Lupa adalah sifat bawaan manusia. Namun, adakalanya, lupa berbeda tipis dengan tidak tahu diri. Contohnya kita, berangan-angan amat panjang, tetapi berdoa keterlaluan pendek.
noise dept.

Kaledo Art

No title available
Misplaced Lens Cap

oozey mess

blake kathryn

titsay

⁂
sheepfilms
🪼
taylor price
Not today Justin

pixel skylines
Keni
Monterey Bay Aquarium
d e v o n
Xuebing Du
Lint Roller? I Barely Know Her
dirt enthusiast
Show & Tell

seen from Mexico
seen from Spain

seen from Singapore
seen from Romania

seen from Netherlands

seen from T1

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Hong Kong SAR China

seen from Vietnam
seen from T1

seen from Mexico
seen from Slovenia

seen from Australia
seen from Türkiye
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Spain
seen from United States

seen from United Kingdom
@deadandnotburied
Lupa adalah sifat bawaan manusia. Namun, adakalanya, lupa berbeda tipis dengan tidak tahu diri. Contohnya kita, berangan-angan amat panjang, tetapi berdoa keterlaluan pendek.
Gelas yang Tak Pernah Terisi Penuh
Saat ini, sedang hangat-hangatnya perbincangan perceraian pasangan artis yang menjadi kiblat hubungan keluarga—istilahnya, "family goal". Tak sedikit warganet yang patah hati, bahkan hingga mengungkapkan ketidaksetujuan atas perpisahan tersebut.
Ada yang tak disadari, bahwa media sosial berhasil membungkus seseorang seapik mungkin, tanpa cacat dan cela. Padahal, kehidupan yang kita sama-sama jalani tak demikian. Ketidaksempurnaan ini yang kemudian tak pernah kita akui, hingga kita sibuk mengejar imej sempurna yang ternyata selalu berakhir kekecewaan.
Media sosial memang wadah untuk membentuk citra diri. Tentunya kita ingin dipandang sebaik mungkin, maka dari itu kita hanya menampilkan sisi yang pantas dikonsumsi publik. Namun, kita sering lupa, bahwa media sosial tak lepas dari kepalsuan. Di dunia ini, kita memiliki banyak wajah, yang kita tampilkan saat bersama keluarga, sahabat, teman-teman, guru, bahkan saat kita sendirian. Semuanya berbeda.
Kita sering diperintah untuk mengejar kesempurnaan, tetapi kita jarang diajarkan bagaimana berteman dengan ketidaksempurnaan. Jangan kita jadikan segala kekurangan yang kita miliki adalah alasan memusuhi diri sendiri.
Kata orang, kita terlalu keras kepala, tetapi sebenarnya kita sedang belajar teguh pada apa yang menjadi prinsip. Kata orang, berat dan tinggi badan kita tak ideal, tetapi sebenarnya tubuh kita dalam keadaan sehat dan kita bahagia dengan itu. Kata orang, kata orang, kata orang, hingga kita seolah-olah tuli dengan suara hati sendiri.
Jika ada yang berbisik-bisik tentang kita, cukuplah menjadi telinga yang bersedia menyimak, tanpa menjadi mulut yang melahap dan menelan bulat-bulat.
Berbesar hatilah untuk menyapa garis-garis luka yang bersembunyi di balik topeng kita. Maafkan diri sendiri yang sudah terlalu keras padanya. Jika kita tak bisa menerima segala ketidaksempurnaan diri, kita akan selamanya merasa tak utuh meski sudah berusaha mengisinya penuh.
-
Btari J. Asmaralaya
Yang hadir, belum tentu berakhir sebagai takdir.
Tok-Tok-Tok, Adakah Tuhan?
Tidak ada kemenangan hari ini
di balik lipatan bacaan ayat suci.
Tidak ada kemenangan hari ini
di hampar sajadah langgar.
Tidak ada kemenangan hari ini
di sela-sela untai tasbih.
Tidak ada kemenangan hari ini
di pejam sepertiga malam.
Tidak kutemukan Tuhan
pada belah dada yang menyebut ini Hari Kemenangan.
Jika hari ini sungguh-sungguh Hari Kemenangan,
maka Tuhan harus utuh tak mengenal hari, tanggal, dan bulan!
-
Btari J. Asmaralaya
(ditulis pada Hari Raya Idul Fitri, 2019)
Cemburu itu api. Hati-hati. Semakin dalam menyelidiki, bersiaplah tersakiti.
Buta Berkepala Batu
Tirani mati, meninggalkan gemuruh reformasi.
Habibie pergi, reformasi dikebiri semakin menjadi.
Yang paling sering melantangkan NKRI harga mati
bisa jadi yang juga membinasakan hingga tak ada arti.
.
Prematurnya sikap pemindahan ibukota,
saling oper bola panas utang Lapindo,
serta hantu Domein Verklaring atas reforma agraria;
semuanya sama—budak politik kepentingan penuh libido.
.
Sungguh, ini bunuh diri terencana!
Sebab karhutla, entah sesak menyiksa
atau memang kita sudah terlempar ke neraka?
Ah, urusan ini tak lebih penting dibanding rupa wajah di sebuah majalah.
.
Pasal demi pasal amat lentur membanting timbang keadilan.
Tahukah kau judul lagu pengantar tidur para anggota dewan??
Ialah suara oposisi yang memenuhi gedung parlemen.
Demokrasi belumlah mati—ia lestari sebagai kebohongan laten!
.
Betapa negeri ini sudah buta,
berkepala batu pula.
Lengkap sudah derita.
Namun, bukan menjadi alasan kita sengaja tutup mata.
.
-
Btari J. Asmaralaya
Dengan kekosongan yang kamu rasakan, keterisian yang sedikit justru akan membuatmu bersyukur. Dibanding bahagia, bersyukur akan membuatmu jauh lebih tenang karena kamu berhasil menerima jalan takdir-Nya.
konselorku.
Negeri Ini Sedang Diperkosa
/1/
Negeri ini sedang diperkosa!
Bahaya, bahaya!
.
/2/
Negeri ini sedang diperkosa;
ditindih politik yang licik,
digigit hukum yang sakit,
ditelanjangi ekonomi yang penuh birahi,
dianal sosial yang amoral,
dilumat budaya sampai tak berdaya!
.
/3/
Negeri ini sedang diperkosa,
dan kau masih mengharamkan sistem pemerintahan yang katamu produk kafir?
Pergilah ke psikiater.
Jangan hanya pergi ke ulama, pastur, biksu, atau rumah ibadah! Jangan!
Yang negeri ini butuhkan adalah akal sehat,
bukan nafsu memperkosa dengan dalih mabuk akan tuhan dan agama.
.
/4/
Negeri ini sedang diperkosa,
dan kau masih menuduh negeri ini dibangkitkan ideologi yang katamu biadab?
Mulut senapan sama sekali tidak mempan untuk menyebarluaskan pembodohan.
Mereka memang bisa mengangkangi perpustakaan jalanan, menyetubuhi berita harian, dan menidurkan sejarah,
tetapi tidak dengan pengetahuan.
.
/5/
Ketika kau tahu negeri ini sedang diperkosa,
lawan! Bicara!
Bicaralah, tentang rayuan pulau-pulau palsu.
Bicaralah, tentang petani yang dibelenggu semen dan bandara.
Bicaralah, tentang lahan komunal yang berganti menjadi lahan privat milik pemodal.
Bicaralah! Sebelum semua ruang diukur dengan uang.
.
/6/
Jangan teriak "NKRI harga mati",
bila kau masih mendapati
agama dipolitisasi,
kepentingan berujung privatisasi,
keadilan bagaikan lamunan basi.
Nyatanya, negeri ini harga korporasi sampai mati.
.
.
.
*) sebelumnya, puisi ini pernah dipublikasikan di linimasa Instagram, namun kuhapus dengan alasan personal. pada awalnya, judul puisi ini adalah “Negeri Ini Telah Diperkosa”, namun ada kawan yang memberi komentar bahwa realitanya ‘negeri ini’ sedang dan masih diperkosa. komentar tersebut kuanggap sebagai sebuah masukan berharga. terima kasih, rezy.
-
Btari J. Asmaralaya
kamu: sepi yang semayam di hati, juga gaduh yang ribut di kepala.
Btari J. Asmaralaya
Metafora
/1/
seorang lelaki asing
diam-diam membelah puisinya untuk ibu.
.
/2/
seorang anak
menjatuhkan hati untuk kekasihnya
yang kemudian meleset ia tangkap
—lenyap.
.
/3/
maut memang keniscayaan,
namun hidup tanpa bersamamu penuh dengan ketidakpastian.
.
/4/
kita hanya sepasang manusia yang terhubung oleh langit
—metafora yang menjembatani antara kemustahilan dan keinginanku
memilikimu lebih lama lagi.
.
-
Btari J. Asmaralaya
“aku pikir ketika zaman semakin canggih seperti sekarang, yang semakin mahal adalah teknologi. tapi aku salah. semakin canggih zaman, yang semakin mahal ternyata hanya satu: adab.”
— ©nailymakarima
“✨ Reasons to Keep Breathing ✨ 1. Falling deep into oblivion is scary. Feeling desolated in the void is scary. There’s doom, and there’s torment, and helplessness in this place but you are not completely alone. You are alone because the people who are in here also feel alone too and it hurts to reach out to anyone when all you want to do is to kill yourself. But everyone here also wants to kill themselves, and maybe that’s a reason to persevere. Maybe that’s a reason to share stories, struggles, and hardships in the darkness that we’re living in so that maybe someday we could be each other’s stars. 2. You are someone’s moonlight. 3. You are breathing to keep someone breathing. 4. Books, films, and works of art are your lanterns in moments of blackness to find what makes you loveable than you already are. What triggers your imagination for living can be what triggers your protection from dying, and you are your own superhero in your life’s story, and it’s not over until you beat your villains. 5. Warm hugs can feel warmer in the dimness of depression. 6. You are a warrior. You are a champion for life. And you are stronger than the infinite sadness that you feel because depression is not what makes you, you. You are the reason for the smiles of those who smile for you. You are the reason for the hope of those who hope the best for you. You are the reason for the love of those who love you for the survivor that you are. Keep on fighting. Your biology is not your destiny. You are beautiful for surviving the abyss. 7. Gratitude is a light that reaches the broken parts of you that the darkness cannot reach. Be grateful for everything that keeps you alive. Be grateful for everything that has kept you from leaving this earthly existence. Sometimes existence can be wonderful when the world feels safer, softer, and a better place to belong. 8. Suicide can be postponed for tomorrow, next year or the unknown future. What matters is that you choose life today. What matters is that you choose life for as long as you can and for as long as your heart is still beating, feeling, and loving. 9. This life will pass like everything else that prevents you from truly appreciating it. Make your life worth the memory. Make your life worth the breathing. 10. Recovery is possible, and so much is waiting for you to get better. Happiness is waiting for you. Peacefulness is waiting for you. Adventure is waiting for you, and the waves of all the beaches on this planet feel alive just by the thought of kissing your feet. You deserve to live a life that feels possible again.”
— juansen dizon, Reasons to Keep Breathing
Di Ujung Jurang Neraka
/1/
Negeri ini di ujung jurang neraka.
Pergunjingan partai hitam-merah
membakar akal sehat, mengabu sakit jiwa.
Kita sedang melihat kapitalis birokrat terbahak-bahak sampai tersedak.
/2/
Negeri ini di ujung jurang neraka.
Rasialisme dan permusuhan kelompok agama
terik menyengat ubun-ubun kepala.
Kita sedang melihat langgengnya gelanggang neo-imperialisme: adu domba.
/3/
Negeri ini di ujung jurang neraka.
Berita politik dan mahasiswa yang mudah teperdaya
mendidihkan derita rakyat miskin pelosok desa.
Kita sedang melihat mafia berotak dangkal membantai pemuda yang mengaku cerdasnya mahasegala.
/4/
Negeri ini di ujung jurang neraka.
Kita adalah kerumunan budak setan;
merahasiakan sejarah, mengencingi pahlawan,
memuja penjahat kemanusiaan, melafazkan tipuan "kemerdekaan".
/5/
Negeri ini di ujung jurang neraka;
tak akan pernah seteduh surga
yang digadang-gadang di rumah ibadah atau bundaran ibukota,
jika kita masih saling tuduh dan membaca dunia melalui kacamata kuda.
-
Btari J. Asmaralaya
Engkau ibarat khamr, menutupi akal, hanya saja aku harap tak haramkan dirimu dariku
Syaikh Ismail Farros (via mandalawangi)
Tujuh Alasan yang Membuatku Sadar Kalau Aku Mencintaimu
1. Kita sering bertengkar karena hal-hal kecil, tetapi kita hadapi dengan sama-sama berbesar hati. Semisal aku meletakkan handuk sembarangan di ranjang, kamu tidak protes apapun pada hari itu, tetapi kamu lebih memilih menonton televisi dari sofa dibanding bergabung denganku. Lalu aku menukas, “Ih, sini! Aku kesepian.” Tetapi kamu hanya tertawa jenaka dan tidak beranjak pindah sesenti pun. Atau semisal kamu ketiduran saat melipat pakaian dan ketika kamu bersiap hendak bekerja, kamu mendapati tidak ada satu pun kemejamu tersisa di lemari. Saat itu juga kamu terbirit-birit menghampiriku yang tengah mendadar telur, lantas menuduhku, “Sumpah! Mas benar ketiduran kemarin, bukannya enggak mau ngelipat baju.. Kamu umpetin di mana, Dek, baju-baju Mas?”
2. Kamu selalu menepati janji, bahkan pada sesuatu yang remeh temeh sekalipun, seperti saat kita iseng bermain tebak-tebakan, menang ataukah kalah Luffy bertempur dengan bajak laut di episode 45 One Piece. "Kalah! Luffy itu terlalu naif," katamu. "Kalau sampai menang, kamu belikan aku es timun, ya!" balasku, dan ternyata tebakanmu salah. Kekalahanmu dalam hal taruhan ketika itu tidak melukai egomu sebagai lelaki. Katamu, justru pengakuan atas kekalahan membuatmu merasa sebagai sebenar-benarnya lelaki.
3. Menjadi lelaki tidak pula membuatmu malu untuk menangis di depanku. Dua kali kamu menitikkan air mata, di saat yang sama pula aku sedang bersamamu dan kamu tidak sungkan untuk memelukku lebih dulu untuk menumpahkan kegelisahan pada pundakku. Pertama karena wafatnya eyang putrimu, kedua karena akhir film Logan.
4. Wajahmu selalu panik ketika kita terbangun di menit-menit terakhir sebelum jadwal azan subuh berkumandang. Kamu hampir ketinggalan salat berjamaah di masjid, sebab aku juga tak sengaja melewatkan alarm kita. Seraya menarik selimut yang melapisi tubuhku, kamu menukas, “Aduh, Dek, bangun. Mas mau siap-siap dulu. Jangan tidur lagi.”
5. Ketika kamu menemukan arloji yang masih berfungsi di laci mejaku, namun tidak pernah kukenakan, kamu menimpalinya dengan ringan—seringan menyuruhku membeli garam di warung, “Lho, dipake aja. Nanti mubazir.” Aku malah bertanya, “Kamu enggak cemburu?” Dan kamu balas bertanya, “Kok cemburu?” Aku yang masih tidak puas, juga penasaran, terus memburumu dengan pertanyaan, “Kenapa enggak cemburu?” Kau akhirnya mengakhiri insiden arloji itu dengan kalimat yang hingga kini masih kuingat jelas, “Mas cemburu kalau dia datang lagi sebagai laki-laki dan meminta kamu. Nah, ada lagi enggak barang yang enggak kamu pakai hanya karena dikasih mantan? Bagus, lho, Dek. Kamu enggak perlu add to cart di Shopee lagi, uangnya bisa ditabung.”
6. Di kantor, kamu lebih memilih pekerjaanmu dibanding mendengarkan ceritaku tentang mesin cuci yang tiba-tiba tidak bisa digunakan untuk membilas. Yang aku dengar darimu, “Dek, tutup teleponnya dulu, ya? Mas lagi rapat.” Kamu pun tidak meneleponku kembali hingga jam kerjamu usai. Menjelang magrib, kuterima satu panggilan darimu, “Tadi mesin cuci kenapa?” Dari kejauhan, aku berdecak dan menukas, “Salamnya mana?” Kamu pun menyahut polos yang membuatku menahan tawa, “Assalaamu’alaykum, Dek. Mesin cucinya rusak atau gimana?”
7. Kini, kamu lebih memilih membangun rumah di surga-Nya dibanding melanjutkan bangunan rumah tangga yang penuh kesederhanaan bersamaku. Bersabarlah, aku sedang menyiapkan diri untuk waktu itu—ketika aku kembali mengenalmu di dunia yang berbeda.
-
Btari J. Asmaralaya
Tangisan Pertamaku
Karya: @vinyo
Aku kira, tangisan pertama adalah tangisan bahagia. Tangisan ketika aku keluar dari rahim ibuku. Ketika ayahku berharap cemas di depan pintu kamar rumah sakit. Ketika dokter dan suster berjuang membantu proses persalinan. Saat ibuku bertaruh nyawa vaginanya dirobek oleh badan mungilku. Tak bisa kubayangkan betapa perihnya itu, ibu.
Ibu, aku sungguh berterima kasih atas pengorbananmu bertaruh nyawa atasku. Tak ada yang bisa menggantikan kebaikanmu kepadaku. Teruntuk ayah, meskipun kita sering bertengkar tak bertegur sapa, tapi aku diam-diam bangga melihat engkau berpeluh keringat mencari uang agar dapur tetap mengebul. Sebenarnya aku mungkin tak pantas mencurahkan apa yang aku rasakan selama hampir 15 tahun belakangan ini.
Kekerasan dalam rumah tangga, itu sudah menjadi makanan bagiku. Lebih sering terlihat dibandingkan dengan tontonan acara tv. Beranjak dewasa, aku sadar seharusnya adik- adik tak perlu melihat atau menerima kesusahan yang aku rasakan. Nyatanya, mereka harus jua merasakan itu. Aku kecewa, mengapa ayah dan ibu seperti ini.
Ini hanya curahan yang tak bisa dipendam seorang lelaki yang merasa dunia terlalu kejam padanya, ataukah dia yang terlalu lembek? Tak ada teman bercerita? Bukan aku tak mau bercerita, tetapi aku tahu setiap manusia punya kesusahan masing-masing. Berapa kali pemikiran tuk bunuh diri selalu terlintas, tetapi lagi dan lagi, adik-adik adalah alasan lelaki ini tetap hidup dan berusaha terus. Aku berusaha tak menyalahkan diriku, tetapi kerasnya hidup dan kegagalan yang aku dapatkan ya acapkali membuat aku kecewa atas diriku.
Jangan beritahu aku soal berdoa kepada Tuhan, soal beribadah dengan taat, soal kurangnya aku bersujud atau bersyukur kepada-Nya. Diam-diam aku selalu terbangun di sepertiga pagiku, melihat adik-adik tertidur pulas, lalu meneteskan air mata dan melipat tangan memohon doa pada-Nya. Bukan aku tak menghargai nasihat yang masuk ke kuping kanan dan kiriku, aku sudah sering menerima itu, kawanku.
Untuk pergi menemui psikiater itu juga butuh dana, dan aku berusaha keras agar bisa mewujudkan itu. Bukan untukku, tapi adik-adik. Agar mereka tumbuh dewasa tak dihantui trauma seperti aku. Aku tak perduli lagi atas hidupku. Aku hidup, tetapi jiwaku kosong. Mungkin sudah dilahap kegelapan jauh sebelum ini.
Ah, ini hanya curahan hati gila dari seorang pria yang tertekan dari segala sisi. Masalah tetaplah masalah, tak ada besar atau kecil. Jangan pernah membandingkan masalah. Terima kasih atas pendengar yang penuh empati.