Kuroko no Basuke Black Style Collection ver. Akashi Seijuro
$LAYYYTER
styofa doing anything
AnasAbdin

⁂

Discoholic 🪩
RMH

ellievsbear

No title available
Lint Roller? I Barely Know Her
Mike Driver

PR's Tumblrdome
No title available
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!
he wasn't even looking at me and he found me
h
i don't do bad sauce passes
tumblr dot com
One Nice Bug Per Day

pixel skylines

seen from United States
seen from Malaysia
seen from Finland

seen from Germany
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from Singapore
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Finland
seen from United States
seen from Canada
seen from Germany
seen from Malaysia
seen from Singapore

seen from United States
seen from Iraq

seen from Iraq
@corosays
Kuroko no Basuke Black Style Collection ver. Akashi Seijuro
I barely write and that’s the saddest part.
Everything happens for a reason. All you have to do is keep praying and face the rest.
“Setelah melewati hal-hal seperti ini, kenapa kamu masih takut untuk berubah? Apa yang membuatmu sedemikian congkak untuk menghadapi sesuatu yang baik untukmu? Seindah apa perangkap masa lalumu sampai-sampai kau masih takut untuk keluar dari garis yang kaubuat sendiri?”
“Dan sebaik apakah dirimu sekarang untuk bisa mengatakan hal itu kepadaku?”
“Aku tidak perlu menjadi seorang motivator dulu untuk bertanya hal semacam itu kepadamu. Bahkan perkataan polos yang tidak pernah sengaja terucap oleh anak kecil bisa menyadarkan seorang presiden sekalipun. Jangan hargai dirimu tinggi-tinggi. Ada alasan mengapa orang macam aku -atau macam anak kecil- bisa berkata seperti ini kepada seseorang. Dan alasan itulah yang harus kauperhatikan. Kenapa? Karena alasan itu takkan muncul kalau kau tidak bersikap seperti ini.”
How to write your book Step 204
Advice
There is no such thing as universal good advice. What works for some people will ruin others. The best advice in the world is no good at all if not heeded.
Only you can write your book. Only you have the ability to take those words out of your mind and create them into a story. The next step in the process is always very simple, keep writing. Just relax and do it. Self direction is a terrifyingly powerful thing. Focus yourself into your novel, your words, your book. Write it all down. Heed the advice in the back of your mind. You know what you have to do.
Have faith in yourself and your abilities. You’ve got this.
talking about my lifetime favorite books, I’d like to mention “the book with no name” and “skulduggery pleasant the series”
#5
Caellan tertawa. Ia tiba-tiba tertawa begitu saja. Tak ada seorang pun di sana selain dirinya, maka ia tertawa untuk melepas dorongan yang mendesak dadanya sedari tadi.
Ia membunuh!
Caellan tertawa, lebih keras.
Astaga, dia benar-benar gila. Ia melakukan ini semua atas keinginan sosok yang mendiami alam pikirnya, sosok yang entah bagaimana dapat meyakinkannya untuk melakukan hal konyol barusan dengan kedua tangannya sendiri. Caellan merasa seolah baru saja dihempaskan dari langit bebas menuju tanah, tetapi sebelum wajahnya benar-benar mencium permukaannya, sesuatu telah menahannya untuk tetap di udara. Jantung Caellan berdentam-dentam. Angin terasa lebih menyiksa daripada biasanya.
Caellan memandang kesepuluh jemarinya yang masih bergetar karena sensasi menyenangkan yang menyengat tubuh. Ia memejamkan mata, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia membiarkan sengatan itu mengalir dari ujung jari ke pelipisnya.
#4
Mama dan Papa saling bertatapan, ragu. Azuna tahu mereka ingin melihat apa yang ditanggungnya, tapi di sisi lain, mereka tak ingin harapan mereka hancur oleh kenyataan yang ada. Tak ada yang mau angan-angan indah mereka berantakan oleh kebenaran. Tak ada yang mau, terlebih ketika anak mereka sudah lama menghilang.
Tapi Azuna tak punya pilihan. Orangtuanya harus tahu. Setelah saling bertukar tatapan penuh arti dengan Rayzan, gadis itu menarik napas dalam-dalam. Ia memejamkan mata, dan selama sesaat ia seakan mendengar orangtuanya memintanya untuk berhenti.
Yah, tapi tak ada gunanya untuk berhenti.
Mereka harus tahu.
#3
Anak itu menangkap beberapa sosok melalui ujung matanya. Sosok-sosok berjas lab membawa tempat tidur beroda ke ruangan itu. Tak ada pria jahat yang biasa meneror hari-harinya.
Untuk apa?
Azuna terlalu sibuk memikirkan hal-hal kecil itu sementara seseorang datang dengan kunci dan melepaskan ikatan rantai di kakinya. Azuna melirik. Ia merasa tak berdaya bahkan untuk mengangkat tangan saja. Ia hanya mampu merasakan orang itu tiba-tiba menggendongnya dan menaruhnya di tempat tidur, lalu ikatan-ikatan rantai lain dipasangkan di anggota gerak tubuhnya.
Kenapa tangannya juga dirantai?
#1
“...Tapi ada satu waktu, satu-satunya hal yang bisa ia pastikan dengan baik, seperti semua anak di sel itu. Semua tahu kapan segerombolan orang dewasa berjas laboratorium akan memasuki ruangan dan menarik satu-persatu keluar dari sel, memperdengarkan jeritan yang mengikis asa.
Hari ini adalah saatnya.“
Sister Loydaire
(yuhuuu. Sister Loydaire yang ada di sini juga dimention di Gone Astray. And, yeeep, inilah asal mula dari pub yang cuma sekedar numpang eksis nama itu.)
Caellan, 22
Kalau kau mengerti apa itu Sister Loydaire, maka kau bukanlah orang sembarangan. Dan kalau kau bertanya siapakah Sister Loydaire itu, maka bisa kuasumsikan—seratus persen—bahwa kau hanyalah orang yang kebetulan mendengar nama itu, entah darimana, dan sebaiknya kau tidak mengingat dari siapa kau mengetahui nama itu.
Sister Loydaire bukanlah nama seseorang.
Maksudku, ya, itu pernah menjadi nama seseorang. Sesosok wanita, tepatnya, dengan rambut ikalnya yang senantiasa dikuncir samping. Selama pertemuanku dengannya yang hanya berlangsung tiga kali, tidak pernah sekali pun ia menyapaku tanpa asap menyembul dari mulutnya. Ia perokok berat. Dan tentu saja, satu-satunya alasan masuk akal mengapa ia meninggalkan pubnya yang kecil itu kepadaku tak lain karena kanker paru-paru. Tragis. Tapi tetap saja ia tak mau berhenti merokok. Sifatnya yang keras kepala itu terkadang mengusikku, terutama karena keinginan untuk mempertahankan rokok-rokoknya, tapi di sisi lain, aku terkesima dengan kegigihannya memberikan pub itu kepadaku.
“Pub ini kecil dan jorok,” katanya menjelang kematiannya, masih dengan asap mengepul di sisinya. Omong-omong waktu itu adalah rokok terakhir yang dihisapnya. “Dan jujur saja aku tidak untung banyak dengan ini. Seperti yang kausinggung tadi, sejak kedatangan pertamamu kemari hingga sekarang, pengunjungnya hanya itu-itu saja. Memang! Mereka lebih suka ke Madam Goyn di seberang sana. Bersih. Tapi apa daya aku tidak punya uang untuk membersihkannya. Hutangku saja masih menumpuk kepada bosmu.”
Aku baru saja akan mengatakan sesuatu, tapi ia sudah menghentikanku dengan rokoknya yang diacungkan. “Aku tahu,” ujarnya keras. “Kau mau menyuruhku untuk berhenti membeli rokok dan mulai memikirkan sapu atau kain pel, tapi tidak. Kalau kau memang peduli, bantu aku bersihkan pub ini. Setidaknya sebelum aku ke rumah sakit.”
Dan itulah mengapa, aku tidak punya alasan untuk pulang lebih cepat. Ketika pintu pub akhirnya dikunci tepat pukul empat pagi, aku masih duduk di salah satu bangkunya, kali ini dengan sapu yang sudah kudapatkan dari toko terdekat. Nona Loydaire membiarkanku membersihkan semauku, dan ia hanya mengizinkan dirinya mencuci gelas-gelas bir yang berserakan. Tidak lebih.
“Aku tidak akan mengupahmu dengan uang,” katanya sebelum menghilang ke kamarnya. “Kau bisa ambil pub ini kalau-kalau aku tidak akan kembali lagi.”
Aku mengangkat alis. Sapu yang kupegang sampai terjatuh. Aku tidak heran dengan prediksinya akan kematiannya, karena itu sudah jelas, sehingga aku lebih heran dengan kenyataan bahwa ia sepertinya berniat membayar niat bersih-bersihku dengan memberikan pub ini.
“Nona?”
“Ambil saja pub ini,” ulangnya. “Aku tidak punya siapapun untuk kuwarisi. Mau kau jual atau permak, terserah. Aku tak peduli. Pokoknya kau ambil pub ini.”
Aku tidak punya kesempatan untuk berdebat karena ia cepat berlalu ke lantai atas. Aku sedikit menyesal dengan tindakanku waktu itu, sebab, itulah obrolan terakhir kami sebelum aku menyadari ia sudah meninggal di kamarnya beberapa jam kemudian.
Singkat cerita, begitulah awal mula pub Sister Loydaire akhirnya jatuh ke tanganku yang masih berusia 22.
Aku
Sepuluh tahun kemudian, Sister Loydaire bukanlah lagi pub yang kecil dan jorok. Memang, selalu akan ada sudut-sudut yang kecil dan jorok di setiap kesempatan, tapi Sister Loydaire bukanlah tempat yang sama seperti dulu lagi. Pub itu bahkan menjadi salah satu tempat termasyhur di negeri, terutama bagi mereka pecinta alkohol seharga satu kepala manusia, yang tidak bisa dikunjungi sembarangan. Pub itu resmi milik Caellan Collins, seorang pria beralias pemain monopoli dunia bawah tanah. Hanya orang-orang tertentu—seperti bocah-bocahnya—yang bisa berkeliaran bebas di Sister Loydaire. Tak tanggung-tanggung, bahkan bos mafianya sendiri sering mengadakan pertemuan dengan tamu-tamu khususnya di sana.
Siapa yang tidak mencintai Sister Loydaire, tempat temaram dengan musik dan alkohol terbaik di negeri?
“Kalau Loydaire hidup sampai sekarang, mungkin ia akan mengutukku,” gumam Caellan pada suatu hari, ketika seorang pelayan menyuguhkan sebotol tequila pesanannya.
Aku, seorang gadis yang bahkan tak paham apa-apa, yang entah bagaimana bisa duduk di sampingnya, hanya bisa menatapnya penasaran. Caellan sedang menuangkan minumannya ke gelas ketika aku bertanya, “kenapa begitu?”
“Karena pubnya menjadi seperti ini.”
Aku mengawasi calon kakak iparku meneguk tequila pertamanya dalam diam. Ia baru saja bercerita panjang lebar bagaimana ia bisa mendapatkan pub ini, satu-satunya tempat yang dilarang keras oleh Ray untuk kukunjungi. Sayangnya, Caellan tidak berpikir demikian. Kalau kau akan menjadi adik iparku, katanya suatu waktu, kau harus tahu bisnis keluarga calon suamimu. Oke?
Aku tahu kalau calon kakak iparku adalah seorang mafia, tapi aku tidak menyangka kalau ia akan menjalankan bisnis sebuah pub semacam ini. Maksudku, Sister Loydaire berulang kali masuk koran dan...
“Firasatku tidak enak,” gumamku malu-malu.
“Firasatku mengatakan tunanganmu ada di sini.”
“Dari semua waktu, kenapa sekarang?” aku terkesiap. “Tunggu, kau tidak sengaja membawaku kemari saat ada Ray, bukan?”
“Kebetulan itu selalu menyenangkan, Sayang. Mendebarkan.”
Aku terpekur di bangku sementara Caellan menikmati tequilanya seteguk demi seteguk. Kupandang sekilas lautan manusia di bawah kami. Di lantai dasar itu, sebagian orang berdansa, sebagian memilih untuk memojok di bangku-bangku mereka, menekuni kartu atau putaran dadu yang tak kunjung berakhir. Sister Loydaire yang tumbuh dari pub sekecil gubuk menjadi sebesar gudang pelabuhan, memberlakukan wilayah eksklusif yang tak bisa sembarang terjamah. Kau bebas berkeliaran di lantai dasar, tapi kau tak bisa begitu saja menginjakkan kaki ke anak tangga. Lantai dua hanya untuk mereka yang membayar lebih, dan tidak semua tahu lantai tiga ada.
“Kalau ia memang ada di sini,” kata Caellan, “maka tunggulah. Ia pasti akan tahu kau ada di sini. Kalau sudah begitu, aku akan pergi.”
“Kau tidak bisa kabur begitu saja.” Aku mendengus. “Kau yang tiba-tiba menyeretku kemari, padahal Ray jelas-jelas masih melarangku untuk membicarakan Sister Loydaire.”
“Ia tidak bisa bersikap begitu!” Caellan berkata. “Oke, mungkin saja ia takut sesuatu terjadi ketika kau berada di sini, tapi sesuatu selalu terjadi setiap harinya di sini dan itu biasa! Kau harus tahu. Kau harus terbiasa. Suatu saat kau akan membutuhkan tempat ini, sungguh, dan aku akan menunjukkannya. Tapi tidak sekarang. Kau hanya perlu mengenal Sister Loydaire dari sudut pandangmu dulu.”
“Aku tidak paham.”
“Nanti saja. Selalu ada waktu untuk memahami sesuatu.”
Aku terdiam, membiarkan Caellan meneguk habis tequilanya. Ia belum mabuk. Tidak kalau hanya satu botol tequila, katanya, dan menurutku itu gila.
“Jelaskan aku sesuatu,” ucapku, “seperti mengapa Ray begitu melarangku untuk berada di sini.”
“Ah.”
“Ah?”
“Berbicara tentang iblis,” katanya seraya mengedikkan dagu ke arah tangga. “Lihat siapa yang datang.”
Aku tidak langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Caellan. Pertama, aku terlalu kaget. Ia tidak bisa tiba-tiba begitu saja ada di sini, bukan? Tapi aku merasakan kehadiran seseorang, dan aku terpaksa menoleh. Sosok yang tidak asing lagi memang sedang menghampiri kami. Ekspresinya yang tidak senang dengan apa yang dilihatnya membuatku meringis.
Ia tidak berkata-kata selain melemparkan tatapan penuh kesal kepada abangnya. “Aku harap yang kau ucapkan waktu itu hanya bercanda.”
“Tidak,” kata Caellan. “Buktinya kekasihmu di sini.”
Aku menatap mereka bingung. “Halo? Apa maksudnya?”
“Pergilah.” Ray tak menggubrisku. Matanya tetap terpaku pada Caellan. “Tamumu sudah datang.”
“Oh!” Caellan langsung menegakkan punggungnya. “Apa kau sudah menyuruhnya menunggu di Ruang 03?”
Alih-alih menjawab, Ray hanya memutar bola mata. Tapi sepertinya itu cukup untuk Caellan. Pria itu dengan sigap beranjak dari kursinya dan mengacak rambutku. “Sampai jumpa nanti, Sayang,” dan ia pun berlalu dengan cepat menuju sisi lain lantai dua.
Selama sesaat, aku dan Ray memandang punggung itu menghilang ke sisi paling remang di lantai ini. Pemuda itu baru menatapku saat Caellan benar-benar lenyap ke balik sebuah pintu. Tatapannya yang tajam membuatku segera membuang muka.
“Jelaskan kenapa kau ada di sini.”
“Aku tadi bertanya pada kakakmu tapi ia belum menjawabnya.”
Ray menghela napas. Ia menempati bangku yang diduduki Caellan tadi dan meminta segelas tequila seperti milik Caellan. “Kau tanya apa?”
“Apa yang membuat tempat ini begitu terlarang untukku?” tanyaku. “Sementara ini terlihat tak ada bedanya dengan pub-pub besar biasa.”
“Kelihatannya begitu,” kata Ray. “Tapi apa yang terlihat seperti pada umumnya, belum tentu demikian. Kau tahu itu.”
“Jelaskan.”
Caellan, 22
Semua orang kerap bertanya kepadaku. Kenapa pub ini? Kenapa kau tak menutupnya, atau menjualnya? Apa yang membuat Sister Loydaire begitu spesial untukmu? Pertanyaan itu kerap terlontar selama sepuluh tahun aku menjalaninya, dan lebih santer dipertanyakan dalam bahasa-bahasa yang lebih kasar ketika aku pertama kalinya memutuskan untuk meneruskan bisnis mendiang Loydaire.
Dan kau akan bertanya, kenapa?
Kenapa pub yang kecil dan jorok, sementara aku memiliki cukup uang untuk membeli pub besar mana saja, termasuk Madam Goyn?
Simpel. Apakah kau tahu mengapa sebuah tempat yang terkadang terlihat begitu membosankan bisa menjadi tempat yang berkesan untuk seseorang? Ya. Itu terjadi padaku. Dan itulah alasan mengapa aku bisa mengunjungi pub Sister Loydaire sampai tiga kali semasa mudaku. Aku tidak pernah mendatangi sebuah pub lebih dari satu kali kecuali jika memang tempat itu benar-benar menarik, dan Sister Loydaire adalah salah satunya.
Kali pertama aku datang ke Sister Loydaire adalah ketika aku baru saja menginjak 22. Banyak hal yang terjadi padaku waktu itu. Amat sangat banyak. Aku mengalami goncangan terhebat setelah sekian lama, dihadapi dengan kenyataan yang pahit, dan dihajar dengan berbagai masalah tanpa henti. Masa-masa paling buruk, tapi paling juga berkesan untukku.
Pada suatu malam di awal 22-ku, aku menenggak cukup banyak tequila dan itu membuatku nyaris mabuk. Aku jarang mabuk, dan mabuk hanya akan membuatku makin memburuk. Maka aku memutuskan untuk mengujungi pub mana saja yang terlihat olehku waktu itu, dan aku menemukan Sister Loydaire yang menyempil di antara gudang-gudang pelabuhan yang besar dan kelam.
Hanya ada tiga orang pengunjung di dalam. Aku tidak peduli siapa mereka, begitu pula nona pemiliknya yang terlihat acuh. Aku hanya ingin duduk, tapi aku cukup terkesima dengan si nona yang kemudian menyuguhkan tequila yang serupa dengan apa yang kubawa waktu itu.
“Ini tequila mahal,” aku ingat persis obrolan pertamaku dengannya. “Kenapa pub kumuh ini punya?”
“Pub ini seperti peti harta karun di balik kuburan seseorang,” balas si Loydaire tanpa banyak ekspresi, dan itulah yang membuatku tertarik untuk kedua kalinya. Pub ini sesuatu, pikirku waktu itu, dan aku merasa bisa menghabiskan semalaman di sana, menginjak-injak berbagai masalah yang sedang menimpaku di dalam otak.
Tapi semuanya berakhir ketika aku menyadari siapa saja pengunjung pub itu. Aku mengenal mereka. Dua di antara tiga orang itu, aku mengenal mereka.
Untungnya, mereka bukan bagian dari masalahku, namun aku cukup terhenyak mendapati seorang politikus ternama, Bill Henye, yang terang-terangan memerangi kejahatan masa lampau di mana pun ia berada, kini duduk dengan seorang Donovan Miller. Donovan Miller! Sekretaris seorang buronan yang paling terkenal, satu-satunya aktor kejahatan masa lalu yang tidak dihukum mati. Selama sesaat, aku terpana dengan dugaan bahwa apa yang dilakukan Bill Henye di muka orang hanyalah sekedar tipuan, pengalih perhatian agar Donovan Miller bisa selamat dari terkaman kematian, tapi aku salah.
Mereka memang saling berlawanan.
Tidak sedikit pun aku melihat ada senyum di wajah mereka. Aku juga berani bersumpah Bill Henye selalu terlihat ingin memolisikan Donovan Miller kapan saja, dan si penjahat itu pun terlihat sedia menarik pistol di balik punggungnya jika ada kesempatan. Tapi mereka tak melakukan apapun, selain saling menuangkan anggur di gelas satu sama lain.
Aku berpindah dari bangkuku ke konter tempat si Loydaire setia mengepul asapnya. “Hei,” aku berbisik. “Katakan kalau aku melihat orang yang salah.”
“Tidak,” jawab si nona lugas. Lagi-lagi. “Kau memang melihat mereka.”
“Tapi kenapa?”
“Sudah terjadi sejak sebulan yang lalu.”
“Sebulan yang lalu?” aku menahan napas. Itu waktu si Donovan Miller dibebaskan dengan syarat dari penjara!
“Tapi, kenapa?” ulangku lagi. Semakin tak percaya.
“Suatu malam, tuan Miller kabur dari terkaman polisi. Ia kemari, ke pub paling jelek yang pernah ia komentari. Sepuluh menit kemudian, tuan politikus pun kemari, dengan seorang wanita simpanannya, dan mereka sempat saling pandang dengan penuh kebencian.” Si nona menarik sebatang rokok lagi. “Tuan politikus batal bersenang-senang dengan wanitanya. Ia membiarkan wanita itu pulang, kemudian mereka duduk berhadapan di meja itu. Mereka terdiam cukup lama sampai aku menawarkan bourbon. Mereka menolak, dan mereka sama-sama menyebutkan sebuah merek. Itulah kisah paling romantis yang pernah kusaksikan seumur hidupku.”
“Tapi...”
“Tidak ada tapi, bocah. Mereka memang banyak diam waktu itu, tapi mereka tidak melakukan apapun. Mereka hanya minum. Sesekali bertanya mengapa mereka bisa terperangkap di waktu yang seperti ini. Tuan politikus menyesal ia membawa wanita simpanan alih-alih pengawalnya, dan tuan Miller menyesal mengapa ia tidak membawa revolver kesayangannya. Mereka saling mengutuk, dan mereka saling menyesal dengan keberuntungan masing-masing. Tapi itulah yang membawa mereka duduk di satu meja, mempertanyakan nasib satu sama lain, hingga saat ini.”
“Bill Henye masih berkoar-koar di televisi sampai sekarang.”
“Kalau ia berhenti koar-koar, itu bahaya. Ia adalah salah satu pelopor Era Baru. Pendukung Raja. Itulah yang mempertahankannya untuk tidak bertemu dan berteman dengan si Miller di luar meja itu. Keluar dari pub, mereka takkan saling toleh. Mereka bukan kawan.”
“Pub ini aneh.”
“Sudah kubilang, ini peti harta karun di dalam kuburan seseorang.”
Aku mendengus. Kutatap si Loydaire dan menyunggingkan seringai geli. “Bisakah aku minta tequila lagi?”
“Jangan lupa untuk bayar, bocah.”
Caellan, 32
Mungkin aku tidak lagi mendengar pertanyaan mengapa aku masih mempertahankan Sister Loydaire, tapi pertanyaan semacam itu sebenarnya tak pernah pudar. Hanya berganti rupa. Mengapa kau tak memindahkannya ke tempat yang lebih layak?
Pertanyaan itu pun baru saja terlontar dari mulut seorang tamuku. Kali ini, dua orang pria. Mereka orang yang cukup unik, menurutku, dan akan selalu mengingatkanku pada pasangan paling romantis yang pernah kusaksikan dulu. Mereka duduk berhadapan, sama sekali tak segan untuk saling melemparkan pandangan penuh curiga satu sama lain, ditambah dengan penuh penghakiman kepadaku, tapi itulah yang membuatku terhibur.
“Aku terlalu memahami seluruh pelosok tempat ini,” jawabku lugas. Tequila kusesap dengan nikmat. Cairan dingin mengalir deras di kerongkongan. Sensasinya sekeras kebencian yang saling dilontarkan kedua pria itu.
“Kau bisa menjamin keamanannya, tuan Collins?”
“Jaminanku sebesar penawaran yang telah kalian setujui, tuan-tuan.” Aku tersenyum. “Nikmatilah malam ini. Pilih pion-pion permainan sesuka hatimu—tapi ingat—hanya mereka yang ada di lantai dasar.”
“Aku melihat wajah yang tidak asing.” Salah satu mengedikkan dagu ke arah dinding kaca di belakangku. Kutoleh tempat yang ia maksud, dan tentu saja, itulah tempat dimana adik tercintaku sedang duduk bersama kekasihnya.
Senyumku mengembang. Aku selalu menyukai Ruang 03. Dinding-dinding kaca istimewanya yang hanya membiarkan kami menyaksikan dari dalam, tanpa diketahui sama sekali dari luar. Bukan hal yang luar biasa, namun tetap saja, ini amat menguntungkan.
“Tentu,” ujarku. “Apa kau tidak merasa juga melihatnya di sini?” dengan sedikit usil kutunjuk wajahku sendiri, dan pria itu menyipitkan mata.
“Ia keluargamu.”
Aku mengangkat bahu. “Keluarga atau bukan, selama ia ada di lantai dasar, kau bisa menggunakannya. Tapi ia berada di lantai dua, jadi aku tidak berpikir demikian.”
Pria itu mendengus, disusul oleh seringai mencemooh dari lawannya. Aku mengawasi mereka berdua dalam kesenangan batin. Kuhabiskan tequilaku dalam sekali teguk, sebelum menuangkannya kembali ke gelas.
Malam ini adalah malam yang cukup baik. Aku tidak menyesal, dan aku sempat berpikir untuk mengunjungi makam Loydaire. Semoga ia sehat-sehat saja.
Glimpse in the morning
Anakmu nanti,anakku,anak kita,atau anak kalian,biarkan mereka bermain dan bergaul dengan siapapun,biarkan mereka merasakan berada di semua lapisan masyarakat,biarkan mereka membaca sebanyak-banyaknya,biarkan mereka belajar dari lingkungan,bukan dari pekerjaan rumah yang menumpuk dan jam-jam disekolah yang terlalu lama serta nilai akademis yang memabukkan. Mereka perlu menjadi manusia
"Kau tidak pantas terus-terusan menyalahkan dirimu." Senyum tak pernah meninggalkan bibir itu. "Kau bisa saja terus mengatakan bahwa dirimu bukanlah orang yang baik, tapi kau perlu tahu bahwa kesalahan yang tidak sengaja diperbuat satu-dua kali takkan merusak kebaikan yang hakiki, Sayang. Tidak. Dan menyalahkan dirimu terus-terusan, membuat dirimu terlihat buruk di mata orang, juga bukan hal yang baik. Kau tidak bisa membuat orang iba kepadamu, dan kau juga tidak bisa mengharap pengertian dari mereka begitu saja."
"Aku tidak mengharap iba," suara gadis itu tercekat. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak pantas dipuji."
"Kalau kau berpikir begitu, baguslah," ucap pemuda itu. Ia mengangkat bahu. "Maafkan sikapku yang kurang ajar ini, Manis. Aku tumbuh di lingkungan yang amat sangat berbeda denganmu dan seharusnya aku sadar bahwa aku sedang mengobrol denganmu... bukan dengan yang lain."
"Apa kehidupanmu seburuk itu?"
"Apa kau akan menangisi kehidupanku? Karena kau terlihat seperti itu."
Azuna terdiam. Jemarinya saling mengait. "Aku tidak mengerti mengapa orang sepertimu harus memiliki kehidupan yang seperti itu."
"Aku menjadi orang yang seperti ini karena aku memiliki kehidupan yang seperti itu, Azuna." Caellan merasa ia tak pernah tersenyum lebih tulus daripada yang ini. Sebenarnya, ia tersentuh. Sejak pertama kali Caellan mengobrol panjang lebar dengan Azuna, hatinya sudah tersentuh. Inilah mengapa Caellan selalu menyukai obrolannya dengan Azuna. Gadis itu akan selalu membawanya kembali menjejak ke tanah, bukan dengan hantaman yang keras seperti yang dilakukan oleh Rayzan, tapi dengan sentuhan yang lembut dan penuh perasaan. Gadis itu menyayanginya, Caellan tahu itu, dan ia juga menyayanginya. Jika boleh, Caellan yakin seratus persen kasih sayangnya kepada Azuna bisa disandingkan dengan milik Rayzan.
"Normalnya...," Azuna kembali bersuara, "normalnya aku akan memintamu menghentikan semua hal yang bisa membahayakanmu itu, tapi karena kau adalah orang yang luar biasa, aku takkan bersikap normal padamu.
“Kau juga bilang bahwa kehidupanmu yang seperti itu telah menjadikanmu seperti ini. Dan kau yang seperti inilah yang kukenal, Caellan, maka lanjutkan saja kehidupanmu itu dan tetaplah menjadi Caellan yang seperti biasanya."
"Itu adalah permintaan yang paling bijaksana dari seorang gadis seumuranmu," Caellan berkata. "Maaf karena telah mengatakan hal ini, tapi masa lalumu telah membuatmu berpikir lebih luas daripada gadis-gadis seumuranmu, dan kau tidak egois dalam hal itu. Seburuk apapun masa lalumu, selalu ada alasan untuk memaafkannya."
"Mm, aku tahu," kata Azuna, "dan setiap detik kehidupan manusia sudah tertulis dalam Ketetapan Tuhan. Aku yakin semua tidak terjadi tanpa makna dibaliknya, jadi aku senang kau bisa memperjelasnya untukku."
Caellan tak merespon selain tersenyum. Menyinggung kata Tuhan dan apapun yang berkaitan dengan-Nya tidak membuat Caellan terkesima. Ia bukan penganut agama yang baik. Kalau ia memang berlaku seperti itu, ia takkan pernah menjadi orang yang seperti ini.
g ada yg paham aing nulis apa n i love it.
"Kau ini sebenarnya apa?" ia bertanya. "Kau mengubah sikap semaumu kepada siapapun, dan orang-orang masih memercayaimu."
"Mungkin... yah, kamu bisa menyebutku parasit." Cara Caellan mengumumkan jawaban seolah-olah ia telah menanti seumur hidup untuk mengucapkan kalimat itu. "Dan jika kau mendengar kata parasit, ada baiknya kau tidak segera berpikir bahwa aku tak memiliki jati diri. Aku memang menyesuaikan diri dengan inang-inangku, sebagaimana parasit, tapi itulah jati diriku. Bahkan tubuh ini, ini bukan aku! Tubuh ini sebenarnya milik seorang bocah, bernama Caellan Collins, yang aslinya adalah anak pendiam."
Caellan senang melihat perubahan ekspresi wajah Rayzan yang muram. Ia melanjutkan, "dan coba tebak apa, ya! Bahkan nama itu kini kugunakan, karena Caellan Collins yang dulu bakal mati. Tapi aku datang disaat yang tepat untuk menolongnya. Kalau tidak begitu, ia akan mati dalam kesengsaraan, terjerat dengan masa lalunya yang terlampau memilukan untuk seorang bocah yang belum akil baligh. Karena itulah aku datang, dan ia bersedia menyerahkan seluruh jiwa, raga, dan masa depannya kepadaku sebagai gantinya.
"Lantas, Caellan Collins yang ini tidak akan berhenti sampai disitu saja. Dia adalah parasit, kuingatkan sekali lagi, dan dia akan terus berpindah inang, menyerap kebaikan mereka, tanpa pernah sejengkal pun meninggalkan induk inangnya." Caellan menunjuk dadanya sebagai penutup.
Rayzan menyipitkan mata. "Aku ingin sekali memujimu dengan mengatakan bahwa aku bahkan tidak tahu mau berkomentar apa."
"Merasa menyesal karena kakakmu telah direnggut oleh parasit sepertiku?" Caellan tersenyum. "Sah-sah saja kalau kau tidak pernah mau mengakuiku sebagai kakak, Rayzan, karena kakakmu yang aslinya pendiam dan menderita itu memang sudah tidak ada. Aku pun tidak mau repot-repot mencari pengakuan sebagai seorang kakak darimu, karena Ray yang kutahu tidak bernama Rayzan, dan ia seharusnya tumbuh menjadi bocah manis yang memiliki kasih sayang sebesar rasa kasih sayang kakaknya kepada sang adik. Tapi, kita tahu, kedua kakak beradik Collins yang itu sudah mati. Yang ada hanyalah kita, Caellan yang baru dan Ray -atau Rayzan- yang baru. Sekarang pertanyaannya cuma satu, apa kita masih sudi menganggap diri kita sebagai kakak beradik Collins?"
“Orang-orang bilang kau berubah. Mereka terus mengatakannya kepadaku dan kadang aku tidak tahu harus bereaksi apa, karena aku bertemu denganmu setelah... er, setelah kau berubah. Jadi aku tidak paham dengan perubahan macam apa yang terjadi padamu.”
“Sembilan tahun yang lalu,” kata pria itu, senyum tersungging di bibirnya seusai menyesap coklat panas, “seorang pria angkuh menodong pistolnya kepadaku dan meluapkan kebencian yang sudah lama ia pendam kepadaku.”
Aku mengernyit. Apakah ia membicarakan kakaknya?
“Lalu?” desakku, gusar dengan sikapnya yang suka memberikan jeda panjang pada penjelasannya.
“Seandainya aku masih menutup pendengaranku waktu itu, mungkin ia sudah tidak hidup lagi. Tapi untungnya itu semua terjadi di waktu yang tepat. Ia frontal ketika aku berada di puncak keragu-raguanku. Dia memang pendorong yang amat baik. Pendorong yang menjatuhkan penerjun payung, maksudku, karena kata-katanya yang menghempasku kembali ke bumi. bum.”
Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna ucapannya. Meskipun lelaki ini sudah membuka dunianya kepadaku, jujur saja aku tahu persis ia masih gengsi untuk menceritakan kebodohannya secara gamblang. Kenapa ia tidak bisa sepertiku di sisi yang ini? Memangnya aku sedang mengencani seorang peramal yang kata-katanya harus dicerna dengan pikiran seterbuka mungkin?
“Apa yang berubah darimu?” tanyaku akhirnya.
Selama sepersekian detik ia menatapku. Ada sinar geli yang menari di kedua mata hijau cerahnya. Ia tahu aku tidak sabar.
“Sikapku,” suaranya pelan. “Aku menyalahkan siapapun, terutama dirinya, karena telah membuat diriku menjadi seperti ini. Aku sendiri tidak ingin mengakui kalau aku juga membiarkan hal-hal buruk terjadi padaku dan menyerapnya. Aku dulu... pengecut, kau tahu? Aku memanfaatkan sekelilingku untuk menjadi kambing hitamku.”
“Kenapa kau melakukan itu?”
Ray Collins tidak langsung menjawab. Tangannya meraih cangkir yang asapnya sudah tidak mengepul lagi, namun aku menahannya. Ia menatapku dengan mata membeliak. “Jangan,” kataku. “Cerita dulu. Aku nggak mau kata-katamu berubah.”
Ray mendesah.
“Aku tidak punya siapa-siapa,” bisiknya. “Aku dulu tidak punya siapa-siapa. Meski ada Azuna, ia bukanlah keluargaku yang sebenarnya. Ia cuma gadis yang menjadi temanku satu-satunya, dan aku iri dengannya yang masih punya keluarga yang perhatian. Aku melampiaskan itu dengan menyalahkan Caellan... yah, sedikit berharap semoga dia mau minta maaf dan mencoba peduli padaku... atau begitu, entahlah, apapun yang bisa membuatku merasa memiliki keluarga, tapi Caellan bukan orang seperti itu. Perhatian yang kuharapkan dan yang kubutuhkan itu berbeda. Dia memberikan apa yang kubutuhkan, bukan apa yang kuharapkan.”
Aku menatapnya dalam diam. Sedikit syok, karena meski terlihat amat enggan karena tak sekali pun menatapku, Ray akhirnya mau cerita. Namun kini matanya terarah kepadaku dan jemarinya menyentuh tanganku.
“Boleh minum, tidak?”
Senyum tipis terpatri di bibirku. Kusodorkan cangkirnya dengan lembut. “Minumlah. Aku sudah puas.”
Ia mencibirku, tapi aku tahu ia sedikit tersenyum saat sedang meneguk habis coklatnya.
Aku tahu ia lega.
“Kau tahu orang macam apa yang paling buruk di mataku? Orang yang berlagak korban. Orang yang menyalahkan kejadian yang menimpanya sebagai penyebab dirinya berubah. Orang yang tidak ingin -atau lebih buruk, tidak akan- menoleh untuk menilik apa yang telah ia lakukan pada dirinya sendiri. Orang yang tidak mau berkaca sementara dirinyalah yang mengizinkan hal-hal seperti itu terjadi sehingga dirinya berubah. Orang yang -singkat saja- tidak mau mengakui bahwa perubahan dirinya itu terjadi atas izin dirinya sendiri. Singkat kata, orang yang suka menyalahkan. Dan itu kamu.”
Dahi pemuda itu berkerut. Cara pria di hadapannya mengulang-ulang kata yang sama membuatnya muak. Bahkan mulut pistol yang teracung di dahi pemuda itu terasa selembek angin yang menerbangkan ujung-ujung rambutnya.
Seburuk itukah dirinya? Apakah ia boleh mengakui bahwa hatinya benar-benar sakit mendengar kata-kata itu meluncur barusan? Kepalanya pening, seolah dinding setebal dua meter di dalam dirinya telah dihancurkan begitu saja oleh ayunan bola beton raksasa. Kritikan. Ia tidak suka kritikan. Terlebih-lebih, dari seorang pria yang menganggap dirinya bisa mengatakan apapun karena ia seorang kakak.
Tangannya mengepal.
Dianggap paling buruk oleh orang terburuk di negeri ini membuatnya terdengar sangat buruk.