(yuhuuu. Sister Loydaire yang ada di sini juga dimention di Gone Astray. And, yeeep, inilah asal mula dari pub yang cuma sekedar numpang eksis nama itu.)
Kalau kau mengerti apa itu Sister Loydaire, maka kau bukanlah orang sembarangan. Dan kalau kau bertanya siapakah Sister Loydaire itu, maka bisa kuasumsikan—seratus persen—bahwa kau hanyalah orang yang kebetulan mendengar nama itu, entah darimana, dan sebaiknya kau tidak mengingat dari siapa kau mengetahui nama itu.
Sister Loydaire bukanlah nama seseorang.
Maksudku, ya, itu pernah menjadi nama seseorang. Sesosok wanita, tepatnya, dengan rambut ikalnya yang senantiasa dikuncir samping. Selama pertemuanku dengannya yang hanya berlangsung tiga kali, tidak pernah sekali pun ia menyapaku tanpa asap menyembul dari mulutnya. Ia perokok berat. Dan tentu saja, satu-satunya alasan masuk akal mengapa ia meninggalkan pubnya yang kecil itu kepadaku tak lain karena kanker paru-paru. Tragis. Tapi tetap saja ia tak mau berhenti merokok. Sifatnya yang keras kepala itu terkadang mengusikku, terutama karena keinginan untuk mempertahankan rokok-rokoknya, tapi di sisi lain, aku terkesima dengan kegigihannya memberikan pub itu kepadaku.
“Pub ini kecil dan jorok,” katanya menjelang kematiannya, masih dengan asap mengepul di sisinya. Omong-omong waktu itu adalah rokok terakhir yang dihisapnya. “Dan jujur saja aku tidak untung banyak dengan ini. Seperti yang kausinggung tadi, sejak kedatangan pertamamu kemari hingga sekarang, pengunjungnya hanya itu-itu saja. Memang! Mereka lebih suka ke Madam Goyn di seberang sana. Bersih. Tapi apa daya aku tidak punya uang untuk membersihkannya. Hutangku saja masih menumpuk kepada bosmu.”
Aku baru saja akan mengatakan sesuatu, tapi ia sudah menghentikanku dengan rokoknya yang diacungkan. “Aku tahu,” ujarnya keras. “Kau mau menyuruhku untuk berhenti membeli rokok dan mulai memikirkan sapu atau kain pel, tapi tidak. Kalau kau memang peduli, bantu aku bersihkan pub ini. Setidaknya sebelum aku ke rumah sakit.”
Dan itulah mengapa, aku tidak punya alasan untuk pulang lebih cepat. Ketika pintu pub akhirnya dikunci tepat pukul empat pagi, aku masih duduk di salah satu bangkunya, kali ini dengan sapu yang sudah kudapatkan dari toko terdekat. Nona Loydaire membiarkanku membersihkan semauku, dan ia hanya mengizinkan dirinya mencuci gelas-gelas bir yang berserakan. Tidak lebih.
“Aku tidak akan mengupahmu dengan uang,” katanya sebelum menghilang ke kamarnya. “Kau bisa ambil pub ini kalau-kalau aku tidak akan kembali lagi.”
Aku mengangkat alis. Sapu yang kupegang sampai terjatuh. Aku tidak heran dengan prediksinya akan kematiannya, karena itu sudah jelas, sehingga aku lebih heran dengan kenyataan bahwa ia sepertinya berniat membayar niat bersih-bersihku dengan memberikan pub ini.
“Ambil saja pub ini,” ulangnya. “Aku tidak punya siapapun untuk kuwarisi. Mau kau jual atau permak, terserah. Aku tak peduli. Pokoknya kau ambil pub ini.”
Aku tidak punya kesempatan untuk berdebat karena ia cepat berlalu ke lantai atas. Aku sedikit menyesal dengan tindakanku waktu itu, sebab, itulah obrolan terakhir kami sebelum aku menyadari ia sudah meninggal di kamarnya beberapa jam kemudian.
Singkat cerita, begitulah awal mula pub Sister Loydaire akhirnya jatuh ke tanganku yang masih berusia 22.
Sepuluh tahun kemudian, Sister Loydaire bukanlah lagi pub yang kecil dan jorok. Memang, selalu akan ada sudut-sudut yang kecil dan jorok di setiap kesempatan, tapi Sister Loydaire bukanlah tempat yang sama seperti dulu lagi. Pub itu bahkan menjadi salah satu tempat termasyhur di negeri, terutama bagi mereka pecinta alkohol seharga satu kepala manusia, yang tidak bisa dikunjungi sembarangan. Pub itu resmi milik Caellan Collins, seorang pria beralias pemain monopoli dunia bawah tanah. Hanya orang-orang tertentu—seperti bocah-bocahnya—yang bisa berkeliaran bebas di Sister Loydaire. Tak tanggung-tanggung, bahkan bos mafianya sendiri sering mengadakan pertemuan dengan tamu-tamu khususnya di sana.
Siapa yang tidak mencintai Sister Loydaire, tempat temaram dengan musik dan alkohol terbaik di negeri?
“Kalau Loydaire hidup sampai sekarang, mungkin ia akan mengutukku,” gumam Caellan pada suatu hari, ketika seorang pelayan menyuguhkan sebotol tequila pesanannya.
Aku, seorang gadis yang bahkan tak paham apa-apa, yang entah bagaimana bisa duduk di sampingnya, hanya bisa menatapnya penasaran. Caellan sedang menuangkan minumannya ke gelas ketika aku bertanya, “kenapa begitu?”
“Karena pubnya menjadi seperti ini.”
Aku mengawasi calon kakak iparku meneguk tequila pertamanya dalam diam. Ia baru saja bercerita panjang lebar bagaimana ia bisa mendapatkan pub ini, satu-satunya tempat yang dilarang keras oleh Ray untuk kukunjungi. Sayangnya, Caellan tidak berpikir demikian. Kalau kau akan menjadi adik iparku, katanya suatu waktu, kau harus tahu bisnis keluarga calon suamimu. Oke?
Aku tahu kalau calon kakak iparku adalah seorang mafia, tapi aku tidak menyangka kalau ia akan menjalankan bisnis sebuah pub semacam ini. Maksudku, Sister Loydaire berulang kali masuk koran dan...
“Firasatku tidak enak,” gumamku malu-malu.
“Firasatku mengatakan tunanganmu ada di sini.”
“Dari semua waktu, kenapa sekarang?” aku terkesiap. “Tunggu, kau tidak sengaja membawaku kemari saat ada Ray, bukan?”
“Kebetulan itu selalu menyenangkan, Sayang. Mendebarkan.”
Aku terpekur di bangku sementara Caellan menikmati tequilanya seteguk demi seteguk. Kupandang sekilas lautan manusia di bawah kami. Di lantai dasar itu, sebagian orang berdansa, sebagian memilih untuk memojok di bangku-bangku mereka, menekuni kartu atau putaran dadu yang tak kunjung berakhir. Sister Loydaire yang tumbuh dari pub sekecil gubuk menjadi sebesar gudang pelabuhan, memberlakukan wilayah eksklusif yang tak bisa sembarang terjamah. Kau bebas berkeliaran di lantai dasar, tapi kau tak bisa begitu saja menginjakkan kaki ke anak tangga. Lantai dua hanya untuk mereka yang membayar lebih, dan tidak semua tahu lantai tiga ada.
“Kalau ia memang ada di sini,” kata Caellan, “maka tunggulah. Ia pasti akan tahu kau ada di sini. Kalau sudah begitu, aku akan pergi.”
“Kau tidak bisa kabur begitu saja.” Aku mendengus. “Kau yang tiba-tiba menyeretku kemari, padahal Ray jelas-jelas masih melarangku untuk membicarakan Sister Loydaire.”
“Ia tidak bisa bersikap begitu!” Caellan berkata. “Oke, mungkin saja ia takut sesuatu terjadi ketika kau berada di sini, tapi sesuatu selalu terjadi setiap harinya di sini dan itu biasa! Kau harus tahu. Kau harus terbiasa. Suatu saat kau akan membutuhkan tempat ini, sungguh, dan aku akan menunjukkannya. Tapi tidak sekarang. Kau hanya perlu mengenal Sister Loydaire dari sudut pandangmu dulu.”
“Nanti saja. Selalu ada waktu untuk memahami sesuatu.”
Aku terdiam, membiarkan Caellan meneguk habis tequilanya. Ia belum mabuk. Tidak kalau hanya satu botol tequila, katanya, dan menurutku itu gila.
“Jelaskan aku sesuatu,” ucapku, “seperti mengapa Ray begitu melarangku untuk berada di sini.”
“Berbicara tentang iblis,” katanya seraya mengedikkan dagu ke arah tangga. “Lihat siapa yang datang.”
Aku tidak langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Caellan. Pertama, aku terlalu kaget. Ia tidak bisa tiba-tiba begitu saja ada di sini, bukan? Tapi aku merasakan kehadiran seseorang, dan aku terpaksa menoleh. Sosok yang tidak asing lagi memang sedang menghampiri kami. Ekspresinya yang tidak senang dengan apa yang dilihatnya membuatku meringis.
Ia tidak berkata-kata selain melemparkan tatapan penuh kesal kepada abangnya. “Aku harap yang kau ucapkan waktu itu hanya bercanda.”
“Tidak,” kata Caellan. “Buktinya kekasihmu di sini.”
Aku menatap mereka bingung. “Halo? Apa maksudnya?”
“Pergilah.” Ray tak menggubrisku. Matanya tetap terpaku pada Caellan. “Tamumu sudah datang.”
“Oh!” Caellan langsung menegakkan punggungnya. “Apa kau sudah menyuruhnya menunggu di Ruang 03?”
Alih-alih menjawab, Ray hanya memutar bola mata. Tapi sepertinya itu cukup untuk Caellan. Pria itu dengan sigap beranjak dari kursinya dan mengacak rambutku. “Sampai jumpa nanti, Sayang,” dan ia pun berlalu dengan cepat menuju sisi lain lantai dua.
Selama sesaat, aku dan Ray memandang punggung itu menghilang ke sisi paling remang di lantai ini. Pemuda itu baru menatapku saat Caellan benar-benar lenyap ke balik sebuah pintu. Tatapannya yang tajam membuatku segera membuang muka.
“Jelaskan kenapa kau ada di sini.”
“Aku tadi bertanya pada kakakmu tapi ia belum menjawabnya.”
Ray menghela napas. Ia menempati bangku yang diduduki Caellan tadi dan meminta segelas tequila seperti milik Caellan. “Kau tanya apa?”
“Apa yang membuat tempat ini begitu terlarang untukku?” tanyaku. “Sementara ini terlihat tak ada bedanya dengan pub-pub besar biasa.”
“Kelihatannya begitu,” kata Ray. “Tapi apa yang terlihat seperti pada umumnya, belum tentu demikian. Kau tahu itu.”
Semua orang kerap bertanya kepadaku. Kenapa pub ini? Kenapa kau tak menutupnya, atau menjualnya? Apa yang membuat Sister Loydaire begitu spesial untukmu? Pertanyaan itu kerap terlontar selama sepuluh tahun aku menjalaninya, dan lebih santer dipertanyakan dalam bahasa-bahasa yang lebih kasar ketika aku pertama kalinya memutuskan untuk meneruskan bisnis mendiang Loydaire.
Dan kau akan bertanya, kenapa?
Kenapa pub yang kecil dan jorok, sementara aku memiliki cukup uang untuk membeli pub besar mana saja, termasuk Madam Goyn?
Simpel. Apakah kau tahu mengapa sebuah tempat yang terkadang terlihat begitu membosankan bisa menjadi tempat yang berkesan untuk seseorang? Ya. Itu terjadi padaku. Dan itulah alasan mengapa aku bisa mengunjungi pub Sister Loydaire sampai tiga kali semasa mudaku. Aku tidak pernah mendatangi sebuah pub lebih dari satu kali kecuali jika memang tempat itu benar-benar menarik, dan Sister Loydaire adalah salah satunya.
Kali pertama aku datang ke Sister Loydaire adalah ketika aku baru saja menginjak 22. Banyak hal yang terjadi padaku waktu itu. Amat sangat banyak. Aku mengalami goncangan terhebat setelah sekian lama, dihadapi dengan kenyataan yang pahit, dan dihajar dengan berbagai masalah tanpa henti. Masa-masa paling buruk, tapi paling juga berkesan untukku.
Pada suatu malam di awal 22-ku, aku menenggak cukup banyak tequila dan itu membuatku nyaris mabuk. Aku jarang mabuk, dan mabuk hanya akan membuatku makin memburuk. Maka aku memutuskan untuk mengujungi pub mana saja yang terlihat olehku waktu itu, dan aku menemukan Sister Loydaire yang menyempil di antara gudang-gudang pelabuhan yang besar dan kelam.
Hanya ada tiga orang pengunjung di dalam. Aku tidak peduli siapa mereka, begitu pula nona pemiliknya yang terlihat acuh. Aku hanya ingin duduk, tapi aku cukup terkesima dengan si nona yang kemudian menyuguhkan tequila yang serupa dengan apa yang kubawa waktu itu.
“Ini tequila mahal,” aku ingat persis obrolan pertamaku dengannya. “Kenapa pub kumuh ini punya?”
“Pub ini seperti peti harta karun di balik kuburan seseorang,” balas si Loydaire tanpa banyak ekspresi, dan itulah yang membuatku tertarik untuk kedua kalinya. Pub ini sesuatu, pikirku waktu itu, dan aku merasa bisa menghabiskan semalaman di sana, menginjak-injak berbagai masalah yang sedang menimpaku di dalam otak.
Tapi semuanya berakhir ketika aku menyadari siapa saja pengunjung pub itu. Aku mengenal mereka. Dua di antara tiga orang itu, aku mengenal mereka.
Untungnya, mereka bukan bagian dari masalahku, namun aku cukup terhenyak mendapati seorang politikus ternama, Bill Henye, yang terang-terangan memerangi kejahatan masa lampau di mana pun ia berada, kini duduk dengan seorang Donovan Miller. Donovan Miller! Sekretaris seorang buronan yang paling terkenal, satu-satunya aktor kejahatan masa lalu yang tidak dihukum mati. Selama sesaat, aku terpana dengan dugaan bahwa apa yang dilakukan Bill Henye di muka orang hanyalah sekedar tipuan, pengalih perhatian agar Donovan Miller bisa selamat dari terkaman kematian, tapi aku salah.
Mereka memang saling berlawanan.
Tidak sedikit pun aku melihat ada senyum di wajah mereka. Aku juga berani bersumpah Bill Henye selalu terlihat ingin memolisikan Donovan Miller kapan saja, dan si penjahat itu pun terlihat sedia menarik pistol di balik punggungnya jika ada kesempatan. Tapi mereka tak melakukan apapun, selain saling menuangkan anggur di gelas satu sama lain.
Aku berpindah dari bangkuku ke konter tempat si Loydaire setia mengepul asapnya. “Hei,” aku berbisik. “Katakan kalau aku melihat orang yang salah.”
“Tidak,” jawab si nona lugas. Lagi-lagi. “Kau memang melihat mereka.”
“Sudah terjadi sejak sebulan yang lalu.”
“Sebulan yang lalu?” aku menahan napas. Itu waktu si Donovan Miller dibebaskan dengan syarat dari penjara!
“Tapi, kenapa?” ulangku lagi. Semakin tak percaya.
“Suatu malam, tuan Miller kabur dari terkaman polisi. Ia kemari, ke pub paling jelek yang pernah ia komentari. Sepuluh menit kemudian, tuan politikus pun kemari, dengan seorang wanita simpanannya, dan mereka sempat saling pandang dengan penuh kebencian.” Si nona menarik sebatang rokok lagi. “Tuan politikus batal bersenang-senang dengan wanitanya. Ia membiarkan wanita itu pulang, kemudian mereka duduk berhadapan di meja itu. Mereka terdiam cukup lama sampai aku menawarkan bourbon. Mereka menolak, dan mereka sama-sama menyebutkan sebuah merek. Itulah kisah paling romantis yang pernah kusaksikan seumur hidupku.”
“Tidak ada tapi, bocah. Mereka memang banyak diam waktu itu, tapi mereka tidak melakukan apapun. Mereka hanya minum. Sesekali bertanya mengapa mereka bisa terperangkap di waktu yang seperti ini. Tuan politikus menyesal ia membawa wanita simpanan alih-alih pengawalnya, dan tuan Miller menyesal mengapa ia tidak membawa revolver kesayangannya. Mereka saling mengutuk, dan mereka saling menyesal dengan keberuntungan masing-masing. Tapi itulah yang membawa mereka duduk di satu meja, mempertanyakan nasib satu sama lain, hingga saat ini.”
“Bill Henye masih berkoar-koar di televisi sampai sekarang.”
“Kalau ia berhenti koar-koar, itu bahaya. Ia adalah salah satu pelopor Era Baru. Pendukung Raja. Itulah yang mempertahankannya untuk tidak bertemu dan berteman dengan si Miller di luar meja itu. Keluar dari pub, mereka takkan saling toleh. Mereka bukan kawan.”
“Sudah kubilang, ini peti harta karun di dalam kuburan seseorang.”
Aku mendengus. Kutatap si Loydaire dan menyunggingkan seringai geli. “Bisakah aku minta tequila lagi?”
“Jangan lupa untuk bayar, bocah.”
Mungkin aku tidak lagi mendengar pertanyaan mengapa aku masih mempertahankan Sister Loydaire, tapi pertanyaan semacam itu sebenarnya tak pernah pudar. Hanya berganti rupa. Mengapa kau tak memindahkannya ke tempat yang lebih layak?
Pertanyaan itu pun baru saja terlontar dari mulut seorang tamuku. Kali ini, dua orang pria. Mereka orang yang cukup unik, menurutku, dan akan selalu mengingatkanku pada pasangan paling romantis yang pernah kusaksikan dulu. Mereka duduk berhadapan, sama sekali tak segan untuk saling melemparkan pandangan penuh curiga satu sama lain, ditambah dengan penuh penghakiman kepadaku, tapi itulah yang membuatku terhibur.
“Aku terlalu memahami seluruh pelosok tempat ini,” jawabku lugas. Tequila kusesap dengan nikmat. Cairan dingin mengalir deras di kerongkongan. Sensasinya sekeras kebencian yang saling dilontarkan kedua pria itu.
“Kau bisa menjamin keamanannya, tuan Collins?”
“Jaminanku sebesar penawaran yang telah kalian setujui, tuan-tuan.” Aku tersenyum. “Nikmatilah malam ini. Pilih pion-pion permainan sesuka hatimu—tapi ingat—hanya mereka yang ada di lantai dasar.”
“Aku melihat wajah yang tidak asing.” Salah satu mengedikkan dagu ke arah dinding kaca di belakangku. Kutoleh tempat yang ia maksud, dan tentu saja, itulah tempat dimana adik tercintaku sedang duduk bersama kekasihnya.
Senyumku mengembang. Aku selalu menyukai Ruang 03. Dinding-dinding kaca istimewanya yang hanya membiarkan kami menyaksikan dari dalam, tanpa diketahui sama sekali dari luar. Bukan hal yang luar biasa, namun tetap saja, ini amat menguntungkan.
“Tentu,” ujarku. “Apa kau tidak merasa juga melihatnya di sini?” dengan sedikit usil kutunjuk wajahku sendiri, dan pria itu menyipitkan mata.
Aku mengangkat bahu. “Keluarga atau bukan, selama ia ada di lantai dasar, kau bisa menggunakannya. Tapi ia berada di lantai dua, jadi aku tidak berpikir demikian.”
Pria itu mendengus, disusul oleh seringai mencemooh dari lawannya. Aku mengawasi mereka berdua dalam kesenangan batin. Kuhabiskan tequilaku dalam sekali teguk, sebelum menuangkannya kembali ke gelas.
Malam ini adalah malam yang cukup baik. Aku tidak menyesal, dan aku sempat berpikir untuk mengunjungi makam Loydaire. Semoga ia sehat-sehat saja.