Sejauh ini aku selalu berandai. Andai saja mengenalmu lebih mula. Andai saja aku bisa menjadi lebih baik agar mampu menjadi seseorang yang kamu cintai. Tapi, aku pun mengerti jika itu bukan aku; seseorang yang kamu cari.
seen from Australia
seen from China
seen from China

seen from Australia

seen from Indonesia
seen from United States
seen from China
seen from Indonesia

seen from United States
seen from Australia
seen from Spain
seen from Germany

seen from United States

seen from Türkiye

seen from United States
seen from Spain
seen from Russia
seen from Georgia
seen from China

seen from Malaysia
Sejauh ini aku selalu berandai. Andai saja mengenalmu lebih mula. Andai saja aku bisa menjadi lebih baik agar mampu menjadi seseorang yang kamu cintai. Tapi, aku pun mengerti jika itu bukan aku; seseorang yang kamu cari.
Bukankah kamu pernah bilang bahwa tiada satu pun yang akan menjadi batas bagi perjalanan kita?
Justru, kini akulah yang akan melalui perjalanan itu.
Sendirian.
Kamu pergi dengan berdalih kalau kamu berubah pikiran tentang kita. Menuai kebahagiaan bersamaku tidak lagi menjadi keinginan terbesarmu.
Tak apa, aku tidak akan menghalangi keinginanmu. Kamu berhak untuk berubah pikiran. Aku hanya ingin kamu ingat ini di saat nanti tanganmu ingin mengetuk pintu rumahku lagi, ingat ini di saat ada keinginan untuk mendengar suaraku lagi,
aku juga punya hak untuk tidak menerimamu kembali dengan alasan yang sama seperti alasanmu. Aku sudah berubah pikiran.
Andira Wu
Pertanyaan Perihal Kabar
Jika persamuhan menjadi terlalu sulit untuk kita, bagaimana jika saling bertukar sapa?
Barangkali, aku bisa menyematkan tanya perihal kabar;
—meskipun ribuan kali aku mengulang, kamu tetap bisu.
Bukan karena kamu tidak peduli, tapi memang perasaan itu tidak pernah hidup di dadamu.
Meskipun aku bisa mengerti jika perasaan itu telah jatuh terlalu dalam;
—sedangkan kamu telah begitu jauh memberikan ruang pada perpisahan.
Penantian tersebut telah menjelma kerinduan panjang;
—olehnya, dadaku ditikam berulang kali. Luka yang selalu basah oleh sesal tak berkesudahan.
Perihal meskipun kamu mengatakan "tidak", tetapi mengapa tetap saja perasaan itu tidak mau pudar?
Pertanyaan itu ialah puisi yang kehilangan kata-kata.
(Jakarta, 6 Jan 26 | 01.15 AM)
Dadaku sesak, memikirkan kamu telah menemukan kebahagiaanmu sedari lama;
—tepat setelah pertemuan kita yang masih hangat ini.
Aku bisa mengerti jika kamu pantas untuk dicintai seseorang yang lebih baik dariku.
Aku Mengerti, Jika Kita Takkan Bersama
Puan, meskipun kita hanya bisa saling bicara di dalam keterdiaman kita, tetapi aku mengerti jika kepergian adalah pilihan yang kamu berikan kepadaku.
Aku mengerti, jika sejauh apa pun aku berusaha untuk melawan takdir, kamu takkan pernah menganggapku ada.
Aku mengerti, jika aku begitu ingin mendekapmu dalam perasaan ini, sedangkan kamu pantas untuk mendapatkan lebih dari sekadar dingin malam yang panjang.
Aku mengerti, jika aku tidak pernah benar-benar menjadi pilihan untukmu.
Ketibaanmu yang Meniupkan Nyawa Kembali
Download this photo by Abigail on Unsplash
Telah sekian lama aku percaya bahwa kata-kataku telah menemui kematiannya sendiri, hingga di suatu sore yang sendu, aku menemukanmu.
Ketibaanmu membuatku ingin menziarahi kata-kata yang dulu pernah kelindan di antara dingin kesunyianku.
Dan aku pun mengerti, jika aku tidaklah seorang diri yang tertaut pada diam samudra yang hidup di kedua matamu itu. Dan sungguh, aku begitu mengerti perihal jarak yang menjadi batas di antara kita.
Jarak, yang menjadi definisi bagi keberanianku perihal melanjutkan perjalanan menujumu.
Ya, aku sadar betul perihal diriku ini; seseorang yang hanya bisa mencuri sitatap padamu diam-diam, lalu kelak ketika akhirnya kamu memilih seseorang yang lain, aku akan menjadi lelaki yang merasa paling kalah dan luka.
Tetapi, apa pun itu, hari ini, aku hanya ingin mengatakan perasaan tentangmu saja.
[AR; Agustus 2024]
Aku Bodoh dan Aku Sadar Perihal Itu
Aku bodoh dan aku sadar perihal itu. Setelah melewati dua tahun dalam kehampaan, tiada kata-kata lahir dari dalam kepala ini akhirnya aku sadar jika beranjak adalah omong kosong untukku.
Aku berpikir bahwa di antara perjalanan detik-detik, aku kelak akan menemukan seseorang yang tepat; ternyata semua itu hanyalah abu-abu di balik ketidakmampuanku untuk menyapumu dari segala kenanganku.
Bukan aku tidak menemukan seseorang, tetapi aku yang tidak bisa menemukan seseorang sepertimu.
Ya, sepertimu. Inilah yang menjadi titik mula kebodohanku perihal kalah oleh masa lalu yang belum jua usai. Perihal perasaan yang ternyata belum selesai di dalam dadaku.
[Ariqy Raihan]