Teman Se-Frekuensi
Teman-teman se-frekuensi…
Mungkin semakin kita dewasa siklus pertemanan kita kian mengecil. Iya, ga apa-apa . hal ini lumrah sekali. Kadang, orang-orang mungkin menilai kita sebagai pribadi yang susah banget berbaur.
“Eh, dia itu yang ga bisa berbaur”
Sebenarnya, tidak semua hal itu benar. Kadang ada beberapa pribadi yang merasa karena tidak se-frekuensi dengan temen—temen kampus atau kerjanya, lebih memilih dengan dunianya sendiri alias jarang-jarang banget mau bergabung dengan temen-temennya.
Ga memungkiri untuk bermusuhan, jelas tidak.
Karena semakin dewasa, beberapa pribadi menilai bahwa tidak semua hal harus dibagikan, tidak semua mesti bareng, bahkan kadang menyendiri sambil memikirkan urusan pribadi juga sangat mengasyikkan.
Hai, teman-temanku…
Jika kau dapati seorang temanmu tidak berbaur terlalu intens denganmu, bukan berarti alias tidak semuanya karena ia tidak ingin berteman denganmu.
Ada kalanya ia hanya ingin menyendiri untuk memulihkan segala gundah yang ada pada dirinya. Atau mungkin, lumrah jika ia tidak ingin membagikan hal itu kepadamu.
Kembali di awal, tidak semua teman-teman di sekeliling itu se frekuensi dengan kita.
Dan bukan berarti ia tidak ingin berteman denganmu.
Kadang pribadi yang seperti ini hanya butuh ruangnya sendiri, dan hanya se frekuensi dengan beberapa temannya saja.
Jadi semakin dewasa kita akan semakin mengerti, bahwa tidak perlu untuk terlalu memaksakan diri dalam suatu pertemanan. Karena, kita membutuhkan pribadi yang satu pandangan, bukan untuk sekedar “Eh temennya banyak loh”.
Tidak mengapa jika kau terasa seperti dibully karena hal ini. Karena membuat space pada orang-orang yang kamu rasa tidak se frekuensi denganmu. Hal ini lumrah. Mereka dengan persepsinya, kamu dengan pendirianmu. Karena toh pada akhirnya, hidupmu akan terus berjalan bersama orang-orang yang deserve denganmu sampai akhir. Bisakah kita beriringan bersama dengan orang-orang yang tidak se frekuensi dengan kita?
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk pribadi-pribadi yang sedang dilema mengapa pilihannya terkadang menjadi bahan pembicaraan di sekitar. Tidak mengapa, jalani hidupmu sebagaimana dirimu ingin. Jalani apa yang menurutmu benar, dan dewasa lah. Karena dewasa berarti tidak peduli atas apa yang orang lain pikirkan tentangmu.
“No matter what people say, you have your own decision for your own life…”












