"Aku takut, lebih takut dengan diriku sendiri daripada orang lain. Bohong jika aku merasa baik saja,
he wasn't even looking at me and he found me
RMH
AnasAbdin

JBB: An Artblog!

Origami Around
Keni
Jules of Nature
Sade Olutola
DEAR READER

ellievsbear

roma★

#extradirty
art blog(derogatory)

Kiana Khansmith
wallacepolsom
Monterey Bay Aquarium
NASA
Today's Document
Xuebing Du
styofa doing anything
seen from Italy
seen from United States
seen from Russia

seen from South Africa
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Lithuania
seen from United States
seen from Greece
seen from France

seen from Malaysia

seen from Sri Lanka

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Canada

seen from Malaysia

seen from Canada
seen from Malaysia
@dazeeearl
"Aku takut, lebih takut dengan diriku sendiri daripada orang lain. Bohong jika aku merasa baik saja,
"Kau tau re? Kadang, hidup memang tak adil. Banyak orang kesakitan, walau di sisi lain ada yang berbahagia tertawa. Kau pernah iri?"
"Tidak, kenapa aku harus iri? Aku tahu, dibalik senyuman mereka, belum tentu kebahagiaan tersirat disana. Mereka bisa saja berbohong. Kau tahu apa perbedaan kita dan mereka?"
Ia menggeleng sembari mengaduk minumannya pelan,
"Kita banyak bercerita, sedang mereka diam. Mereka mempunyai kehidupannya sendiri, kitapun begitu,"
Sekarang aku mulai belajar untuk menghargai hidup. Hidupku bukan sekedar cinta mencintai, walau memang hakikat segala hal, bermuara dari cinta.
Cukup ufuk sana yang menyimpan segala hal tentang kita yang pernah bercengkrama berdua, toh saat itu juga tak akan pernah mudah kulupakan.
Hei, aku tak mudah melupakan kenangan kecil. Berbeda sepertimu yang mungkin tak pernah menganggap kenangan kita berharga.
Makannya, aku lebih menyadari ketika akhirnya aku bukan apa-apa di matamu.
Aku hanya wanita pemarah yang memenuhi ruang chat mu dengan omelan tak bermutu.
Jadi sekarang, aku memilih mundur. Hidupku lebih berharga daripada kenangan kita.
Ah, terimakasih untuk beberapa tahun ini
Gza dan malam kenangan.
"Aku suka kamu,"
Sesaat, hatiku berhenti. Mendapatkan sebuah kesempatan untuk mendengar suaranya saja sudah membuat senyumku tak berhenti, apalagi mendengar suara beratnya menggemakan kalimat yang akan menjadi kalimat keramatku?
"Apasih, kamu bisa aja," Elakku. Entah apa ini firasat, sepersekian detik ini aku hanya bisa mengekspresikan semuanya lewat senyum yang tak akan pernah bisa ia lihat langsung.
Hanya berselang detik, ia terkekeh. Hatiku mengeras, untung saja kami hanya berinteraksi lewat ponsel genggam. Jika tidak, mungkin ia akan melihat air mata yang tak diundang ini keluar.
"Bercanda ya ampun!" Kekehannya terdengar jelas. Ya, ia seperti benar-benar menikmati bercandaannya itu sekarang.
"Haha, udah bisa ketebak sih! Aku juga tau kamu becanda," Ujarku, turut tertawa dalam kepedihan tak terhingga.
"Eh, jangan bilang kamu baper?" Suaranya di sebrang berubah panik
"Engga, santai aja... Aku bukan cewe baperan kok," Elakku lagi.
Tak lama, aku menutup ponsel, menandakan bahwa percakapan malam ini usai sudah.
Perkataan Gza barusan, memberiku keyakinan. Jangan pernah berharap sedikitpun kepada orang manusia, bahkan kepada sahabatmu sendiri.
Ah, terimakasih Gza, setidaknya bercandaanmu malam tadi, akan selalu ku ingat hingga nanti.
RanaArgas
Part. 1
Aku mencintai seseorang, bukan karena parasnya yang menarik. Bukan pula karena hatinya yang lembut selembut kapas. Entah, mengapa melihatnya saja bahkan membuatku ingin tersenyum. Tersenyum karena dirinya yang selalu bahagia, tersenyum karena memang ia layak diberikan senyuman indah.
Sore itu, aku melihatnya lagi. Seorang wanita berkulit sawo manis sedang tersenyum bersama hayalannya. Sendirian ia duduk, membuatku sedikit tertarik untuk mendekatinya. Ah, tapi aku tak ingin menjadi laki-laki pengecut karena mengganggu seorang perempuan yang sedang duduk sendirian.
"Hai Gas!"
Suara ceria itu perlahan mendekatiku, membuat jantungku berdebar tak keruan, "Hai kak," Sapaku malu-malu.
Ah, lihatlah rambut hitam ikalnya itu terbang pelan tertiup angin yang perlahan berhembus.
"Kamu ngapain deh berdiri disini? Nunggu orang?"
"Enggak kak, cuma mau liat taman aja. Kakak, ngapain sendirian disana?"
"Lah, kan emang biasanya sendirian. Kamu lupa?"
Aku terkekeh kecil. Senyum wanita itu belum menghilang dan berubah menjadi kerucutan kecil di mulutnya.
Mengenal wanita ini, membuatku tersadar bahwa cinta bisa datang kepada siapapun yang menginginkannya. Bahkan aku tak menyadari bahwa keputusanku mencintainya, bisa membawa banyak akibat untukku, maupun untuknya,"