PerEMPUan
Part 1
Sudah banyak buku-buku, artikel, majalah bahkan media sosial yang membahas masalah feminisme. Feminisme selalu diidentikkan dengan persoalan kaum hawa atau kaum perempuan itu sendiri, tetapi tidak sedikit pula yang bercerita tentang kaum adam atau kaum laki-laki. Semua buku ataupun literasi yang kawan-kawan baca sudah banyak bahkan menjamur membahas persoalan feminisme yang dikaitkan dengan kesetaraan gender antara kaum perempuan dengan laki-laki. Dunia partriarki dan matriarki yang selalu hangat dibicarakan sampai detik ini, tentang ketidakadilan, penindasan dan bahkan berkaitan dengan subordinasi. Dan tulisan ini hanya untuk dituangkan sebagai gagasan penulis dalam melihat sisi perempuan itu sendiri dalam kehidupannya. Ya.. sehari-hari, bukan bercerita tentang perjuangan pembebasan kaum perempuan, kepahlawanan dalam konteks pembelaan, bukan! Hanya dilihat dari sisi keseharian.
perEMPUan dari sudut pandang perempuan___
“Perempuan memang bukan direkomendasikan untuk jadi kepala keluarga, jangan salah tanpa perempuan laki-laki bukan siapa-siapa. Perempuan memang tidak dituntut jadi apa-apa dan kebanyakan berfikir jadi ibu rumah tangga saja. Namun bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa, karena perempuan adalah manusia seperti halnya kamu (pria)”. Pernyataan tersebut pernah diunggah dalam akun instagram (dewi_ratnawati_za) mewakili banyak perasaan kaum perempuan di Indonesia khususnya bagi mereka yang sependapat tetapi tidak dapat mengungkapkannya lewat kata-kata. Ya walaupun sebenarnya hanya kata tidak semua orang bisa menulis dengan rangkaian indahnya, bukan semata hanya memperindah kata tapi lebih substansi kepada pesan yang disampaikan. Seperti halnya tulisan ini, hanya ingin dicurahkan sebagai perwakilan kaum perempuan. Entah sesuai pedoman EYD ataupun tidak, asal tersampaikan bagi yang berkenan membacanya.
Mensetarakan atau mensejajarkan kedudukan perempuan dan laki-laki bukan serta merta keluar dari kodrat bahwa memang laki-laki lebih unggul (tentu ini dilihat dalam banyaknya berbagai aspek), tapi jauh ke depan. Dan bukan serta-merta ketika di dalam kendaraan umum ada seorang perempuan berdiri dan tidak mendapatkan kursi untuk duduk, dan ketika itu ada seorang lelaki muda dan masih segar duduk dengan seenaknya tanpa melihat jiwa kemanusiaannya untuk menolong dan memberikan kursinya tersebut untuk si perempuan. Bukan pula serta merta dalam rumah tangga yang harus berperan aktif jadi kepala keluarga, mencari nafkah, banting tulang dan bahkan sampai mengangkat galon air dilakukan dan diambil alih semua oleh perempuan, bukan!. Bukan kemudian urusan rumah tangga seperti memasak, mencuci dan mengurus anak beralih ke laki-laki, bukan! Walapun ya.. memang tidak bisa dipungkiri kadang kala ada yang demikian tetapi hanya untuk membantu istri, bukan sebagai tugas pokok dari pada suami itu sendiri. Dan masih banyak contoh lainnya lagi dalam kehidupan ini. Bukan lantas semua fenomena di atas apa yang dimaksud dengan kesetaraan, kesejajaran, keadilan bagi gender begitu adanya, jauh harus bisa melampauan pemikiran kerdil yang terus menerus tumbuh, harus bisa mengikuti perkembang zaman yang modern ini seiring perkembangan poros dunia berputar tanpa harus melulu mengikuti arus yang melawan zaman itu sendiri.
Perempuan dari versi diri ini tidak terlepas dengan perasaan atau biasa anak-anak millenial menyebutnya baper (bawa perasaan). Kata orang Timur, laki-laki itu main tangan tapi perempuan main perasaan. Iya.. seperti kamu yang seneng mainin perasaan si Dia tanpa memberi kepastian.. eeaa. Entah perasaan itu berlebihan atau tidak, yang jelas perempuan lebih sering ngambekan ketimbang kaum laki-laki. Dan itu dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti University of Basel di Switzerland, mengungkapkan bahwa tidak ada yang salah dengan pernyataan tersebut. Lebih lanjut, para peneliti juga mengatakan bahwa tidak ada yang salah juga dengan keadaan perempuan yang lebih emosional dari pada laki-laki. Dengan hasil penelitian, mereka menjelaskan bahwa bukan "hati" yang menyebabkan kondisi ini, melainkan otak.
Hal tersebut memang wajar, sebab ada perbedaan struktur otak antara anak perempuan dan anak laki-laki. Sejalan dengan perkembangan, perbedaan struktur otak ini kemudian menyebabkan kurangnya empati, abai terhadap perasaan orang lain, dan tanda lain seperti kurangnya rasa penyesalan atau rasa bersalah. Sifat-sifat ini kemudian dikaitkan dengan kurangnya pengembangan hati nurani dan empati. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pada otak anak laki-laki memiliki volume insula anterior atau volume materi abu-abu yang tumbuh lebih besar pada bagian yang menyebabkan perilaku kurang peka terhadap perasaan dan emosi.
Kemudian timbul pertanyaan, kenapa kaum perempuan lebih senang jika mereka berteman dengan kaum laki-laki ketimbang dengan sesama perempuan?. Ya.. sebab perempuan itu banyak menyebalkannya ketimbang laki-laki. Ini dilihat dari versi bersahabat atau berteman ya!. Dan itu terbukti ketika beberapa perempuan tinggal serumah, misalnya para mahasiswi yang tinggal di rumah kontrakan ataupun di kost-kostan, mereka akan sering bertengkar ataupun cekcok dengan teman lainnya. Penyebabnya hanya beberapa hal sepele, misalnya; tidak ada yang mau menyapu, tidak ada yang mencuci piring dan tidak ada yang mau untuk memasak. Hanya saling mengharap satu sama lainnya, itu hal wajar yang sering terjadi dalam keseharian perempuan dan masih banyak hal-hal kecil lainnya yang kadang membuat perempuan itu sama menyebalkannya.
Tidak semua perempuan yang tinggal dalam serumah begitu adanya. Tergantung dari masing-masing perempuan, apakah bisa mengkontrol ego masing-masing atau bahkan pembenaran dan pembelaan masing-masing atas pendapat mereka. Tidak menuntut kemungkinan itu hal yang sering terjadi. Akun IG milik @dewi_ratnawati_za juga pernah memuat tulisan “Egosentris; sebab kesadaran adalah apa yang dirasa oleh hati, difikir oleh isi kepala dan ditimang-timang perilaku. Untuk tiap-tiap manusia terkhusus wanita, membuat wanita berkelas bukan soal paras atau merk gincu yang mahal, tapi isi otak yang waras. Tetap menjaga etika dan jangan sering diulangi lagi adu mulut apalagi adu jotos hanya karena lupa siapa yang harusnya jadwal masak dan cuci piring’’. Jadi sebenarnya dalam akun tersebut, dijelaskan bahwa memang yang membuat seorang perempuan terlihat cantik dan berwibawa bukan dilihat dari paras dan penampilannya saja, bukan dilihat dari barang-barang mewah yang dia gunakan, melainkan otak dan pikiran yang cerdas yang akan membuat mereka mewah di mata orang lain, dan bukan soal mereka pintar bercakap untuk menantang perempuan lainnya.
Sampai kemudian penulis berfikir bahwa; tidak apa-apa jika pada akhirnya perempuan tempatnya di dapur dan di kasur. Tapi tentunya, harus melewati pendidikan yang tinggi dan pengalaman yang cukup. Agar dia tahu bagaimana cara mendidik anak dan membanggakan keluarganya. Silahkan jika kemudian perempuan di masyarakat masih tetap di tempatkan di garda belakang, tetapi masyarakat harus sudah bisa pahami bahwa untuk menciptakan generasi-generasi penerus yang berprestasi dan cerdas harus didukung dengan ibu-ibu mereka yang berpendidikan tinggi, berilmu pengetahuan yang baik dan berakhlak.
Itu versi perEMPUan untuk perempuan dalam hal sesederhana mungkin. masih banyak hal-hal lainnya yang perlu kita diskusikan. Yuk... sharing bisa temui/follow meJ:
Facebook: Dewi Ratnawati
Twitter: @dewiratnawatiZA
Instagram: dewi_ratnawati_za
Email: [email protected]
Tumblr: @deenana28.tumblr.com














