Beberapa waktu lalu, ada satu momen yang baru benar-benar saya pahami.
Bahwa gak semua hubungan berakhir karena ada kesalahan besar. Kadang hubungan berakhir karena akumulasi hal-hal kecil yang dibiarkan.
Saya pernah menjadi orang yang terlalu sering berkata "gapapa". Terlalu sering memaklumi. Terlalu sering mendengar tanpa menyadari bahwa saya juga lelah.
Awalnya, saya merasa baik-baik aja ketika hal itu terjadi. bahkan saya merasa jadi orang yang memang berkewajiban untuk melakukan hal itu. Walaupun orang-orang sekitar saya sudah banyak yang mengingatkan.
Sampai suatu hari saya sadar bahwa saya mulai merasa tidak nyaman setiap kali menerima pesan atau harus berkomunikasi. Bukan karena saya membencinya, tetapi karena saya sudah kehabisan energi dan merasa hubungannya sudah tidak seimbang.
Di situlah saya belajar bahwa ternyata batasan itu penting untuk menjaga hubungan tetap sehat.
Saya juga belajar dari kejadian ini bahwa diam terlalu lama dan tidak enak menolak --karena saya yang paling tahu keadaannya-- bukanlah sebuah kedewasaan. Hal itu malah membuat orang lain gak pernah tahu bahwa ada sesuatu yang saya pendam.
Dan saat ini yang saya tahu, setiap orang membawa versi ceritanya masing-masing. Ada yang merasa ditikam. Ada yang merasa dikhianati. Ada yang merasa sudah terlalu lama bertahan sehingga sampai bisa meledak.
Dan itu gak apa-apa karena pastinya selalu ada alasan di balik setiap keputusan dan perasaan seseorang.
Walaupun seringnya, orang luar hanya melihat akhir cerita tanpa mengetahui perjalanan panjang sebelumnya.
Saya tidak menulis ini untuk membuktikan siapa yang benar atau salah. Karena saya yakin, saya juga punya andil kesalahan dan bisa jadi menjadi tokoh jahat dicerita orang lain.
Saya menulis ini sebagai pengingat untuk diri sendiri: jangan menunggu sampai hati gak bisa menahan baru mulai bicara. Jangan terus diam ketika tubuh dan pikiran sudah berkali-kali memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang gak baik-baik aja. Karena bisa jadi efeknya juga akan lebih besar dari apa yang kita kira.
Oh ya, ada satu hal lagi yang saya yakini: bahwa seburuk-buruknya seseorang di hidup kita, pasti ada satu dua kebaikan yang mereka lakukan. Dan memori baik itu tetap ada walaupun hubungan personal selesai.
Sehingga untuk sekarang, cukup jadikan pelajaran dan jangan lupa berdoa untuk segala kebaikan. Karena hidup harus tetap berjalan dan seringnya banyak hal memang cukup dipahami tanpa harus kembali dipertanyakan.














