“Saya mau tamasya, keliling-keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak, kereta tak berkuda
becak… becak… tolong bawa saya
saya duduk sendiri, sambil mengangkat kaki
melihat dengan asik ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari bagaikan tak berhenti
becak… becak… jalan hati-hati….”
Lirik lagu diatas pasti familiar bagi teman-teman generasi 90an, dimana dulu becak masih diperhitungkan sebagai transportasi penting di kota-kota kita. gimana ya kabar kondisi dunia per-becak-an sekarang?
Sedikit bercerita dulu, waktu saya masih duduk di bangku sekolah dasar, rasanya seneng banget berangkat sekolah naik becak langganan bersama teman-teman. Satu becak bisa dinaiki 4-6 orang, dengan posisi dua dibawah, dua di tengah, dan dua di atas (kepalanya nongol di atep becak). Berangkat dan pulang sekolah saling tunggu-tungguan, sampai abang becak yang nyariin ke kelas kalo ada anak yang belum juga sampai becaknya hehe
Mungkin temen-temen lain juga sering naik becak kalo berkunjung ke kota-kota wisata seperti Jogjakarta, Surakarta dan kota yang lainnya.
Keberadaan becak saat ini ternyata sering dianggap mengganggu kelancaran arus lalu lintas loh. Soalnya kadang-kadang becak jalannya lebih pelan dari kendaraan bermotor lainnya. Banyak juga yang bilang keberadaan becak disuatu Negara itu menggambarkan kondisi Negara yang masih miskin, belum bisa mensejahterakan rakyatnya. Ada juga yang beranggapan kalo becak itu tidak manusiawi karena menggunakan tenaga manusia (mungkin ini lebih mengkritik keberadaan angkong di India sana). Sehingga, para penguasa kota (termasuk di Indonesia) banyak membuat kebijakan yang sedikit menyingkirkan keberadaan becak, salah satunya banyak muncul kawasan tanpa becak. Atau seperti kota Jakarta yang melarang keberadaan becak.
Menurut buku Arsitektur Kota Tropis Dunia Ketiga karya pak Tri Harsono (yang baru saya baca belakangan ini) tidak pernah ada suara sumbang dari pemikir manapun di negara maju yang merasa keberatan terhadap penggunaan becak sebagai sarana transportasi umum. Hal ini tentu hanya dilihat dari kacamata pengguna kendaraan pribadi yang inginnya selalu cepat sampai tujuan tanpa mau memikirkan kesulitan orang lain yang tidak memiliki kendaraan. Mereka juga tidak berpikir bahwa lambatnya lalu lintas jalan raya juga disebabkan oleh mereka sendiri, jumlah kendaraan pribadi yang terlalu banyak menyebabkan ruas jalan semakin penuh.
Ternyata kemacetan yang terjadi di kota-kota Indonesia bukan hanya karena keberadaan becak pada kawasan tidak bebas becak kan, lagipula keberadaan becak di kota-kota saat ini sudah semakin sedikit. Kabar baik atau buruk ya?
Jika dilihat dari sisi pencemaran lingkungannya baik udara maupun suara, jelas becak jauh lebih unggul dari kendaraan lainnya. Becak sama sekali tidak menghasilkan polutan dalam bentuk cair, padat, suara maupun gas! Ramah lingkungan banget kan. Sedangkan dari sisi energi, becak juga kendaraan paling hemat terhadap konsumsi bahan bakar yang tidak terbarukan. Energinya didapat dari sepiring karbohidrat dan beberapa lauk protein yang dinikmati sehari dua sampai tiga kali. Dengan kata lain, becak dapat memberi peluang kehidupan berkelanjutan di masa yang akan datang.
Secara sosial becak juga relatif lebih aman dibandingkan dengan kendaraan lain, mengingat banyaknya kejadian kriminal di moda transportasi umum belakangan. Biasanya kaum hawa mulai dari pelajar dan ibu-ibu pekerja kantoran cenderung memilih becak ketika harus pulang larut malam, karena keberadaan becak yang berjajar di pangkalan pada malam hari, membuat kita seperti merasa dilindungi jika terjadi hal-hal yang kurang baik. Sebagai pengguna jasa becak dari kecil, saya juga sempat berpikir macam-macam berkaitan dengan criminal jika mau naik becak. Tapi nyatanya sepengetahuan saya, jarang sekali ada berita criminal yang dilakukan oleh tukang becak. Hubungan sosial pengemudi dan penumpangnya umumnya baik saling mengenal antar individu.
Secara budaya juga keberadaan becak mendukung kegiatan pariwisata kota. karena becak dapat digunakan sebagai kendaraan keliling kota menikmati hiruk pikuk suasana kota dengan jalur suka-suka. Jadi bisa saja naik becak ke tempat-tempat yang tidak terjangkau angkot. Becak juga merupakan kendaraan yang dapat dianggap sebagai kendaraan tradisional jaman dahulu yang perlu dilestarikan.
Beda daerah, beda pula bentuk becaknya. Ada yang lebih tinggi tempat duduknya, ada yang datar saja, ada yang penumpangnya di depan, disamping dan dibelakang. Warna dan motifnya pun beragam. Lihat, betapa kayanya kreatifitas orang-orang Indonesia dilihat dari becak saja.
Saya sendiri menggolongkan tiga jenis becak berdasarkan keberadaannya, satu becak rumahan yang biasanya ada di sekitar komplek perumahan. Rutenya dari rumah ke depan komplek ataupun sebaliknya. Dua, becak pasar yang biasa mangkal di dekat pasar. Becak jenis ini rutenya lebih jauh karena harus mengantarkan penumpang dari pasar ke rumah pelanggan yang kadang jauh banget. Becak pasar ini biasanya jadi andalan ibu-ibu rumah tangga yang barang belanjaannya banyak banget kaya mau pindahan. Dan yang terakhir becak wisata yang sering ditemui di kota wisata seperti Solo dan Yogyakarta. Becak ini ditemukan di sekitaran lokasi wisata. Rutenya pun mengitari objek-objek wisata ditambah beberapa informasi tempat mencari buah tangan dan cerita-cerita dari abang becak. Kalau di Yogyakarta, becak ini bisa ditemukan di sekitaran keraton Yogyakarta hingga koridor malioboro. Kalau di solo, di sekitaran alun-alun utara hingga kampong batik kauman.
Tuduhan bahwa penumpang memperlakukan pengemudi seperti hewan perah sebenarna terlalu berlebihan. Karena hubungan yang terjadi sebenarnya adalah hubungan jual beli jasa seperti yang terjadi pada sektor formal maupun informal lainnya (Harsono 2013). Dari naik becak, kita jadi tahu beberapa cerita mengenai daerah yang sedang kita kunjungi (jika berwisata) dan juga berbuat kebaikan untuk orang lain (abang becaknya). Keindahan kota juga lebih enak dinikmati jika naik becak daripada transportasi umum, kalau gamau capek jalan kaki.
Potensi positif dari sisi lingkungan sosial ini sebaiknya dipertimbangkan penguasa kota dalam menyusun peraturan yang berkaitan dengan keberadaan becak terutama pada kawasan permukiman. Selain membawa permasalahan lainnya, toh becak juga memiliki potensi jika dikembangkan dengan baik.
Jadi, dalam kaitan dengan kesemrawutan kawasan tidak bebas becak, perlu dipikirkan kemudian hari bagaimana merancang kota dengan menempatkan jalur khusus kendaraan tidak bermotor seperti becak atau sepeda, yang terpisah dari kendaraan bermotor.
Jadi tidak ada salahnya kalau keberadaan becak diperhitungkan dalam perencanaan kota-kota kita kan?
Surakarta, 16 Februari 2016