Sebuah fenomena yang tidak berhenti, setiap kali ada public figure (re: selebritis, selebgram, intinya yang bergelut di dunia showbiz) terkena skandal perselingkuhan, maka banyak perempuan akan beramai-ramai membuat cuitan seolah semua laki-laki tidak dapat dipercaya.
Actually, saya sendiri heran dengan orang-orang yang masih menjadikan selebritas sebagai patokan kehidupan atau standar kehidupan, termasuk dalam urusan pernikahan. Padahal, sudah terlalu banyak hubungan pernikahan selebriti yang tidak berhasil. Jadi, kenapa masih dijadikan standar?
Jadi, kalau kecewa dan takut, ya sebenarnya itu karena kita salah melihat dan merujuk standar saja. Sangat banyak pernikahan yang langgeng, tapi karena yang baik-baik saja tidak akan menjadi berita, maka ketika yang buruk-buruk terus menjadi berita, seolah dunia ini dipenuhi dengan pernikahan yang dilakoni oleh mereka yang tidak bertanggung jawab dan lemah dalam berkomitmen.
Kalau kita fokus hanya pada manusia-nya saja, maka tekanan batin yang dialami biasanya lebih kuat. Kalau tujuan kita menikah untuk memiliki seseorang, menurut saya ini kesalahan besar, karena kalau orang itu terlepas dari genggaman itu yang membuat kita trauma. Saya setuju dengan tujuan pernikahan dalam agama saya, yaitu untuk ibadah. Jadi, menurut saya, ketika menikah, kita memilih seseorang untuk bersama karena ingin beribadah, jadi apakah dengan bersama orang itu bisa membuat kita mencapai tujuan itu atau tidak. Intinya, tujuannya adalah Tuhan. Karena tidak ada yang lebih besar daripada Tuhan. Manusia sangat takut kecewa, jadi semua hal selain Tuhan pasti berpotensi mengecewakan. Maka, tujuannya ya harus Tuhan. Kalau pasangan kita pada perjalanannya berubah pun, ada standar Tuhan yang kita pakai, dipertahankan atau harus diakhiri. Saya selalu akan percaya, kalau ini cara paling ampuh menekan rasa kecewa ke titik terendah. Berharap hanya kepada Tuhan.
Kita sama-sama memikul tanggung jawab masing-masing, kalau dia curang dalam pernikahan, dia yang berdosa, yang penting kita tetap berusaha untuk menjadi sebaik-baiknya hamba. Karena saya percaya itulah tujuan hidup sesuai ajaran Islam. Teori memang selalu mudah, kenyataan tentu tidak semudah membuat tulisan ini. Tapi, dengan memegang prinsip semacam ini selama menjalani hidup, seperti berteman dan menjadi seorang anak, sangat membantu untuk menekan rasa sakit. Karena manusia pada hakekatnya adalah ujian untuk satu sama lain. Jadi, tidak mungkin dalam pernikahan tidak ada badai. Hanya bagaimana kesiapan dan usaha setiap pasangan untuk melewati badai itu. Asal dua2nya mau berusaha, bukan hanya satu. InsyaAllah bisa melewati setiap badai.
Intinya, menurut saya jangan menjadikan manusia sebagai tujuan dan tumpuan harapan utama. Dan jangan berpatokan pada standar kehidupan yang dibuat manusia, apalagi selebritis, seandainya saja selebritis memang diciptakan sebagai tauladan, sayangnya mereka diciptakan sebagai penghibur di layar kaca, terlalu sulit untuk dijadikan tauladan apalagi dijadikan standar kebaikan, karena pada kenyataannya memang sulit mengambil tauladan dari kehidupan selebritis, mereka juga masih hidup, masih diuji. Ambil saja contoh dari kehidupan para orang shalih terutama para Nabi, dan kembali lagi pada ajaran Tuhan di kitab suci.
Note: Selalu reminder untuk diri sendiri yang paling utama













