Bukan Sebuah Drama
Ini perjanjian besar, bukan drama…..
Itu judul yang kubaca pada sebuah artikel tentang pernikahan. Memang ini bukanlah suatu hal yang mudah, akan tetapi juga bukan merupakan suatu hal yang teramat berat. Sungguh, hal ini membuatku bingung. Seperti salah satu paragraf pada artikel tersebut yang berbunyi:
“ Ketika sepasang pengantin mengikat janji berat bernama pernikahan, maka yang selayaknya mereka pikirkan
adalah apakah pernikahan itu akan menjadi jalan turunnya keberkahan dan ridha Allah, atau justru kemurkaanNya?”
Oleh karena itu, sebelum aku memutuskan untuk menikah aku harus benar-benar tahu niat dan motivasiku. Hal ini sesuai dengan satu dari syarat menjadi orang yang shadiq seperti yang dituturkan oleh Imam Al Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin, yang kemudian diintisarikan oleh Ustadz Sa’id Hawa dalam bukunya Tazkiyatun Nafs, yaitu sebagai berikut:
Shidqun Niyah, yang berarti benar dalam niat. Benar dalam semburat hasrat hati. Benar dalam mengikhlaskan diri. Benar dalam menatap lurus ke depan tanpa mempedulikan pujian kanan dan celaan kiri. Benar dalam kejujuran pada Allah. Benar dalam prasangkaan pada Allah. Benar dalam meneguhkan hati.
Shidqul ‘Azam, yang artinya benar dalam tekad. Benar dalam keberanian-keberanian. Benar dalam janji-janji pada Allah dan dirinya sendiri. Benar dalam menentukan motivasi setiap kali. Benar dalam memantapkan jiwa.
Shidqul Iltizam, yang mempunyai arti benar dalam komitmen. Benar dalam melanggengkan tekad dan semangat. Benar dalam bersabar atas ujian dan gangguan. Benar dalam mengistiqamahkan dzikir, pikir, dan ikhtiyar.
Shidqul ‘Amaal, artinya benar dalam proses kerja. Benar dalam cara. Benar dalam metode. Benar dalam tiap gerak anggota badan. Mereka yang berbakat gagal dalam pernikahan biasanya mereka adalah mereka yang berfokus pada “who”, dengan siapa. Dan bukan berfokus pada “why” dan “how”. Mengapa dia menikah, dan bagaimana dia meraihnya dalam kerangka ridha Allah.
Lalu muncul pertanyaan baru di benakku, seperti bagaimana aku merealisasikannya dalam bentuk tindakan? Karena memang benar, saat kita memutuskan untuk menikah, maka dibutuhkan berbagai macam persiapan. Banyak orang bilang menikah itu hanya perlu uang, untuk mengadakan pesta pernikahan. Orang yang lain bilang, menikah itu yang dibutuhkan niat. Anak muda jaman dulu bilang, menikah itu asal punya cinta sudah cukup. Lalu mana yang benar?
Ada beberapa hal yang kunilai cukup penting untuk kita tahu, sehubungan dengan persiapan diri untuk menikah, yaitu:
Persiapan Ruhiyah. Ini meliputi kesiapan kita untuk mengubah sikap mental menjadi lebih bertanggung jawab, sedia berbagi, meluntur egom dan berlapang dada.
Persiapan ‘lmiyah-Fikriyah. Bersiap menata rumah tangga dengan pengetahuan, ilmu, dan pemahaman. Ada ilmu tentang cara berkomunikasi yang ma’ruf dengan pasangan. Ada ilmu untuk menjadi orang tua yang baik (parenting). Ada ilmu tentang penataan ekonomi. Dan masih banyak lagi ilmu yang lain.
Persiapan Jasadiyah. Hal ini berkaitan dengan persiapan jasmani seperti kebersihan diri. Bersih dari penyakit-penyakit. Terlebih lagi penyakit yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi. Kemudian memperhatikan makanan. Tentu saja yang halal, thayyib, dan teratur.
Persiapan Maaliyah. Yang terpenting bukan bekerjanya-apalagi tetap, melainkan harus berpenghasilan. Selebihnya kemampuan mengelola keuangan.
Persiapan Ijtima’iyyah. Artinya siap untuk bermasyarakat, paham bagaimana bertetangga, mengerti bagaimana bersosialisasi dan mengambil peran di tengah masyarakat.
Sungguh indah ketika aku membaca persiapan-persiapan di atas. Terlebih lagi saat aku merasa siap melaksankan semuanya, tak lepas dari niatanku membangun rumah tangga bersamanya. Akan tetapi sekaligus aku merasa sedih, karena hingga kini belum ada jalan untuk mewujudkannya.
Aku berharap Allah SWT membukakan pintu hati kami, serta memantapkan niat kami agar ada jalan untuk mewujudkan mimpi itu. ……
buat yang lagi bersiap-siap :*
semoga Allah mudahkan















