Kamu, pernahkah menikmati indahnya menjadi seorang guru?
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hai, aku adalah seorang guru muda yang masih berusia 22 tahun. Dengan usiaku yang masih muda ini, aku dianugerahkan rezeki dari Allah untuk menjadi seorang pengajar dan pendidik di sekolah, lembaga kursus, dan juga tutor private. Dulu, aku gak pernah terpiikir bakal menjadi seorang guru. Dulu ya, waktu sekolah, ngidam banget jadi dosen. Pengen S2 pokoknya. Pengen kaya salah satu anak guruku, yang sekarang udah jadi dosen di salah satu universitas di Lombok. Tapi manusia hanya bisa merencanakan, selebihnya Allah-ku lah yang mengatur segala hidupku.
Menjadi seorang guru mempunyai tantangan dan kenangan tersendiri untukku. Selain tuntutan menjadi cerdas dan panutan, disini aku bener-bener belajar dari awal sekali untuk melatih emosiku.
Gurunya masih muda lho, ga minder ngajar anak SMA? Kaya mahasiswa sama adik siswa aja.
Memang begitu, aku gak pernah minder menjadi seorang guru muda yang hampir sebaya atau bahkan jarak umurnya gak jauh banget sama siswa-siswaku.
Sebelum aku lulus dari universitas, aku magang di salah satu SMA di kota ku. Waktu itu umurku masih 21. Paling sama kelas 12 hanya jarak 4 tahun (kayaknya). Awalnya aku memang minder sekali, apalagi ini siswa-siswanya cerdas banget. Alhamdulillah saat itu diamanahin untuk magang di sekolah nomor satu yang ada di kota ku. Aku gak pernah terpikir, bakal sesayang ini sama “murid”. Ada 6 kelas yang saat itu aku ajar. In the end of 2017 is my favourite year ever. Aku bersyukur bertemu siswa-siswa disana. Sampai hari ini, sampai aku tidak mengajar lagi, mereka bahkan masih sangat menghargai keberadaanku. Semoga kalian semua baca ini ya, adik-adikku. I was so thankful Allah introduced us.
Ah, ntah kenapa aku sangat mencintai profesiku ini. Walaupun sebenarnya di negeri ini gaji guru tidak sebanding dengan orang-orang kantoran yang walau tidak semua begitu tetapi kerjanya lebih santai, bisa ngopi siang, dinas kemana-mana dan rapat di hotel.
Profesi yang kalo dulu guru itu cuma tugasnya mengajar dan mendidik saja, sekarang udah disusahkan oleh segala administrasi yang terkadang bikin rasanya bertanya
‘kok gini banget jadi guru yah?’
ya Allah, kalo seandainya kita ini para guru gak bersyukur, memang bakal berat banget. Berat Sekali. Tapi inilah profesi yang dunia akhirat in Syaa Allah tidak terputus amalnya (Amal Jariyah).
Aku juga sering bertanya, kenapa guru-guru SD sampe SMK ku wajahnya gak pernah berubah, bahkan ketika aku juga sudah menjadi rekan kerja mereka? Selalu guru-guruku dahulu menjawab
“Karena yang kami hadapi itu siswa, jumpa siswa, ketawa sama siswa”
Ntah kenapa aku sangat mencintai profesiku ini, walau memang kita sering banget diribetkan dengan batin ‘besok mau ngajar apa ya?’, ‘besok anak-anak materinya apa ya?’ terus belajar dulu deh. Ntaran deh bales chat atau main sosmednya, cari materi dulu. Alhasil buka laptop. Kadang kalo aku, sampe larut malem, masih didepan laptop sampe buntu.Terus tutup udah. Sambung lagi besok subuh. Finally, sleepless...
Kadang aku rela bersikap awkward untuk bikin suasana kelas jadi hidup. Aku sangat gak ingin siswa-siswaku merasa tegang berada di kelas. Kadang memang butuh untuk menjadi seperti mereka, disaat ingin masuk ke dalam dunia mereka. Kalo mungkin beberapa orang mengatakan jadi guru itu harus berwibawa, harus tegas, batasin diri, pokoknya ada batasan bahwa kita ini guru dan mereka adalah siswa.
Mungkin kalo untuk kita sebagai siswa-siswa yang di era atau jaman yang berbeda, dulu kalo sama guru kita bener-bener kelihatan sangat hormat sekali. Sangat berbeda kastanya. Bahkan untuk menatap guru saja kita serasa sangat takut dan menunduk.
Tapi sekarang jaman kita sudah berbeda, Aku punya prinsip bahwa aku sama siswa-siswaku memang ‘guru dan siswa’. Tapi, aku ingin menjadi teman mereka, sahabat mereka, kakak mereka, dan bahkan orang tua kedua mereka. Gak jarang kalo aku kadang hang out sama siswa-siswaku. Pergi makan abis belajar atau belajar di luar. Aku ingin menjadi guru yang dibutuhkan, selain dihargai bahwa aku tetap orang yang lebih tua dari mereka.
Mungkin berbeda guru, berbeda persepsi soal ini. Tapi pribadiku, aku menerapkan sistem ini sampai hari ini. Pintaku gak banyak pada mereka, aku gak pernah mengharap apa-apa. Bagaimanapun naluri guruku tetap ada. Aku selalu ingin mereka berhasil. Seengganya, walau akademiknya tidak sesuai harapan bersama, aku selalu mendidik untuk menjadi pribadi yang baik dan legowo dimana aja. Selalu ku katakan [ada mereka, bahwa IQ mereka bukan patokan suksesnya, tetapi EQ dan SQ mereka lah yang akan membawa mereka pada kesuksesan itu.
Aku guru yang tidak pernah marah dan tidak ingin memarahi mereka. Aku tidak ingin menerapkan sistem didik yang keras, sekalipun anak-anak tersebut sedang membuatku kecewa.
Semoga, kita semua bisa menjadi guru yang bisa selalu mengupgrade diri untuk menjadi pengajar dan pendidik yang berkualitas demi terciptanya generasi yang gemilang yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah.