Malam ini entah sedang ada angin apa, tiba-tiba mood Brain berubah menjadi tak tentu arah. Entah karena kehororan malam senin atau hanya karena "pikiran"nya yang mulai semrawut memikirkan hal-hal yang tak kasat mata. Jodoh misalnya, !o.o!
Hari minggu ini Brain tak kemana-mana, hanya menetapi ruang kamar yang tampak "riuh" namun sedikit hampa. Bukan hanya tanpa suara, beberapa penghuni kamar lain biasanya memang akan pulang ketika akhir pekan sehingga hanya 2-3 penghuni yang tersisa. Brian adalah penghuni yang pantang pulang sebelum ada jum'at harpitnas (hari kecepit nasional) tiba.
Hari ini, Brain awalnya memiliki janji jumpa dengan salah satu koleganya. Rencananya, dia akan diajak untuk mengunjungi salah satu kota. Ya, Brain yang merupakan anak rantau itu, tak banyak aktivitas ketika akhir pekan, sehingga menerima tawaran kesibukan apapun akan diterimanya tanpa sungkan. Meskipun awalnya sepakat, nyatanya semesta tak mendukung Brian untuk keluar dari kamarnya. Sabtu malam, Brian mengalami Diare, entah dipicu salah konsumsi makanan, atau efek makan rujak pedas di hari jum'atnya. Brain mengingat-ingat, bahwa seminggu ini ia terbilang rutin sarapan dan menjaga makanannya. Namun apalah daya, sepertinya penyakit anak kos tersebut tak pernah salah datangnya. Jam tiga pagi akhirnya Brain membatalkan janji jumpa tersebut. Ia cukup tahu betul bahwa perut dan tubuhnya sedang tak baik-baik saja.
Menyadari perutnya tak baik-baik saja, Brian merasa kehilangan nafsu makannya. Namun, di sisi lain dia tak bisa membiarkan perutnya kosong begitu saja. Teringat bahwa ia masih memiliki sisa telur dan ubi jalar, direbuslah kedua bahan tersebut sebagai ganjel perut yang sedang bergejolak tersebut. Setelah sarapan, Brian menyadari bahwa diarenya masih seperti kemarin malam. "Harus beli obat dulu nih" pikirnya.
Menjadi anak rantau di kota orang di usia dewasa seperti Brian ini memang sedikit mengharukan dan membanggakan. Untuk kasus mengharukan, tentu ketika sakit seperti itu. Jauh dari keluarga, hanya mengandalkan dirinya, doa dan harapan untuk segera sembuh penyakitnya. Sementara untuk kasus membanggakan, tentu Brian sudah teruji cara bertahan hidupnya! hahaha. Sungguh cerita anak rantau tak akan pernah habisnya!
Setelah merasa penyakitnya menghilang, malam harinya Brian memulai untuk mempersiapkan materi untuk hari esok (senin). Brian menjadi salah satu pekerja akademik (dosen) pada salah satu perguruan tinggi swasta di ujung timur pulau jawa. Brian masih terbilang dosen pemula, belum genap setahun ia mengepakkan sayapnya di bidang pendidikan tersebut. Baru saja sebentar ia membuka laptopnya, terdengar suara pesan masuk dari handphone Brian. Dering pesan tersebut menunjukkan notifikasi pesan personal (bukan notifikasi grup). Diliriknya sebentar, dan helaan nafas langsung keluar dari mulutnya.
Pesan singkat itu dari salah satu mahasiswanya, bertanya tentang tugas presentasi untuk esok pagi. Inti pertanyaan dari mahasiswa tersebut adalah tentang apakah boleh menyerahkan tugas (tapi tidak sesuai dengan kesepakatan kelas). Brian merasa energinya belum terkumpul penuh untuk menjawabnya. Pikirannya tiba-tiba melayang ke masa lalu, saat ia juga pernah menjadi seorang mahasiswa. Dulu, ia tak akan berani menanyakan pertanyaan serupa dan di waktu yang sama. Jangankan berkirim pesan, menanyakan langsung saja mungkin takut. Brian merasa, apakah terlalu kejam apabila ia tak mengizinkan mahasiswa tersebut jika dilihat kondisi dan situasinya mungkin berbeda dengan saat ia kuliah dulu.
Setelah sekitar 10 menit berfikir dan menimbang-nimbang, dibalaslah pesan mahasiswa tersebut. Brian tidak memberikan jawaban ya dan tidak. Brian lantas mengajukan pertanyaan apabila mahasiswa tersebut tidak mengumpulkan sesuai kesepakatan, ia akan mengeksekusi tugasnya seperti apa?
Belum terjawab pesan tersebut, ada notifikasi pesan baru muncul. Kali ini dari salah satu kolega Brian, menuturkan bahwa token listrik rumahnya habis, dan meminta tolong untuk mengisikannya. Helaan nafas keluar untuk kedua kalinya. Entah kenapa, Brian seperti hilang energi hanya dengan membaca pesan tersebut. Pasalnya, sekarang termasuk tanggal tua. Ia khawatir jika diiyakan, pembayarannya akan ditunda hingga awal bulan. Namun, untuk menolakpun Brian rasanya masih tak tega. Dalam pikirannya, alasan apa yang bisa ia gunakan kali ini untuk menolaknya. Jika ia bilang tidak punya uang, ia takut hal tersebut menjadi doa yang tanpa sadar menjadi penyebab ia kehabisan dana. Meskipun berat, akhirnya Brian mengisinya. Direlakannya saldo toko oren untuk mengisi token listrik tersebut. Huuuuh, gini amat yak jadi orang gaenakan! celetuknya.
Brian kembali berkutat dengan laptopnya. Tak sampai 15 menit, suara notifikasi pesan masuk kembali mendistraksinya. Kali ini tentang seseorang yang ingin meminjam sejumlah uang kepadanya. Helaan nafas (yang ketiga kalinya) keluar tanpa aba-aba. Kali ini sedikit panjang dan keras. Belum selesai kemelutnya tentang kolega yang meminta isikan token, sekarang muncul lagi nasabah baru, pikirnya. Brian tak langsung membalasnya. Difokuskannya lagi perhatiannya kepada layar laptop di depannya. Ish! Dia gagal konsentrasi apabila balada utang-piutang ini belum ia jawab.
Dijawabnya pesan tersebut, mengiyakan bahwa ia ada uang sejumlah itu namun ditanyakannya kapan rencana pinjaman tersebut dikembalikan. Sembari menunggu jawaban pesan tersebut, Brian kembali melamun. Terkadang ia berpikir, apakah ketika dia mengeluh (berupa helaan nafas) itu akan mengurangi pahala niatannya untuk membantu orang lain? Jangan-jangan keikhlasannya untuk menolong orang lain masih dipertanyakan. Apakah boleh pamrihnya ke Allah? Ketika kita membantu orang lain, lantas kita mengharap kebaikan dari allah, apa tidak apa-apa harapan tersebut?
Brian, semoga kamu bisa belajar menolak dan berani menolak.