Semesta membuka kunci pada gerbang waktu kita yang fana. Aku tetap berbaik sangka meski entah berapa lama keberpihakanNya pada kita.
Sore itu hujan memayungi stasiun tua tempat kita merencanakan perjumpaan
Kencang angin dari laju kereta dari utara menyapu debu-debu lembut yang selimuti kursi tunggu di peron nomer 2.
Namun, yang baru saja berlalu bukanlah kereta yang membawamu dan untuk beberapa saat aku masih harus menunggu
Gawaiku berdering, notifikasi favorit hadir di tengah rasa tidak sabar. “Sesingkat apapun, manfaatkan saja, sebab di antara kita tak pernah ada yang tahu isi di balik segala rahasia. Kita hanya perawat jarak yang mengemis temu pada petak semestaNya, kita juga sementara, maka kala Tuhan mengizinkan, biarlah kesementaraan cintanya tercurah pada kisah kita,” pesanmu menenangkan cemasku.
Jam tua di pojok stasiun berdentang dua kali.
Telah tiba dini hari, Sha. Sedang kau tak juga tiba
Gemuruh roda besi dan terang lampu dari utara membelah kegelapan , 8 gerbong kereta mengakhiri perjalanan.
Kau mengejutkanku dengan pelukan
Senyum yang tak habis-habis dan beberapa lembar puisi yang kau janjikan
menjadi penghangat di bawah atap gerimis.
Takdir membawa kita tak bisa tinggal lebih lama disana
namun sebelum pergi, kau menanggalkan guratan pada kursi tua yang lama kududuki
menulia nama kita sebagai pertanda bahwa kita yang fana ini pernah bertemu
menyempatkan untuk saling memanjakan rindu.
Kau menggigil meski enggan bergegas
“aku ingin lebih lama menikmati hujan dalam hangat pelukan.” katamu.
Menjelang pagi, kita masih tak beranjak dari ruang tunggu
Hujan kian lebat tatkala separuh malam menyaksikan kita larut dalam hangat pelukan.
Aku masih terjaga melihat langit menyiapkan pekarangan pagi,
memandangi lelapmu, menerawang apakah ada aku dalam mimpimu.
Merayakan rindu dengan sederhana, mendalami raut lelah kekasih gelapku di atas kursi tua hingga aku turut dalam lelap.
Melewatkan perpisahan paling indah pada kesementaraan kisah kita.
Merah gincu di tubuh yang kau tinggalkan ini bersaksi
cinta siapa yang pergi selama kau terbuai mimpi
rindu siapa yang berlalu kala kau terjaga dalam tidurmu.
Seribu sesal menyelimutiku
seperti terik menghunjam siang
Tak terlihat tapi begitu menyayat.
Perayaan rindu mestinya tak secanggung itu
beberapa ciuman serta sedikit kemarahan bukanlah sebab hutang rindu telah lunas terbayarkan.
Terasing dari congkaknya peradaban, cinta dan masa lalu.
Terkadang, aku masih mendengar jerit pengeras suara itu
Aku menafsirkannya sebagai rindu yang mencari perhatian pada kesepian, dan kehilangan.