Dekonstruksi Bunyi
Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata noise? Biasanya pikiran anda lantas akan menjabarkan noise sebagai sesuatu yang berisik dan terasa mengganggu. Noise adalah frekuensi-frekuensi bunyi yang dianggap terlalu tinggi sehingga tidak nyaman untuk didengarkan telinga manusia biasa. Itulah kenapa seringnya noise dianggap duri dalam daging oleh mereka yang berkecimpung di dunia musik. Noise sedapatnya dihindari, direduksi, bahkan kalau memungkinkan dihilangkan dari musik yang mereka komposisikan karena noise yang berlebihan akan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pendengar musik. Dalam rangka menghilangkan noise inilah kemudian muncul standar metode rekaman musik seperti yang ada sekarang, dengan menggunakan teknologi noise reduction seperti studio rekaman yang terisolir dari sumber bunyi lain dari luar. Atau penggunaan piranti lunak penghilang noise ketika terjadi proses mixing sebuah musik. Tidak dapat dipungkiri lagi kita sepertinya sepakat bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise, dan oleh karenanya noise harus dihilangkan dari musik. Namun agaknya ada sedikit orang yang tidak setuju dengan pernyataan bahwa musik yang bagus adalah musik yang bebas noise. Mereka meyakini bahwa noise yang sebelumnya dianggap sebagai frekuensi mengganggu dan liar sebenarnya dapat juga dikatakan sebagai musik. Dekonstruksi Bunyi Dekonstruksi adalah sebuah teori yang dikembangkan oleh filsuf asal Perancis Jacques Derrida. Pada awalnya, Derrida yang juga merupakan ahli lingustik menggunakan dekonstruksi untuk membedah makna dalam bahasa. Derrida beranggapan bahasa harusnya dapat dibedah, direkonstruksi ulang sesuai dengan keinginan orang yang menggunakan bahasa tersebut. Maka Derrida merumuskan sebuah teori yang difungsikannya untuk membedah bahasa tersebut. Lahirlah dekonstruksi, teori perombak yang akhirnya menjadikan Derrida sebagai perumusnya dihormati banyak pemikir setelahnya. Pada perkembangannya, Derrida sama dengan beberapa ilmuwan sosial seperti Jean Claude Levi Strauss yang dicap sebagai post-strukturalis menyadari bahwa sesungguhnya bahasa adalah bagian dari fenomena sosial secara luas, maka teori-teori yang mereka temukan dalam upaya memahami bahasa ternyata dapat juga digunakan untuk membedah fenomena sosial budaya. Jika Levi Strauss lantas menggunakan Strukturalisme rekaannya untuk membedah berbagai fenomena sosial seperti permasalahan kekeluargaan, incest, hingga berbagai mitologi yang berkembang di masyarakat dunia. Maka Derrida juga mengimplementasikan teori Dekonstruksinya untuk membedah berbagai fenomena sosial. Secara sederhana, dekonstruksi dapatlah dipahami sebagai sebuah cara baca yang sangat intoleran terhadap pembekuan dan pembakuan teks. Oleh karena itu, pembacaan dekonstruktif selalu mengejutkan, bahkan sering kali menjadi subversif. Mengapa? Ia membongkar-menembus kedalam teks, untuk menampilkan watak arbitrer dan ambigu-nya yang (senantiasa) terkubur oleh ākepentinganā penulis-pengucap teks itu. Noise oleh karenanya adalah dekonstruktor yang mencoba meruntuhkan kemandegan dalam musik konvensional. Para pelakon musik noise meyakini bahwa eksperimentasi mereka adalah semacam pembangkangan terhadap kemapanan musik yang sejak sekian lama kita yakini dan dengarkan. Dengan konsep dekonstruksi inilah barangkali kita dapat mentahbiskan noise sebagai bentuk musik, karena dekonstruksi menolak terikat pada makna dan pakem yang ada sebelumnya, Dekonstruksi membedah lantas menawarkan makna baru. Sebelumnya musik boleh saja dikatakan sebagai nada-nada merdu, namun noise tiba-tiba muncul sebagai dekonstruktor yang menolak konsep itu, lalu menawarkan makna baru bahwa noise atau suara-suara bising adalah musik, sama seperti musik pada umumnya. Dekonstruksi bunyi ini bukannya tanpa resiko. Makna baru yang ditawarkan dekonstruksi memang rawan mendapat kecaman karena sering dianggap tidak lazim. Mendobrak Tradisi Secara umum, ada standar tertentu yang menyatakan sebuah bunyi boleh dikatakan sebagai musik. Bunyi tersebut harus memiliki unsur nada/melodi, ritme, harmoni, dinamika, tempo, warna nada/timbre, dan bentuk. Karena itulah bunyi alarm jam weker tidak dapat dikatakan sebagai musik karena bunyi tersebut tidak memiliki salah satu atau keseluruhan tujuh unsur diatas. Itulah mengapa musik-musik konvensional yang selama ini kita dengarkan terstruktur dan bernada indah, sebab musik itu harus patuh pada pakem tujuh unsur musik. Noise adalah bentuk pendobrakan tradisi, mendobrak tradisi musik konvensional. Mereka mengacuhkan sama sekali standarisasi a la tujuh unsur pembentuk musik. Noise menghilangkan dikotomi merdu-fals yang selama ini menimbulkan keyakinan musik yang bagus adalah merdu sedangkan fals adalah buruk. Karena noise memang tidak terikat dengan unsur melodis itu, noise lebih menekankan kepada eksplorasi berbagai bunyi bising, lalu menggabungkannya dalam sebuah kesatuan. Dikutip dari tulisan : Aris Setyawan di Jakartabeat







