Aku tidak tahu bagaimana membahasakannya. Apakah meredam adalah kata yang tepat atau tidak. Aku takut dalam usahamu meredam, kamu justru menekan itu dan kelak di suatu hari perasaan itu akan meluap karena selalu ditekan.
Aku lebih suka ketika membicarakan tentang rasa, kita menerima rasa itu, dan bersyukur atas kehadirannya. Kita berdamai dengan perasaan itu.
Bagaimana caranya?
Kita harus berani mengakui. Oh, iya, aku suka padanya. Kemudian kita cari alasan mengapa kita menyukainya.
"Oh iya, karena aku nyaman."
"Dia bisa mengertiku."
"Dia mengisi ruang kosongku."
Mencari kemungkinan apakah bisa jika perasaan ini dilanjutkan atau tidak. Jika tidak, mungkin kita harus mencoba berdamai. Maka dengan mengetahui alasan kenapa kita mencintainya, kita bisa meredam.
Misalnya, aku condong ke dia karena dia mengisi ruang kosongku. Maka kita harus mencari cara agar kita bisa mengisi ruang kosong itu dengan kisah yang lain dulu. Persahabatan, misalnya. Ketika kita condong ke seseorang karena dia memahami kita, maka kita harus bisa lebih memahami diri kita.
Kita coba untuk mengikuti arusnya, kemudian membuat aliran baru sesuai arah yang kita tuju. Bukan menyumbatnya, karena dia bisa meluap kemana-mana.
[Dari seorang sabahat yang tidak pernah tidak peduli. Terima kasih telah menyalakan keberanian. Setidaknya untuk mengakui bahwa perasaan ini ada, dan tidak serta merta harus ditekan, diredam]













