Apapun yang tertulis semoga tidak pernah mendatangkan rasa sombong dalam diri. Tulisan-tulisan ini hanyalah upaya saya dalam merekam setiap jejak untuk saya nikmati kelak. Karena yang tersisa dari setiap perjalanan, hanyalah cerita dan foto yang akan menjadi kenangan.
Adalah sebuah gerakan revitalisasi desa dari satu LSM yang mengubah hutan bambu yang mulai ditelantarkan hingga menjadi tempat yang kembali dimanfaatkan.
Lokasi pasar papringan ini akan berpindah-pindah dari satu desa ke desa lain. Dan yang kemarin saya kunjungi yang sedang berlangsung di desa Ngadiprono.
Pasar papringan ini sudah menjadi tujuan wisata, pas kemarin saya kesana sudah menimbulkan…
Woaaahh akhirnya bisa balik lagi ke blog yang sudah berdebu ini.
Dan kali ini sebenarnya perjalanan yang sudah 6 bulan lalu. Tapi karena rasa malas yang melanda jadi baru bisa ke posting sekarang.
Jadi cerita kali ini adalah tentang perjalanan akhir tahun saya ke Temanggung yang mungkin bukan tujuan wisata yang populer. Tapi yang pasti kabupaten ini sudah memikat hati saya.
Balik lagi ke Dieng setelah sekian lama.
Dieng, tempat saya menyaksikan indahnya sunrise di ketinggian pertama kali dan akhirnya ketagihan, di bukit Sikunir tepatnya.
Tempat ini selalu memesona mata saya dengan keindahannya.
Dan kali ini berkunjung ke ketinggian lain di Dieng, yaitu Gunung Prau.
Gunung yang terkenal ramai kaya pasar ini punya ketinggian 2565mdpl tapi treknya lumayan bikin…
Perkenalan dengan Mandalawangi pertama kali dari cerita tentang Soe Hok Gie, aktivis muda yang tak mau mati di atas kasur.
Dan kenyataannya benar saja, beliau meninggal di gunung Semeru yang kemudian abu tanah kuburnya disebar di Mandalawangi.
Ketika masih hidup pun Gie sering berkunjung ke Pangrango untuk sekedar melepas penat dari kehidupan politik ibukota.
Baru ini ikutan trip photo hunting. Pengalaman banget sih, secara saya bukan orang yang terlalu suka photography.
Kalau travelling, foto cuma seadanya yang penting punya. Gak diniatkan buat ngambil foto bagus gitu.
Sebenarnya ikutan trip ini pun karena destinasinya yang emang masuk dalam list saya.
Geopark Cileteuh ini sudah diakui UNESCO lho dan disebut-sebut sebagai bukti munculnya pulau Jawa.…
Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.
-Mark Twain
Setelah turun dari gunung Parang melalui jalur pendakian 2tahun lalu, terbesit keinginan untuk mencoba jalur climbing.
Kabarnya gunung Parang ini…
Dari waerebo menuju labuan bajo, kalau naik transportasi umum harus balik dulu ke ruteng naik mobil otto yang adanya jam 3pagi. Dari ruteng naik shuttle Gunung Mas lagi selama 5jam.
Kalau saya kemarin lagi-lagi naik ojek dari waerebo sampai lembor, habis itu baru naik mobil angkutan.
Jangan khawatir kalau kamu sendirian mau sailing di pulau komodo dan sekitarnya.
Di sekitar pelabuhan, banyak…
Solo travelling pertamaaa
Akhirnya setelah ratusan hari gak gendong tas yang isinya baju, agak resah juga sama daya jelajah yang kian tumpul, memutuskan untuk jalan lagi.
Ini adalah perjalanan solo pertama saya. Sebenernya sih sebelum ini pernah, jakarta-jepara saat mau ke karimun jawa dan juga jakarta-surabaya saat mau keliling jawa timur. Iya hanya sebatas jakarta menuju meeting point karena…
Ibarat hidup yang seperti uang logam dengan dua sisinya, perjalanan pun demikian.
Dibalik foto-foto perjalanan bagus dan juga cerita menyenangkan yang dipamerkan di media sosial, pasti ada juga cerita sedih yang tak dibagikan.
Dalam perjalanan saya, ada kejadian empat kali ganti bis dari Jakarta menuju Wonosobo dalam pendakian ke sindoro yang membuat setengah yakin kalau saya tidak usah melanjutkan pendakian, tapi toh akhirnya saya mencapai puncak meskipun di atas yang terlihat hanya kabut dan diiringi hujan lebat dan cahaya kilat sepanjang perjalanan naik dan turun.
Kaki yang mengalami cedera saat turun dari merapi, dan harus menahan jijik dan mual saat buang air kecil di toilet ranukumbolo dan kandang badak gunung gede.
Berhadapan dengan pencopet di bis saat pulang dinihari menuju Jakarta setelah penyebrangan bakauheni-merak selepas perjalanan dari pahawang untuk kedua kalinya, yang akhirnya membuat saya harus menahan kantuk yang teramat sangat.
Iya cerita-cerita itu semua pernah mewarnai foto-foto puncak gunung dan indahnya bawah laut yang saya miliki.
Entah cerita tak menyenangkan lain apalagi yang akan saya temui, tapi saya pastikan saya akan tetap melakukan perjalanan.
In syaa Allah
When will you begin that long journey into yourself?
-Rumi
Tahun ini sepertinya menjadi tahun yang paling sedikit saya melakukan perjalanan sejak saya memulainya 6 tahun yang lalu.
Dari tahun ke tahun memang selalu menurun jumlah tempat yang saya singgahi, tapi tahun ini sepertinya menjadi puncaknya.
Dulu sebelum tahun 2013 dimulai, saya sudah merencanakan akan kemana di tanggal merah yang mana.
Tapi antusiasme itu kini memudar.
Menarik diri untuk bertemu orang asing.
Mungkin efek dari diri saya yang terlalu banyak memendam hal-hal yang tidak saya suka.
Jengah, sampai akhirnya saya malas untuk bertoleransi pada hal yang membuat saya tidak nyaman, sekecil apapun. meninggalkan siapapun.
Sedih?sejujurnya iya.
Tapi sebenernya tahun ini saya melakukan perjalanan terjauh dari yang pernah ada. Dan di tahun ini juga, sebuah perjalanan mimpi terbesar dalam hidup saya sudah terlaksana.
Dibalik itu semua, saya masih menyimpan keinginan untuk gendong keril dari satu hutan ke hutan berikutnya, dari satu pantai ke pantai yang lain tanpa henti.
Saya masih menyimpan harapan untuk bisa menjejakkan kaki di titik-titik tertinggi Indonesia, bahkan beberapa bulan yang lalu terbersit keinginan untuk menjejakkan kaki di basecamp titik tertinggi dunia.
Semoga semesta memberikan saya izin lebih banyak untuk bersinggah, menikmati setiap langkah dan merasakan lebih dalam keagunganNya, di tahun depan atau tahun-tahun berikutnya.
Iya, semoga.
Kaya orang-orang yang ke luar negeri buat nonton konser penyanyi atau band idolanya, perjalanan inipun demikian.
Cailah gaya banget ya. Hahah
Berangkat ke Bandung naik kereta jam 5pagi di hari Minggu, nonton konser ERK jam 7malam dan langsung pulang ke Jakarta naik travel yang jam 12malam demi pekerjaan kesayangan. Pret.
Lah terus dari pagi sampai sore ngapain aja di Bandung?
Jalan-jalan lah!
Berkunjung ke taman-taman, jalan Braga, jalan Asia Afrika yang ada tulisan Pidi Baiq tapi ogah foto karena mainstream banget, lagipula gak suka juga sama tulisan-tulisan Pidi Baiq.
Makan siang di Dago Pakar dengan pemandangan yang mirip-mirip bukit selangon-nya Lombok.
Ah Bandung emang asoy!
Nah tibalah pada tujuan dari perjalanan ini : ERK.
ERK ini sebenarnya juga sering manggung di Jakarta, tapi kebanyakan diri buat nontonnya. Dan saya agak malas kalau gak duduk. Jadilah gak pernah datang kalau manggung di Jakarta.
Ohiya, buat yang belum tahu, vokalisnya ERK ini lagi di luar negeri dan manggung kalau lagi balik aja ke Indonesia jadi jarang-jarang ERK ini manggung atau bikin konser.
ERK ini juga salah satu band yang pengin banget saya tonton live, pas tahu kalau mau manggung di Bandung dan tempatnya juga enak buat nonton konsernya, bela-belain lah saya ke Bandung .
Emang sih pas di akhir-akhir konser, penontonnya tiba-tiba diri aja gitu mendekat ke panggung. Tapi emang beberapa lagu ERK enak banget buat jingkrak-jingkrak dan puas banget!
Sinestesia dalam Konser Sepenggal Rindu.
Semua foto-foto ini diambil pakai kamera hp lho. Enaknya emang gitu kalo nge-fans sama band indie. Tiketnya murah dan puas bisa deket panggung. Hahahaha
··
Orang Jakarta, nonton band asal Jakarta di Kota Bandung.
Aneh ya?
Enggak sih buat saya,
Ada banyak makna pulang dan mungkin berbeda untuk setiap orang.
Tapi saya sedang tidak ingin bahas hal itu.
Kenapa?
Karena emang gak punya bahan buat dibahas aja.
.
.
.
.
Jadi sebenarnya lagi nyoba-nyoba bikin video yang pakai lagu-lagu gitu.
Ini kaya semacam interpretasi sebuah lagu yang saya suka melalui video.
Pernah kan ya ketika dengerin sebuah lagu terus terbersit di kepala, adegan yang cocok sama itu lagu, entah adegan-nya pernah ngalamin sendiri atau enggak?
Nah gitu.
Dan inilah lagu yang saya suka dengan pengalaman yang selalu saya rindukan.
Dan mungkin ini sebuah perjalanan pulang buat saya, meskipun perjalanan ini mengantarkan saya ke sebuah tempat yang jauh dari jakarta.
Pertama kali saya ke Jogja itu ketika perpisahan sekolah saat SMA dan yang saya ingat, saat itu yang dikunjungi Borobudur, pantai Parangtritis dan Malioboro.
Setelah itu Jogja hanya persinggahan egoku dan sikapmu telah merobohkan aku
*nyanyi bareng om duta*
Oke lanjut...
Selanjutnya Jogja hanya persinggahan saat saya mendaki ke merapi dan merbabu.
Tapi mengunjungi setiap sudut Jogja sudah lama menjadi hal yang saya impikan. Dan akhirnya terwujud juga di long weekend mei kemarin.
Tidak punya waktu banyak sedangkan destinasi wisata Jogja sudah semakin bertambah.
Jadi inilah tempat-tempat yang saya singgahi dalam waktu 2,5 hari di Jogja.
Borobudur
Dulu kalau berkunjung ke Borobudur, hal yang dilakukan hanya foto-foto di candi.
Tapi sekarang ada banyak tempat di sekitar Borobudur yang layak dikunjungi.
Borobudur ini menjadi salah satu spot untuk berburu sunrise di Jogja.
Bahkan ada satu penginapan di sekitar Borobudur yang menyediakan akses bagi tamunya untuk masuk ke dalam candi sebelum jam buka yang seharusnya untuk memotret patung budha dalam paparan sinar matahari.
Ada juga tempat lain untuk menikmati Borobudur di saat sunrise yaitu punthuk setumbu.
Tempat ini katanya masuk dalam adegan film AADC2 (katanya dalam kalimat ini digunakan karena saya belum menonton film tersebut), jadilah semakin ramai dikunjungi.
Saya pribadi tahu mengenai punthuk setumbu dari tahun 2012.
Saya tahu tempat ini untuk menikmati Borobudur dari ketinggian di pagi hari.
Mungkin adanya kalimat “menikmati dari ketinggian” yang membuat saya menyimpan keinginan untuk mengunjungi punthuk setumbu.
Dan pada saat kemarin saya ke sana, matahari sedang tidak ingin menunjukkan pesonanya. Jadilah latar belakang Borobudur dari ketinggian ini hanyalah kabut.
Padahal kalau mataharinya tidak sedang malu, akan menjadi luar biasa (lihat foto orang-orang dari google/instagram)
Ah mungkin harus ke sini lagi nanti-nanti ya.
Di sekitaran punthuk setumbu juga ada spot-spot foto yang sudah diberikan fasilitas sama pengelola sekitar.
Ada juga gereja ayam.
Dan semua tempat itu belum saya kunjungi karena waktu terbatas dan ramainya pengunjung saat itu.
Museum Ullen Sentalu
Jangan kaget dengan tiket masuk museum yang cukup mahal yaitu 30ribu.
Tapi menurut saya memang seharusnya tiket masuk museum jangan terlalu murah jika ingin maju.
Museum ullen sentalu ini milik swasta. Di dalamnya berisikan mengenai seni dan budaya Jawa. Mengupas berbagai macam motif batik Solo dan Jogja, silsilah keraton hingga arca-arca dewa dalam agama Hindu.
Tidak diperbolehkan foto-foto di dalam museum yang letaknya sangat asri. Jangan khawatir tidak akan mengerti mengenai isi museum, karena di museum ullen sentalu ini akan ditemani oleh pemandu yang akan memberikan penjelasan saat mengelilingi museum.
Sebenarnya sangat menarik belajar silsilah kerajaan di Jawa, tapi saya terlalu malas untuk baca.
Kotagede
Saran saya jika kalian ke sini bawa kendaraan, parkir saja di salah satu tempat di daerah ini kemudian jalan kaki menyusuri setiap gang. Itu yang kemarin saya lakukan.
Banyak hal menarik yang bisa dilihat jika mengunjungi kotagede.
Masjid tertua di Jogja yang di dalamnya terdapat makam raja-raja mataram termasuk dalam salah satu tempat yang wajib dikunjungi. Ada pasar kotagede yang tidak begitu jauh dari masjid, dan juga pintu hijau yang hits di instagram.
Sebenarnya ada mural-mural yang bagus juga, tapi sayang kemarin saya tidak menemukannya.
Banyak orang yang menasbihkan Jogja sebagai kota yang penuh kenangan.
Dan saya rasa tidak berlebihan.
Saya tidak atau belum memiliki kisah di Jogja tapi entah kenapa dari dulu saya punya mimpi untuk menghabiskan masa tua saya nanti di Jogja.
Meskipun di saat liburan panjang, Jogja sekarang sudah seperti Bandung, ramai dengan orang-orang dari luar Jogja.
Jogja akan terus tumbuh, tapi saya yakin akan masih banyak sudut-sudut kota Jogja yang menawarkan kemerduan dalam kesederhanaan dan kesunyian.
Tunggu saya lagi, Jogja!
P.S.
Trip ke Jogja kali ini adalah perjalanan dua perempuan yang sama-sama tidak setuju raisa menjadi pacarnya hamish.
Piknik pertama di tahun 2017 anak aquarius yang sampai saat ini masih lebih menyukai gunung daripada laut.
Iya sebenarnya lebih kangen sama gunung. Tapi ajakan liburan yang datang malah ke laut.
Dan akhirnya di detik-detik terakhir keberangkatan baru mengiyakan karena udah lama banget gak piknik dan pikiran juga udah suntuk.
Kembali menyegarkan jiwa dan paru-paru.
Karena memang tujuan saya ikut trip ini benar-benar untuk liburan makanya tidak bawa kamera apapun, hanya mengandalkan kamera hp. Pengin menikmati segala yang ada tanpa ribet utak-atik settingan untuk menangkap keindahan yang ada.
Kalau di kedatangan pertama saya di Pahawang disajikan sunrise yang bagus, kali ini saya disajikan sunset yang bagus.
Sebenarnya pas kedatangan pertama saya, sunset nya juga bagus tapi saya ketinggalan karena selesai saya bilas, matahari sudah tenggelam.
Nah belajar dari pengalaman itu, pas kemarin saya memilih untuk bilas terakhir. Biarkan saja teman-teman lain duluan mengantri untuk bilas.
Dan keputusan saya tepat.
Sunset nya kaya gini cobaaa....
Sayangnya tengah malam hujan, jadi sunrise nya ketutupan awan.
Tapi lumayan lah ya bisa ambil dikit-dikit.
Sudah 2tahun sejak pertama saya ke Pahawang. Sudah banyak berubah, ada yang lebih baik dan ada yang lebih buruk.
Pelabuhan Ketapang, tempat menyebrang ke pulau Pahawang setelah menempuh kurang lebih 3jam perjalanan darat dari bakauheni banyak melakukan pembenahan. Sudah banyak toilet umum untuk tempat bilas dan rumah-rumah penduduk sekitar juga sudah mulai terlihat peningkatan.
Begitu juga dengan keadaan penduduk di pulau Pahawang besar, tempat adanya penginapan.
Bagus lah, meningkatkan taraf ekonomi penduduk. Begitu pikir saya.
Tapi ada perubahan buruk yang terjadi.
Semakin banyak pengunjung yang datang, semakin banyak juga karang-karang bawah laut yang rusak. Terlihat jelas di tanjung putus, tempat penangkaran nemo.
Di tahun 2015, banyak anemon laut berwarna-warni sehingga menyegarkan mata.
Tapi pas kemarin saya ke sana, anemon-anemon tersebut sudah tidak ada lagi dan hanya terlihat satu-dua nemo.
(Pic 2017 by cindy)
Sedih sekali rasanya.
Semakin banyak di ekspos, semakin banyak pengunjung yang datang malah semakin rusak.
Duuh, kenapa begini sih, selalu.
Jangan hanya demi foto yang bagus dan mendapat like banyak di media sosial, harus membuat rusak lingkungan sekitar.
Jangan pernah!
Apakah saya akan kembali ke Pahawang untuk ketiga kalinya?
Semoga kalaupun saya kembali lagi ke sini, bawah lautnya sudah mulai bagus lagi. Taman nemo nya kembali ada, dan yang sudah bagus tetap terawat.
Don't take anything but pictures, don't leave anything but footprint, don't kill anything but time.
kamu ingin melompat.
ingin sekali melompat.
dari ketinggian di ujung sana.
menuju entah apa namanya.
coba buka lah mata.
indah di bawah sana.
tutup rapat kedua telinga.
dari bisikan entah dimana.
kau terbang dari ketinggian mencari yang paling sunyi.
dan kau melayang mencari mimpi-mimpi yang tak kunjung nyata.
kulihat engkau terkulai
tubuhmu membiru tragis. tragis.
perihmu yang menganga.
tak hentinya bertanya.
hidup tak selamanya linier.
tubuh tak seharusnya tersier.
coba buka lah mata.
indah di bawah sana.
tutup rapat kedua telinga.
dari bisikan entah dimana.
Masih teringat dengan jelas betapa lelahnya saya saat turun dari Segara Anak menuju basecamp Senaru, 4 bulan yang lalu.
Saat itu terlintas dalam pikiran saya untuk menyudahi saja kenikmatan melihat mentari pagi di ketinggian.
Tapi ajakan seorang teman untuk menyambangi atap Jawa Tengah membuat saya tergiur.
Ah lelah yang bikin candu!
Gunung Slamet yang merupakan atap Jawa Tengah dapat diakses melalui beberapa jalur dan paling mudah yaitu jalur bambangan.
Dan jalur inilah yang menjadi pilihan teman saya.
Dari Jakarta menuju basecamp bambangan, kami naik bis dari terminal kampung rambutan menuju bobotsari.
Jam setengah 7 malam kami berangkat dan turun di pertigaan serayu jam setengah 4 pagi.
Selanjutnya dilanjutkan dengan naik angkutan yang langsung mengantarkan ke basecamp.
Satu mobil biasanya bisa diisi 10-14 orang dengan biaya 30ribu per orang.
Biasanya juga akan bertemu dengan pendaki daerah lain yang juga turun di pertigaan tersebut, jadi bisa sharing biaya mobil.
Atau jika sedang tidak ada pendaki lain, bisa naik ojek dengan tarif 50ribu per orang.
Basecamp bambangan ini cukup besar jadi bisa numpang tidur dulu jika terlalu pagi sampai di sini.
Ada kamar mandi umum juga, dan ini enak banget lho jadi bisa mandi abis turun gunung.
Selain itu ada masjid cukup besar juga dekat situ.
Dan saat saya selesai sholat subuh di situ, mendapatkan pemandangan sunrise, sindoro dan sumbing yang wow!
Pemandangan yang kaya gini nih yang bikin pengin punya rumah di kaki gunung.
Di basecamp juga menyediakan sarapan, ibu pemilik basecamp ini akan memasakkan makanan yang kita pesan. Ada nasi goreng, nasi rames dan teh manis hangat. Bisa juga buat bungkus makan siang dan malam di atas jadi bisa gak terlalu repot bawa logistik yang terlalu banyak.
Pendakian saya dan teman-teman dimulai jam setengah 9 pagi.
Dari basecamp Bambangan menuju kantor sekretariat buat daftar simaksi, jalan kaki sekitar 10 menit.
Kantor sekretariat ini letaknya juga dekat gerbang pendakian.
Dari gerbang pendakian, medannya nanjak dengan masuk ke ladang warga.
Setelah itu akan mulai masuk ke hutan untuk menuju pos 1.
Perjalanan saya menuju pos 1 sekitar 2 jam.
Kita akan menemui dua deretan warung sebelum sampai di pos 1.
Warung pertama, setengah jam setelah gerbang pendakian.
Deretan warung kedua, satu jam berikutnya.
Dan setengah jam kemudian, saya sampai di pos 1.
Di pos 1 ini juga terdapat beberapa warung.
Saat saya melakukan pendakian ini, ada warung yang buka di pos 1, pos 2, pos 3 dan pos 5.
Jadi kalau kalian berencana ingin ke Slamet, bawa duitlah yang cukup banyak buat jajan di pos-pos tersebut.
Warung-warung tersebut menyediakan aneka gorengan, susu, kopi, semangka, pisang, dan ada nasi bungkus juga.
Gunung Slamet ini dikenal dengan gunung yang punya trek tersulit se Jawa Tengah.
Jalurnya selalu naik, gak ada bonus-bonusnya. *urut kaki*
Dari pos 1 ke pos 2, saya tempuh 1 jam.
Jalurnya naik dengan banyak akar pohon besar.
Selanjutnya jalur menuju pos 3 juga sama tapi lebih jauh. Dua jam dari pos 2.
Di pos 3 ini juga bisa camp kalau sudah tidak kuat. Tapi menuju puncaknya masih jauh banget kalau camp di sini.
Setelah 1 jam dari pos 3, saya sampai di pos 4.
Pos ini tidak ada yang jualan dan juga disarankan tidak camp di sini.
Nama pos ini yaitu Samaranthu yang artinya hantu yang samar.
Bisa kebayang gak, hantu udah gaib, samar pula.
Jadi tau dong ya kenapa gak ada yang jualan dan jangan camp di sini.
Kalau enggak kuat, paksain aja jalan menuju pos 5 karena jaraknya enggak terlalu jauh sekitar 30 menit.
Di pos 5 ini, satu-satunya pos yang terdapat sumber air.
Di sini bisa muat tenda sekitar 15. Kalau enggak kebagian, bisa di bawah sedikit pos 5, jalur menuju pos 6, pos 6, jalur menuju pos 7, atau pos 7.
Asalkan jangan di pos 4 lah ya.
Tapi menurut saya, enakan di pos 5 atau dekat-dekat pos 5.
Soalnya jalur dari pos 5 ke atas, lumayan banget nanjaknya.
Ya kebayang aja capeknya kalau bawa-bawa keril juga.
Dan buat turun lagi juga lebih dekat ke basecamp.
Kecuali kalau turunnya lewat jalur yang berbeda.
Untuk summit, saya mulai jam 2 pagi.
Trek dari pos 5 sampai plawangan ini enak lho pas turunnya, ya pas naiknya tetep aja sih engap.
Pos 5 ke pos 6, setengah jam dan lanjut ke pos 7 kurang dari satu jam.
Pos 7 ini batas terakhir pohon besar.
Lanjut ke pos 8 dan plawangan yang merupakan batas akhir vegetasi.
Dari plawangan menuju puncak, jalurnya berupa tanah berpasir dan berkerikil.
Jalur kaya gini yang lumayan bikin paha sakit pas turunnya.
Sampai di plawangan jam 4.15 pagi, istirahat 15 menit, lanjut menuju puncak.
Jam setengah 6 pagi, akhirnya saya sampai di atapnya Jawa Tengah.
Sunrise tidak begitu cerah. Kalau cerah bisa terlihat sindoro-sumbing, merapi-merbabu bersisian dengan matahari.
Tapi harus tetap bersyukur karena enggak ada badai. Di gunung Slamet ini terkenal banget badai di puncak tiba-tiba. Memang sih setiap gunung, cuacanya tidak bisa diprediksi, tapi di Slamet kemungkinan terjadinya badai tiba-tiba lebih besar.
Kalau ingin melihat kawah Segoro Wedi, harus menuruni punggung puncak kemudian naik lagi ke atas.
Tapi saya cukup melihatnya dari kejauhan saja.
Pendakian ke atap Jawa Tengah ini menggenapi pendakian triple S saya:
Ketika saya sampai di puncak Slamet, saya melihat tugu memoriam ini.
Sesampainya saya di rumah, iseng saya mencari tahu kejadian di bulan Februari 2001 di gunung Slamet, dan kemudian saya terhenyak membaca beritanya.
Bahaya memang selalu ada dimanapun dan ajal juga selalu tepat waktu datang menjemput kapanpun.
Tapi rasanya semua orang tahu, di gunung bahaya itu menjadi berkali-kali lipat.
Dan saya sadar akan hal itu.
Bukan, bukan saya mencari bahaya dengan menyukai naik gunung.
Kalau dengan naik gunung, saya bisa belajar sabar dan ikhlas,
Kalau dengan naik gunung bisa membuat saya memandang sesuatu dari segala arah
Dan kalau dengan naik gunung, saya bisa mengalahkan keras kepala dan ego saya, apa salah saya tetap naik gunung meskipun bahaya terus mengintai setiap saat?
Dan buat saya, naik gunung adalah tentang mencintai pencipta saya bukan melalui ibadah melainkan melalui alam ciptaanNya dan anugerah nikmatNya.
Dan pada akhirnya, bukanlah jalan ke puncak yang harus diperjuangkan tapi pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan "utuh" lah yang harus diperjuangkan.