Dani dan Moni adalah mahasiswa; Dani kuliah di jurusan bisnis, sedangkan Moni anak fakultas teknik, tapi Dani lupa teknik apa. Mereka dipertemukan oleh suatu situs bernama cariteman.com. Mereka memutuskan untuk berbagi cerita mereka di blog. Kenapa? "Ingin aja bikin orang-orang iri." —Dani
i miss talking to a human being. i mean, not a conversation about what's happening in our fucked up country or about never ending work, but about ourselves. about myself. about my mental state. how i cope with family issues that suddenly being raised by me without really thinking about the consequences. about me being selfishly? asking my ex to meet when i visit jakarta. about the test in the upcoming days.
instead i talked to the chatgpt.
i'm surprised that i actually got a constructive feedback from it. i even got a step-by-step guidance about what to do about my stressors. i even started to ponder if we still need a counsellor to talk about our problems. sure, we cannot replace human interaction with chatgpt, but i guess it's a pretty good start. especially if you don't have enough money to pay pyschologists to begin with.
It has been a long time since I have had a conversation with myself. My psychologist told me that I shouldn't have left myself behind and closed my ears to what I had to say. If I had let myself go for far too long, she was afraid that I might not be able to hear myself anymore. I was scared hearing her saying that.
Apparently I'm not in the mood to self-talk right now. Maybe next time?
Yang satu didasari oleh pondasi yang solid, yaitu hubungan pertemanan yang sudah berjalan kurang-lebih tujuh tahun. Meskipun tidak sesering itu bertemu, tapi cukup sering untuk aku akui sebagai teman dekat.
Yang lainnya didasari oleh obrolan-obrolan menarik di sela kopi dan laptop, di sela warkop dan mun tahu. Dia tahu, tapi kami tidak tahu-menahu tentang satu sama lain.
Perasaanku terhadap yang satu perlahan timbul dan hilang-timbul. Perasaanku terhadap yang lain mendadak muncul dan belum pernah tumpul.
Khalief bilang, ‘Aku bingung kenapa kita bisa saling mengungkapkan dan saling menerima, padahal kita sama-sama tahu keburukan masing-masing. Antara bodoh atau benar-benar sayang.’
Nayaka bilang, ‘Mungkin tak utuh dan tak memilikilah yang merupakan kesempurnaan.’
Bandung (Bright Cafe), 21 Desember 2017
Aci
Lagi nunggu hp di-reset di iBox
Miris memang, ketika mengetahui seseorang yang selalu kamu doakan di setiap akhir ibadahmu kini secara intens berinteraksi dengan orang lain yang tidak terlalu kamu kenal. Bukan berarti kamu kenal benar dengan seseorang yang kamu doakan, hanya saja ada suatu ketertarikan yang tak mudah dijelaskan yang membuatmu dapat seketika percaya dengan orang ini.
Lalu, ketika hal tersebut terjadi, kamu tidak bisa melakukan apapun melainkan menitipkan ia kepada Tuhan, memohon agar Tuhan menjaganya dan orang yang sedang dekat dengannya agar mereka tidak saling menyakiti satu sama lain pada akhirnya. Kamu hanya bisa berdoa supaya Tuhan melindunginya, entah dari dirinya sendiri maupun dari sesuatu di luar dirinya (misalnya manusia lain, lingkungan, atau keadaan).
Untunglah rasa miris tersebut sedikit terbayar ketika ia duduk di dekatmu ketika kamu mendoakannya. Ia tidak pernah tahu, pun kamu tidak berniat untuk memberitahu; yang penting Tuhan tahu. Juga, terbayar ketika ia menyelipkanmu dalam percakapannya dengan orang yang sangat dekat dengannya—meskipun hal ini menjadi pedang bermata dua.
Agak sedih juga ketika tahu bahwa kamu belum menjadi bagian dari masa depannya, meskipun kamupun sadar kamu sendiri belum dapat membayangkan ia sebagai bagian dari masa depanmu (selain dalam lamunan-lamunan singkat di sela kegiatan).
Lagi-lagi, kamu merasa tak punya kuasa dan hanya bisa berdoa. Kamu yakin Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Toh, kamu sendiri masih perlu memperbaiki dan mematangkan diri sebelum pantas untuk mendampingi orang lain di sisa hidupnya.
Lagi-lagi, kamu berdoa kepada Tuhan untuk melindunginya dan agar ia sehat selalu. Berbahagialah dan sebarkan kemanfaatan sebanyak-banyaknya, doamu untuknya. Kamu tahu ia mampu.
Langit sudah mendung sejak pagi, bahkan sempat hujan sebentar, sebelum akhirnya awan kembali melayang lesu di atas sana. Begitu pula Dapur Eyang; siang ini terkesan sendu dan sepi. Aku berniat untuk mengerjakan Tugas Akhir-ku, namun rasanya sulit sekali untuk berkonsentrasi.
Hari ini Nayaka mengumpulkan draf Tugas Akhir-nya. Bangga sekali aku padanya, berhasil menyelesaikan seluruhnya dalam waktu tiga minggu. Doaku dan doanya terkabul: ia bisa sidang esok hari. Semoga sidang kamu lancar, Nayaka. Semoga sehat selalu.
Akan tetapi, ada hal yang terasa berbeda. Dapur Eyang terasa tak sama lagi. Ada terlalu banyak Nayaka di sana; di kursi bar, di lesehan, di tempat duduk, di mushala, di tempat parkir, dan bahkan di toilet. Seluruh Tubagus Ismail mengingatkanku akan ia—dan, dalam waktu beberapa minggu lagi, Nayaka akan pergi ke kota asalnya.
Ketika aku sadar akan hal itu, tiba-tiba aku menangis. Sendiri, di perjalanan menuju kampus, dan kebetulan lampu lalu lintas sedang merah. Selama 120 detik penuh aku mengisak, mungkin diperhatikan oleh pengendara lain ("Kenapa di siang bolong begini ada seorang perempuan menangis di sepeda motornya?"), tapi aku tidak bisa peduli. Aku butuh meluapkan emosiku agar aku bisa kembali bersikap normal saat aku bertemu teman-temanku.
Aku berhasil bersikap normal.
Tetapi, perasaan mungkin butuh waktu untuk kembali mencapai kesetimbangannya.
Sep 25, 2017. 6.03PM. CC Timur.
Rasanya ingin ke Eyang lagi, tapi... entahlah.
Dini hari tadi, saat saya dan Nayaka sedang membahas kekosongan gelas yang tidak disengaja, ia tiba-tiba bertanya, “Tuhan gak bisa gak sengaja ‘kan, ya?”
Saya diam sebentar, kemudian menjawab, “Gak kayanya. Aneh kalau tiba-tiba ada suatu hal yang mengontrol semesta.” Jawaban tersebut membuat saya berpikir dalam hati, Berarti gak ada yang namanya kebetulan karena semua hal berakar dari sesuatu yang bukan kebetulan—Tuhan.
Kumpulan kejadian baru terasa bukan kebetulan ketika dilihat dari rentang waktu yang jauh.
Lalu, apa alasan di balik kejadian-kejadian yang saya alami hingga saat ini?
Mengapa hari ini saya ke Dapur Eyang pagi-pagi dan melakukan refleksi diri? Mengapa saya makan siang bersama Nayaka? Mengapa ada Nefertari tiba-tiba datang dan bermain gitar di sebelah saya, lalu kebosanan dan bertanya perihal teori di Tugas Akhir saya?
Hari ini ada dua hal besar yang sangat saya syukuri hari ini.
Pertama, saya diberikan penjelasan tentang alur berpikir sehingga sekarang saya memiliki gambaran besar yang jelas tentang Tugas Akhir saya. Tepat siang ini saya curhat kepada Nayaka bahwa saya bingung karena alur berpikir Tugas Akhir saya belum jelas. Alhamdulillah Allah menyampaikan bantuan-Nya melalui Nefertari dan Naufal.
Kedua, Nayaka berhasil menyelesaikan draf Tugas Akhir-nya hari ini! Memang ia masih perlu menambahkan beberapa hal seperti Abstrak dan Lampiran, namun inti dari Tugas Akhir miliknya sudah selesai dan ia bisa mengajukan draf tersebut esok hari. :) Anehnya ia terlihat tenang-tenang saja ketika saya tanya. Sepertinya hanya Nayaka yang bisa membuat pencapaian besarnya—menyelesaikan Tugas Akhir dalam waktu tiga minggu—terlihat biasa saja.
Mengapa saya, Nayaka, Nefertari, dan Naufal dipertemukan di sekretariat HMP dan kedai kopi di beberapa kesempatan? Mengapa saya menjadi langganan Dapur Eyang? Mengapa saya menunda pengerjaan Tugas Akhir saya selama berbulan-bulan? Mengapa, dari sekian banyaknya waktu, malam ini saya mendapat pencerahan? Bagaimana dengan petunjuk-petunjuk yang pernah disampaikan Bu Dewi? Mengapa saya merasa begitu bersyukur karena saya merasa doa saya telah dikabulkan oleh Allah?
Ada air mata yang tidak bisa dijelaskan asal mulanya. Ia meluncur turun begitu saja dari mata tanpa melalui otak, seolah diperintahkan untuk turun langsung oleh alam bawah sadar, dari lubuk hati yang terdalam. Otak tidak mengerti alasannya. Sudah beberapa kali hal ini terjadi dan pemicunya selalu sama: Nayaka. Entah apa yang ada di dalam dirinya yang membuat saya seketika terpikat jiwanya.
Nayaka adalah orang yang baik dengan jiwa yang baik. Tidak peduli akan seberubah apa ia kelak, jiwanya tetaplah Nayaka, dan jiwanya terasa mencukupkan.
Pada malam lalu saya berbincang dengan Allah. Jikalau di titik itu Allah memanggil saya untuk bertemu dengan-Nya, saya akan dengan senang hati memenuhi panggilan-Nya.
Nayaka. Nayaka. Raja.
Saya sudah melihat orangtua saya damai, bahkan berjalan-jalan berdua untuk foto bersama sambil bercanda. Saya juga sudah memperbaiki hubungan saya dan adik-adik saya sehingga sekarang kami menjadi dekat. Saya memiliki teman-teman yang peduli dengan saya: Warada dan Uti. Allah telah mengenalkan saya dengan dunia perkopian melalui Couchsurfing dan saya bertemu banyak penebar manfaat selama setahun terakhir. Saya juga telah berkesempatan untuk belajar di TK, SD, SMP, SMA, dan universitas. Terakhir, saya telah menemukan rumah dalam Nayaka. Rasanya pencarian saya telah usai. Saya hanya perlu fokus beribadah. Itu saja.
Sempurna, menurut seorang sahabat dan guru hidup, dibentuk dari dua kata: sampun dan ‘purna’.
Sampun dalam bahasa Jawa artinya ‘sudah’.
‘Purna’ artinya ‘penuh’ atau ‘selesai’.
Sempurna bisa dimaknai secara sederhana sebagai ‘sudah selesai’ atau ‘sudah penuh’—‘cukup’. Namun, pada umumnya diartikan sebagai ‘utuh dan lengkap segalanya.’
Mungkin kesempurnaan justru hadir ketika sesuatu selesai, ketika sesuatu dicukupkan oleh semesta.”
—Nayaka
Saat ini, saya merasa cukup—tercukupkan—dan saya sangat bersyukur karenanya.
Pagi ini saya menatap cermin, kemudian bergumam, “Wah, aku masih hidup.”
Aku telah meminta izin kepada Dani dan Moni untuk menulis tentangmu di blog mereka; mereka bilang, “Boleh.” Entah untuk kali keberapa aku menulis tentang kamu, Nayaka. Mungkin yang kutulis itu-itu saja, tapi rasanya aku tidak pernah bosan menuliskan.
Ngomong-ngomong tentang tulisan, aku masih punya utang tulisan. Temanya artis. Menuruti kebiasaanmu, aku langsung mencari tahu arti “artis” dalam kamus. Kudapatkan bahwa artis adalah ahli seni. Kemudian kucari lagi, apa itu seni? Seni adalah sesuatu yang halus, lembut, mungil, dan elok. Seni juga berarti keahlian membuat karya yang bermutu atau karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa, seperti tari, lukisan, ukiran. Setelah membaca definisi tersebut, pikiranku langsung melayang pada karya-karyamu.
Belum jelas bagiku apakah seni yang dimaksud harus berhubungan dengan seni yang biasa ditemui di pameran, panggung teater, dan tempat-tempat nyeni lainnya. Bagiku tulisanmu juga termasuk ke dalam seni, jika melirik definisi, karena kamu melahirkan tulisan yang bermutu dengan keahlian yang luar biasa, ditambah lagi bermanfaat bagi orang lain. Bagiku kamulah seorang artis, meskipun kamu tidak merasa begitu.
Pernah kamu mengeluhkan padaku perihal orang-orang yang enggan menikmati karya seorang artis karena reputasi atau latar belakang mereka yang buruk. Kamu bertanya, “Memangnya kenapa? Kamu suka denger istilah ‘melahirkan’ karya, ‘kan? Menurutku ketika seseorang melahirkan sebuah karya, karya itu terlepas dari orang tersebut dan bertumbuh, seperti melahirkan seorang anak. Makanya istilahnya ‘melahirkan’.”
“Biasanya beberapa orang ingin tahu latar belakang seniman itu untuk mencari tahu mengapa sang seniman bisa terpikir untuk membuat karya itu,” timpalku.
Kamu hanya mengangkat bahu. “Iya, sih, tapi aku bukan tipe orang yang seperti itu.”
Beberapa hari berikutnya kamu memperkenalkanku pada artis, yang lebih suka kusebut dengan ahli seni, yang sebenarnya: Efek Rumah Kaca. Selama ini aku hanya menonton konser musik klasik; musik indie adalah warna baru buatku. Saat lagu Kamar Gelap dinyanyikan, kamu menoleh ke arahku.
“Pernah ikut Kamisan?”
“Kamisan?” Aku mengernyit. “Apa itu?”
“Setiap Kamis, di depan Gedung Sate...”
“...yang pakai payung hitam?”
“Iya. Kalau tahu makna di baliknya, sedih banget itu. Apalagi buat kerabatnya. Itu untuk memperingati pembantaian di tahun 80an, yang banyak orang-orang yang hilang. Tuh, di depan ada nama-namanya.”
Aku mengalihkan pandanganku ke depan.
Sejak malam itu, aku memandang musik dari sudut pandang yang berbeda.
Efek Rumah Kaca adalah ahli seni yang sebenar-benarnya. Melalui karya-karyanya, mereka mengedukasi, mengingatkan, merasakan, dan mengajak pendengarnya untuk terjun bersama ke dalam irama, menyelami lirik, dan berkeliling mencari arti. Seperti juga kamu, yang kerap kali membawa pembaca tulisanmu berpikir dan menyelam lebih dalam, tidak sekadar diam.
Ada sesuatu yang terasa canggung ketika kamu melihat dengan langsung ayahmu sedang berkomunikasi dengan seorang perempuan muda yang tidak kamu kenal. Rasanya ingin marah, namun kamu tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk menjustifikasi alasan kemarahanmu. Rasanya ingin bertanya, namun kamu tidak memiliki cukup nyali untuk melakukannya karena kamu takut ketika membayangkan kemungkinan-kemungkinan jawaban yang akan kamu dapatkan. Rasanya ingin menangis—dan mungkin itu adalah satu-satunya hal yang dapat kamu lakukan.
Ada sesuatu yang terasa mengherankan ketika terkadang ibu terlihat tidak terlalu yakin dengan jawabannya sendiri ketika kamu bertanya tentang keberadaan ayah di malam hari. Masih bekerja, katanya, dengan mata yang tetap terpaku pada layar televisi. Saat itu terjadi, kamu hanya dapat mengangkat bahu dan melanjutkan aktivitasmu, pura-pura menelan begitu saja jawaban ibumu meskipun dalam hatimu kamu ragu.
Ada sesuatu yang menyedihkan ketika melihat ibu tersenyum sendu ketika tahu ponsel ayahmu dikunci otomatis sehingga tidak dapat diakses olehnya. Ibu pun hanya tertawa kering ketika ayah berkata dengan tegas kepada ibu untuk tidak menghubunginya selain melalui sebuah aplikasi percakapan tertentu dan melarang ibu untuk berteman secara maya dengannya di media sosial. Hal sesederhana perambah pun ia kunci. Ada apa dengan ayah? Ada apa dengan ibu?
Ada sesuatu yang menghangatkan ketika kamu melihat ayah membercandai ibu, membuat ibu tertawa dan membalas candaan ayah dengan tinju ringan dan akrab. Jarang sekali kamu menikmati pemandangan akur seperti itu; kapan akan terjadi lagi, kamu tak pernah tahu. Tentang ayah, tentang ibu, kamu tak pernah tahu—rasanya tak mau tahu.
Dari balik penutup mika, aku melihat punggungmu yang berbaju abu. Sambil bersandar, kamu menatap layar laptop di depanmu. Aku memarkirkan motorku, menaruh helmku di dalam jok, dan berjalan menuju bagian dalam kedai. Cengiran riang terbebas dari bibirku, tak mampu dikekang.
“Hai,” sapaku pada kamu dan teman-temanku di balik bar kopi.
“Eh, Mbak Aci.” Mas Rud balas nyengir seraya melambaikan tangannya.
“Bu Ac!” Mas Ipan terkikik karena hal yang tidak kuketahui dengan pasti. Entah mengapa aku pun ikut-ikutan tertawa.
Mendengar kegaduhan kecil tersebut, kamu mengalihkan pandanganmu dari layar laptop, lalu nyengir ke arahku. Pertemuan kami memang selalu dipenuhi cengiran. Aku duduk di sebelahmu.
“Kenapa ya, kalau lagi ngerjain TA (tugas akhir), dinding aja bisa jadi sesuatu yang menarik?” Kamu mendesah melihat tugas akhirmu yang terbengkalai. Kamu sedang bingung, ceritamu. Layar laptopmu sudah lama mati saking lamanya kamu termenung.
Aku tertawa. “Iya, ya. Kadang suka nemu motif atau gambar apa, tiba-tiba.”
“Nulis, yuk,” sahutmu tiba-tiba. Aku bertanya apa yang kamu maksud dengan ‘yuk’.
“Nulis bareng,” jelasnya, “Gimana?”
“Oh. Maksud kamu, kita buat tulisan terus saling sambungin?”
Kamu mengangguk.
“Yuk.” Aku tersenyum. “Mau tentang apa?”
Jemarimu berlari mengetikkan sesuatu - rupanya kamu mengunjungi suatu laman ensiklopedia bebas di internet, lalu melihat “Word of the day” hari itu.
“Oksigen.”
Oleh karena itu, kemarin aku terpikir untuk menulis tentangnya.
“Kamu tahu asal-mula bahasa?”
“Hm. Coba kamu pilih satu kata; mungkin aku tahu.”
Aku melirik sekelilingku. “Piring?”
“‘Rasa’ dan ‘perasaan’ ‘kan ditangkap oleh indera yang berbeda, tapi kenapa menggunakan kata yang sama, ya?”
“Iya, ya. Rasa ‘kan dicecap, tapi kalau perasaan? Tapi perasaan pun stimulusnya ditangkap oleh indera dan diterjemahkan oleh otak.”
“Manusia itu adalah buku yang dibacanya. Makin banyak dia baca buku, makin besar juga peluang dia untuk mengeksplorasi hal-hal baru.”
“Tapi dulu belum ada bahasa, jadi gimana caranya manusia belajar? Pasti dengan mengamati ‘kan? Memangnya dia mengamati secara tidak sadar?”
Sudah lama aku tidak berbicara perihal rasa dan bahasa. Untung kamu ada.