Percakapan selepas senja tentang melepas cinta.
Angin pantai sore itu terasa lembut membelai tengkuk. Rambut sebahunya yang terurai seakan berdansa mengikuti hembusan angin. Gatal sekali aku ingin menyibak poninya yang sudah panjang itu, ingin menyelipkannya di balik telinga. Seperti biasa. Seperti dulu.
Tangannya mengukir inisial huruf kami berdua di atas pasir, yang cepat-cepat ia buyarkan kembali. Mungkin takut aku melihatnya. Mungkin takut jika aku menangkap sinyal yang salah darinya
Atau mungkin, dengan menghapusnya di atas pasir, ia juga sedang mencoba menghapusku dari hidupnya. Hatinya.
"Lima tahun bukan waktu yang sebentar ya, ternyata."
Kalimatnya memecah hening yang sejak 30 menit lalu tercipta di antara kami. Daguku kusandarkan pada lutut, satu tanganku sibuk bermain di atas pasir. Tanpa sadar aku mengukir inisial namaku dan namanya. Aku segera menghapusnya, berharap ia tidak melihat.
Aku takut perasaanku tergambar jelas di atas pasir ini. Perasaan yang sama selama lima tahun hari-hariku kuhabiskan dengannya. Perasaan yang, rasa-rasanya, hari ini akan bertemu akhirnya.
"Hmm," gumamku pelan, merasa harus ikut bersuara.
"Selama lima tahun... kamu bahagia?"
Jariku berhenti berlari di atas pasir. Ada detak yang tidak biasa di dalam dadaku saat mendengarnya bertanya. Sebuah pertanyaan yang terdengar retoris, sekaligus terasa penuh harapan akan jawaban yang menyenangkan.
"Kamu... bahagia sama aku?"
Aku meluruskan kakiku, akhirnya menatap lurus-lurus ke arah lautan luas. Mataku menatap air laut yang mulai keemasan, memantulkan jingga milik senja.
Aku bisa merasakan ia mengangguk pelan. Mataku mengerjap menatap ombak kecil yang bergulung meraih bibir pantai. Ada getar samar dalam suaraku yang mungkin tidak berhasil lelaki ini tangkap.
"Aku juga. Bahagia. Jauh, jauh melebihi yang aku kira. Jenis bahagia yang kayaknya, cuma bisa aku rasakan sekali seumur hidupku."
"Dan itu semua aku rasakan waktu sama kamu."
Pernyataannya membuat jantungku nyaris meledak. Tidak ada yang tahu, tidak dia, tidak juga ikan di laut, bahwa ada sesuatu yang berdentum keras sejak tadi memukul-mukul dadaku.
Gabungan dari harap, bahagia, takut, cemas.
Ombak besar tiba-tiba datang menghampiri, berbenturan dengan karang di sisi pantai yang agak jauh dari tempat kami duduk. Suaranya terdengar bergaung menyentuh indera pendengaranku.
Aku menelan ludah, berusaha fokus tetap bicara meski rasanya pita suaraku terkunci. Aku meliriknya, sekilas memperhatikan ekspresinya.
Sekarang maupun dulu, aku selalu jatuh cinta di detik pertama.
Saat aku melihat fotonya dalam lembaran kertas lamaran kerja. Saat dia menengok dan tersenyum ketika mendengar suaraku memanggilnya. Saat air matanya menetes pasrah ketika sempat kulontarkan kata pisah.
"Sudah nggak ada yang bisa kita lakukan lagi..."
"Aku masih ingin berjuang, tapi aku sadar ini cuma akan nyakitin kita lebih jauh..."
"Di antara kita," tiba-tiba suaranya memotong kalimatku yang berlarian tidak karuan. Suara yang berusaha menyembunyikan getar namun tetap terdengar.
"Di antara kita... kamu yang jatuh cinta pertama."
Aku tertegun. Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan.
"Iya," ucapku setelah jeda yang cukup lama. Dia mengangguk lambat. Aku bisa melihat matanya menatap kejauhan, sinarnya meredup seiring senja yang pelan menghilang.
Tiba-tiba ia menoleh penuh menatapku, ekspresinya tak terbaca.
Aku suka semua jenis senyumnya. Yang muncul saat aku menggandeng tangannya, yang tercetak lebar saat menghabiskan waktu bersama, yang berubah jadi tawa saat aku membuatnya bahagia.
Tapi tidak dengan senyumnya kali ini. Aku tidak suka senyum yang ini.
"Jadi, sekarang gantian," ujarnya. Aku mengernyit sebagai respon refleks dari kalimatnya yang tidak kupahami.
"Gantian. Kalau kamu yang jatuh cinta pertama, sekarang giliranku..."
Jeda dalam kalimatnya sangat menyiksa.
"...menjadi yang pertama pergi dan memutuskan hubungan ini."
Ekspresi wajahnya tepat seperti yang kuduga setelah mendengar kalimatku barusan. Mungkin karena getar dalam suaraku menghilang, mungkin karena apa yang kunyatakan terdengar final.
Aku merasa ini hal yang adil untuk dilakukan.
Dia yang jatuh cinta lebih dulu. Aku yang meminta selesai lebih dulu.
Karena mau tidak mau, suka tidak suka; hubungan ini memang hanya tinggal tunggu waktunya. Sekarang atau nanti, tidak ada bedanya.
Seperti plester luka yang menempel di tangan, semakin berhati-hati menariknya justru akan semakin terasa sakit. Lebih baik lakukan sekalian; aku merasa lebih bisa menahannya.
Yang tidak bisa kutahan rupanya adalah melihat wajah orang di sampingku ini yang menunjukkan kekagetan, kekecewaan, kepedihan. Perlahan rautnya terasa samar... dan aku bisa merasakan jemarinya mengusap air mataku.
"I have no regret," bisiknya serak, segala ekspresi yang sepersekian detik muncul karena kalimatku tadi sudah menghilang. Tangannya bertahan menangkup wajahku.
"I have no regret for loving you all this time. For loving you this big, even though we don't have any future together."
Saat kulihat pipinya juga sudah basah, aku ingin sekali memejamkan mataku dan menangis meraung-raung; tapi tidak bisa.
Aku hanya bisa mengangguk, menggumamkan sesuatu yang kuharap terdengar seperti, "Me too." meski rasanya kepalaku nyaris meledak dan terbelah dua.
Ini bukan perkara orang yang tepat di waktu yang salah. Bukan juga tentang cinta yang lelah diperjuangkan dan memutuskan menyerah.
Ini cuma sesederhana dua orang yang ingin bersama, namun semesta tidak mengizinkannya.
Senja menghilang seluruhnya, tepat ketika ia menarikku ke dalam pelukannya, dan aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Membiarkan raga dan jiwa berkelindan erat satu sama lain. Memasrahkan arah pada takdir yang semena-mena. Melarutkan rasa yang begitu besar dan menghabiskan isinya.
Melepaskan cinta dan secercah asa yang tersisa,