RERANCANG TUNGGAL // SOLO PROJECT #1:Â Dewa Ngakan Made Ardana
"KALA"
Balai Keseharian dan Pemajangan, 20/10 - 15/11, 2014
Welcome to Ardanaâs Solo Project!
We are excited and proud to be able to invite you to Ardanaâs Solo Project that marks the first episode of our Solo Project platform! We created the Solo Project as open as possible in terms of types of event and variety of items to be presented. For this, Ardana chooses to do a solo show presenting two paintings, inviting an artist/researcher to write an essay on his working process and an aesthetician to give a lecture during his show, and the talk session being conducted by Ardana as premised in FCCâs Solo Project.
Born and bred in Bali, Ardana studied painting in the Institut Seni Indonesia â Denpasar and had carved his own artistic path ever since. In 2009, he migrated here, to Yogyakarta, and become a part of the local scene. Though the national contemporary art scene is small, connected or even insular in a way; our hometown as city to live in is considerably special. One will have to speak the local language (which is Javanese) or display an effort in speaking with its dialect to be considered as ânot a foreignerââand that does not necessarily mean that one has become local yet. In Ardanaâs case, migrating after establishing his own artistic path gave him some sort of a space to look at himself, to look at where he came from and to see whether there is a relationship between his daily culture and his artistic need and, finally, his artistic practice.
Ardana began this search from the Anonymous Project (2008-2009) where he painted distorted portraits with morphing technic. In the beginning were portraits of real people. The morphs of the images made all these portraits non-representational to those people and created a space for impressionsâof who they might be. He then continued into a phase where he tries to look at âhomeâ. By far, the search of home is done with several methods and also manifested into different imageries throughout his paintings. During Peristiwa Sebuah Kelas (The Event of A Class) in Sangkring Art Space (December 2013-January 2014), he brought his undone painting of a sewing machineâthat belonged to his sister that has passed away. â[To paint] is like a being in a journey. [âŚ] for me, it is the science of a journey, the knowledge of it... How to walk, how to move, how to travel...â Ardana wanted to depict her sisterâs image through a dialog he built with his brother in law.
Now, he brought us two new paintings with a totally different approach and method, both in terms of thinking and making. What is it about and how does it work? Come join us in the talk session!
Warmly,
Forum Ceblang Ceblung
Selamat datang ke Rerancang Tunggal Ardana!
Kami sangat senang dan bangga mengundang Anda ke Rerancang Tunggal Ardana yang sekaligus menjadi perhelatan pertama salah satu pelantar kami Rerancang Tunggal! Rerancang Tunggal kami rancang sebagai serangkaian perhelatan yang terbuka jenis kegiatannya dan juga perihal yang dihadirkan. Ardana memilih untuk mengadakan pameran tunggal yang menghadirkan dua lukisan, meminta rekan seniman/peneliti untuk menulis esai tentang proses kerjanya, mengundang estetikawan untuk memberi kuliah dalam masa pamerannya, dan mengadakan sesi dialog sebagaimana yang diwajibkan dalam rangkaian Rerancang Tunggal FCC.
Lahir dan besar di Bali, Ardana belajar melukis di Institut Seni Indonesia â Denpasar dan memulai perjalanan artistiknya di sana. Pada 2009, ia pindah ke Yogyakarta dan menjadi bagian dari ranah setempat. Walaupun ranah seni rupa kontemporer nasional kita sesungguhnya sangat kecil, terhubung erat, dan bahkan bisa dikatakan picik; kota tempat kami bernaung ini bisa dikatakan cukup istimewa. Seseorang harus bisa bahasa Jawa, atau paling tidak menunjukan upaya bercakap dalam logat Jawa, baru ia bisa dianggap âbukan orang asingââitupun tidak serta-merta berarti ia dianggap sebagai seseorang yang lokal. Dalam kisah Ardana, pindah setelah memulai perjalanan artistiknya membuatnya punya semacam ruang untuk melihat dirinya sendiri, melihat dari mana ia berasal, dan apakah ada hubungan antara kehidupan sehari-harinya dan, pada akhirnya, kebutuhan artistiknya.
Ardana memulai pencariannya dari Anonymous Project (2008-2009) di mana ia melukis potret yang didistorsi dengan tekning morphing. Pada mulanya adalah sekumpulan potret orangâyang sungguh ada. Perubahan yang ia lakukan terhadap sekumpulan citraan ini membuat gambar yang tadinya potret ini menjadi tidak mewakili orang-orang secara khusus; dan menciptakan ruang bagi impresiâakan kemungkinan-kemungkinan siapa mereka. Ia lalu lanjut ke sebuah tahap di mana ia mencoba melihat ârumahâ. Sejauh ini, pencariannya akan rumah dilakukan dengan beberapa cara dan juga dimanifestasikan ke dalam beberapa jenis gambar dalam lukisannya. Dalam Peristiwa Sebuah Kelas, di Sangkring Art Space (Desember 2013-Januari 2014), ia membawa lukisan sebuah mesin jahitâyang adalah milik almarhum kakaknya. â[Melukis] itu seperti perjalanan.â [âŚ] âIlmu berjalan, bagaimana pengetahuan berjalan, bergerak, dicari, dan ya semacam orang berkelana.â Ardana ingin menggambarkan citraan kakaknya melalui percakapan yang ia bangun dengan kakak iparnya.
Sekarang, ia menghadirkan dua lukisan baru dengan pendekatan dan cara kerja yang sangat berbeda, baik dalam tatanan pemikiran maupun pengerjaan. Tentang apakah lukisan-lukisan ini dan bagaimana ia bekerja? Datang dan ikutilah sesi dialog kami nanti!
Tabik,
Forum Ceblang Ceblung