Tuan, aku yakin kau dan aku punya mimpi yang sama, menginginkan kenyamanan satu sama lain. Menjadi sahabat. Kau ingin menjadi dirimu yang sebenarnya bersamaku. Kau ingin bisa menceritakan segala keluh kesahmu tanpa takut aku jadi membencimu. Kau ingin bersikap sebagaimana mestinya dirimu sendiri di depanku. Kau ingin leluasa menelanjangi kekuranganmu di hadapanku tanpa takut aku pandang buruk.
Tapi Tuan, sedari dini, kau harus selalu mengingatkan dirimu sendiri, bahwa aku manusia biasa. Akan ada saat-saat dimana aku tak tahan mendengarmu bercerita, lalu bersungut karena kau seperti tak menaruh perhatian pada duniaku. Akan ada saat-saat dimana aku tak bersikap lembut saat kau sakit. Akan ada saat-saat dimana aku iri karena kau lebih memperhatikan pekerjaanmu dari pada aku. Akan ada saat-saat dimana aku mengatakan hal-hal yang menyinggung harga diri lelakimu. Akan ada saat-saat dimana aku membuatmu marah hingga mencapai ubun-ubun. Singkatnya, akan ada saat-saat dimana aku membuatmu tidak nyaman.
Yang itu berarti, ketidaknyamananmu atasku akan menambah masalahmu. Mungkin membuatmu stres dan terluka. Atau bingung kehabisan rencana.
Kau pun begitu. Meski sebagai gadis biasa aku impikan punya tempat paling aman di pelukanmu, akhirnya aku pun harus selalu mengingatkan diriku sendiri, bahwa kau juga manusia biasa. Akan ada juga saatnya kau menjadi peran antagonis dalam kehidupanku. Akan ada saatnya kau menyakitiku dengan cintamu yang tak sempurna. Akan ada saatnya kau membuatku marah. Akan ada saatnya kau mengatakan hal-hal yang menyinggung kepekaan perempuanku. Akan ada saatnya aku habiskan malam-malam dengan air mata mungkin karena kamu ketagihan main Get Rich. Akan ada saatnya pelukanmu tak lagi kurasa aman bagiku. Singkatnya, akan ada saat-saat dimana kamu membuatku tidak nyaman.
Yang itu berarti, ketidaknyamananku atasmu akan menambah kesedihan dalam hidupku. Mungkin membuatku menangis hampir setiap malam.
Tapi Tuan, mari kembali pada harapan kita hidup berdua : untuk dewasa bersama.
Berapa lama kita rencanakan hidup bersama? Tentu saja selamanya, rencana kita. Anggap kita meninggal di usia 60 tahun. Maka sekitar 30 tahun kita akan hidup bersama jika kita cukup beruntung untuk segera dipertemukan. Tentu saja aku tidak membayangkan bahwa puluhan tahun hidup denganmu, hanya kenyamanan yang kudapatkan. Tentu akan ada kondisi-kondisi dimana membuat kita merasa tidak nyaman satu sama lain.
Tapi, kumohon, Sayang. Ketidaknyamanan bukan alasan kita mencari pelarian. Ketidaknyamanan bukan alasan kita saling meniadakan. Ketidaknyamanan bukan alasan kita saling membalas dendam. Ketidaknyamanan bukan alasan kita melakukan pengkhianatan. Ketidaknyamanan bukan alasan kita berhenti saling mempertahankan.
Ketidaknyamanan hanya pertanda, bahwa kita harus saling lebih mengenal, memperbaiki diri, dan lebih saling mencintai.
Mari belajar Sayang, bahwa cinta yang dewasa bukan hanya tentang menuntut bahagia pada pasangan. Cinta adalah tentang menghadapi segala kesulitan bersama. Cinta adalah tentang saling menumbuhkan kebijaksanaan.
Jika kau atau aku masih mengharapkan cinta berbunga-bunga yang selalu membuat bahagia, itu berarti cinta kita belum dewasa. Itu berarti cinta kita sebatas mencintai diri sendiri, mencintai pasangan hanya karena dia membuat kita bahagia. Jika kita berpikiran cinta yang seperti itu, aku takut akan dengan mudah kita saling meninggalkan ketika ujian datang dan membuat cinta menjadi gersang.
Maka, bertahanlah Sayang. Ketika aku mulai kehilangan kendali atas kemarahanku sendiri, kumohon bersabarlah. Akan kuajari kau bagaimana menaklukannya. Ketika kau mulai kehilangan kendali atas kelelahanmu sendiri, ajari aku mengembalikan tenagamu.
Mari belajar untuk tidak mudah mengeluh, apalagi menyerah. Aku tahu aku akan membuatmu sering mengaduh. Tapi kumohon, bertahanlah. Kamu juga akan membuatku sering terluka. Doakan aku juga bisa bertahan seperti semestinya.
Sekali lagi, Sayang. Cinta bukan hanya tentang menerima bahagia, tapi juga tentang bagaimana menerima luka. Cinta bukan hanya tentang menikmati kesenangan, tapi juga tentang hidup saling mendewasakan.