AnasAbdin
Xuebing Du
he wasn't even looking at me and he found me

Kaledo Art
Lint Roller? I Barely Know Her
occasionally subtle
Claire Keane

⁂
RMH
Sade Olutola

pixel skylines

JBB: An Artblog!

titsay
ojovivo

shark vs the universe

No title available
we're not kids anymore.
NASA
noise dept.
No title available

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from Netherlands
seen from China

seen from Norway

seen from China

seen from Malaysia
seen from South Africa
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Finland
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from United States
@bungaca
Saya baru saja selesai menonton video di atas. Video itu berisi cerita seorang eks transgender yang berhasil taubat dan hijrah “menjadi manusia”. Intinya, yang membuat dia berubah adalah ketika mulai mecoba rutin menjalankan sholat, setelah dinasehati teman baiknya yang tidak menghindarinya karena kondisinya. Suatu saat Rega, dengan dandanan perempuannya, masuk musola untuk menunaikan sholat. Namun seorang bapak-bapak mengatakan bahwa tempat untuk perempuan ada di tempat lain. Di saat itulah dia tertohok. Dan akhirnya memicunya untuk berubah dan berhenti menjadi ‘perempuan.
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah ikut jumatan yang isi khutbahnya adalah sesuatu yang baru bagi saya. Ilmu yang baru saya dengar. Bahwa kewajiban yang kita tinggalkan, dosanya lebih besar daripada mengerjakan maksiat yang besar sekalipun. Sholat yang ditinggalkan dosanya lebih besar dan tidak akan bisa diganti di waktu yang lain.
Di sini lah saya mulai memahami arti dari suatu dalil yang sudah lama kita dengar “Sholat adalah tiang agama.” Manusia tidak sempurna dan masih sering melakukan kesalahan. Tapi janganlah tinggalkan sholat. Karena sholat yang akan menjaga kita dan merubah kita menjadi lebih baik.
Mana Islam Yang Benar?
Islam emang satu. Tapi kalau liat realitas, Islam bisa dijalankan dengan berbagai “versi”. Ada versi keras, moderat, hingga liberal.
Yang mana yang bener? Mungkin ada lebih dari satu yang bener. Mungkin semuanya bener–hanya Allah yang tahu.
Tapi, saya sendiri punya cara mengidentifikasi, kira-kira ini Islam yang “bener”. Salah satu caranya adalah dengan bertanya: “Kira-kira Islam versi ini kapabel ngga yah kalau dikasih kekuasaan?”
“Kira-kira kalau Islam versi ini jadi tokoh masyarakat, ketua RT, walikota, bahkan presiden, kapabel ngga ya dia mengayomi semua manusia yang terlingkupi di dalamnya?”
Makanya, saya ngerasa gaya Islam yang “haram haram haram”, “dosa dosa dosa”, “bid’ah syubhat bid’ah syubhat”, itu doesn’t feels right. Kepada saudara sesama muslim aja–yang Tuhannya Allah, nabinya Muhammad, shalatnya 5 waktu, mereka gagal memberi rasa “aman” dari perkataan mereka. Apalagi yang jelas-jelas beda aqidah? Apalagi yang ngga punya aqidah?
To be clear, masalahnya bukan pada penetapan mana halal, haram, syubhat, bid’ah. Masalahnya adalah pada (1) seringkali penetapan ini terjadi dalam hal yang terjadi perbedaan pendapat, dan ketika suatu pendapat diklaim sebagai satu-satunya kebenaran dan pendapat lainnya salah total–padahal semuanya memiliki dalil dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, ini masalah; (2) apalagi jika ditambah penghakiman bahwa yang berpendapat berbeda itu “lebih rendah” dari kelompoknya, entah apa sebutannya–ahlu syubhat, ahlul bid’ah, manhajnya bermasalah, dll. Kembali ke pertanyaan tadi: dengan gaya seperti ini, apakah Islam versi ini kapabel jika diberi kekuasaan?
Dilahirkan Untuk Manusia–Semua Manusia
Kan di Al-Quran disebutkan,
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah …” (Ali Imran, 110)
Kita “dilahirkan untuk manusia”, bukan untuk kelompok pengajian kita doang.
Lalu menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar itu emang cuma dengan ceramah menyuruh dan melarang? Mewajibkan dan mengharamkan? Wew, sederhana sekali urusan hidup manusia kalau begitu. Realitasnya, dunia kita kompleks dan tidak semua bisa tersentuh dengan ceramah berisi suruhan dan larangan.
Bagaimana dengan membangun sistem hukum di mana khamr dan zina dapat dicegah? Bagaimana dengan membangun sistem ekonomi sehingga masyarakat kondusif dan kejahatan nol? Bagaimana dengan membangun sistem pendidikan sehingga setiap orang berlomba membangun masyarakat, negara, dan dunianya? Tidakkah itu juga “amar ma’ruf nahi munkar”? Bahkan dampaknya luas dan jangka panjang.
Bisa-bisa orang tidak sadar mereka sedang disuruh kepada yang ma’ruf dan dicegah dari yang munkar, tapi mereka melakukannya, karena mereka berada dalam sistem yang memungkinkan hal itu terwujud.
Nah, jika ada versi-versi Islam yang kompatibel dengan realitas dunia dalam skala paling kompleksnya, maka saya akan cenderung mengikuti versi-versi tersebut.
Contoh nih, maaf ini agak kontroversial, soal musik. Emang paling gampang itu haramin total aja udah. Aman. Kalau benar haram kita selamat, kalau mubah berarti terhindar dari peluang kesia-siaan (etapi mengharamkan yang halal juga dosa ga sih? Wallahu’alam). Ini relatif gampang diatur di level personal, atau level jamaah pengajian.
Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau kekuasaan dititipkan ke Islam versi ini lalu harus handle sesuatu seperti Asian Games–misalnya? What would you do?
Opening, musik. Jeda pertandingan, musik. Naikin bendera, musik. Closing, musik. Begitu realitas dunia di luar sana mengelolanya saat ini. Tidak seperti makan daging hewan tertentu atau minuman keras, norma keumuman dunia realitasnya tidak menanggap musik sebagai sesuatu yang “tabu”. Kalau daging hewan tertentu berbagai budaya/agama punya versinya, ada yang gaboleh makan babi, sapi, dll. Minuman keras pun sama, ada mutual understanding bahwa itu bukan buat semua orang. Tapi musik? Dunia kira-kira berkata, “What could go wrong with music?”
Nah, I really would like to know what’s the proposal.
Catat bahwa saya tidak mengatakan bahwa mengharamkan musik itu konyol karena tidak kompatibel dengan budaya global, bukan. Yang saya mau soroti adalah, di tengah realitas dunia seperti yang kita jalani hari ini, dan di tengah pemahaman masing-masing versi tentang Islam yang benar, apa yang ditawarkan masing-masing versi kepada dunia jika amanah kekuasaan dititipkan kepadanya?
Pakai Otak
Terakhir, saya percaya, agama yang benar adalah agama yang masuk akal. Yang sesuai dengan realitas–alias sunnatullah. Yang natural. Yang ngga bikin otak kita gelisah. Yang ngga menciptakan paradoks dalam akal sehat kita.
Berapa kali Allah tanyakan atau tegaskan dalam Al-Quran, “Tidakkah kamu berpikir?”, “Tidakkah kamu memikirkannya?”, “Tidakkah kamu menggunakan akalmu?”, dan lain sebagainya. Kalau Allah mau kita cuma beragama dengan baca teks dan ambil terjemahan literalnya, tentu ngga perlu ditantang berkali-kali untuk menggunakan akal. Mungkin cukup dikatakan kepada kita, “Tidakkah kamu membaca?”.
Fakta bahwa Allah menyinggung proses berpikir dan penggunaan akal berkali-kali, buat saya, mengisyaratkan bahwa kita harus pakai akal kita sekuat tenaga untuk memahami kehendak Allah, Islam, dan urusan lain di semesta.
Artinya, kalau mau Islam berfungsi sepenuhnya pakai tuh akal. Sebaliknya, Islam ngga akan works kalau kita ngga pakai akal, meski lisan kita berkata Allah Tuhanku, Muhammad Nabiku, Al-Quran Kitabku.
Out of topic–ngomong-ngomong, guru saya yang orang pendidikan pernah cerita observasi beliau. Ada anak yang berhasil menghafal Al-Quran dalam waktu beberapa bulan. Orang tuanya senang, karena merasa anaknya kini “saleh”. Tapi setelah beberapa waktu berlalu, anak ini hanya menghabiskan waktu dengan main game. Tidak tampak sebagai seseorang yang hafal Quran.
Kesimpulan beliau, kemampuan kita merekam Al-Quran dalam memori tidak berkorelasi langsung dengan akhlak dan kesalehan. Yang lebih berkorelasi barangkali adalah kemampuan memfungsikan akal untuk berinteraksi dengan Al-Quran, baik teksnya maupun kandungannya. Kalau susah memahami kata-kata ini, sederhananya: Al-Quran pun mesti diproses pakai akal, baru berdampak buat kehidupan.
Oke, apa hubungan antara mencari versi-versi Islam yang benar dengan menggunakan otak?
Hubungannya adalah: saya percaya, dalam kadar tertentu, akal yang Allah berikan kepada kita ini diberi kemampuan untuk mengidentifikasi mana yang benar, yang kurang benar, dan yang ngga benar. Mana yang berlebihan dan mana yang kekurangan.
Akal kita dipadukan dengan dalil-dalil qouliyah dan kauniyah mestinya bisa nangkep Islam seperti apa yang dipandang oleh Nabi Ibrahim–Sang Bapak para Nabi. Mestinya bisa bikin kita paham bagaimana Nabi Muhammad memandang manusia, dunia, semesta. Ya dong, kita mesti punya “Islamic eyes” yang sama dengan “Islamic eyes”-nya para Nabi dong–mereka yang membawa ajaran ini?
Satu ayat bagus sebagai penutup:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.“ (Al-Anbiya, 107).
“Kamu” di situ refers to Nabi Muhammad. Nabi Muhammad adalah rahmat, yang bisa diterjemahkan sebagai kasih sayang, bagi semesta alam. Sekarang nih, coba kita tanya, kalau ada versi Islam yang kehadirannya tidak menstimulus kasih sayang, perdamaian, persatuan di antara dan di sekitar mereka, kira-kira gimana tuh? Tidakkah itu menggelitik akal?
Wallahu’alam.
Ps: Mungkin judulnya terlalu berat untuk ocehan sedangkal ini–maaf ya.
Master of None - “Parents”
My heart hurts 😔
this makes me cry so much I hate seeing it
Fuck.
huhu
ala i feel bad. Especially to my dad
Ive lost him…
Yunohira-onsen
Cerita Perjalanan: 21 Hari di Lombok
Belum selesai duka Lombok, Palu dan Donggala sudah memanggil kita. Ekspresi pertama saya dan kawan-kawan ketika mendengar berita gempa dan tsunami Palu pertama kali adalah “Allahu Akbar, kasihan sekali negara ini.”
Pasalnya, kami tahu betul bahwa semua anggaran nasional untuk penanggulangan bencana (selama tahun 2018) beserta sumberdaya manusianya hampir seluruhnya terkonsentrasi ke Lombok. Lalu, sedetik setelah gempa terjadi, kantor ribut setengah mati (Oiya, saya kerja di Badan Nasional Penanggulangan Bencana, biasa disebut BNPB). Seperti itulah setiap ada bencana besar terjadi. Notifikasi grup di handphone tidak berhenti sampai tengah malam, sampai keesokan harinya, sampai saat ini.
“Yaya, standby ya, kemungkinan berangkat besok pada kesempatan pertama, penerbangan paling pagi.” adalah kata-kata yang familiar, yang artinya kita harus siap untuk tinggal lama di lokasi bencana.
atau, pernah lebih ekstrim lagi seperti ini.
“Yaya siap rolling ke Lombok, berangkat malam ini.” disampaikan siang hari menuju sore yang artinya nggak ada banyak waktu lagi buat packing, alhasil bawa baju minimal yang kemudian menjadi itu-itu lagi yang dipakai.
Karena tidak diterjunkan ke Palu, saya ingin berbagi cerita dengan kawan-kawan tentang pengalaman saya terjun di tanggap darurat Gempa Lombok. Dengan mendapat gambaran di Lombok, kawan-kawan dapat membayangkan sendiri bagaimana tanggap darurat di Palu akan dilakukan.
Kenapa saya akhirnya ingin cerita? Karena banyak orang yang ternyata cuma bisa nyinyir tanpa tahu bahwa pemerintah sudah bekerja semaksimal mungkin. Sedih sekali.
APA YANG BNPB LAKUKAN?
Banyak yang tidak mengetahui apa itu Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Kami seringkali disamakan dengan BASARNAS (Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan). Memang sih, seragam lapangan kami sama-sama oranye, tapi tugas kami jauh berbeda. BASARNAS bertugas secara teknis mencari dan menyelamatkan korban bencana. Terjun langsung dan menyebar ke lokasi-lokasi dengan kerusakan paling parah adalah tugas BASARNAS selama bencana. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan (dan Dinas Kesehatan setempat) bertugas mengkoordinasikan semua sumberdaya kesehatan dan mendirikan Rumah Sakit Darurat jika Rumah Sakit di lokasi bencana tidak dapat dimanfaatkan. Korban terluka dan meninggal yang ditemukan oleh BASARNAS kemudian diserahkan kepada Kemenkes untuk dilakukan tindakan lebih lanjut.
Dua tugas tadi seringkali disematkan pada BNPB. “Oh, mbak kerja di BNPB bagian kesehatannya?” adalah pertanyaan yang seringkali terlontar ketika naik ojol. Kemudian saya bingung jawabnya wkwk.
Pemahaman ini nggak bisa disalahkan juga sih. Pengetahuan umum masyarakat tentang penanganan bencana memang masih mentok pada dua hal itu, pencarian dan penyelamatan korban serta pengobatan. Tapi, sebenarnya ada hal yang lebih besar yang menaungi semua kegiatan itu, namanya manajemen tanggap darurat bencana. Dan, BNPB adalah yang diamanahkan untuk itu.
Keep reading
Sampai Jalan Takdir
Ada orang yang berjalan hanya untuk menutup ruang di hadapannya. Ia tak tahu apa yang akan muncul beberapa langkah setelahnya. Sejak kecil ia berjalan dituntun. Awalnya oleh ibu dan ayahnya, kemudian bergantian oleh mimpi-mimpinya. Lambat laun mimpi pun meninggalkannya. Ia kini berjalan tidak dituntun. Yang ia punya hanya beberapa perasaan dan firasat yang baik.
ZINA YANG MENJADI GAYA HIDUP
By. Ario Muhammad
“Bagaimana kamu yakin bakalan puas berhubungan seksual dengan calon Istrimu kalau gak pernah nge-seks sebelum menikah?”
Pertanyaan ini meluncur santai dari salah satu sahabat saya dari Jepang beberapa waktu lalu saat kami sedang makan siang bersama karena dia sangat tahu, seks bebas tak lazim bagi orang Indonesia.
“Saya tidak pernah berhubungan badan dengan yang lain. So how can I make a comparison?” saya membalasnya tenang.
Sejujurnya saya kaget mendapatkan pertanyaan dari dia seperti ini. Tidak pernah terbayangkan dalam otak saya bahwa hal ini akan menjadi masalah bagi seseorang jika dia tidak bisa menikmati kehidupan seksnya, maka pernikahannya tidaklah bahagia.
Kekagetan saya ini juga menjadi pertanda bahwa latar belakang yang berbeda, gaya hidup yang berbeda, nilai-nilai kebenaran yang berbeda ternyata juga melahirkan cara pandang yang berbeda.
Saya muslim, lahir di negeri mayoritas muslim dengan kultur islam yang kuat. Teman saya di Jepang tentu saja berbeda. Agama bukan lagi bagian dari hidup, seks bebas bukanlah aib apalagi dosa bagi mereka. Gonta ganti pasangan tidaklah masalah karena memang begitulah kehidupan mereka. Saya tidak bisa memaksa pemahaman saya seperti ini dalam sehari agar bisa diikuti olehnya. Begitu juga sebaliknya. Wajar jika dia keheranan soal kepuasan berhubungan seks kepada saya. Karena baginya, ini bagian terpenting dari sebuah hubungan resmi bernama PERNIKAHAN.
Dan zina adalah lifestyle di negeri-negeri barat dan tanpa agama. Karena memang mereka tumbuh dengan kultur seperti itu. Agama bukan lagi menjadi pelindung dan pengontrol atas nafsu manusia. Selama suka sama suka, bukanlah sesuatu yang terlarang bagi mereka. Entah itu lelaki sama lelaki, perempuan sama perempuan, semua sama saja. Tak ada masalah sama sekali.
Tak berapa jauh dari kampus University of Bristol, Inggris tempat saya dan Istri mengenyam pendidikan S3, ada club malam untuk Gay, di tempat-tempat umum sudah biasa orang berciuman mesra walau batas-batasnya tetap terjaga dan tidak sembarangan. Karena memang norma mereka dengan kita berbeda. Nilai yang mereka anut dengan kita berbeda. Di UK, pasangan lesbian bisa memiliki anak dari sperma sumbangan. Begitu juga dengan pasangan Gay, mereka juga melakukan hal yang sama. Maka alasan kepunahan manusia terbantahkanlah dengan cara mereka seperti ini. Kehidupan mentalnya bagaimana? tentu tidak akan sempurna sesuatu yang tidak pada fitrahnya, tapi teman saya Fissilmi Hamida ini pernah memiliki landlord (tuan rumah) pasangan lesbi yang punya skill parenting jauuuh lebih baik di banding orang tua-orang tua muslim yang pernah ditemuinya.
Lalu dengan “nyamannya” kondisi di negara barat yang menjadikan zina sebagai lifestyle, LGBT sebagai sesuatu yang lumrah, haruskan di Indonesiapun terjadi seperti itu?
Saya tidak ingin membahas soal penyebaran penyakit akibat dari perilaku zina ini. Karena informasinya sudah banyak beredar dan sudah jelas penyebabnya. Untuk itulah program-program seks sehat digalakkan di negara-negara maju yang kemudian juga disarankan oleh para aktivis YANG ANTI DIURUSI RANJANG-nya mengkampanyekan hal yang sama.
Tapi ingat para orang tua dimanapun!
Terutama kamu yang masih percaya dengan Allah dan syariat-Nya.
Kita sedang memandang wajah anak-anak kita di masa depan. Tentang ketakutan kita akan bahaya pornografi, tentang ketakutan kita akan perilaku seks menyimpang yang begitu mudah tertular, kita sedang khawatir ibu-ibu RT yang kemudian harus tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) karena suaminya sering “jajan” di luar, kita sedang resah karena pelakor yang menghancurkan rumah tangga orang dengan dalih suka sama suka, kita sedang benci dengan maraknya tindakan seks bebas di kalangan remaja.
Ini bukan soal PMS yang bisa diatasi, ini bukan menjunjung tinggi hak asasi seseorang karena atas dasar pilihannyalah dia berzina. Kita sedang mencoba untuk saling menasihati sebagai sesama muslim. Karena agama ini nasihat [1].
Kita sedang ingin mengingatkan saudara kita diseberang rumah atau mungkin saudara kandung kita bahwa masih ada Iman yang harus kita pegang, masih ada kekuatan ruhiyah yang bisa kita perjuangkan agar jauh dari tindakan tak senonoh seperti ini.
Ini bukan hanya tentang kekhawatiran akan masa depan anak-anak kita, keluarga terdekat kita, ketakutan ini jauuuuh lebih panjang dari itu. Yang kita takut adalah saat kita sakratul maut nanti. Saat kita menghadap Allah nanti. Tidak ada kekhawatiran yang mendera begitu hebatnya selain melihat saudara muslim kita sendiri terjebak dalam pusaran maksiat seperti ini. Untuk itu kita memberi nasihat, untuk itulah kita berjuang hingga ke parlemen dan undang-undang.
Ini bukan karena saya lebih baik dan anda lebih buruk dari saya, tapi tentang saling membuka lebar-lebar tentang mana yang salah dan mana yang benar. Tentang kembali ke kultur kita sebagai seorang muslim, seseorang yang masih percaya bahwa ada aturan Allah yang harus kita ikuti, ada rambu-rambu yang harus kita jaga.
Anda mau anak-anak SMA terbiasa hamil lalu cuti melahirkan dan kembali sekolah lagi? ini terjadi di negeri Inggris yang menjadikan zina sebagai lifestyle.
Anda mau suka sesama jenis adalah hal lumrah yang tak perlu dikhawatirkan dan sudah dimulai sejak anak-anak anda remaja? ini terjadi di negara yang tak mau lagi percaya akan Tuhan.
Anda mau jika agama yang menjadi penyelamat hidup kita kelak hanya menjadi atribut tak berguna yang hanya menjadi sumber pengekang kehidupan manusia?
Kalau anda mau silahkan. Tapi tidak dengan kami yang masih ingin nafas islam itu bernyawa di tubuh dan jiwa generasi-generasi kami.
Kami masih ingin lantunan qur'an itu merdua disetiap maghribh maupun subuh di rumah kami dan anak-anak kami kelak.
Kami masih ingin semangat menuntut ilmu di sekolah selalu teriring dengan keinginan yang kuat untuk mendekat kepada Allah.
Kami masih ingin itu terjadi sekalipun kami mati. Untuk itulah kami berjuang menjaga ketahan keluarga agar tetap memiliki nafas Allah dan Rasul-Nya dari rumah-rumah setiap keluarga muslim.
Jika anda tak suka, jangan menuduh kami tak mau memperjuangkan hakmu yang kamu atur sesukamu. Kami sedang khawatir keindahan berislam itu hilang dan luntur dari akar keluarga kami. Untuk itulah kami bersuara.
Saya tidak pernah menyesal terlahir sebagai muslim dan dianggap “terkekang” dengan aturan-aturan agama.
Karena dengan itulah jiwa kami bisa lapang, dengan mengingat-Nya lah hati kami tenang. Kami tak perlu pusing memikirkan akhir pekan harus mabuk berapa lama seperti teman saya dari Romania, kami tak perlu berfikir berapa banyak uang yang harus kami keluarkan hanya untuk MENCARI KEBAHAGIAAN persis seperti rekanku dari Italia yang kebingungan mencari destinasi liburan, kami tak perlu bingung memikirkan apakah calon pasangan kita memuaskan di ranjang atau tidak karena tak pernah mencobanya sebelum menikah, kami tak perlu sibuk bekerja hingga meninggal seperti orang Jepang hanya untuk memuaskan dahaga dunia.
Untuk itu setiap orang tua dimanapun, keluarga adalah kunci dan fondasi paling awal menantang “keras"nya dunia. Jika Agama hilang dari keluarga kita, maka bersiaplah menerima gaya hidup baru yang semakin menjauhkanmu dari Tuhan.
Bagi kalian yang senang semakin jauh dari Tuhan, silahkan. Tapi bagi kami, keberadaan Allah di hati adalah segalanya. Bagi kami, menjaga anak dan keluarga kami dari api neraka lebih kami takutkan dibanding mengikuti mau manusia yang selalu berujung pada nafsu belaka.
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [at-Tahrîm/66:6]
Salam musim dingin dari Bristol, Inggris.
[1] Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Hak siapa (nasihat itu)?”. Beliau menjawab, “Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)
Ngeri juga. Nangis di bagian ujung closing statement Bunda Elly Risman.
Yokk di nonton videonya :)
Aku berpasrah pada keajaiban. Apabila ia hilang, maka habislah aku.
Aku menunggu keajaiban. Apabila ia tak datang, maka habislah aku.
Because some things don't work out the way you want them to.
Sometimes things don’t work out. Sometimes you sink in perpetual frustration from the waves of negative energy around you. Sometimes there can simply be a phase in your life when plans don’t go through, and the sentences in your mind end with a question mark. And that’s okay.
They tell you it will all be okay eventually - and that sounds nice but is hardly ever useful to hear at your lowest point.
So what does one do?
Allow yourself to be sad. Relish in disappointment. Give room for it to linger for a while. Then from it, grow and find new positive energy to harness.
Sering kita bersedih ketika kehilangan sesuatu. Tapi banyak yg senang, bahkan merayakan ketika mereka kehilangan umur.
Netherlands by lonelywolf2
411
Ada banyak hikmah yang bisa gw ambil dari gerakan 411 kemarin (feel so sad that I was not able to join because that’s exactly the day when I had to submit my forecast for November month huhuhuhu *:(((((* )
Pertama, gw belajar bahwa as the agent of Islam, you need to have a courage to explain what was happening. Bukan hal yang di luar prediksi lah bahwa gerakan 411 kemarin akan menimbulkan berbagai persepsi dan respon, baik dari teman-teman kita sesama muslim maupun teman-teman non muslim. Thus, menurut gw, kita, sebagai agen Islam, wajib untuk berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, apa niat dari gerakan ini, dan kenapa kita harus melakukan gerakan ini. Ini agar supaya teman kita yang belum paham bisa menjadi paham, yang sempat berburuk sangka, jadi terluruskan prasangkanya. I do not know, tapi interpretasi gw adalah gerakan 411 ini adalah gerakan Bela Qur’an. Kita sebagai umat Islam wajib marah apabila ada komentar-komentar tak perlu (seperti komentar Pak Ahok) tentang Al-Quran dilayangkan ke publik. Gw, berpikir dari sudut objektif manapun, ga bisa memahami kenapa Pak Ahok harus banget bahas-bahas kitab suci agama orang lain. Aneh aja menurut gw, sehingga wajar lah umat si empunya kitab suci marah. Yah, well, walaupun pasti juga ada yang niatnya politis di gerakan kemarin (misal mengharap agar gerakan ini akan dapat menggiring opini publik untuk ga-milih-Ahok :p), tapi yah hellooooo, ga usah naif lah kita bahwa ga ada tunggang-menunggang dalam setiap pergerakan massa, apa pun temanya, hehe. Tapi, intinya, gw setuju sama Pak Banu, bahwa gerakan kemarin itu adalah asap (akibat). Apinya (penyebabnya) ya statement Pak Ahok, and I think nobody can deny it. Ya, bayangkan sebaliknya aja, apabila kitab umat Kristen dikomentari oleh orang lain, apa iya para umat Kristen diam aja? Enggak kan?
Kedua, gerakan kemarin adalah momen yang tepat untuk mem-filter kembali teman-teman kita dan kita cukup tahu aja orang seperti apa teman-teman kita, dan kembali meneguhkan hati kita tentang siapa yang harus menjadi teman baik kita hehe. Kalau boleh jujur, gw agak kecewa sama beberapa teman gw yang dari pagi pokoknya menuliskan status yang intinya bilang bahwa orang-orang yang lagi melakukan aksi adalah orang-orang yang ga punya kasih. Intinya menghinakan orang-orang yang sedang melakukan aksi. Yaampun, gw sedih. Yaaaaaa, gw ga bisa mengontrol bagaimana orang lain berpendapat, tapi gw cukup tau aja. Menurut gw, di negara yang heterogen, saling menghargai antar umat beragama itu penting. Gw, selama hidup ga pernah menghina agama orang lain dan umat beragama lain, sehingga gw merasa, tidak menghina agama orang lain adalah sesuatu yang do-able, sesuatu yang memungkinkan untuk dilakukan. Setidaknya, sedongkol-dongkolnya, at least ga perlu lah berkomentar negatif tentang umat beragama lain. That’s why, ketika melihat teman-teman gw masih ada yang menghina umat Islam, gw kecewa aja. Dalam hati gw, “Bener sih memang, lo ga perlu gw jadikan teman dekat.” Hahahha. Tapiiiiiiiii, gw ga mau menghabiskan waktu untuk baper sama kelakuan teman-teman tak worth it seperti mereka karena orang-orang seperti mereka do not deserve to be my friend at first place, so I just let them go, they are black listed! Hehehhe.
Ketiga, ini yang paling penting, buat yang menganggap bahwa gerakan kemarin itu semacam gerakan sekelompok orang (which is umat Muslim) sedang melindungi Al-Quran (dimana melindungi itu identik dengan persepsi bahwa yang dilindungi itu adalah sesuatu yang lemah), maka jangan pernah kita lupa bahwa bukan demikian konteksnya. Al-Quran tuh ga butuh kita untuk membela-bela dia. Dia sudah mulia, dia sudah dilindungi oleh Yang Maha Melindungi, justru kita yang butuh untuk membela Al-Quran karena gampang bagi Allah menggantikan kita dengan kaum yang lebih baik, kalau kita gabut sebagai hamba. It’s very easy to swap us away, :)
Semoga kita selalu semakin cinta sama Islam dan berani bergerak membela agama kita, ga hanya diam, pasif, nrimo. Bergerak melakukan aksi bukan cerminan bahwa kita adalah orang yang tidak terpelajar, tidak intelek, dan suka tarkam, tapi itu adalah aksi yang sah-sah saja. Hal yang normal menyalurkan aspirasi melalui aksi di negara demokrasi. Jangan alergi sama aksi. Kita harus berani bergerak, turun ke jalan, untuk sesuatu yang kita cintai. :)
BerSEMANGAT!!
dan lebih sedih banget kalo yang ikutan nyinyir orang muslim. gapapa deh. jadi filter teman. hahahaaa. :’)
….dan saya baru mengamati banyak sekali dinamika dan poin nomor dua memang hal yang saya lakukan. Peristiwa (saya ingin membuatnya menjadi lebih bermakna) 411 kemarin menjadi sebuah momentum bagi banyak orang, juga memperlihatkan karakter-karakter orang, sering-sering istighfar kalau buka timeline facebook (terutama), dan mulai menata kembali pertemanan. Selamat melingkari diri dengan kebaikan-kebaikan :)
Bersamangat!!! *ala2isni
Miralem Pjanic’s freekick goal (Chievo 1-2 Juventus)