“Menikah sebagaimana berbuka memang harus disegerakan, tapi bukankah Maghrib tak pernah serentak di muka bumi”
— Bang Akhyar #fatwakhyar

oozey mess
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium

Discoholic 🪩
macklin celebrini has autism
Xuebing Du
Doug Jones

Origami Around

titsay
$LAYYYTER
Sade Olutola
almost home

if i look back, i am lost
Jules of Nature
No title available
Today's Document
Game of Thrones Daily
Keni
I'd rather be in outer space 🛸
todays bird
seen from United States
seen from Bangladesh
seen from United States

seen from United Kingdom

seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore

seen from Türkiye
seen from Netherlands

seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from Suriname
seen from Finland

seen from Spain
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United States
@catatansucii
“Menikah sebagaimana berbuka memang harus disegerakan, tapi bukankah Maghrib tak pernah serentak di muka bumi”
— Bang Akhyar #fatwakhyar
Dua hari lalu aku nonton podcast Ust. Felix Siaw di Tenda Tanya. Ada kalimat beliau yang sampai sekarang tertanam dalam pikiran. Kurang lebih kalimatnya begini, aku tuliskan dengan bahasaku ya
Banyak orang lulus diujian kesengsaraan tapi sedikit yang lulus diujian kenikmatan.
Jawaban dari ujian kesengsaraan itu ada pada Allah sedangkan jawaban dari ujian kenikmatan itu ada pada manusianya sendiri.
Waah. Pas dengar ini aku mikir banget dong. Kok bener gitu hahaha. Kadang kalau lagi pengem sesuatu kita minta ini itu terus sering terucap, nanti kalau dikasih aku begini deh aku begitu deh. Tapi waktu dikasih kita malah lupa sama janji kita. Disini aku mikir banget. Iya bener aku sendiri juga sering nggak lulus diujian kenikmatan.
Terus yang bikin aku sadar kalau manusia sering lupa kalau dia sudah banyak diberi nikmat itu waktu tadi aku ngobrol sama temanku bicarain soal kerjaan. Adalah itu orang yang gajinya tiap bulan sudah 120juta tapi masih ambil kerjaan orang lain. Masih ngerasa kurang.
Disitu aku mikir. Oh iya, kalau orang yang ada diposisiku sekarang pasti mikirnya. Ngapain sih dia ambil kerjaan orang sedangkan tiap bulan incomenya sudah sebanyak itu. Tapi ketika aku posisikan diriku di pov orang itu, aku mikirnya TERNYATA KALO SUDAH DIKASIH LEBIH MANUSIA ITU NALURIAHNYA MEMANG MAU LEBIH LAGI. Seakan akan nggak ada puasnya. Padahal sudah dikasih banyak tapi masih mau lagi.
Disini aku sadar oh benar sedikit manusia yang lulus diujian kenikmatan karena seringnya income besar gaya hidup besar jadi pendapatan yang besar itu tetap akan terasa kurang.
Bekas luka itu pengingat ❤️
Yakinlah, pada suatu waktu atau barangkali sekarang kamu akan berterima kasih atas apa-apa yang telah terjadi. Tidak apa-apa, sekarang saat berbenah, bersihkan seluruhnya, jangan sampai ada sisa, selesaikan. Selesaikan sekarang. Karena esok sudah bukan waktunya berpatah-patah lagi.
Selamat, kepada diri karena ternyata cukup kuat.
@humaaaaai
Page 89 of 365
Pada ketertarikan yang dirancang untuk hidup bersama selamanya, apa siap jika tak sesuai rencana?
Lambat laun kita akan dan perlu sadar, ”Bahwa nyata tak selalu sama pada rencana”.
Sebab pilihan Allah adalah sebaik-baik-Nya, maka yang kita butuhkan hanyalah percaya.
Yakinlah, pada suatu waktu atau barangkali sekarang kamu akan berterima kasih atas apa-apa yang telah terjadi. Tidak apa-apa, sekarang saat berbenah, bersihkan seluruhnya, jangan sampai ada sisa, selesaikan. Selesaikan sekarang. Karena esok sudah bukan waktunya berpatah-patah lagi.
Selamat, kepada diri karena ternyata cukup kuat.
@humaaaaai
Page 89 of 365
Batasan Mengenal Diri
Antara tahu dan sadar
“Mengapa ya ada orang yang melakukan kesalahan, dia tahu yang dilakukannya salah, tetapi tidak kunjung berubah?”
Karena berbeda antara “tahu dan sadar”. Tahu hanya sekedar tahu, tetapi jika sadar akan menghasilkan suatu tindakan atau dengan kata lain ada aksi untuk berubah, untuk memperbaiki.
Kadang, kita tahu bahwa diri kita bermasalah, tetapi kita bingung harus bagaimana. Suatu saat ketika kita telah “sadar” mungkin kita tidak akan kebingungan lagi dengan cara melihat masalah yang ada dalam diri kita dengan kacamata yang berbeda, dengan kacamatanya Allah.
“Jadi, apakah perasaan dalam diriku itu salah? Apakah aku tidak boleh marah, kesal, sedih, menangis, kecewa?”
Benar bahwa perasaan-perasaan yang hadir dalam diri kita baik untuk divalidasi. Namun, tidak berhenti di situ saja. Ingat kata-kata ini; perasaan divalidasi, pikiran dievaluasi.
“Kenapa ya saya sedih dan kecewa?” Oke, mari validasi perasaan diri sendiri. Kemudian pikirkan asal mula kesedihan ini, apakah karena ekspektasi kita yang terlalu tinggi terhadap sesuatu? Apakah kita kecewa dengan takdir yang tak sesuai keinginan kita? Apakah ada bagian dari hati kita yang sulit menerima?
Menyadari bahwa ada hati yang kurang bersyukur adalah hal baik karena telah “sadar”. Nantinya ketika rasa bersyukur telah melanda hati, maka akan lahir hal-hal positif dari perasaan tersebut.
Ya memang, harus berani mengakui bahwa ada kurangnya rasa syukur itu yang menjelma jadi pikiran-pikiran buruk dalam diri, serta melahirkan rasa sedih berkepanjangan. Kita disakiti oleh pikiran kita sendiri.
Dari perasaan-perasaan kita ini saja kita mampu belajar bahwa bersyukur adalah hal mewah. Efek dari bersyukur adalah membuat hati merasa tenang.
Bukankah ini impian setiap orang? Orang-orang menginginkan hidup yang tenang, tetapi lupa bahwa kadang ketenangan dalam hidup diperoleh dari tenangnya hati.
Ada rahasia di balik perasaan iri
“Kenapa ya dia yang kayak gitu bisa dapat banyak rejeki? Sementara, saya tidak.”
Hati-hati dalam mengatakan hal tersebut karena khawatir melahirkan kesombongan dalam hati karena merasa seseorang tidak pantas memperoleh sesuatu, sementara kita merasa kitalah yang seharusnya mendapatkannya.
Apakah kita yang paling mengenal diri kita sendiri?
Allah akan menguji kita pada apa yang paling dipegang oleh hati.
Ujian yang kita alami boleh jadi mengisi ulang apa yang dalam hati kita.
Di satu sisi benar bahwa kitalah yang paling mengenal diri kita, tetapi jangan melupakan bahwa di sisi lain, Pencipta kitalah yang lebih tahu apa yang paling tersembunyi dalam hati kita.
Oleh karena itu, Allah mampu menguji kita dengan apa yang paling dipegang oleh hati kita.
Melihat dengan sudut pandang yang berbeda bahwa ujian adalah jalan untuk dekat pada-Nya. Contohnya sudah banyak pada kisah-kisah Nabi terdahulu yang kita ketahui begitu banyak doa-doa para nabi yang mengungkap ketidakberdayaan diri.
Allah yang paling kenal dengan diri kita, bukan diri kita sendiri. Bukankah kita sering bingung tentang perasaan yang kita rasakan? Tentang emosi yang tak kunjung mereda? Tentang solusi yang tak kunjung datang?
Dia membuat kita tidak berdaya agar kita sadar kita adalah hamba. Jika kita bisa bukan karena kita mampu, tetapi karena Allah yang memampukan.
Saking mudahnya masa kini setiap orang berkoar-koar tentang apapun yang mereka ingin bagikan, pernahkah bertanya dalam diri, “Apa lagi rahasia yang hanya aku dan Allah saja yang tahu?”
Dalam mengenal batasan diri, ada dua ranah. Pertama, ranah usaha. Kedua, ranah yang Allah lebih tahu. Pada ranah kedua ini meliputi ujian. Alih-alih protes pada-Nya, bukankah lebih tenang ketika memikirkan hikmah di baliknya. Meski terkadang hal yang tidak enak bernama ujian itu, makna di baliknya belum kunjung ditemukan, namun terkadang Allah perlihatkan pada nanti saatnya.
Catatan Sharing bersama Mba Sarita dan teman-teman
Sumber gambar: Pexels
Bogor, 4 April 2023
[MFA2023] Tak Perlu Takut Ataupun Sedih - Widji Wuri
Salah satu ayat favorit saya adalah penggalan ayat “Fa laa khawfun ‘alayhim walaa hum yahzanuun.” “… tidak perlu takut, juga tidak bersedih hati [niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (QS Al Baqarah: 38) Ustaz Nouman menerangkan ayat ini dengan memberi contoh orang sakit. Biasanya, kita akan kasihan pada mereka. Namun, sedikit janggal ketika…
View On WordPress
Capek tapi ketika ingin rehat tak bisa, mungkin itu yang mengubah banyak orang. Yang dulunya penuh senyum dan energi, menjadi lesu dan mudah marah.
Keinginannya sederhana: istirahat dari segala beban sejenak saja. Tapi kehidupan yang berat membuat ia tak bisa melepas sedetikpun beban yang menumpuk di punggung dan mengernyitkan urat kepala.
Orang-orang kaya gitu ga butuh motivasi. Mereka udah muntah sama kata-kata bijak. Mereka cuma butuh waktu untuk berteriak sekeras-kerasnya dan menangis sekencang-kencangnya; lalu melanjutkan hidup yang mereka sadari makin bertambah hari makinlah bertambah berat.
Bekas luka itu pengingat ❤️
Dewasa
Pembelajaran menjadi dewasa memang tidak diajarkan di bangku sekolah. Kita dibiarkan begitu saja untuk langsung berhadapan dengan pembelajaran kehidupan yang tiap hari makin menantang.
Satu masalah terselesaikan, berarti tanda kita harus bersiap untuk menyelesaikan masalah lainnya yang akan datang. Ada yang bilang memang hidup adalah langkah dari satu masalah ke masalah yang lain. Tapi sepertinya kalimat “masalah” terlalu mengandung arti dan energi negatif. Mari kita ganti dengan hidup merupakan satu langkah dari tantangan satu ke tantangan lainnya.
Begitupula dengan menjadi dewasa. Tak berarti setiap yang tua berarti langsung auto dewasa. Karena banyak juga mereka yang sudah tua namun tak juga memahami apa yang dimaksud menjadi dewasa. Tua adalah kepastian, sedangkan dewasa adalah pilihan.
Kita yang sedang berproses menjadi dewasa ini, tentunya menjadi berhati-hati ketika sedang memutuskan sebuah keputusan. Arti menjadi dewasa, salah satunya adalah sadarnya kita akan resiko dan konsekuensi atas sebuah keputusan yang kita ambil. Kita tidak bisa lagi bersembunyi di balik punggung orang tua, maupun atas nama keluarga. Kita yang membuat keputusan, kita yang bertanggung jawab. Pahit memang kadang, karena memang kehidupan dewasa sudah tidak lagi semanis ketika kita kecil dulu.
Pundak diharuskan menjadi kuat, dan hati diwajibkan untuk lebih lapang lagi dalam mengarungi hari-hari.
Ada dari kita yang ditakdirkan untuk menjadi dewasa sejak dini, atau lebih tepatnya dipaksa untuk menjadi dewasa sejak dini. Namun ada pula yang tak kunjung menemukan apa arti kedewasaan hingga ia melepaskan masa lajang nya. Berkeluarga tapi belum dewasa.
Menjadi dewasa karena pilihan atau menjadi dewasa karena keterpaksaan, keduanya sama-sama membutuhkan energi yang sama untuk berjalan.
Selamat berjuang menemukan diri yang lebih baik di dalam fase dewasa ini. Tetap sabar dan sadar, semua ada waktunya untuk terbuka.
Daejeon, 12th October 2022
Bukan Kebetulan
Barusan tidak sengaja menonton cuplikan kajian Ustadz Harry Santosa,
"Anak itu bukan sebuah kebetulan, begitu juga dengan pernikahan. Orang-orang mengatakan saya KB tapi gagal, atau saya dulu nikahnya dijodoh-jodohkan dan lain sebagainya.
Kita mungkin tidak sedang merencanakan punya anak, atau tidak berencana untuk menikah, tapi ternyata semua itu terjadi. Kita tidak merencanakan, tapi Allah tidak pernah tidak merencanakan kelahiran seorang anak."
Jadi, sambutlah dan temukan hikmah di baliknya..
Selamat menerima dan memetik hikmah! :')
_
Yk, 26 Okt '22 | 21.43
Atas kesedihan yang terjadi hari ini, cukup membuat prasangkaku sadar, bahwa akan “selalu ada pengalaman baru yang terjadi begitu saja di luar kendali kita sebagai manusia sekaligus hamba”.
Dan yang kubutuhkan.. ternyata bukan tentang mengeja kesalahan seseorang atau menghakimi sepihak meski hal itu terlihat tidak memulihkan menurut pandanganku. Boleh jadi Tuhan sedang mengingatkanku bersabar menghadapi persoalan kecil demi menaklukkan ujian besar kelak.
Hanya kini aku perlu merasa lebih tenang menyikapi arus di dalam diamku yang semoga tidak lelah merawat kebaikan itu sendiri.
—Self reminder, venushara.
Titip yang di luar kemampuanku, Ya Robb..
Sbg, 13 November 2022
Repost dari IG mbak Kalis Mardiasih
Ada yang bilang, pernikahan dan cinta adalah perkara berbeda. Katanya, kamu bisa menikahi seseorang puluhan tahun tapi tetap menginginkan seseorang yang lain. Bener nggak sih?
Bagaimana agar kita yakin menikahi orang yang kita cinta dan mencintai orang yang kita nikahi? Dalam Islam, fondasi pernikahan yang utama adalah sakinah: ketenangan. Marahnya tenang, nasihatnya tenang, sedihnya tenang, apalagi bijaknya. Susah sih, tapi bukannya nggak bisa. :)
Dan dalam Islam pula, kita percaya bahwa cinta bukan milik kita. Cinta (mawaddah) akan dihadiahkan oleh Allah dalam hati masing-masing pasangan setelah sakinah kokoh. Cinta yang milik Allah itu, kita harapkan hadir kepada kita dengan cara menjadikan akhlak penuh cinta sebagai kata kerja terhadap pasangan. Makanya setiap hari kita berdoa:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa (QS. Al Furqan ayat 74).
Ini yang doa kudu dua-duanya tentu ya. Termasuk mengupayakan sakinah agar sampai kepada mawaddah, nggak bisa satu orang saja. :)
Mawaddah (Cinta, hadiah dari Allah) itu yang konon membuat pasangan langsung kerasa kalau ada yang sakit di tempat yang jauh, mawaddah yang bikin pasangan langsung paham kalau ada hal yang kita nggak sreg, saking udah saling kenal satu sama lain.
Lalu tibalah di puncak paling tinggi dari cinta dalam pernikahan yakni wa (Rahmah). Saat kita menua, mulai bertambah banyak kekurangan, saat bisnis jatuh dan terpuruk, saat menunggu kehadiran keturunan lalu ada social pressure. Rahmah atau kasih sayang (titipan Allah) yang selalu bisa memaklumi, selalu bisa menerima, selalu bisa mengangkat dan menguatkan satu sama lain. Bisa kok, menikah sekaligus saling mencintai seumur hidup. Bisa kok terus menumbuhkan cinta sepanjang pernikahan.
Rumah, 11 Oktober 2022 10.33 wita