Kepul uap dari permukaan cangkir seolah menari di udara. Hitam, pekatnya bercampur dengan temaram. Panas, setara dengan dadanya yang berapi. Celah matanya mengecil, tengkuknya merunduk. Jemarinya bermain di mulut cangkir, berlari mengikuti alur. Warna tubuhnya terlihat kontras dengan hamparan warna temaram dan secangkir minuman yang tergeletak di depan.
Adalah esok pagi yang mungkin akan diawali dengan keraguan, ketakutan, ketidaknyamanan. Bagaimana kalau tidak cocok? First impression, bagaimana kalau buruk? Gugupku sulit diatur, bagaimana akan terlihat normal? Bagaimana kalau aneh? Bagaimana kalau tidak sempurna? Bagaimana kalau tidak bisa? Bagaimana kalau ditolak? Apakah akan gagal?
Kepul uap masih menari. Mengalun bersama angin.
Adalah lusa yang serasa menegangkan. Bertemu dengan teman lama dari masa-masa lama. Tanpa melalui temu pun semesta tau, betapa rupawannya ia sekarang, betapa eloknya tubuh yang dulu setara denganku, betapa cemerlangnya gagasan dalam kepala itu, betapa luasnya mata itu memandang sudut-sudut dunia, ahh betapa gemasnya pipi chubby di dalam stroller itu. Astaga, betapa tak setaranya tubuh ini bersanding dengan mereka, betapa tak sebandingnya isi kepala ini bergaul dengan mereka, betapa menyedihkannya serpihan cerita perjalanan yang kupunya. Bagaimana kalau nanti berantakan? Bagaimana kalau hanya membuat kekacauan? Memalukan, memilukan? Ahh.. canggung, murung, mungkin hanya sudut ruang yang akan menerimaku dengan suka cita, ya?
Bibir ranum terbuka, menyentuh lembut tepian cangkir.
Adalah nanti malam. Mengamati hilir-mudik sepasang muda-mudi, pun puluhan raga yang terikat oleh 'darah'. Senyuman buatan, sapaan hangat yang terpaksakan, ucapan selamat dan pujian hanya pada yang berbahagia. Akan segera terdengar celotehan dari tiap sudut, metafora di sana sini. Bagaimana caranya menghilang dari sana? Bagaimana supaya tak terdengar bisikan tanpa bobot, yang hanya gemar membandingkan diri orang yang jelas berbeda? Bagaimana mantra supaya bumi mau menelanku saja?
Kepul uap kian menipis, jari jemari belum berhenti menari.
Adalah besok besok, dan besok, dan besoknya. Segala hal berisi kejutan yang seringkali tak terduga. Yang seringnya telah coba kuantisipasi sesigap mungkin, tapi nyatanya aku selalu lengah, selalu ada celah yang tak bisa tertutup. Mungkin begitu kah cara semesta bekerja? Begitu kah cara Tuhan memberi kehidupan?
Tarikan nafas terhembus lebih panjang tiap helaannya.
Someone tell me about anything, please! Just talk anything, don't stop!
Kelopaknya terpejam pelan, pasrah. Lengannya memeluk diri sendiri. Dingin, tapi panas. Terang, tapi gelap. Ramai, tapi sepi.
Telepon genggam berdering. Randi. Ah, dia harus kupaksa jujur, apa iya dia punya ilmu telepati? Hadirnya selalu tepat saat aku butuh, saat aku hampir layu.
Tak ada suara lain kecuali alunan biola dari pengamen pinggir jalan yang suaranya melengking sampai sini.
Tam.. Gue pernah bilang kan? Gue juga sama seperti lo kok, gampang takut, gampang overthinking, dan sejenisnya. Tp berkali2 udah gue buktiin sendiri, nyatanya semua bisikan buruk yang menuhin hati dan kepala ga semenakutkan itu kok.
Kini suara lalu-lalang orang terdengar ramai lagi.
Emang ga ada hal yang lebih ruwet lagi dari pikiran kita sendiri.
Suara lalu-lalang kembali hilang, berganti dengan alunan instrumen yg terdengar mendayu-dayu.
Kalo lagi overthinking itu emg butuh dicurahkan, Tam. Sharing aja sama orang yang lo percaya, seengganya itu bisa bantu lo keluar dari keruwetan itu, meskipun sedikit dan efek nya ga signifikan. Tapi gimana pun lo akan selalu butuh telinga orang lain, dan gimana pun pasti akan ada 'telinga' yang Tuhan kirim untuk denger celotehan lo. Apapun bentuknya. Yakin aja. Overthinking harus dinetralisir dengan distraction, yang positif tentunya. Yang membawa kewarasan.
"Thank's ya Ran... You're the real pahlawan kesiangan, meskipun belum kesiangan amat."
Suara tawa terdengar renyah,
Lagi dimana sekarang? Ngopi ya? Ikut dong..
Lo mau tau lanjutan Holmes riddle yang gue baca, ngga?
"Mau!" Suara itu terdengar lantang, dan spontan.