Sebuah Perbincangan Dunia
Apa yang ada di kepala tentang toleranasi? Menurut saya toleransi adalah wujud rasa menghargai. Awalnya yang saya kenal dari kata toleransi adalah saling menghargai terhadap agama lain. Namun ternyata toleransi itu sebuah wujud menghargai yang sangat luas maknanya. Pada umur yang sudah menginjak dewasa saya mulai mengerti sedikit demi sedikit apa itu toleransi. Namun ada yang membuat saya menyadari keberagaman toleransi.
Saya menyadari makna toleransi yang luas dari supir angkot yang saya naiki kala itu. Perbincangan supir angkot dengan penumpang yang duduk di depan menyadarkan saya betapa toleransi itu harusnya ada pada setiap hal. Di dunia pendidikan supir itu membahas topik toleransinya.
Di belakang saya sebagai penumpang, juga saya sebagai pendengar. Sampai habis perbincangan tersebut saya mencerna obrolan supir dan lawan bicaranya. Keduanya sangat bersemangat membicarakan pendidikan di Indonesia. Perbincangan yang cukup sederhana, namun padat makna yang saya ambil.
Keduanya memiliki anak yang masih sekolah, karena yang diperbincangkan adalah kehidupan sekolah anak-anaknya. Namun, ada yang membuat saya berpikir kembali tentang toleransi. Ketika Pak supir mengatakan dengan datarnya bahwa pendidikan hanyalah bagi mereka yang memiliki dana dan bertaraf hidup ke atas, namun kita yang taraf ke bawah? hanya mengejar selembar kertas yang disebut Ijazah. Miris. Saya berpikir kemana arahnya toleransi di Indonesia? Ke atas atau ke bawah?
Sekolah dengan dana yang minim, maka fasilitas tak seperti mereka yang membayar lebih. Kebanyakan pada prakteknya seperti itu. Sudah menjadi hal yang lazim di dengar, ketika pulang pergi sekolah hanya mengarap Ijazah, bukan pendidikan yang layak. Sekolah hanya ajang tuk menunggu Ijazah. Jika sudah dapati Ijazah, tujuan akhir adalah bekerja, mendapat uang, baru senang.
Beginikah pendidikan mengajarkan kaum menengah ke bawah? beginikah toleransi di dalam pendidikan? Menjulanglah engkau tinggi bagi yang berdana, menukiklah engkau yang tak miliki dana, apalagi kemampuan.
Jadi, di mana dunia pendidikan mengambil posisi pada kata toleransi?
(my first free writing. karena ini free writing jadi gak lolos seleksi. nah, dari pada mendem di laptop, aku share aja di sini)