“Mi, nanti nggak usah nyalain alarm buat sahur nggak apa-apa… Biar Kemi nggak bangun,” begitu pesan saya pada Rizqa sebelum ia pergi tidur, “Malem ini kayaknya aku nggak tidur sampai pagi. Nanti aku yang bangunin.” Sambung saya. Penuh percaya diri.
“Beneran?” Nada pertanyaan istri saya penuh keraguan. Ia baru saja membetulkan posisi tidur bayi kami yang baru berusia tujuh bulan.
“Iya, beneran.” Jawab saya, “Soalnya besok aku ada ‘deadline’ kerjaan yang harus beres. Mau nggak mau harus begadang.” Saya menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
Rizqa pun mengangguk, “Oke!” Ujarnya, sebelum pergi tidur, tanpa alarm terpasang di telepon genggamnya.
Duduk di depan meja kerja, saya menyetel playlist begadang saya… dan mulai sibuk dengan diri sendiri.
Tak terasa, waktu sahur hampir tiba. 55 menit lagi menuju imsak. Dengan wajah yang terpapar cahaya dari layar komputer, saya tersenyum menang menyaksikan pekerjaan saya yang sudah selesai.
Saya berjalan ke kamar utama untuk membangunkan Rizqa. Tapi… melihat wajahnya yang tertidur lelap, saya jadi tak tega membangunkan istri saya. Kemudian pikiran itu datang—
Malam ini, saya akan membiarkan istri tidur sedikit lebih lama. Dan saya yang akan menyiapkan sahur untuk kami berdua.
Saya pun bergerak ke dapur, lalu mulai menyiapkan ini dan itu: Menghangatkan lauk dan sayur, membuat teh manis panas kesukaan istri saya, dan menyiapkan masing-masing tiga butir kurma di dua piring kecil.
Entah mengapa saya butuh waktu hingga hampir 30 menit untuk menyiapkan semua itu. Tetapi saya bangga melihat apa yang sudah saya siapkan di atas meja makan.
Ini waktunya memberi Rizqa kejutan. Pikir saya.
“Mi, bangun, 25 menit lagi imsak,” ujar saya perlahan.
Rizqa segera terbangun dengan ekspresi yang kaget, “Hah, 25 menit lagi?” Tanyanya, “Aku belum nyiapin apa-apa! Kok, baru ngebangunin?”
Saya terseyum. “Tenaaang,” jawab saya penuh percaya diri, “Aku udah siapin semuanya dan tinggal makan aja.”
Mendengar jawaban saya, air muka Rizqa langsung berubah. Ia tersenyum dan memeluk saya. “Makasih ya, Sayang…” Ujarnya.
Tak lama, kami berjalan berdua ke arah ruang makan. Langkah-langkah saya begitu ringan, seperti sedang menari.
Rizqa tersenyum menyaksikan apa yang sudah saya siapkan di atas meja makan. Menatap saya dengan penuh cinta. Saya membalas senyumnya dengan penuh percaya diri, seolah ingin mengatakan kepadanya, ‘Siapa dulu dong…?’
Tetapi, seperti mengikuti sesuatu yang diperintahkan instingnya, Rizqa kemudian bergegas ke arah magic jar di sudut ruangan—
“Nah, kan,” katanya setelah membuka penutup magic jar, “Lupa masak nasi…” Sambungnya sambil tertawa.
Ah, sadarlah wahai suami-suami Indonesia… Sehebat apapun usaha yang dilakukan seorang suami, semuanya tak akan sempurna tanpa peran istri.
-_-“
Melbourne, 15 Ramadhan 1436 H
#30HariMencariCintaNya #SahurKelimabelas