Hari ini, saya hanya diminta tolong oleh rekan staf TU disekolah saya mengajar. Saya diminta ke ruang TU untuk piket karena tidak ada yg bisa masuk ada kendala yg mereka hadapi. Saya pun dengan senang hati mengiyakan, ternyata ada sidak dari dinas pendidikan. Saya yg diminta menggantikan tidak tahu perihal administrasi diTU, ibu itu baru masuk depan pintu ruangan langsung minta absen, alhasil saya pun kebingungan mencarinya. Sampai ada dititik, ditanya berapa staf TU, kemana mereka saya sampaikan kendala mereka tidak datang. Habislah saya dicerca pertanyaan, sampai ada pertanyaan yg mungkin sangat singkat tapi menyayat hati, ibu itu bilang "kau sebagai apa disini?, saya jawab honor Bu. Bukannya bertanya kenapa saya masih honor dan alasan saya masih bertahan sampai sekarang. Justru yg keluar dari mulut ibu itu "honor sukarela, suka dan rela, tidak ada mi honor sekarang" dengan nada bicara yg merendahkan. Seketika isi kepalaku langsung ngeblank, serendah itu statusku dimata orang lain. Aku hanya diam menunduk, tak ingin membela apapun. Karena ku tahu orang seperti itu tak butuh penjelasan. Aku hanya bisa menahan air mataku dan dadak terasa sesak. Andai ibu itu tahu, status honor yg rendahkan ini. Bisa mendampingi dan membimbing siswa mendapatkan beberapa piala tingkat kabupaten untuk sekolah ini setiap tahun, status ini justru membuatku bisa ikut pelatihan dari Kemendikbud berkolaborasi dengan guru-guru yg berstatus PNS bahkan mereka beberapa kali heran kenapa saya yg status honorer bisa ikut, ku jawab saja rezeki dari Allah membuat saya terpilih, status ini yg membuat saya belajar dan mengajar dengan ikhlas tanpa memandang gaji yg saya dapatkan, status ini yg menjadikan saya tetap terus bertahan sampai bisa lulus PPG murni atas usaha saya sendiri. Sampai setelah pulang pun mempertanyakan status honorer saya, kepada kepala sekolah, hal paling mudahnya bisa dicek data riwayat saya didinas pendidikan atau bisa ditanyakan oleh beberapa staf bidang SMP bagaimana saya berkontribusi untuk mereka walaupun status saya honorer. Andai saja ibu tahu, siapa saya dan latar belakang saya. Saya yakin ibu akan bicara bernada lembut, tapi saya hanya memperlihatkan siapa saya sendiri dan bagaimana kinerja saya. Saya tak habis pikir saja, bisa bertemu orang seperti itu diawal tahun ini. Saya hanya ingin jika suatu hari nanti menggunakan baju korpri sebagai PNS, saya hanya ingin menjabat tangan ibu itu dan bilang "ibu, saya yg pernah ibu bilang honor sukarela 'suka dan rela'. Aku anggap peristiwa ini tangga yg saya harus lalui sebelum menggenggam piala kemenangan diatas puncak anak tangga.