Mau tau apa yang paling menyebalkan?
Kita sadar bahwa kita semua tidak ada yang sempurna,
Tapi dipertemukan dengan orang yang tidak bisa menerima itu.
@welcometomywords
seen from United States
seen from Russia
seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Germany
seen from Portugal

seen from Russia
seen from China

seen from Malaysia
seen from Russia
seen from Hungary
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Yemen

seen from United States
seen from France

seen from United States
seen from China
seen from France
Mau tau apa yang paling menyebalkan?
Kita sadar bahwa kita semua tidak ada yang sempurna,
Tapi dipertemukan dengan orang yang tidak bisa menerima itu.
@welcometomywords
Rasa Takut dan Cemas
Kemaren setelah nge-post tentang “rasa takut dan cemas”, cukup kaget liat notif yang muncul. Dan hari ini kepikiran lagi soal rasa takut dan cemas tersebut. Di perjalanan menuju kantor, aku seperti berbincang dengan isi kepala sendiri. Sesampainya di kantor, aku mencoba menuliskan secara garis besar apa yang aku debatkan di kepala.
Kenapa rasa takut dan cemas itu bisa datang? Karena kita tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya. Kita tidak tau yang akan terjadi itu suatu hal yang baik atau justru hal yang buruk. Jika kita tau akan muncul sesuatu yang baik, pastilah kita akan bersantai-santai. Dan jika kita tau akan terjadi hal yang buruk, pastilah kita akan memepersiapkan segala sesuatunya, baik untuk mempersiapkan ketika sesuatu yang buruk itu terjadi atau bahkan mempersiapkan agar kita bisa menghindari sesuatu yang buruk itu.
Jadinya akan bagaimana? Maka seluruh kehidupan di dunia ini akan berjalan dengan sesuatu hal yang baik. Tidak akan ada hal-hal yang buruk atau hal-hal yang kita tidak inginkan yang akan terjadi. Jadi, seandainya kita bisa tau apa yang akan terjadi di depan sana, pastilah tidak ada yang namanya rasa takut dan cemas. Rasa takut dan cemas itu adalah seninya hidup.
Hidup yang selalu baik-baik saja tidak akan menyenangkan bukan? Kita tau bagaimana rasanya bahagia karena kita pernah bersedih. Kita tau rasanya tenang dan lega karena kita tau rasanya takut dan cemas. Dan segala macam perasaan inilah yang membuat kita tumbuh dan dapat merasakan makna kehidupan.
Kita pasti tau, bukan hanya kita yang merasakan perasaan takut dan cemas. Semua orang juga merasakannya. Dan semua orang juga ingin merasakan ketenangan. Kita semua sama.
Dengan adanya perasaan takut dan cemas ini, kita diminta untuk lebih mempersiapkan, dengan melakukan apa yang bisa kita lakukan di masa sekarang. Sekalipun kita tau akan terjadi hal baik, tetaplah persiapkan segala sesuatu, karena tidak ada yang namanya sia-sia dalam hidup ini. Dan jangan sampai terlena dengan hal-hal yang baik yang akan terjadi. Sekalipun apa yang kita lakukan sekarang terasa tidak ada gunanya, percayalah itu akan sangat-sangat berguna. Hanya saja terkadang kita tidak menyadarinya. Atau terkadang kita menyadari gunanya setelah lama sekali.
Dengan mempersiapkan segala sesuatunya, percayalah rasa takut dan cemas itu akan jauh berkurang. Karena kita punya keyakinan bahwa kita mampu untuk melewati apa yang akan terjadi nantinya.
Tulisan ini ditujukan lebih khusus untuk penulisnya. Bacalah ini kembali sebagai penguatmu, aku.
- Pekanbaru, 16 Juli 2021
Sah!
Sah sudah tapi bukan soalan hubungan dua insan berbeda jenis. Melainkan tentang uu yang menuai kontroversi. Dikabarkan uu yang terjadwal pada 8 Oktober 2020, dimajukan menjadi tanggal 5 Oktober 2020. Bukan peristiwa yang pertama terjadi, namun masih saja menyayat hati. Tercabik, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kebayang kan sakitnya kayak gimana?! Mungkin sakitnya gak akan bisa tersampaikan saking terasa benar-benar menyakitkan.
Sejak kemarin berbagai tagar terkait kebijakan yang telah disahkan ini (baca uu cilaka) menghiasi jagat twitter.
Lalu, pertanyaannya adalah inikah demokrasi? Di saat banyak yang menolak lantas kenapa bisa tetap goal menjadi kebijakan? Bukankah aturannya suara mayoritas yang menang?
Tapi nyatanya teori tak seindah konspirasi, eh, praktik ding. Benar saja, hanya basa-basi mengatasnamakan rakyat. Entah rakyat yang mana yang dimaksud. Rakyat mayoritas? Sepertinya bukan. Tapi ya tetap lah disebut dengan rakyat (meski minoritas) sebab memiliki kuasa atas mayoritas.
Jika sudah begini, tidakkah ini semakin membuka mata, telinga, dan hati? Bahwa demokrasi ilusi. Hanya membela yang berkepentingan.
Bukankah sudah saatnya mencari solusi solutif untuk mengakhiri segala macam penghianatan ini? Bukankah memang selayaknya mencari solusi sahih yang lahir tanpa kepentingan? Kita tentu bisa melihat bahwa solusi buatan manusia nyatanya sama sekali tak menyelesaikan masalah. Yang ada justru menambah masalah. Jika sudah begitu, kenapa tak cari solusi dari Pencipta yang telah menciptakan kita, Pencipta yang sekaligus Pengatur kehidupan kita. Ya, Dialah Allah ta'ala. Seperangkat aturan dariNya yang pernah diteladankan kekasihNya, Rasulullah Saw. secara sempurna dan diikuti para Khulafa' setelahnya. Terbukti berjaya selama berabad-abad. Kenapa tak ambil solusi yang pasti dan telah terbukti mampu tangani berbagai masalah? Adalah solusi Islam dalam naungan institusi Khilafah.
Malam Pertama
Tentang malam yang dingin hari ini, aku berterima kasih atas seseorang yang sudah mengingatkan ku untuk masalah ini. Mungkin jika aku tak bertukar pesan dengannya, aku tak dapat menulis dengan bebas.
Tentang malam yang dingin hari ini, aku berterima kasih atas hari kemarin pula. Aku masih dapat tersenyum dan tertawa. Malam itu pula menjadi malam pertama memori memori lama kembali terkuak walau aku berusaha menepisnya jauh jauh. Tak apa kau tetap disini, asal kau tak pergi lagi.
Sunyi Dikala Semarak
Semuanya perlahan pergi menyisakan pilu dan kerinduan. Entah bermakna atau tidak semua perjalanan yang dilalui yang pasti meninggalkan kenangan dan sesak ketika mengingatnya. Terkadang bisikan penyesalan hadir. Namun percayalah, pilihan saat itu adalah pilihan terbaik. Kepergian yang menciptakan kesunyian hanyalah sebuah persepsi. Dunia takkan berhenti dan menjadi sunyi ketika semuanya perlahan pergi, karena semuanya pergi untuk kembali. Siklus kehidupan pun hadir menjadi takdir sang Ilahi. Kehadiran pun menjadi sebuah keadaan yang menjadi bagian tersendiri. Semua ada karena bermakna. Semua ada memberi hikmah yang sangat luar biasa besar. Hikmah pun diperoleh jikalau memang mengerti dan memahami akan segalanya. Tak perlu ikut diam dalam kesunyian.
Bangkitlah wahai diri,karena waktu akan tetap berjalan. Kehidupan didepanmu menanti dirimu yang kuat. Larut dalam kesunyian tanpa gerak adalah kesalahan. Keluarlah dari lingkaran nyamanmu. Mari pecah keheningan sunyi dengan karya terbaikmu. Karena hidup akan tetap berjalan sampai detik penghabisan sebagai akhir dari takdirNya.
Yang sudah berlalu akan menjadi hsl yang akan dirindukan kelak. Bahkan keinginan untuk kembali pada masa itu pun hadir. Senyum dan malu akan datang ketika mengingatnya. Kesunyian yang ada lun selalu hadir disetiap bagian kehidupan. Tak dipungkiri bahwa melawannya akan membuatnya pergi. Berdamailah wahai diri. Ratapilah dirimu jikalau belum mengerti bahwa larut dalam kesunyian hanyalah kesia-siaan. Tiada peduli selain diri sendiri, karena yang mengerti akan dirimu hanya dirimu.
Sunyi, dan kini tiada siapapun. Bukan begitu, engkau masih memiliki Tuhan. Bahkan engkau masih memiliki dirimu sendiri. Kesunyian yang ada hanyalah rasa yang engkau ciptakan. Apa guna merasa sunyi dikala banyaknya eksistensi disekelilingmu?
Kota Penuh Kehangatan, Yogyakarta
Kenapa aku tidak?
Di umur sekarang. Di awal 20an. Banyak yg sibuk memikirkan, "dimana ya jodohku?"
Tapi kenapa aku tidak?
Anehnya aku masih menikmati waktu sendiri. Menikmati waktu bersama teman. Menikmati waktu bersama kegagalan. Menikmati waktu bersama harap-harap cemas. Menikmati waktu dengan hal-hal yg aku sukai. Menikmati jatuh-bangun menuju mimpi. Menikmati waktu berpetualang. Menikmati waktu sendirian, tidak, bukan kesepian, hanya tentang waktu sendiri.
Tidak ada yg salahkan dengan menjadi berbeda?
dewes, 11.14 pm
Mereka menyebutnya keluarga
Bagiku ini sebatas tinggal serumah
Dari kecil aku penasaran bagaimana kehangatannya
Bagaimana rasanya mengeluh, menyampaikan apa yg dirasa
Terkadang iri, melihat yg lain
Ingin juga dipeluk, didengarkan, ditenangkan, dihapus air mata
Tapi hanya diabaikan, dianggap remeh, disepelekan
Beranjak remaja aku berpikir
Ada, sebatas ada
Berjalan satu arah
Tidak hanya diperintah, juga ingin didengar
Tidak hanya dilarang, juga ingin diajak bertukar pikiran
Di lingkungan sekitar, tidak berani mengambil tindakan
Ingin berteman, tapi merasa dimanfaatkan
Ingin menjauh, tapi merasa sendirian
Ditertawakan, tapi tidak punya kekuatan melawan
Kini dewasa, aku lelah
Mencoba menjalin hubungan - percintaan
Merasa tidak percaya diri, merasa tidak pantas
Sulit percaya pada orang lain, sulit terbuka
Berulang kali mencoba namun kandas sebelum memulai
Beberapa kalipun kandas ketika masih seumur jagung
Apa ada yg sanggup menghadapi yg seperti aku?
Suatu ketika membaca tulisan
"Cara seseorang menjalin sebuah hubungan percintaan, mencerminkan bagaimana hubungannya dalam keluarga"
Ingin menyerah, bagaimana jika hidup sendiri saja?
.
Menunggu
Banyak orang bilang, menunggu itu membosankan, buang buang waktu, tidak pasti dan masih banyak lagi.
Secara pribadi, aku setuju dengan ucapan orang-orang tentang menunggu. Menunggu itu hal yang menyebalkan, karena hasilnya belum tentu sesuai ekspektasi.
Tapi sebagian pribadi dariku, aku menyukai menunggu. Ada rasa dimana menunggu itu mengasyikkan. Ada debar tersendiri disaat menunggu sesuatu hal. Jantung bedebar tak karuan, perut terasa mulas, dan kepala sedikit pusing. Kadang hal-hal seperti itu akan dianggap manis setelah kita mendapatkan apa yang kita tunggu.
Tapi, kita juga berhak untuk meminta kepastian atas apa yang kita tunggu, atas apa yang masih belum jelas dan buram dihadapan mata kita. Dan tentunya kamu bisa mengambil keputusan sendiri, apakah tetap ingin menunggu atau mengambil yang pasti saja.
Teruntuk kalian yang sedang menunggu, semangat dan kuatkan hatimu. Semoga kamu tidak menunggu hal yang sia-sia.
Teruntuk yang akan memberi keputusan, jangan terlalu lama untuk beri keputusan itu, tak baik menggantung seseorang. Semoga hati dan pikiranmu sinkron dan tidak membuatmu kebingungan.
Untuk kalian, semangat menjalani hidup. Semoga selalu kuat dan bahagia!