Kali ini buih terombang ambing lagi. Tidak menyangkut dan di tangkap.
Kenapa engkau begitu suka melukai diri sendiri dengan sengaja?
Kau tau hati mu begitu rapuh.
Tapi kau tetap menyenggolnya dengan sembaranag.

shark vs the universe
No title available
No title available
he wasn't even looking at me and he found me
Jules of Nature

JBB: An Artblog!

blake kathryn
will byers stan first human second
I'd rather be in outer space 🛸
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
tumblr dot com

if i look back, i am lost
KIROKAZE
YOU ARE THE REASON
taylor price

No title available
h
Cosmic Funnies

izzy's playlists!
ojovivo
seen from Germany

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Russia

seen from United Kingdom
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from Japan

seen from United States

seen from United States

seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from Saudi Arabia

seen from United States
@buihombak
Kali ini buih terombang ambing lagi. Tidak menyangkut dan di tangkap.
Kenapa engkau begitu suka melukai diri sendiri dengan sengaja?
Kau tau hati mu begitu rapuh.
Tapi kau tetap menyenggolnya dengan sembaranag.
Mari ber-Muhasabah
Apa yang kamu rasakan hari ini adalah apa yang telah kamu tanam sebelumnya.
Masalah rejeki, masalah hati, kehidupan di masa depan, bagaimana cara mu meninggalkan dunia. Semua itu adalah hasil dari apa yang telah kau tanam, walau Allah sudah menentukan ketetapan. Takdir yang tertulis harus melalui banyak jalan pilihan. Dan tetaplah menanam kebaikan, agar kelak ketika kita menuai. Hanya akan menuai hal-hal yang baik.
Jangan salahkan manusia lainnya, jangan salahkan keadaan dan jangan pula kau berani menyalahkan Tuhan mu yang terlalu maha baik.
Tuhan mu sedang berbicara kepada mu tentang bagaimana menghapus dosa-dosa mu. Lebih baik di rajam hati dan fisik ini di dunia dari pada di akhirat Allah, di hisab-nya Allah dan di Neraka Allah. Naudzubillah.
Tuhan mu terlalu baik, terlampau baik karna kau dipaksa tau, dipaksa mengerti tentang rasanya apa yang telah kau perbuat, lalu di ganti dengan yang lebih baik.
Pasti lebih baik, jika yang kau pandang saat ini sudah cukup baik bagi mu tapi tak sempat kau miliki kecukupan itu. Pasti Allah menyiapkan yang terbaik, beribu-ribu kebaikan yang akan kau terima. Selalu berprasangka baik kepada Allah. Karna tidak akan ada akhir yang menyedihkan jika yang menulis skenario dan di sutradarai oleh Allah SWT. Hanya Allah semata tempat hati mu bersandar.
''Ana uhibbuka fillah ya Akhi!"
Karna itu, aku ingin kita break dulu.
Dan saling memperbaiki diri.
Memantaskan diri dan memantapkan diri.
Kita harus selesai dengan diri kita masing-masing dulu, masalah kita dulu, keinginan kita dulu.
Keragu-raguan ini adalah penebus dosa atas sakit hati yg orang lain rasakan kepada kita. Insyaallah, aku mencoba ikhlas atas semua ketetapan Allah.
Semoga Allah selalu menjaga hal-hal baik diantara kita.
Insyaallah, jika kita ikhlas melepaskan. Allah akan mendekatkan. Karna semakin ku genggam erat rasa yg ada, semakin terasa sesak dan menyakitkan. Karna memang harusnya rasa ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut dalam ketidakpastian.
Sampai pada suatu titik ketetapan Allah menjadi nyata. Pada saat itu terjadi. Apapun itu jawabannya, semoga kita sudah memjadi manusia yg jauh lebih baik untuk menerima.
Bismillah ya, sehat selalu. 🙂
Marah.
Ketika yang tersakiti lebih pantas bahagia. Lebih boleh bahagia. Lebih wajar bahagia.
Penjahat harus tau diri. Menjijikan jika mengumbar diri mu juga sedang berbahagia.
Tak ada tempat untuk orang yang menyakiti. Jadi enyah saja dari bumi ini.
Benarkah? Benarkah tidak ada tempat untuk pendosa seperti ku.
Orang tersakiti akan selalu menjadi yang paling tersakiti. Padahal kita sama-sama tau bahwa kita saling menyakiti sejak lama. Kebetulan saja diri yang berani duluan melangkah. Meninggalkan hati yang semakin hari semakin berat.
Allah maha baik. Menghukum ku di dunia sebegininya.
Tapi apa yang perlu dihukum? Dengan kita bersama saja itu sudah menjadi dosa. Lantas mengapa berdosa jika aku meninggalkan pusaran dosa?
Manusia seperti lagaknya Tuhan. Maha mengadili yang dimatanya salah. Maha menghujam hati dengan cibiran yang menurutnya paling benar. Sungguh suci kah orang-orang ini?
Yaallah. Hilang kan resah di hati ini. Angkat dendam apa saja yang ada di hati ini. Lapangkan, luaskan hati ini untuk lebih sabar. Sabar atas segala rencana mu yaAllah. Aamiin
Suatu hal akan terasa berarti, jika hal tersebut telah pergi. Berusaha pun kurasa tak ada guna. Karna pada akhirnya, hal itu telah pergi. Lama.
Sayangnya kali ini, aku menjadi prioritas atas diriku sendiri. Aku berusaha menghalang rasa sakit, kecewa yang akan datang dengan merubah sedikit sifat ku. Aku tak ingin merasa sakit dan tidak pantas lagi.
Aku merasa masuk kedalam lumpur lama. Aku merasa terkubur di liang yang pernah ku gali. Sekali lagi, menenggelamkan diri.
Aku memilih untuk berjuang dalam melepaskan. Tak ingin ku genggam lagi. Ku biarkan bebas. Sampai tangan tuhan sendiri yang menyatukan.
Aku merasa melayang. Tidak di atas langit, tidak pula memijak tanah. Aku terombang ambing. Bertanya-tanya, sebenarnya kita ini apa?
Pada akhirnya aku lelah, memilih untuk diam. Dan melepaskan tanya besar di belakang ku. Melepaskan tanya diantara kita.
Kurasa itu bukan sesuatu yang pantas untuk membuat ku iri. Benar begitu bukan?
Percaya pada rencana Allah yang super baik.
Apapun itu. Menjaga jarak adalah hal yg terbaik.
Malu
Aku malu sama diriku sendiri hari ini.
Merasa tak mampu hingga menjadi alasan tak bisa berbagi. Tapi masih bisa memenuhi apa yang diingin. Terlalu serakah memenuhi ingin, sampai berujung terbuang percuma. Malu sekali aku andai anak kecil sore itu tau prilaku ku sekarang. Andai dia punya kuasa untuk mengetahui prilaku. Mungkin dia akan berdoa dengan sepenuh hati untuk mengampuni sikap ku. Bisa saja ku sisihkan 2000 perak untuknya yang mungkin malam ini tak bisa mengisi perutnya. Tapi aku malah pura-pura tak mendengarnya. Yaallah. Malu sekali hamba 😔. Berharap kau limpahkan banyak harta. Bersujud kau mudahkan rejeki hamba. Tapi dengan mudah, bahkan dengan harta yang ada saat ini pun hamba tak bisa mempertanggung jawabkannya. Tak rela membaginya karna rasa yg selalu kurang. Padahal seharusnya hamba tau, bahwa kau maha bijaksana. Kau maha pemurah. Kau maha pemberi yang hambanya butuhkan melalu hal-hal yang tak terduga.
Terima kasih yaallah, atas rasa malu ini. Kau sadarkan hamba begitu cepat. Terima kasih yaallah 😔
23.59 WITA
Dan aku overthinking.
Aku ingin ombak melarungkan perasaan ini, pergi jauh kedalam palung yang tak berujung.
Hai.
Aku bosan.
Aku bosan dengan situasi ini.
Aku tak bisa apa-apa.
Aku ingin membuang rasa ini untuk melindungi diriku.
Aku tak ingin serela itu lagi. Aku tak ingin sebodoh itu lagi.
Aku lelah dengan perasaan ku sendiri.
Ku redam ego ini se rendah mungkin, saat mengetahui kejujuran mu. Terima kasih telah jujur dan berani. Walau nyeri di dada tak pernah bisa kupungkiri. Aku tak tau mengapa penyakit hati ini terlalu menggelayuti ku dan selalu meledak kapan saja. Aku tak tau sampai kapan bisa berdamai dengan masa lalu mu.
Kurasa waktu itu kau salah tangkap. Tapi kau terlanjur naik pitam. Memang salah ku. Harusnya tak pernah lagi kutanyakan hal yang menyeh-menyeh. Harusnya ku redam saja sendiri seperti dulu. Ternyata keinginan ku dulu, mengatakan apa saja yang dirasa, tak melulu baik.
Ah, resah sekali hati ini.
Dengan mu, aku menemukan hari-hari indah yang sudah ku tebak bagaimana akhirnya.
Bersama mu aku paham. Bahwa, bahagia selalu dibarengi dengan kesedihan.
Bersamamu. Ada titik di hati, aku tak ingin bersua atau bertukar suara dengan mu.
Karna setelahnya. Aku tak sanggup untuk kehilangan mu. Lagi dan lagi.
Bias
Bersama mu aku banyak belajar. Untuk bahagia atas diri sendiri. Jangan pernah menggantungkan bahagia mu bersama orang lain. Karna manusia hanya manusia. Yang bagaimana pun baiknya ia bisa saja berubah, pergi dan menghilang. Bukan Tuhan yang selalu menepati janji.
Bersama mu aku belajar lagi. Jangan biarkan orang lain melihat mu susah dan sedih. Jangan biarkan mereka tau apa gundah mu. Percayalah, mengulik adalah hal yang menyenangkan untuk menjadi yang pertama.
Iya. Aku belajar lagi. Dan masih harus banyak belajar. Seberapa besar keyakinan ku atas kuasa Tuhan. Akhirnya tak sanggup juga. Akhirnya tumpah lagi. Akhirnya mendung lagi. Tapi diriku baik. Dia paling pandai merubah segala gundah.
Semua akan terasa biasa saja pada akhirnya. Hal lain yang kau rasakan di awal hanyalah bias. Salah kita memang terlalu terbuai, sampai akhirnya menjadi tak ada beda nya.
Redam Ego mu, sabarkan hati mu.
Gini loh, harusnya aku menjadi orang yang ngga perlu khawatir. Just take it easy. Positifkan pikiran mu bahwa dia memang sibuk adanya. Dan jangan jadi beban baru karna egois mu. Sudah cukup rumit dengan sebuah masalah dan tolong jangan tambah lagi. Kamu belum jadi siapa siapanya. Jadi wajar jika tak semua hal harus dia sampaikan ke kamu. Mulai sekarang, tak apa jika dia tak menghubungi mu atau menanyakan kabar mu untuk beberapa hari. Begitu berat hari yang dia jalani saat ini. Jadilah dewasa setidaknya untuk kebaikan mu sendiri. Dan tak perlu menyiksa perasaan dan fikiran dengan hal-hal yang ngga perlu. Biarkan dia dengan waktunya. Biarkan kamu dengan waktu mu. Sampai pada akhirnya, dia melihat. Kalo kamu pantas untuk mengetahui segala keresahannya. Segala sedih dan khawatirnya. Sabar ya, jangan egois. :)
Masalah Menyalahkam Kita Juaranya
Entah bagaimana pikiran ini melintas dibenak saya di subuh hari. Dan seketika berencana menulisnya secepat mungkin. Mungkin saja ide ini akan memguap secepat kantuk saya yang akan datang.
Pernah mendapati seseorang kesal karna dirinya di blok oleh seseorang yang pernah dahulu dekat sekali dengannya di sebuah media sosial. Kesal karna tak akan bisa lagi bersilahturahmi, katanya. Walau awal pemutusan silahturahmi yang saya tau sudah terjadi begitu lama. Masalah memblok, menghide adalah teman saya juga 1 tahun terakhir. Sampai akhirnya saya lelah dan bertanya "untuk apa? Bukankah semua sudah selesai?"
Kita memang menjadi pandai menyalahkan keadaan, membenarkan yang tidak benar dengan alasan menyelamatkan diri sendiri "apalagi yang bisa dilakukan? Sudah sewajarnya" Hhhhh
Padahal Allah maha baik. Memberi luka agar menjadi kuat. Memberi luka lalu bertemu dengan yang tepat. Memberi luka lalu membuat kita belajar menjadi versi diri kita yang lebih baik, melalui seorang manusia yang mungkin kini kita benci kehadirannya didunia, yang kita benci pernah ada dihidup kita.
Aku belajar untuk tidak membenci karna pernah saling menggores. Tak ada gunanya pikir ku. Kalo tak saling menggores, mungkin sekarang tak saling belajar dan menemukam yang tepat.
Mari dicoba mensyukuri suatu hal buruk yang terjadi pada kita. Mungkin kita akan menemukan, Allah sedang mengulurkan tangannya untuk memeluk kita, karna merindukan hamba nya yang hanya kalut memikirkan nasibnya di dunia.
Terdampak
Setelah bertahan selama 1,5 tahun. Akhirnya saya terdampak virus ini. Mungkin salah saya juga tak menjaga imun tetap stabil, makan sembarangan dan sering tidur larut malam. Akhirnya si imun melemah dan si virus dengan leluasa berjaya di tubuh saya.
Demam, meriang, pusing, batuk dan pilek. Badan terasa pegal-pegal yang awalnya saya kira efek setelah zumba. Penciuman dan indra perasa yang hilang. Oke, ini makanan jadi tak sesuai ekspetasi kalo dimakan. Waktu bayangin makanannya nafsu makan meningkat. Eh waktu di coba tetiba ngga mood lagi makan karna ngga dapat feel nya.
Yaudah, karna udah terpapar, mau bagaimana lagi. Sekarang yang wajibnya harus banyak minum vitamin, tetep makan dan jangan stress. Dari semua hal itu. Tetap mencoba waras adalah yang terberat. Berusaha mencari hiburan dan menghalau dunia luar tentang covid atau orang-orang yang ngejudge orang yang kena covid adalah hal terberat. Seperti yang barusan terjadi. Entah kenapa saya gedek banget dibuatnya.
Sebut saja mawar. Orang paling rieweuh sejagat seantero. Yang secara tidak langsung menuduh saya tak ingin melakukan tes covid hanya karna saya yang masih belum sempat berangkat karna suatu kendala. Ah betapa saya sensitif sekali. Mencoba mencari cela positif untuk alibi. Mungkin saja, mungkin saja, mungkin saja. Nihil. Mau cerita ke orang, takut di judge balik. Malah bikin saya makin emosi dan pening dan kepikiran. Dah lah, baiknya memang saya butuh si tumblr ini untuk berkisah. Kisah yang tanpa perlu saya takut untuk di rundung orang karna perkataan saya.
Pening ini kembali datang. Mungkin perlu disudahi umpatan ini.
SUDAH SEHARUSNYA
Setelah rasa yang kini ku sebut "kehilangan" itu sempat singgah. Membuat aku pintar dalam membandingkan. Aku tak ingin terjebak dalam perasaan yang bahkan tak pernah kuinginkan sejak awal. Jadi membandingkan adalah jalan terbaik untuk mengabaikan rasa itu.
Sekali lagi ku tegaskan, aku tak patut merasakan kehilangan setelah apa yang engkau lalui lebih dulu sangat menyakitkan. Aku sangat merasa bersalah karna itu sampai sekarang dan entah sampai kapan.
Lagi pula ini yang aku inginkan. Beberapa kali ku tatap lelaki yang berhasil merenggut hati ku setahunan kebelakang. Menerbangkan ku keseluruh pemikirannya. Merasakan rindu disetiap harinya. Guyonan basi yang selalu membuat ku terpingkal. Berbagi cerita tanpa henti, risau yang selalu kuungkapkan. Bijaknya dia yang menenangkan.
Ku ingat bagaimana bisa aku memilihnya dan meninggalkan mu. Ku resapi rasa "kehilangan" ini dengan apa yang kudapatkan pada akhirnya. Ya, aku rela menepis rasa kehilangan mu.
Memang sudah seharusnya jalan kita tak bersama. Kita dua manusia yang berbeda. Harap ku, harap mu kerap tak sama. Kita kerap membisu, membuang masalah dan semua akan baik saja. Aku tak bisa, maafkan aku. Ketulusan dan kesetiaan mu jelas bukan untuk ku. Perjuangan mu juga bukan untuk aku. Aku harap, kita jangan bodoh lagi ya. Kita harus bahagia dengan pilihan kita. Walau kau bilang kau sudah cukup bahagia bersama ku kala itu. Nyatanya, akan selalu datang kebahagiaan-kebahagiaan lain jika kau mau membukanya.
Terima kasih atas segala kasih. Sekarang giliran wanita itu yang kau kasihi.