Semoga suatu saat kita bisa jatuh cinta dengan penuh tanpa harus dihantui rasa takut akan mendapat balasan separuh.
🪼
untitled
Sade Olutola

No title available

pixel skylines
The Bowery Presents
Misplaced Lens Cap
Keni

roma★

#extradirty
Jules of Nature

Origami Around

gracie abrams
RMH

Product Placement
h
Claire Keane
macklin celebrini has autism
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Kiana Khansmith

seen from Netherlands

seen from Netherlands

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Italy

seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from Germany

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from India

seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Netherlands

seen from Malaysia

seen from Singapore
@danilinux
Semoga suatu saat kita bisa jatuh cinta dengan penuh tanpa harus dihantui rasa takut akan mendapat balasan separuh.
“Ingin menyapa, tapi takut terluka. Karena tahu, sapaku pasti cuma dibaca.”
—
Dihadapan-Nya aku berharap, agar Allah selalu menjagaku dari sesuatu yang telah diharamkan-Nya hingga anak cucuku kelak
Salah satu doa saat berada di Padang Arafah
Jika suatu saat Allah memanggilku menghadap-Nya, aku selalu berharap semoga Allah panggil aku dalam keadaan sujud pada-Nya atau dalam keadaan Jihad di jalan-Nya
Salah satu doa saat berada di Padang Arafah
Bersandar di tembok mesjid. Bersujud di hamparan sajadah. Ngebatin sendiri di dalam mesjid. Bercerita ke Allah. Rasakan kenikmatannya
danil
Serius kak suka dgn yg galak2? :) menarik utk diceritakan. Jd pd kepo max kan tuh jdny kak herry
Yang Galak Itu
Karena biasanya yang galak itu malah memiliki perhatian lebih. Perhatiannya itu dituangkan ke dalam bentuk yang tak biasa, yang tak mungkin bisa dibaca oleh perasaan biasa. Ada semacam kompleksitas dan kodifikasi untuk memahaminya. Mencintainya bukan perkara mudah, sebab kita ditantang untuk memecahkan kode-kode tersebut menjadi translasi yang mudah dipahami oleh kita sendiri. Ibarat gembok, hanya kita yang memiliki kuncinya. Rumit. Lagipula, yang galak itu biasanya tidak suka cari perhatian. Dengan foto-foto centil, kalimat-kalimat sok puitis, atau hiasan-hiasan pseudo di media sosial. Dia biasanya tersembunyi, jauh dari hingar-bingar sosialita atau kumpulan orang-orang yang gemar mencari citra. Dia seperti mutiara; cangkangnya boleh jadi biasa saja, tapi dalamnya berisi bernilai segalanya.
Gw punya bos cew, dan persis seperti ini. Dan lebih menakutkan kalo dia udah ngdiemin loe. Kelar idup loe
Fitrah Seksualitas
By: Elly Risman Musa
Punya suami yang kasar? Kaku? Garing dan susah memahami perasaan istrinya? Tidak mesra dgn anak? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ibunya ketika masa anak sebelum aqilbaligh.
Punya suami yang “sangat tergantung” pada istrinya? Bingung membuat visi misi keluarga bahkan galau menjadi ayah? Coba tanyakan, beliau pasti tak dekat dengan ayahnya ketika masa anak.
Kok sebegitunya?
Ya! karena figur ayah dan ibu harus ada sepanjang masa mendidik anak anak sejak lahir sampai aqilbaligh, tentu agar fitrah seksualitas anak tumbuh indah paripurna.
Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir.
Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.
Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada Ayah dan Ibu.
Riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dll akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi. Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, curiga pada hubungan dekat dsbnya.
Jadi dalam mendidik fitrah seksualitas, figur ayah ibu senantiasa harus hadir sejak lahir sampai AqilBaligh. Sedangkan dalam proses pendidikan berbasis fitrah, mendidik fitrah seksualitas ini memerlukan kedekatan yang berbeda beda untuk tiap tahap.
Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena ada menyusui, di usia 3 - 6 tahun anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.
Kedekatan paralel ini membuat anak secara imaji mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan, sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya, baik cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas. Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”
Bila anak masih belum atau tidak jelas menyatakan identitas gender di usia ini (umumnya karena ketiadaan peran ayah ibu dalam mendidik) maka potensi awal homo seksual dan penyimpangan seksualitas lainnya sudah dimulai.
Ketika usia 7 - 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayah, karena di usia ini ego sentrisnya mereda bergeser ke sosio sentris, mereka sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.
Maka bagi para ayah, tuntun anak untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah sebagai aspek pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.
Wahai para Ayah, jadikanlah lisan anda sakti dalam narasi kepemimpinan dan cinta, jadikanlah tangan anda sakti dalam urusan kelelakian dan keayahan. Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya. Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tatacara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.
Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit. Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.
Ibu harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya. Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.
Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka
inilah pertanda potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.
Lalu bagaimana dengan tahap selanjutnya, usia 10 - 14? Nah inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.
Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.
Maka agama yang lurus menganjurkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan, serta memberikan warning keras apabila masih tidak mengenal Tuhan secara mendalam pada usia 10 tahun seperti meninggalkan sholat. Ini semua karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.
Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah. Apa maknanya?
Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka di saat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, fikiran dan pensikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yg tdk dewasa, atau suami yang kasar, egois dsbnya.
Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis, maka disaat yang sama harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.
Anak perempuan yang tidak dekat ayahnya di tahap ini, kelak berpeluang besar menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki yang dianggap dapat menggantikan sosok ayahnya yang hilang dimasa sebelumnya.
Semoga kita dapat merenungi mendalam dan menerapkannya dalam pendidikan fitrah seksualitas anak anak kita, agar anak anak lelaki kita tumbuh menjadi lelaki dan ayah sejati, dan agar anak anak perempuan kita tumbuh menjadi perempuan dan ibu sejati.
Agar para propagandis homo seksualitas tidak lebih pandai menyimpangkan fitrah seksualitas anak anak kita daripada kepandaian kita menumbuhkan fitrah seksualitas anak anak kita. Agar ahli kebathilan gigit jari berputus asa, karena kita lebih ahli dan berdaya mendidik fitrah anak anak kita.
Salam Pendidikan Peradaban
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak
Apakah tulisan ini berdasarkan penelitian yg mendalam atau nggk?? Tapi isi yg terkandung di dalamnya sangat bagus.
Sehari tanpa liat instagram, apa bisa?
Jadi ceritanya udah hampir sebulan ini aku berusaha ninggalin yang namanya instagram dan beberapa sosmed lainnya. Karena aku kemaren termasuk orang yang addict dengan sosmed, terutama instagram. Walaupun emang jarang ngeposting, tapi untuk melihat timeline bisa sampe berjam-jam. Aku mulai mikir, udah saatnya aku untuk membentuk sebuah kebiasaan yang baru dan baik. Takut aja kalau lama-lama nggk bs kluar dari kebiasaan lama, ntar malah jd sebuah karakter. Baiklah, aku mempunyai beberapa alasan untuk ninggalin yang namanya instagram. Pertama, seperti yang udah aku jelasin sebelumnya nih, ngebuang WAKTU! Ini nih masalah yang paling utama. Coba aja bayangin, waktu yang kita pake untuk ngeliat timeline bisa di manfaatin buat ngehafal Qur'an. Bisa hafal berapa ayat coba. Kedua, kamu pasti ngerasain situasi perang cyber beberapa waktu ini. Wah, isu dimana-mana. Sampe nggak tau lg nih bedain yg bener sama yang *hoax. Sebenarnya aku juga ngakuin kalau aku nggak boleh pergi begitu aja. Karena makin banyak opini hoax yang tersebar, maka hukum akan bisa terbawa opini. Dan tugas kita-kita nih mencari tau kebenarannya. Kalau udah dapat berita benarnya, baru di sebarin. Tapi sekali lagi, untuk beberapa saat aku memilih untuk suspend. Disebabkan : Ketiga, ngefollow atau tidak itu adalah hak kita. Dan orang lain juga nggk bisa juga kita paksa untuk ngefollow kita. Meskipun tetep aja ada yg minta follback, tetapi semua itu pilihan kita. Nah, alasan terakhir aku meninggalkan instagram yaitu untuk menjaga pandangan ini dari sesuatu yang belum patut dipandang-pandang. Aku sering umpamain nih, hijab lelaki itu kan nundukin pandangan yak, oke pandangan ditundukkan ngeliat di layar hp. Eh, ada yang cakep, eh keterusan, eh ilang waktu, eh nambah dosa. Nah, ini nih nundukin pandangan sih iya, tapi yah gitu dah. Tapi kan kita bisa unfoll akun-akun yang nggak ingin dilihat?? Bener, cuma ya ntu, kembali ke point pertama. Trus untuk tumblr sendiri? Kalau yang ini mah sosmed terbaik menurut ku. Selain nggak banyak yang kenal, trus tulisan-tulisannya pada keren. Bisa jadi inspirasi. Tapi ini nggak mutlak loh, aku nonaktifin akun sosmed yang lain mungkin hanya untuk sementara waktu. Bisa jadi nanti lagi pengen di aktifin lagi. 👋👋👋
Saat ini hampir setiap malam aku mencoba membuka-buku soal USM STAN lagi. Jika dituruti, ingin rasanya pulang kantor untuk bisa istirahat menikmati film ataupun novel. Hanya saja harus ada pengorbanan untuk mencapai sebuah tujuan. Ibarat eskalator yang akan terus naik ke atas. Meskipun kini aku berdiri diam, eskalator tersebut akan terus membawaku naik ke atas. Saat ini percepatan sangat dibutuhkan di dunia yang menuntut kita untuk lebih cepat bertindak. Kuncinya langkahkan kaki agar mencapai tujuan dengan cepat. Itulah yang dinamakan ikhtiar!
Aku telah mengenalnya selama 21 tahun. Percayalah padaku, dia tidak pernah main-main terhadap perasaannya. Malam ini hujan telah menyelimuti tubuhnya, membawa sejuta perasaan yang pernah ditanam. Ada sebuah lubang dihatinya, ketika kau melihatnya, kau tidak akan pernah bisa mampu mencapai dasarnya, itulah perasannya, dan dia jatuh ke dalamnya. Tenang saja, ia tidak akan pernah berkata kasar kepada seorang pun wanita. Ucapannya akan selalu terjaga dalam keadaan sedih, bercampur emosi sekalipun. Tetapi jangan kau kira dia lelaki yang lemah, tidak! Dia akan keluar dari lubang itu dengan segera. Di atas tikar segi panjangnya, lelaki itu mengangkat kedua tangannya. Membisikkan kepada Tuhan, semoga Tuhan menjagamu dalam rasa cinta kepada-Nya. Malam ini sebenarnya ia ingin membagikan sebuah cerita gembira. Kau tahu di balik cerita ini? Sebenarnya dia ingin mengenalkanmu kepada seseorang yang sangat dicintainya dan dihormatinya. Seseorang itu ingin sekali bertemu denganmu. Bahkan seseorang itu rela menempuh perjalanan jauh. Dia sengaja merahasiakannya darimu. Karena ia ingin ini sebagai sebuah hadiah di hari ulangtahunmu nanti. Akhirnya lelaki itu sadar, harapan yang melebihi kapasitasnya, akan melahirkan kekecewaan. Cerita yang di awali dengan hujan dan di akhiri dengan hujan. #sajak #prosa #puisi #hujan #harapan
Bismillah, bismillah, bismillah!! Allahuma salli ala sayyidina muhammad, wa ala ali sayyidina muhammad. Masi inget bener perkataan ust. @yusufmansurnew , memulainya nggak usah pakai duit, mulainya pakai doa plus banyakin solawatnya. Semoga ini menjadi langkah awal untuk kita bisa lebih mandiri dan bisa memberi manfaat bagi orang lain. Kun the winner! Doakan kita ya bisa ngejalanin ini :) minta doa juga sama ust @yusufmansurnew , barangkali dibaca. Hehe #doa #sholawat #linuxfotocopy (at Dumai)
Ungkapin harta kita dong bang!
Istri (I) : Bang, liat tuh di tv, katanya kita harus gotong royong untuk membangun Indonesia. Pegawai pajak aja di suruh ikut tax amnesty, masak kita nggak?
Suami (S) : Nggak bisa dek, abang nggak bisa..!
I : Abang gitu ih, tinggal ungkap, tebus, lalu lega deh..
S : Abang nggak sanggup untuk mengungkapkannya, apalagi harus menebusnya..
I : Kenapa bang?
S : Karena cuma kamulah harta abang, dan kamu nggak bisa di ungkapkan, apalagi ditebus,..
I : duuuh, abng co cweet... :)
Assalamu'alaikum. Danil, semoga Allah swt. senantiasa bersamamu.
Wa'alaikumussalam,Aamiin, wa iyyakum anon
Cerita: Tentang Membuat Paspor
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya dalam membuat paspor. Hari pertama saya datang ke kantor imigrasi dengan beberapa berkas yang dibutuhkan seperti KK (Kartu Keluarga), KTP (Kartu Tanda Penduduk), Ijazah terakhir serta Akte Kelahiran sesuai dengan info yang diberikan pada website kantor imigrasi terkait syarat permohonan paspor baru.
Hari itu saya datang siang hari bersama sahabat saya, ternyata sebelum melakukan pendaftaran permohonan tersebut, kita diharuskan mengambil nomer antrian terlebih dahulu. Nomer antrian bisa diambil dimulai pukul 06.30 hingga pukul 07.30, begitu informasi yang saya dapatkan dari seorang bagian keamaan di salah satu kantor imigrasi tersebut. Sebelumnya saya memang belum mengetahui hal tersebut karena 4 tahun lalu saya sempat mengantarkan sahabat saya membuat paspor dan belum diberlakukan pengambilan nomer antrian tersebut.
Beberapa hari kemudian saya pun akhirnya meminta adik saya mengantarkan saya ke kantor imigrasi, ketika itu saya tiba pukul 06.30, tepat dimana nomer antrian baru akan dibagikan. Namun, ternyata disana sudah banyak sekali orang-orang berkumpul dan antri. Dan berita terbarunya yang baru saya ketahui bahwa setiap harinya kantor imigrasi hanya melayani pembuatan paspor sebanyak 75 orang saja. Artinya hanya 75 nomer antrian yang akan dibagikan. Hal ini disebabkan ada registrasi yang dapat dilakukan secara online, oleh sebab itu jumlah antrian dibagi menjadi dua. Walhasil, setelah saya mengantri sekitar 45 menit, saya belum juga mendapatkan nomer, karena banyaknya dan bahkan lebih dari kapasitas offline ketika itu. Akhirnya saya memutuskan kembali kerumah…
Sehari setelahnya akhirnya saya memutuskan pergi sebelum shubuh ke kantor imigrasi tersebut ditemani oleh adik saya. Kami tiba tepat pukul 04.30 dini hari. Dan luar biasanya, ternyata bukan saya yang pertama. Ada tiga orang lebih awal untuk mengantri, padahal baru akan dibuka dan dibagikan nomer antrian pukul 06.30. Takjublah saya…
Akhirnya setelah perjuangan datang lebih awal, saya mendapatkan nomer antrian saya. Saya pun bersegera menyiapkan berkas-berkas yang akan diserahkan. Ada beberapa poin penting dalam berkas-berkas untuk pendaftaran permohonan tersebut,
Bawa semua berkas asli (KK, ijazah, KTP, dan Akte kelahiran)
Copy masing-masing berkas satu rangkap. (Nb. Ketika mengcopy KTP jangan digunting, copy KTP harus dalam ukuran kertas A4 dan diperbesar.)
Sediakan materai 6000 untuk surat pernyataan. Formulir surat pernyataan akan diberikan oleh petugas di kantor imigrasi.
Isi formulir permohonan secara lengkap lalu gabungkan dalam map kuning beserta berkas syarat yang telah disiapkan. Formulir permohonan bisa diambil di kantor imigrasi lebih awal sehingga bisa dikerjakan dirumah, atau bisa menunggu ketika antrian tiba lalu petugas akan menyerahkan formulir tersebut.
Adapun hal diluar berkas yang sebaiknya dilakukan berdasarkan pengalaman saya,
1. Antri lebih awal.
Nb. Shubuh disana akan lebih baik karena antri memakai kuota. Dan yang tercepatlah yang akan mendapatkan kuota.
2. Berpakaian yang sopan dan rapi.
Nb. Selain menjadi syarat, hal ini juga dimaksudkan karena akan langsung diberlakukan wawancara dan pengambilan photo untuk pembuatan paspor baru pada hari itu juga. Jadi sesi wawancara dan pengambilan photo tidak dilakukan dilain hari.
3. Bawa pulpen.
Nb. Pulpen memang disediakan disana. Tapi sebelum nama dipanggil menuju counter kita harus sudah mengisi formulir yang diberikan petugas dalam map kuning. Itulah sebabnya dibutuhkan pulpen.
4. Siapkan uang tunai atau kartu kredit.
Biaya pembuatan paspor baru yakni Rp. 345.000, pembayaran dilakukan melalui transfer melalui Bank BNI.
Nb. Sebaiknya pembayaran dilakukan pada hari dimana kita mengajukan pembuatan paspor, semakin lama kita membayar, maka pengambilan paspor semakin lama. Jarak pembayaran dari pendaftaran adalah sekita satu minggu. Jika telah dilakukan pembayaran, paspor baru bisa diambil dalam waktu 3 hari setelah pengajuan dilakukan.
Sekiranya itu saja yang bisa saya bagi, mudah-mudahan bermanfaat.
Dan dengan membuat paspor ini, semoga juga menjadi salah satu doa dan ikhtiar kita untuk menjemput mimpi-mimpi kita, untuk melihat langit dari sudut tempat lain, untuk mempelajari segala keagungan Tuhan. Atau bahkan untuk mengunjungi Rumah Tuhan ke Tanah Suci… Aamiin….
Saya belum tahu itu kapan, semoga saja Allah swt. berkenan dan memberikan rezeki-Nya…
Satu yang saya percaya, Allah swt. selalu menciptakan skenario kehidupan yang terbaik bagi hambaNya…
Bogor, 24 Januari 2016
Fikratus Sofa Muzakkiya
Paspor dengan nama dua suku kata berpengaruh nggak ya utk umroh?
Aku unfollow kau karena Allah
Apalah arti mencinta jika yang dicinta tak merasa sedang dicinta
Dimana Rumahmu Nak?
Orang bilang anakku seorang aktivis. Kata mereka namanya tersohor di kampusnya sana. Orang bilang anakku seorang aktivis. Dengan segudang kesibukan yang disebutnya amanah umat. Orang bilang anakku seorang aktivis. Tapi bolehkah aku sampaikan padamu Nak? Ibu bilang engkau hanya seorang putri/putra kecil Ibu yang lugu. Anakku, sejak mereka bilang engkau seorang aktivis, ibu kembali mematut diri menjadi seorang ibu aktivis. Dengan segala kesibukanmu, ibu berusaha mengerti betapa engkau ingin agar waktumu terisi dengan segala yang bermanfaat. Ibu sungguh mengerti itu Nak, tapi apakah menghabiskan waktu dengan ibumu ini adalah sesuatu yang sia-sia Nak? Sungguh setengah dari umur ibu telah ibu habiskan untuk membesarkan dan menghabiskan waktu bersamamu nak, tanpa pernah ibu berpikir bahwa itu adalah waktu yang sia-sia. Anakku, kita memang berada di satu atap Nak, di atap yang sama saat dulu engkau bermanja dengan ibumu ini. Tapi kini dimanakah rumahmu Nak? Ibu tak lagi melihat jiwamu di rumah ini. Sepanjang hari ibu tunggu kehadiranmu di rumah dengan penuh doa agar Allah senantiasa menjagamu. Larut malam engkau kembali dengan wajah kusut. Mungkin tawamu telah habis hari ini, tapi ibu berharap engkau sudi mengukir senyum untuk Ibu yang begitu merindukanmu. Ah, lagi-lagi Ibu terpaksa harus mengerti, bahwa engkau begitu lelah dengan segala aktivitasmu hingga tak mampu lagi tersenyum untuk Ibu. Atau jangankan untuk tersenyum, sekedar untuk mengalihkan pandangan pada ibumu saja engkau engkau, katamu engkau sedang sibuk mengejar deadline. Padahal, andai kau tahu Nak, Ibu ingin sekali mendengar segala kegiatanmu hari ini, memastikan engkau baik-baik saja, memberi sedikit nasehat yang Ibu yakin engkau pasti lebih tau. Ibu memang bukan aktivis sekaliber engkau Nak, tapi bukankah aku ini ibumu? Yang 9 bulan waktumu engkau habiskan di dalam rahimku... Anakku, Ibu mendengar engkau sedang begitu sibuk Nak. Nampaknya engkau begitu mengkhawatirkan nasib organisasimu, engkau mengatur segala strategi untuk mengkader anggotamu. Engkau nampak amat peduli dengan semua itu, Ibu bangga padamu. Namun, sebagian hati Ibu mulai bertanya Nak, kapan terakhir engkau menanyakan kabar ibumu ini Nak? Apakah engkau mengkhawatirkan ibu seperti engkau mengkhawatirkan keberhasilan acaramu? Kapan terakhir engkau menyakan keadaan adik-adikmu Nak? Apakah adik-adikmu ini tidak lebih penting dari anggota organisasimu? Anakku, Ibu sungguh sedih mendengar ucapanmu. Saat enkau merasa sangat tidak produktif harus menghabiskan waktu dengan keluargamu. Memang Nak, menghabiskan waktu dengan keluargamu tak akan menyelesaikan tumpukan tugas yang harus kau buat, tak juga menyelesaikan berbagai amanah yang harus kau lakukan, Tapi bukankan keluargamu ini adalah tugasmu juga Nak? Bukankah keluargamu ini adalah amanahmu yang juga harus kau jaga Nak? Anakku, Ibu mencoba membuka buku agendamu. Buku agenda sang aktivis. Jadwalmu begitu pada Nak, ada rapat di sana sini, ada jadwal mengkaji, ada jadwal bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ibu membuka lembar demi lembarnya, disana ada sekumpulan agendamu, ada sekumpulan mimpi dan harapanmu. Ibu membuka lagi lembar demi lembarnya, masih saja ibu berharap bahwa nama ibu ada disana. Ternyata memang tak ada Nak, tak ada agenda untuk bersama ibumu yang renta ini. Tak ada cita-cita untuk ibumu ini. Padahal Nak, andai engkau tahu sejak kau ada di rahum ibu, tak ada cita dan agenda yang lebih penting untuk ibu selain cita dan agenda untukmu, putri/putra kecilku... Kalau boleh Ibu meminjam bahasa mereka, mereka bilang engkau seorang organisatoris yang profesional. Boleh Ibu bertanya Nak, dimana profesimu untuk Ibu? Dimana profesionalitasmu untuk keluarga? Dimana engkau letakkan keluargamu dalam skala prioritas yang kau buat? Ah, waktumu terlalu mahal Nak. Sampai-sampai Ibu tak lagi mampu untuk membeli waktumu agar engkau bisa bersama Ibu... -- Setiap pertemuan pasti akan menemukan akhirnya. Pun pertemuan dengan orang tercinta, ibu, ayah, kakak, dan adik. Akhirnya tak mundur sedetik tak maju sedetik. Dan hingga saat itu datang, jangan sampai yang tersisa hanyalah penyesalan. Tentang rasa cinta untuk mereka yang juga masih malu tuk diucapkan. Tentang rindu kebersamaan yang terlambat teruntai. Untuk mereka yang kasih sayangnya tak kan pernah putus, untuk mereka sang penopang semangat juang ini. Saksikanlah, bahwa tak ada yang lebih berarti dari ridha mereka atas segala aktivitas yang kita lakukan. Karena tanpa ridha mereka, mustahil kau peroleh ridha-Nya. (Sumber: handbook panitia Kajian Islam Intensif Padmanaba 2012, KIIP Believing)