ini tanpa sebab, juga tanpa alasan. ini sungguh benar terasa, sangat mendalam merasuk jiwa. namun ini akan meninggalkan luka ketika tiada.
ya, itulah ketulusan antara kita. masihkah ada?
★

❣ Chile in a Photography ❣
Fai_Ryy
Monterey Bay Aquarium
macklin celebrini has autism
official daine visual archive
No title available
todays bird
hello vonnie
Sweet Seals For You, Always

Love Begins
untitled
Cosimo Galluzzi
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

if i look back, i am lost

No title available
🪼
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!

roma★
seen from Singapore

seen from United Kingdom

seen from Mexico
seen from Ukraine
seen from Switzerland
seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Thailand

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia

seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
@celotehanaknakal
ini tanpa sebab, juga tanpa alasan. ini sungguh benar terasa, sangat mendalam merasuk jiwa. namun ini akan meninggalkan luka ketika tiada.
ya, itulah ketulusan antara kita. masihkah ada?
Cinta adalah sebuah keajaiban ditengah neraka dan surga. Memberikan setitik tawa pada ruang-ruang yang penuh air mata. Dia menjadi riuh di tengah samudera luas yang hampa tanpa suara. Menjadi sunyi dari hingar-bingar dunia yang memerahkan telinga.
Cinta adalah sebuah titik oase dalam luasnya padang fana yang tak terasa. Menjadi penyeimbang beban kiri bisikan iblis yang menyesatkan jalan. Petunjuk dalam taman seribu pintu yang tak tahu kemana arah yang benar. Secercah bintang diantara sejuta bintang yang sama-sama terang. Dan cinta adalah keajaiban dari dunia yang tak kenal rasa iba. Oleh karenanya tiada kesendirian yang memilukan bila menemukannya. Oleh karenanya aku mencarinya, entah kapan kutemukan hingga di sudut ujung dunia.
Albino alligators | image by Eric Feferberg
buaya tetep aja buaya biarpun putih tanpa dosa gini. haha
you are the only exception
ketika jatuh bangun dan lelah menghadapi semua, ketika pahit getir dan sakit merasakan semua, ketika telah melihat baik buruk dan hitam putih dunia, ketika tiada lagi yang sepertinya indah untuk diperjuangkan. dan ketika pada akhirnya menemukan satu saja yang tiada dua, pengecualian dari semua yang hampa.
Hujan
Suasana sekitar sedang soga menua. Kelam dan mendung bercampur senja. Sepi sekali tak ada beberapa anak yang menepi di pekarangan bermain lari-lari. Nampaknya orang-orang enggan keluar dari peraduan. Takut diancam dan gentar oleh halilintar yang berteman dengan hujan. Memang tak nyaman rasanya sore-sore begini basah tertimpa gerimis di luar sana. Itulah realitanya, semua orang tak suka basah oleh hujan. Walaupun sebagian merasa hujan itu indah. Tapi aku sendiri tak menikmati indahnya yang mungkin tak seberapa. Hanya sejuk, teduh, dan mengurangi penat. Tapi pada akhirnya justru tak bisa kemana-kemana untuk berganti suasana. Ah, hujan memang tak menjanjikan apa-apa selain jalanan depan rumah yang basah karenanya.
Katanya hujan membawa kedamaian. Mendinginkan semua emosi dalam jiwa. Katanya dia membawa pergi sakit hati. Katanya dia juga datang membawa kenangan. Tapi sepertinya bagiku semuanya tak ada. Bagiku hanya sebuah lelehan air tanpa makna. Dia datang membawa hampa, dan pergi dengan indah yang tiada. Berlalu begitu saja tanpa makna, tanpa rasa, dan tanpa ada apa-apa. Sudahlah, mungkin hujan juga tak peduli padaku sehingga tak memberikan bingkisan apa-apa.
Dan begitu juga dengan pelangi. Yang tak pernah berjanji memberi warna-warni. Entah kapan dia datang dan lalu pergi. Tak peduli pada harap-harap kami. Terkadang datang dengan sinarnya yang seadanya. Terkadang bahkan tak muncul walau hujan telah berhenti. Sangat tak memahami rindu yang sedang melanda palung hati. Tak bisa diharapkan datangnya mungkin besok atau hari ini. Padahal sehabis hujan yang kacau penuh halilintar aku menunggu dengan sabar agar dia datang membawa senyuman. Tetapi justru jauh di atas sana yang terlihat hanya surya yang mengintip kembali tanpa menggenggam pelangi. Dia pergi, dia jauh dan sungguh-sungguh tak datang hari ini.
Bila terang telah kembali, mentari meyisir bersinar lagi. Tak tampak sama sekali bekas hujan yang memberi indahnya hari. Tak meninggalkan butiran pelangi, hanya suasana yang mendadak sepi. Kota ini akan kembali menjadi tempat sesak yang riuh sekali. Jadi kemana hujan dan pelangi yang tadi berjanji? Ah, tidak berbekas menjadi kenangan dan lagi-lagi cuma angan. Biarlah, biarlah dia kembali lagi esok hari dan semoga lebih menyentuh hati ini.
“Rupanya hujan dan pelangi yang mereka sebut indah dan bermakna dalam itu hanyalah butiran air yang pecah tanpa arah, tanpa makna dan berlalu begitu saja.”
Pygmy Marmoset by Bob Worthington
The pygmy marmoset is the smallest monkey but not the smallest primate—that’s the mouse lemur.
si mini yang oke punya
This is the Green vine snake (Ahaetulla nasuta), a slender tree snake found in India, Sri Lanka, Bangladesh, Burma, Thailand, Cambodia and Vietnam. The snake is mildly venomous, and its bite causes swelling and pain. They feed on frogs and lizards. There is a widespread myth in parts of southern India that the species uses its pointed head to blind its human victims! Photograph by Suhaas Premkumar for National Geographic
Ahaetulla nasuta yang kece :D
Stinkbug! These are all over the place in NJ during the fall.
si belalang bau, tapi oke juga di depan kamera
For a solid seven years, Kristen Schmid documented the intimate relationship between her husband and son.
The photos in Father to Son show newborn Sam making his way through his first years with help from dad along the way.
The Relationship Between Father and Son
via My Modern Met
ah kodratnya memang seperti itu :D
karena puisi itu indah, mampu mendamaikan jiwa yang lara karena puisi itu indah, kuasa menenangkan angkuh emosi karena puisi itu indah, sanggup menemani rasa yang sepi sendiri dan karena puisi itu indah, memberi cinta dalam hati yang hampa
maka karena indah, jadilah puisi dalam hidupku
Nudibranch. Photo by Todd Aki
"Terkadang, apa yang kita sangat inginkan bukanlah yang terbaik untuk kita. Dan terkadang, apa yang terbaik bukanlah hal yang menarik untuk kita inginkan."
percaya Tuhan yang paling mengerti
kereen ini yang ngefoto berani
A monkey opens a tap to quench their thirst on the terrace of a hotel in New Delhi, India | image by Aarabu Ah Sultan
haus nih yeee
Lautku
Langit di atas sana nampaknya begitu damai. Lengang riang tanpa masalah. Tak sedikit pun tergalaukan gundah. Sepertinya disana tiada terdengar bisikan keluh kesah. Juga tiada ribut-ribut teriakan amarah. Senyap sunyi sekali membawa nyaman terlelap. Yang ada hanya beberapa bercak awan yang menghiasinya dengan indah. Juga pelangi, goresan tinta warna-warni kerap datang mengobati payah. Jika bisa terbang aku ingin ke sana. Meninggalkan jauh-jauh tanah kota ini yang semakin sumpek saja. Tapi kupikir sepertinya di sana pun takkan betah. Bidadari saja turun ke bumi untuk mandi di kali. Bahkan ibu peri juga kemari dan enggan kembali.
Malam ini adalah malam senin. Teringat besok adalah hari dimana waktu berjalan begitu cepat untuk membuang tenaga dalam kinerja. Pastinya setiap orang sedang menikmati malam ini sebelum esok yang melelahkan. Namun sayang sekali bintang sedang malu berpijar, bulan juga sedang enggan keluar. Yang ada hanya lampu kota yang tak jua padam mengiringi panjangnya malam. Tampak di sudut gang seorang remaja tanggung duduk sendirian dengan rokok murahan di tangannya. Ah, anak tongkrongan yang menanti kawan maksiat sepertinya. Orang semacam mereka yang mampu memanfaatkan kenikmatan malam dengan baik. Yang kadang kita anggap tak berguna, namun aku yakin dengan sangat itu menyenangkan untuk mereka.
Aku sedang rindu semilir angin dermaga yang menerpa. Meniup melabuhkan rasa yang terkadang sedang berduka. Rasanya tiada terhalang menyejukkan pori-pori jiwa yang sedang tak merona. Malam-malam seperti ini di tepi-tepi gelombang sungguh tiada dua. Mendengarkan desis nyiur pantai yang membawa kabar gembira. Suara ombak mengiringi langkah yang terkadang sedang patah setengah. Duduk terdiam saja tanpa gerakan apa-apa, membiarkan hati dirasuki heningnya suasana. Ditemani beberapa batang rokok memandang ke arah laut lepas yang seakan membawa pergi jauh segala lara yang melas. Dan menanti bayangan bulan pada biru air bagai batu safir berharga ratusan juta.
Aku sedang rindu hangatnya pasir pantai yang meraba. Memberikan sentuhan yang menenangkan jiwa. Putih seperti butiran gula, terangkai dari bulir-bulir yang bermakna. Yang terkadang membawaku terlupa hidup yang sedang susah penuh bencana. Datang pulang menjauh mendekat air laut menyentuh kaki setengah telapak. Membasahi diri yang lebih sering ditemani sepi. Bagian dari malam yang tak terlupakan. Yang berulang kali sungguh dirindukan.
Daripada ke langit aku lebih ingin ke laut. Daripada langit aku jauh lebih mencintai laut. Karena laut tak pernah berpura-pura tenang, apa adanya jujur bahwa dia acak berantakan. Karena laut tak pernah menutupi apa-apa, terbuka bahwa dia adalah dia seperti apa yang terlihat. Karena laut tak pernah menyimpan rahasia, tersirat memang dia berbahaya dan bukan untuk dicoba-coba. Dan karena laut adalah laut, yang tak sejauh langit untuk aku mampu gapai.
“jadilah laut...jadilah laut...jadilah laut, jangan langit agar aku mampu menggapaimu.”
Wildlife lovers, please help us win a $5,000 grant by voting for us here (scroll to the bottom). Please re-blog this post. Thanks so much for your help!
lucunyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa :D
"petang berganti malam dan terang beralih suram, berbagi perhatian adalah cara terbaik melaluinya"
cinta juga berbagi susah, berbagi lemah, dan berbagi gundah