Segala sesuatu yang tampak selalu bermula dari yang tidak tampak.
Masalah hidupmu seringkali bermula dari masalah hatimu.
Today's Document
trying on a metaphor

titsay
d e v o n

Love Begins
taylor price
RMH

⁂
Keni

❣ Chile in a Photography ❣
Claire Keane

blake kathryn

izzy's playlists!
Cosmic Funnies
EXPECTATIONS
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

tannertan36

Origami Around

No title available
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
seen from Portugal

seen from Malaysia
seen from South Africa
seen from Brazil
seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Oman
seen from Oman

seen from Netherlands
seen from United States
@elistia1pratiwi
Segala sesuatu yang tampak selalu bermula dari yang tidak tampak.
Masalah hidupmu seringkali bermula dari masalah hatimu.
pencapaian
kalau tahun ini pencapaian terbesarmu adalah bertahan, tetap bangun setiap hari, tetap melakukan hal-hal yang adalah kewajibanmu, tetap menunaikan tugasmu, kamu hebat.
kalau tahun ini pencapaian terbesarmu adalah melepaskan sesuatu yang memang bukan untukmu atau bukan milikmu, kamu hebat.
kalau tahun ini pencapaian terbesarmu adalah memutuskan memaafkan orang-orang yang tidak pernah meminta maaf kepadamu, kamu hebat.
kalau tahun ini pencapaian terbesarmu adalah mengakui kesalahan dirimu dan bertaubat atasnya, kamu hebat.
kalau tahun ini kamu tidak menunggu tahun berganti untuk memulai kebiasaan baru yang baik, kamu hebat.
percayalah, kamu hebat.
kadang-kadang tidak adil
hidup kadang-kadang rasanya tidak adil.
orang lain yang berbuat jahat, kamu yang menanggung sakitnya. orang lain yang tidak menuntaskan luka pengasuhannya, kamu yang harus bolak-balik ke psikolog dan psikiater. orang lain yang tidak bisa dewasa dengan pilihannya, kamu yang harus membuat pilihan-pilihan sulit. orang lain yang melakukan kesalahan, kamu yang kehilangan harga diri dan malu habis-habisan. orang lain yang berbuat kerusakan, kamu yang harus repot bersih-bersih, rapi-rapi, beres-beres, membangun semuanya dari puing-puing. orang lain yang bingung dengan hidupnya, kamu yang kehilangan banyak kesempatan.
memang begitu. hidup kadang-kadang rasanya tidak adil. kamu tidak tau bilamana yang terjadi adalah hukuman atas dosa-dosamu yang lalu atau ujian untuk meningkatkan keimananmu. hingga akhirnya kamu bisa berkata, “qadarullah”—bisa menerima semuanya sebagai takdir saja.
hidup kadang-kadang rasanya tidak adil ya?
Kutipan taujih dari pimpinan.
Bismillah, Allah kuatkan, mudahkan, berkahi hingga akhir. Husnul khotimah untuk kita semua.
Kalau sendirian bisa membuat kita merenungkan segala yang terjadi pada diri kita; kelalaian, ke khilafan, kesalahan kita. Bisa meluaskan lapang, lebih menerima keadaan, sekalipun sedang terjerat dititik terendah. Meredakan kekhawatiran, meluruhkan kecemasan. Melihat lebih luas dari sudut pandang kebaikan, tidak mengapa. Yang buruk itu adalah ketika sendirian, kita menyalahkan keadaan, menyalahkan segala yang terjadi dihidup kita, menyalahkankan Tuhan atas jalan hidup yang sedang dijalani.
Semoga kita selamat dari bisikan-bisikan liar yang menghancurkan.
@menyapamakna1
Biar Ragu Asal Tak Buta
Ada hari-hari di mana langkahku gemetar.
Bukan karena jalan di depanku curam, tapi karena aku tak tahu apakah yang kutuju benar-benar ada.
Mereka bilang, “Percaya saja, jalani saja.” Tapi mereka tak pernah bercerita bagaimana rasanya tidur dengan dada yang sesak oleh kemungkinan-kemungkinan yang tak kunjung nyata.
Aku pernah merapal mantra, "Kalau hari ini gagal, besok bisa diulang." Tapi siapa yang mau berulang terus di tempat yang sama? Siapa yang tak lelah menukar mimpi dengan napas panjang yang hampa?
Keraguan itu menempel di punggungku. Kadang kubopong, kadang kupeluk, karena kalau kutendang, aku pun kehilangan alasan untuk terus bertanya.
Tapi mungkin keraguan pun tak selalu jadi musuh. Kadang ia penunjuk arah, kadang ia penjara, kadang ia guru yang membisikkan, “Biar lambat, asal kau tak buta.”
Dan malam ini, sebelum mata terpejam, aku ingin bilang pada diriku, "Terima kasih sudah tetap berjalan, meski tak selalu tahu akan sampai di mana."
‼️🎯
sedang menyayangimu
aku rasa Allah sedang menyayangimu. kenyataannya, Allah selalu menyayangimu. melalui ujian yang diberikan kepadamu, Allah menunjukkan kepadamu betapa kecilnya kamu. bahwa segalanya bisa Allah ambil kapan saja, dengan cara apa saja. bahwa tidak ada hal yang bisa kamu bangga-banggakan sebagai kepemilikanmu. oh, semuanya hanyalah titipan.
tapi, di saat yang sama, Allah juga menunjukkan kepadamu betapa besar kuasanya. Allah membuktikan kepadamu semua janjinya. Allah tidak pernah meninggalkanmu sendirian sedetik pun. Allah tidak pernah membebankan sesuatu yang tak sanggup kamu pikul. Allah membantumu. Allah membawamu mendekat kepadanya. Allah memelukmu.
aku rasa Allah sedang menyayangimu. melalui semua yang telah terjadi, Allah mengingatkanmu. di dunia ini, tidak ada yang tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali Allah. apa yang kamu ragukan lagi?
Pict from @dandelionisa
Perjuangan untuk menjadi diri kita hari ini memang tak pernah terlihat seutuhnya di mata orang lain. Proses bertumbuh yang tak mudah juga tak mampu tertangkap oleh penglihatan orang lain.
Hanya ingatan milik kita sendiri yang lebih tahu, bahwa segala apapun tentang proses, membutuhkan kesabaran juga waktu yang tak sebentar. Untuk menjadi kuat, sabar, dan tegar, kita akan diuji dengan hal-hal yang sukar.
Dan ujian setiap orang itu berbeda-beda, begitupun kapasitas ketahanan melaluinya tidaklah sama. Namun, tidaklah Allah menguji seseorang, melainkan sesuai dengan kesanggupan kita melaluinya.
Selamat terus tumbuh, bertahan, dan berjalan. Meski tertatih dan terus merasa patah, semoga waktu yang berjalan akan menuntunmu memenangkan perjalanan menuju kesembuhan.
- repost @kkiakia
Oktober yang hampir sepertiganya adalah hari hujan..
sebelum hujan turun sore tadi, aku mendapati diriku menatap langit lama sekali. sejenak beban yang terasa sesak di dadaku perlahan mulai lepas satu persatu. aku memilih diriku sendiri untuk pulang. mendapati kekalahan dan tangisan yang tak berkesudahan. ah, begini rasanya kalah, begini rasanya mau tidak mau untuk menerima takdir sekalipun pahit.
sebelum hujan turun sore tadi, aku memilih pulang. bukan kepada siapa, tetapi ke diriku sendiri. memilih meletakkan keangkuhan di bawah langit dengan mendongakkan kepalaku. ah, kecil sekali diriku ini, tapi mengapa seolah yang paling bisa mengerjakan semuanya.
sebelum hujan turun sore tadi, aku memilih menahan tangisku sendiri. karena akulah paling mengerti kemana harus melabuhkan rasa sakit dan sesak yang masih mendebar-debar dadaku.
hingga satu waktu, airmataku luruh bersama hujan yang turun deras sore tadi.
aku, kalah, Allaah. aku menyerah pada caraku hidup yang menantang ketentuanMu. aku kalah, sebab aku hanyalah hamba. aku kalah, setinggi apapun inginku, pada akhirnya aku menyerah pada rencanaMu.
rupanya aku tak cukup sabar, bahkan untuk diriku sendiri. pada akhirnya aku pulang... karena aku tau, rahmat dan kasih sayangMu begitu banyak sehingga aku seringkali lupa, bahwa diriku sendiri adalah hamba yang seharusnya aku sayangi terlebih dahulu dengan utuh.
Untukmu, yang Tengah Belajar Melepaskan
Aku melihatmu tak hanya dengan mata, tapi juga dengan seluruh pemahaman yang kupunya. Aku melihat bagaimana langkahmu kadang goyah, bagaimana hatimu berkali-kali terlipat dalam ragu. Aku melihat bagaimana kau memegang luka itu dengan gemetar, seperti menimbang-nimbang apakah harus kau genggam lebih erat atau lepaskan.
Aku ingin kau tahu, tak ada yang salah dalam mencintai. Hanya memang ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita bertahan. Dan kau kini sedang mengajarkan dirimu sendiri untuk bertahan dengan cara yang lebih sehat, mungkin juga lebih kuat. Aku menyaksikan itu dan aku bangga padamu.
Kesedihan yang kau rasakan bukan tanda kelemahanmu, tetapi bukti betapa besar hatimu. Kau hanya perlu mengingat bahwa cinta yang layak untukmu tidak akan membuatmu merasa kecil di dalamnya.
Jangan terburu-buru memadamkan luka itu. Biarkan ia membimbingmu pada pemahaman yang lebih dalam tentang dirimu sendiri. Aku takkan meminta agar kau segera baik-baik saja. Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau berhak menjadi lebih utuh, tanpa perlu mengorbankan dirimu untuk orang yang tak tahu cara mencintai dengan benar.
Jika kau ragu, tengoklah ke dalam dirimu. Di sana ada jawaban, ada cahaya, ada keteguhan yang tengah bertumbuh. Dan saat kau siap, kau akan berjalan tanpa menoleh lagi, kau akan memahami bahwa dirimu pantas melangkah lebih jauh.
Aku di sini, mendukungmu dalam diam, mengagumi kekuatan yang mungkin belum kau sadari sepenuhnya. Dan kapan pun kau butuh diingatkan bahwa kau tak sendiri dalam perjalanan ini, tengoklah ke arahku. Aku tetap dan selalu di sini, menyaksikanmu tumbuh.
Di usia berapa pun seseorang berada, ada satu hal yang hampir semua orang pelajari dengan cara yang sama. Pelan-pelan, tidak nyaman, tapi sangat perlu yaitu tentang batas diri. Batas itu bukan tanda bahwa seseorang sedang menjauh, tapi cara paling sederhana untuk menjaga agar hati dan energi tidak terkuras habis.
Kadang kita baru sadar pentingnya batas setelah terlalu sering berkata “iya” ketika sebenarnya ingin berkata “tidak.” Setelah terlalu lama memaksakan diri menjadi kuat, sampai lupa bahwa kekuatan pun ada kapasitasnya.
Dan semakin dewasa seseorang menjadi, semakin jelas bahwa tidak semua hal harus direspon, tidak semua undangan harus dihadiri, tidak semua percakapan harus dijelaskan, tidak semua orang harus diberi akses ke keadaan hati kita. Batas diri bukan tentang ego, tapi tentang memahami bahwa menghargai orang lain dimulai dari belajar menghargai diri sendiri.
Ada orang yang merasa lega saat mereka mulai berani menetapkan jarak. Ada juga yang merasa takut kehilangan hubungan. Dan ada yang hanya merasa bersalah karena terbiasa memikul lebih dari yang seharusnya. Semua itu wajar karena boundaries adalah keterampilan, bukan sifat bawaan. Dan yang paling sering dilupakan adalah batas diri tidak selalu berarti “menolak,” kadang itu hanya tentang memilih waktu, memilih ruang, dan memilih versi diri mana yang sanggup hadir.
Pada akhirnya, batas bukan untuk mengeraskan hati, tapi justru untuk menjaganya tetap lembut, agar kita bisa memberi tanpa merasa terkuras, menerima tanpa merasa terpaksa, dan hadir tanpa kehilangan diri sendiri.
—Rini Alfianita, Rain 💧
Ya Rabb, hamba mulai mengerti, sebelum Rasulullah menjadi padagang dan menikah dengan khadijah serta akhirnya menjadi Nabi, Rasul pernah menjadi pengembala kambing, ternyata setiap hidup ada prosesnya dan setiap proses pasti ada pelajarannya. Kadang hamba berdo'a, "Ya Allah hamba ingin menjadi sebaik-baiknya manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain". Tapi hamba tidak sadar bahwa do'a hamba telah Engkau kasih jalan, bahwa untuk menjadi hamba-Mu yang terbaik hamba enggak mesti harus jauh-jauh berbuat baik, tapi cukup berbuat baik dimulai dari sekitar hamba yaitu keluarga, seperti lakukan tugas dengan baik, jika masih ada orang tua di rumah maka kasih bakti terbaik buat mereka, jika menjadi istri jadi istri terbaik untuk suami, jika masih kuliah tuntut ilmu sebaik mugkin. Dan ternyata itu juga salah satu cara menjadi hamba-Mu yang terbaik.
Jadi jangan mikir terlalu jauh untuk menjadi HambaNya yang terbaik, tapi cukup lakukan peranmu sekarang sebaik mungkin.
Beberapa hari yang lalu ada seorang teman bertanya kepadaku, “tanda-tanda dia jodoh kita tuh apa?” Sebagai perempuan yang belum menikah, justru aku juga mempertanyakan hal yang serupa. Kalau boleh jawab sotoy, mungkin salah satu tandanya berupa kecocokan. Namun, jawaban itu mengundang pertanyaan lainnya; cocok itu yang bagaimana?
Lalu aku teringat kisah cinta Najmuddin Ayyub. Seorang pemimpin Tikrit yang belum menikah dalam waktu yang lama. Saudaranya yaitu Asadudin Syirkuh pun bertanya, “wahai saudaraku, mengapa kamu belum menikah?” Najmuddin menjawab, “aku belum menemukan seseorang yang cocok.”
Asadudin Syirkuh kemudian menawarkan bantuan melamarkan perempuan untuk Najmuddin. Perempuan yang ditawarkan Asadudin pun merupakan anak seorang sultan dan putri menteri agung dari para menteri agung zaman Abbasiyah. Namun Najmuddin berkata, “mereka tidak cocok untukku.”
Asadudin Syirkuh yang bingung mendengar jawaban tersebut lalu bertanya, “lantas, siapa yang cocok bagimu?” Dengan lantang Najmuddin menjawab, “aku menginginkan istri yang salihah. Seseorang yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia tarbiyah dengan baik hingga menjadi ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Asadudin tidak heran dengan pernyataan saudaranya tersebut, tapi ia bertanya-tanya, “di mana kamu bisa mendapatkan orang seperti itu?” Dan jawaban Najmuddin adalah, “barang siapa ikhlas niat karena Allah, akan Allah karuniakan pertolongan.”
Suatu hari, Najmuddin berbincang dengan seorang Syaikh di masjid Tikrit. Kemudian datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan ia berbicara pada gadis itu. Tanpa sengaja Najmuddin mendengar perkataan Syaikh kepada gadis tersebut, “kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk melamarmu?”
Sang gadis menjawab, “wahai Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang mempunyai ketampanan dan kedudukan. Tetapi ia tidak cocok untukku.” Syaikh kemudian bertanya, “siapa pemuda yang kau inginkan?”
Gadis tersebut pun menjawab pertanyaan Syaikh dengan lantang, “aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak darinya yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”
Bagai tersambar petir Najmuddin mendengar jawaban gadis itu. Bagaimana mungkin gadis itu menjawab dengan jawaban yang persis sama dengan apa yang pernah Najmuddin ungkapkan kepada saudaranya. Sungguh semuanya tidak mungkin terjadi bila tanpa campur tangan Allah.
Seketika Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “aku ingin menikah dengan gadis ini. Aku ingin istri seperti dia. Seseorang yang salihah. Seseorang yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang ia didik dan kelak menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum muslimin.”
Karena kesamaan visi tersebut, menikahlah mereka. Dan dari pernikahan tersebut, lahirlah Salahuddin Al-Ayyubi, seorang pemuda yang mampu menaklukkan banyak peperangan.
Cerita tersebut membuatku semakin mengimani, al-arwahu junudun mujannadah. Sebuah sabda dari Nabi Muhammad SAW. Jiwa-jiwa manusia itu seperti sepasukan. Berada dalam satu barisan dan komando yang sama. Setiap jiwa akan selalu mengajak untuk berkumpul dengan jiwa lainnya yang memiliki kecenderungan yang sama. Baik prinsip, ideologi ataupun keyakinan yang sama.
Sama seperti jiwa Najmuddin dan sang gadis yang sama-sama memiliki impian dan visi yang sama. Maka Allah pertemukan dan satukan mereka dalam pernikahan. Menerbitkan dan menenggelamkan matahari saja Tuhan mampu, apalagi perkara menggerakkan hati dan kaki manusia.
Ada berjuta-juta manusia di muka bumi ini. Dan setiap harinya ada beribu-ribu kesempatan dan juga kemungkinan kita bertemu satu atau dua dari jutaan manusia tersebut. Pertanyaannya, dari jutaan manusia tersebut, bagaimana caranya kita menemukan seseorang yang cocok?
Mungkin jawabannya adalah dengan menemukan diri sendiri. Mengetahui apa yang jiwa kita inginkan, apa yang sebenarnya dibutuhkan. Berpegang teguh dan berperilaku selayaknya kebutuhan atau mimpi tersebut.
Dan meyakini bahwa Tuhan akan membimbing kita dalam pertemuan dan penemuan. Bahkan tanpa kita mencari berlari kesana-kemari.
Sebaik-baiknya cara mencari adalah dengan menjadi. Karena ruh-ruh yang sama akan mengenali satu sama lain….
-Lampung, November 17th 2023
Jangan bersedih karena kamu tidak berhasil menggapai keinginanmu, namun berbahagialah karena kamu akan tetap sampai pada takdirmu.
Semisal kamu lupa kembali kuingatkan bahwa Dia yang menetapkan takdirmu adalah pihak yang tidak akan pernah mengecewakanmu.
©Fajar Sidiq Bahari (@fajarsbahh)
Yaa Rabb, ampuni dosa kami. Perbaiki agama dan akhlak kami. Jadikan pemimpin kami orang yang baik dimanapun mereka berada. Berilah mereka taufiq agar menunaikan tugasnya sejalan dengan yang Engkau perintahkan. Lindungilah negeri ini dari segala keburukan. Jangan cabut nikmat aman dari negeri ini 🥀
Untuk Semua Ketidakadilan di Dunia Ini, Kita Jadi Sadar Kenapa Ada Akhirat
@edgarhamas
Untuk semua janji-janji yang dikhianati, ada harinya nanti akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk semua kezaliman yang membuat seseorang merasa tinggi dan tak tersentuh mahkamah manusia, akan ada masanya mahkamah Allah yang Mahaadil itu bertindak tegas, lugas dan memutuskan dengan kebijakan paling paripurna.
Semua yang terjadi dewasa ini membuat kita sadar; apa yang tak selesai di dunia, dijawab di akhirat sana.
Kisah tentang Fir'aun, Namrudz dan Abrahah; mereka melakukan kezaliman bertahun-tahun. Yang mereka rasakan menjelang kematiannya sungguh belum setara dengan apa yang telah mereka lakukan pada umat manusia.
Di situlah orang-orang beriman yang merasakan kejahatan mereka mengatakan pada para tiran:
"...Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini...", sebagaimana penyihir Fir'aun yang bertaubat itu berikrar sungguh-sungguh.
Ayat surat Ghafir ke-17 itu membuat kepalaku dingin, "Pada hari ini (akhirat) setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dizalimi pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
Kisah Ghazzah belum selesai, keadaan negeri tak baik-baik saja; sementara kita tak tahu banyak mesti berbuat apa. Kegundahan mencekam, kekhawatiran membuat hati makin meradang.
"Kapan ini semua akan berakhir?", akal sehatmu mulai bertanya-tanya.
Tapi Allah sejak awal memastikan, lewat lisan Musa dalam ayat Thaha ke-52, "...Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa."
"Sesungguhnya bersama kesulitan, ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan."
Mari menjalani kehidupan dan berbuat sesuai dengan kapasitas kita.
Tetap berjalan dan jangan biarkan pikiran berlebih membuat kita tumbang.
Ada harapan di balik masa sulit.
Ada bertumbuh di balik penempaan.
Ada pelangi indah setelah badai.
Itu, sudah jadi garis sunnatullah yang tak pernah terganti. Mari layakkan diri untuk dibersamai-Nya, yang tak pernah sekalipun ingkar janji. "...Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah?" (QS Ar Taubah 111)