Dua puluh tahun, bukan usia sederhana.
Terlalu kompleks, prosesnya, untuk bisa bernapas, sampai detik ini, di dunia ini.
Bukan, tapi pikiran manusia yang terlampaui kompleks. Iya, ini tepat.
Alam semesta itu baik, manusia yang membuatnya buruk--sebagian atau lebih. Iya, namanya juga manusia, tempat salah, khilaf, dan tentunya pembuat kerusakan.
"Belum ada Maha Manusia, dan tidak akan pernah ada."
Mahasiswa, bagaimana? Banyak, saya bagian darinya.
Bukan, bukan ini yang dibicarakan. Kembali.
Jadi, wajar saja, bila hidup berada
Dan paling penting, alam dunia yang fana ataukah alam akhirat yang kekal?
Tidak tahu, manakah dari keduanya yang mendominasi, saya harap semua yang berakhir baik menjadi dominan.
Untuk apa mimpi, apalagi ambisi?
Cukupkan saja, bagaimana?
Toh, semua sudah tertulis, jauh sebelum alam semesta diciptakan.
Kompleks, semua harus kembali pada niat. Mencari dunia? Tidak, jangan pernah berpikir itu. Tidak berharga sedikitpun isinya. Hanya tumpukan manusia-manusia lalai yang ketika habis masanya, akan menjadi bangkai.
Kemana nurani dan empati?
Jika tidak, pasti saya akan menghalalkan segala cara demi ambisi.
Tidak begitu saya, terlalu takut terhadap yang di Atas. Jikapun pernah, selalu muncul pikiran supaya memiliki kemampuan mengembalikan waktu, kemudian akan saya perbaiki segalanya.
Tidak begitu kenyataannya, hal yang tidak sesuai syariat, pasti dicatat, sebagai dosa.
Seseorang berkata, tidak perlu khawatir, ampunan-Nya sangatlah luas, maka bersikaplah baik, berperilaku dan bertutur kata yang baik, dan milikilah pikiran-pikiran yang baik.
Dengan demikian apakah kita sudah menjadi orang baik?
Saya rasa, tidak disebut baik jika terselip sedikit saja gumam akan bangga diri.
Semakin hari, waktu semakin sedikit, terasa sekali ia menghimpit.
Karenanya, bersikaplah super hati-hati. Lakukan hal-hal dengan penuh pertimbangan.
Kelak, ada hari dimana semua harus dipertanggungjawabkan.
Jangan sampai menyesal, bila waktu yang sudah dipinjamkan-Nya tenggat, bisa apa?
Makhluk super lemah, rapuh, dan tak berdaya. Sekali lagi, bisa apa?
Terlalu takut untuk memikirkan itu, bahkan untuk sekedar berpikir. Harus apa kemudian?
Pertanyaannya, bagaimana cara menjadi orang baik dihadapan-Nya hingga Ia ridho? Sungguh jiwa ini ada dalam genggaman-Nya.
[Depok, 16 September 2021]