Pilpres 2019 dan Sikap Saya
Habis drama Pemilu, terbitlah drama suara. Ini sikap saya.
Saya pendukung yang kalah dalam Quick Count (QC). Tapi saya tidak menolak mentah-mentah hasil QC. QC itu akademik dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Jika nalar keilmiahanmu masih rendah, jangan salahkan QC-nya. Salahkan kemampuanmu yang masih terbatas dalam mencerna. Meski demikian, perlu diingat bahwa QC itu bukan Real Count (RC). QC menggunakan sampling yang sangat terbatas. Terima QC sebagai kenyataan, tapi pantau RC sebagai akhir perjuangan.
Ksatria itu ada di jiwa, bukan di kibasan pedangnya.
Biarkan QC bergulir, sambil ingatkan bahwa masih ada RC yang riil. Jangan phobia terhadap QC yang mengalahkan jagoanmu. Jangan juga lawan dengan metode lebih lemah dari QC seperti ExitPoll, screenshot ini-itu, atau pembanding hasil QC DKI yang momennya salah. Janganlah. Dewasalah.
FYI, di Istanbul hasil RC Pilkada, petahana (kandidat dari AKP) menang selisih 5% hingga suara terbuka 70%. Namun, setelah itu perlahan-lahan oposisi (kandidat dari CHP) mengejar sampai menang dengan selisih 0,3%. Hasil akhir 48,80% vs 48,55%. Petahana kalah, tapi masih mengklaim kemenangan. Sebab hasil QC internal mereka menang. QC internal AKP selalu sama dengan KPU Turki dari 2002. Tahun ini berbeda: memunculkan kecurigaan. Sebab itu mereka menuntut pemilu ulang di Istanbul. Kemungkinan ini bisa terjadi di Indonesia. Sebab itu, jangan phobia terhadap QC.
Proses pemilu di Indonesia itu panjang, butuh kesabaran. Kalau ada kecurangan, kita kawal. Kalau ada kekurangan, kita bantu selesaikan. Kita justru harus menjadi kubu yang memberikan keteladanan.