURANG OKE sejujurnya. Karena memang beda otak beda juga apa yang keluar dari mulut dan pergerakan manusia tsb. Jadi aku banyak learned tuh pure dari pengamatan aku ya, kepala kantor aku, manager unit, sampai tenaga housekeeping sampai tenaga keamanan dan sopir di kantor. Allah tuh kayak lagi ngasih aku kuliah gitu, praktek lapangan penelitian manusia manusia ini, Haha. seru banget bisa mengamati setiap level posisi di kantor bagaimana mereka menyikapi sebuah kondisi dan cara mereka bekerja dan ambil keputusan. Orang-orang di tipe A (ini sebutan aja ya) aku kelompokkan mereka yang di level non kantor, jadi tim support seperti OB atau housekeeping, tenaga keamanan, dsb. Orang-orang di tipe B ini aku sebut untuk karyawan yang punya kendali atau pengambil kebijakan lah ya. tipe A dan B pasti dalam bekerja perlu ambil keputusan, misal tipe A harus ambil keputusan kapan saatnya ngasih makan dan minum untuk tamu semisal. Tipe B harus ambil keputusan terkait bagaimana handling kendala pelanggan misalnya. Tipe A ini kebanyakan orang-orang yang ingin kerjaannya segera beres. Tipe B ini orang-orang yang ingin menyelesaikan kerjaannya dengan bagus meskipun lama dan berjenjang. Beda ya. Nah Tipe A nih saking pengen kerjaannya cepet beres dan biar segera bersantai menunggu jam pulang, kebiasaan ini membuat mereka emosian, ketika ada hal-hal kondisional akan mudah terporovokasi atau mudah stress. WAH INI ASLI BANGET CAPEK SIH DIDEKET MEREKA> Tipe B ini harus menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan baik, merkipun harus melakukan tahapan-tahapan yang panjang akan dilakukan sesuai prosedur. Dengan penyikapan bahwa kerjaan ini tidak melulu harus sesuai mau kita yang membuat tipe B ini tidak mudah tersulut emosi, tidak mudah emosi dlsb karena mereka yakin kerjaan mereka harus dilakukan berjenjang. dari sini aku sadar akutuh sempat di posisi tipe A beberapa tahun lalu di pekerjaan2 awal aku. jadi mudah emosi dan stress. Ya karena jam terbang dan sering dilingkungan orang tipe B membuat aku menyikapi bahwa DALAM HIDUP TIDAK AKAN PERNAH ADA YANG IDEAL, MAKA KITA LAH YANG HARUS MENGIDEALKAN DIRI KE LINGKUNGAN. -15 MEI 24











