Mau pergi sejauh-jauhnya.
ojovivo
Sade Olutola

blake kathryn
Stranger Things
d e v o n
occasionally subtle
we're not kids anymore.
Three Goblin Art
Acquired Stardust
Cosmic Funnies

⁂

❣ Chile in a Photography ❣

izzy's playlists!

No title available
he wasn't even looking at me and he found me

No title available
Alisa U Zemlji Chuda
Claire Keane
I'd rather be in outer space 🛸
Lint Roller? I Barely Know Her
seen from United Kingdom

seen from France
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Netherlands
seen from United States
seen from Vietnam
seen from Türkiye
seen from Singapore
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Portugal
seen from Argentina
seen from United States
seen from United States
seen from Indonesia
@dasom14
Mau pergi sejauh-jauhnya.
Pengen pergi. Yang jauh. Sampe gak ada yang tahu udah mati atau masih hidup.
We're friends. No more.
"Dika, boleh aku minta tolong?"tanya Andini ragu melalui sambungan teleponnya.
"Oh iya mbak, ada apa?"
"Motor aku barusan mati mesin terus ini akhirnya nemu bengkel, tapi bengkelnya udah mau tutup. Bisa dititipin sih motornya, tapi baru dibenerin besok pagi. Sedangkan ini sekarang aku bingung cara buat nyampe ke tempat praktik. Tau sendiri jam segini ga ada kendaraan umum di sini." Andini menarik nafas lelah, "Boleh aku minta tolong jemput?"
"Mbak dimana? Aku jemput ya mbak."
"Aku udah di jalan raya yang hampir di gang tempat praktik kita, tapi aku ada di deket spbu pertama kanan jalan kalau dari sana."
"Ya ampun, mbak! Itu masih jauh banget. Bentar ya, Dika jemput. Mbak tunggu di SPBU aja ya, jangan kemana-mana, cari tempat yang terang. Disitu rawan loh mbak ya. Ini bukan di kota."
"Iya, Dik. Makasi ya. Kamu hati-hati."
Sambungan telepon mereka terputus. Andini menunggu di tempat sesuai yang dikatakan Dika. Motor mio nya sudah ia titipkan ke bengkel di sebelah SPBU, rencana besok siang pas kegiatan agak longgar dia berencana buat ambil. Dia menyesal mengapa tadi ngeyel bawa motor sendiri. Padahal kalau dia bareng rombongan pasti ini gak bakalan terjadi. Mau bagaimana lagi, dia gak mau banget untuk bareng manusia tengil super menyebalkan bernama Genta. Manusia yang berumur setahun lebih muda darinya tapi sok dewasa sok tua dan sok mengerti apa aja. Eh kemarin ditegur dikit aja udah baper gak ketulungan. Benar benar menyesal pernah suka sama manusia tengil satu itu. Eh kok jadi curhat?
"Ayo balik!" sebuah suara menginterupsi Andini yang sedang melamun.
"Eh? Kok kamu sih?! Dika mana?!"teriak Andini sebal mendongak melihat seseorang yang datang menjemputnya.
Genta hanya menaik turunkan alisnya sambil bersedekap memperhatikan Andini. Ya, yang datang adalah seorang Genta.
"Ih aku kan minta tolongnya ke Dika, bukan kamu."
"Balik ga? Kalau gak ya udah, aku balik sendiri."kata Genta santai sambil bersiap berjalan ke sepeda motor dan mulai menyalakannya.
"Eh eh,"Andini mulai bingung. "Ya udah deh."pasrahnya.
***
"Dika, kemana kunyuk?"tanya Andini ketika mereka sudah berada di atas motor Genta.
"Aku suruh beli aqua gelas."
"Kan pasti akal-akalan kamu ini."
"Diem kenapa sih?!"bentak Genta dan Andini seketika diam.
***
"Aku mau ngomong,"bisik Genta sambil menarik paksa tangan Andini yang sedang berdiskusi dengan anggota divisinya.
"Apa sih?! Aku lagi urusin pembagian sertifikat besok."Andini memberungut kesal.
"Udah, gak usah sok sibuk. Aku tau, semua udah beres, tinggal pisah-pisahin ke kelompok masing-masing. Sambil merem juga bisa kali, Din. Ini lebih penting."
"Apa sih! Aku mau per.."
"Kenapa kemarin minta jemput Dika? Bukan aku?"potong Genta.
"Ya emangnya kenapa? Aku ga ada hak buat minta jemput kamu dan kamu juga gak ada kewajiban buat selalu jemput aku."
"Iya, tapi kenapa, Dini?!"
"Kan udah aku jawab, Genta. I don't have any rights to asking you to picking me up. We're nothing, Genta. We're just friend. No more, and it goes the same to Dika. Jadi kamu ga ada hak nanyain aku kayak gini."tutur Dini panjang lebar. Dia mengepalkan tangannya hebat. Rasa sesak perlahan menjalar ke seluruh dadanya. Tapi ia berusaha menahan kuat agar sesak ini tak berubah menjadi air mata. Karena dia tahu, Genta bukanlah miliknya dan dia bukan milik Genta. Andini dan Genta hanya bersahabat. Sahabat yang kini semakin renggang karena Genta yang sudah memiliki pasangan dan Genta yang semakin berubah dari sudut pandang Andini. Andini hanya merasa gelar sahabat yang ia taruh pada Genta sepertinya akan ia ganti menjadi hanya sebatas teman. Teman biasa. Teman yang tidak memiliki kepentingan untuk mencampuri urusan masing-masing.
Genta mengerang frustasi, ia hanya tak tahu bagaimana ia menghadapi situasi ini. Ia merasa Andini semakin jauh. Jauh hingga ia terlalu susah untuk menggapainya. Semenjak kehadiran Sheryl, memang dia lebih sering bersama Sheryl, tetapi entah kenapa ia tak pernah bisa berhenti memikirkan Andini. Andini masih menjadi sahabatnya dan ia tak mau status itu berubah.
"Din, kita masih sahabatan kan?"
Andini terdiam. Dia menghela nafas panjang, "Ta, makasih selama ini. Sorry selalu ngerepotin. Mulai sekarang, jaga baik-baik Sheryl nya ya. Aku ke anak-anak dulu."
Obrolan sore ini.
Obrolan sore ini adalah ketika kita duduk bersama di ruang depan. Kau bercerita sesuatu yang tak pernah kau ceritakan kepada siapapun. Jangan tanya merasa se-spesial apa aku saat itu. Special, really special. as friend 🙃
Dan ketika akhirnya, dia bercerita sebangga apa dia, karena kekasih hatinya mampu membutikan ke ibunya bahwa dia juga bukanlah wanita yang hanya wanita pengangguran.
Hahahahhaha
sakit.
Senja itu datang untuk menertawakanmu. Menertawakan kebodohanmu.
Menertawakan kenangan yang selalu kau kenang, padahal dia melupakan.
Menertawakan kebersamaan yg selalu tercipta denganmu, padahal dia tak ingin mengingat.
Kau hanya pemanis di hidupnya dan bukanlah sebuah prioritas.
Ada seseorang yang menjadi seluruh prioritasnya dan itu bukan kau
In the name of friend, may I love you?
In the name of friend, may I kiss you?
In the name of friend, may I hug you?
badly.
Jika laut begitu memuja, bolehkah aku bersanding dengannya?
He
He, who always called you reckelessly but very lovely. He, who always making your heart hurt badly. He, who never how deeply is your love.
Your september that always be your september. Thank you for not knowing me as deep as I know you.
The moment I cherish
Loving myself?
Ketika kau bertanya, apakah kau benar benar sudah mencintai dirimu sendiri. Sometimes, you will answer 'yes' and the other time you will answer 'no' with those pathetic face. Ketika dengan percaya diriku, aku merasa I love this self, tapi hanya dengan beberapa kata-kata membuat segala apa yang ku lakukan adalah sebuah kesia-siaan. Aku kecewa, aku kecewa dengan diriku sendiri. Aku kecewa berubah menjadi seperti ini, jika pun akhirnya juga begini. Sepertinya memlihi mencintai diri sendiri bukanlah hal yang tepat untuk ku lakukan. Jadi, aku hanya akan menerima diriku yang kurang dari baik ini untuk membantuku hidup.
Teruntuk kamu yang pernah menatap senja bersamaku di sini, kapan kita mengulang lagi?
Aku pergi dan aku tak tahu apakah aku akan kembali. Terlalu banyak sakit hati yang berujung akan lelahnya hatiku menghadapi segala pesaķitan ini. Banyak yang bilang, jangan takut untuk memulai kisah, tapi nyatanya aku terlalu takut untuk memulainya. Aku terlalu takut memulainya lagi dari awal. Biar aku jadi pengecut.
“Tak sadarkah kau? Aku yang masih kerap bertahan di segala baik dan burukmu ini, adalah bukti tertinggi dari arti kata setia itu sendiri?”
— (via mbeeer)
Tapi dia masih saja menganggap bahwa semua itu hanya sebuah usaha terbaik untuk menjadi sahabat terbaik.
The Art of Pretending
Pada akhirnya, kita akan berpura-pura.
Kamu berpura-pura tidak mengenalku dan aku akan berpura-pura kalau kita tidak pernah saling jatuh cinta.
Semua hal tentangku akan kau lupakan seakan-akan kau tidak pernah tahu itu, seperti novel favoritku, ataupun tanggal lahirku.
Aku juga akan melakukan hal yang sama, berpura-pura tidak pernah tahu tentang keinginan terbesar dalam hidupmu ataupun rasa tidak sukamu terhadap kuning telur.
Kamu akan berpura-pura kalau apa yang dulu kita punya hanyalah ilusi.
Sedangkan aku akan berpura-pura kalau aku tidak merindukan ekspresi bodohmu itu.
Jika nanti kita berpapasan di jalan, aku akan berpura-pura sedang melihat ke arah lain dan kamu akan berpura-pura sedang sibuk dengan ponselmu.
Saat temanmu menanyakan kabarku, kamu akan berpura-pura kalau kamu tidak mendengar pertanyaan itu. Kamu akan berbohong kepada dirimu sendiri dengan meyakinkan hatimu bahwa aku bukanlah yang selama ini kamu cari.
Dan tentu saja, aku akan berpura-pura bahwa aku lebih baik tanpa adanya dirimu di hari-hariku, meskipun sebenarnya aku akan melakukan apa saja agar bisa mendapat tambahan satu hari berada di pelukanmu.
Seperti itulah kita akan berpura-pura,
berpura-pura sudah baik-baik saja, berpura-pura sudah move on.
Dua hati yang sebenarnya (masih) saling mencintai,
malah berpura-pura,
seakan kita tidak ditakdirkan untuk bersama.
A.W.
Jakarta, 14 Juni 2018.
Senja?
Jangan tanya darimana aku menyukainya. Jangan tanya seberapa besar senja selalu mengingatkanku padamu. Ratusan senja yang kita nikmati bersama sepertinya tak cukup membuatmu membuatmu menatapku. Apa perlu ribuan senja untuk membuatmu berpaling kepadaku? Aku pergi, tentu saja untuk melupakanmu. Tapi apa? Lagi lagi kau membuatku menginginkanmu lagi dan lagi. Aku lelah, aku lemah, aku sudah tak tahu lagi apa yang harus aku lalui. Apa aku harus membenci senja? Mungkin saja aku bisa membencimu. Tapi bagaimana? Senja selalu datang, dan aku tak pernah berhenti merasa takjub dengan salah satu kuasa Tuhan itu.
“Pergilah. Aku mohon. Kau telah melepas aku kan? Lantas mengapa kau masih menggenggam hatiku? Berhentilah menjadi seseorang yang selalu hadir untukku. Tak tahukah kau aku tersiksa di setiap kau ada? Jika memang keputusanmu adalah pergi, maka pergilah dan jangan kembali lagi.”
— (via mbeeer)
Aku pernah memilih pergi karena aku merasa dengan kepergianku, aku dapat membuatnya lebih bahagia.
Kamu pernah? https://www.instagram.com/p/BzKKz_ZF9lO/?igshid=5c3jpn8dxkrk