Pengakuan 2: Aku Kuliah Lagi dan Menyesalinya
Kalau kamu jengah dengan pekerjaanmu saat ini, lalu berpikir untuk mengambil gelar strata-2 agar bisa mendapat jabatan lebih tinggi di bidang pekerjaanmu nanti, coba dipikir ulang. Jangan sampai nanti seperti aku: stagnan dengan status mahasiswa yang kesulitan menyelesaikan tesisnya.
Sekitar 3 tahun yang lalu, aku sangat percaya diri saat mengajukan surat pengunduran diri ke kantor. Pikirku saat itu, kalau sebelumnya aku bisa beres kuliah (S1), yang ini (S2) pasti bisa aku taklukkan juga. Naif. Tahun pertama kuliah, aku masih merasa berada di jalur yang benar dan menikmati berbagai pengetahuan baru yang membuat aku merasa punya power untuk berbicara lebih banyak. Tahun berikutnya, tepatnya setelah terjerumus dalam proses pengerjaan tesis, duniaku mulai runtuh. Hahaha.
Memang, sampai sekarang aku merasa nggak ada bedanya antara mengerjakan skripsi dan tesis. Namun, tantangan yang aku hadapi juga berbeda. Dan kebiasaan jelek aku yang suka delete-rewrite-delete-rewrite itu belum bisa hilang. Untuk hal-hal penting semacam menulis tugas akhir dan surat cinta, aku nggak bisa menyerahkannya kalau belum merasa tulisannya sempurna.
Aku bukan tipe orang yang percaya diri dengan tulisan sendiri, tapi punya standar yang tinggi untuk tulisan sempura. Jadi, saat aku mengerjakan tesis, yang ada aku malah perang dengan diri sendiri, bukannya perang argumen dengan dosen pembimbing atau dosen penguji.
Bisa dibilang aku baru sadar kalau aku menyesal kuliah lagi gara-gara tesis. Selain itu, aku juga memperhitungkan berapa jumlah gaji dan bonus yang sudah aku lewatkan jika aku masih mempertahankan pekerjaanku. Ya, kehidupan sebagai mahasiswa cukup kere. Aku coba beberapa pekerjaan sampingan terkait menulis, tapi tesisku malah terbengkalai. Aku kesulitan multitasking. Mengerjakan banyak hal dalam satu waktu bukanlah keahlianku. Untungnya, orang tua masih bisa mendukung finansialku, meski aku nggak boleh lama-lama bergantung pada mereka.
Aku sebenarnya nggak bisa bilang juga kalau aku sepenuhnya menyesal. Kalau aku mempertahankan pekerjaanku, mungkin gajiku akan bertambah tiap tahunnya. Tapi dengan otak yang belum di-upgrade, apakah aku masih wara-wiri mencari berita atau sudah duduk di ruang redaksi? Aku yakin pilihan terakhir nggak akan tercapai. Yang membuatku berpikir untuk meninggalkan pekerjaanku saat itu adalah jabatan redaktur didominasi 100% oleh laki-laki. Bagi seorang wartawan, butuh 4-5 tahun agar bisa menjadi redaktur. Bagaimana dengan wartawati? Mungkin lebih lama atau tidak sama sekali. Apalagi aku merasa ada perbedaan perlakuan terhadap karyawan laki-laki dan perempuan. Dan di antara perempuan, wajah juga menjadi faktor penting: apakah kamu cukup menarik untuk diberikan perlakuan khusus? Untuk aku, jawabannya tidak. Wajahku tidak ‘mendukung’ sejak lahir. Membaca situasi kerja seperti itu, aku rasa sebaiknya keluar saja dengan baik-baik.
Saat resign, aku berharap bisa menjadi orang yang lebih baik dan lebih berkualitas di tempat lain. Saat ini aku belum merasakan ada yang ‘lebih’ sih, kecuali lebih tua. Iya dong, tiap detik kita kan bertambah usia. Meski menyesal kuliah lagi, aku memang nggak boleh menyesalinya. Nggak boleh berhenti di tengah jalan juga. Kenapa? Tesis saya sudah masuk bab kesimpulan. Masa’ mau mundur sekarang?
Kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik masih ada. Aku harus percaya.