Mari Usahakan Memutus Tali Sandwich Generation Itu
Jika ayah/ibumu lalu kamu adalah sandwich generation, mari cukupkan hal itu di kamu saja. Tak perlulah kita menuntut anak kita dengan hal yang sama.
Dulu ketika aku baru pertama kali mendapatkan gaji, aku mencoba untuk melakukan yang dilakukan oleh temanku: memberi semua gaji pertama pada orang tuanya.
Darimana aku tahu? Dari postingan sosmednya, dimana dia menunjukan betapa bahagianya ibunya.
Kupikir aku mengalami hal yang sama. Nyatanya? Amplop gajiku dikembalikan seutuhnya oleh ibuku dengan pesan, "Ambillah lagi dan gunakan semua gajimu untuk kebutuhanmu. Insyaallah Mama dan Papa masih mampu menghidupi diri sendiri, bahkan adikmu".
Betul dengan kondisiku saat itu gaji masih UMR + 200rb dengan tabungan sangat cimit karena habis dipakai untuk beli laptop untuk skripsi, sangat bersyukur atas ucapan ibuku itu. Sejak saat itu, seluruh gajiku, kupakai hanya untuk diriku.
Lalu seiring dengan bertambahnya jam terbang, tentu gaji semakin naik secara signifikan. Alhamdulillahnya, gaya hidupku tidak berubah banyak. Dan aku sampai di titik merasa aku ingin berbagi kebahagiaan pada keluargaku dengan kelebihan yang kumiliki.
Sesekali kutraktir mereka, suatu waktu kugantikan handphone mereka yang sudah usang, dan bahkan bisa mendaftarkan salah satu orang tuaku untuk haji - walau yang reguler.
Kemudian aku bertemu dengan sebuah keluarga yang ayahnya (anggaplah A) adalah sandwich generation, yang kemudian menghasilkan anak sulung (anggaplah B) yang juga sandwich generation.
Lalu anak pertama dari si anak sulung ini alias cucu pertama di ayah (anggaplah C), menjadi 'tertuntut' untuk menjadi hal yang sama. Padahal itu tidak perlu terjadi, seandainya orang tuanya (si B) menyatakan hal yang sama seperti ibuku padaku. Karena aku yakin orang tuanya (si B) pun masih mampu menghidupi diri mereka sendiri dan anak²nya.
Sayangnya (asumsiku) dengan gaji cimitnya itu si C, tetap punya keinginan yang banyak. Namun tidak bisa segera diwujudkan karena dia menyisihkan sebagian besar gajinya untuk keluarga yang sebenarnya tidak perlu dia biayai. Dan timbulah kesalahan fatal itu, menggunakan jalan pintas: pinjol.
Aaaaah... Anak semuda itu, harus bergulat dengan cicilan yang semakin menggunung dengan gaji yang masih UMR.
Walau ada yang bilang: "tapi sama orang tuanya (si B), hadiah dari anaknya (si C) kan dipakai buat anaknya juga - alias di tabungin.. mungkin buat nanti nikahan".
Seandainya, si B menolak semua pemberian gaji milik si C.. akankah si C terlibat pinjol? Karena menurut kesaksian, si C dari kecil (masa sekolah) gemar berbisnis & menabung loh.. walau ya, pola 'tertuntut' menjadi sandwich generation sudah terlihat dari kecil dengan senang berbagi/ memberi jajan pada adik²nya bahkan sepupu²nya yang lebih kecil. Mungkin seandainya si C tidak memberikan sebagian besar gaji cimitnya pada orang tuanya, gajinya bisa lebih dari cukup untuk hidupnya sendiri - termasuk untuk segera mewujudkan keinginananya.
Jadi dari ceritaku ini, aku cuma mau cerita bahwa tuntutan menjadi sandwich generation sering kali tanpa disadari dijadikan warisan. Padahal itu bisa diputus sesimpel bilang bahwa adalah kewajiban orang tua adalah membiayai semua anak²nya dan tidak ada kewajiban untuk sebaliknya.
Mungkin tanpa sadar dari orang tua bercerita tentang pengalaman hidupnya dan kakek neneknya pada anak²nya. Dan ditelan mentah-mentah oleh si anak sebagai sebuah kebiasaan yang perlu dia teruskan juga, hanya karena dia terlahir sebagai anak sulung.