Terampil Menghabiskan Uang
Ngaku deh, dikasih uang berapapun, pasti habis kan? Bedanya, ada yang habis untuk menyenangkan hati orang tua, habis untuk sedekah, habis menjadi lembar saham, habis menjadi ilmu, habis menjadi buku-yang-tak-dibaca, habis menjadi pakaian mode terbaru, atau malah habis untuk boba –yang ujung-ujungnya cuma dibuang ke toilet.
Betul, uang bukan segalanya, tapi ya gabisa tutup mata, hidup butuh uang.
Betul, uang pasti habis, tapi habisnya buat apa, kita kok yang menentukan. #preach wkwkwkw.
Ini perkara serius ternyata, banyak perceraian terjadi karena faktor ekonomi, entah manajemen keuangan atau manajemen syukurnya yang kurang bagus (naudzubillah).
Lalu coba tengok apa kata Dirjen Penyedia Perumahaan, ia bilang milenial sulit memiliki rumah. Faktornya banyak, salah satunya karena milenial konsumtif :’) gue walau ga setuju-setuju amat, sedikit banyak tetap ngangguk membenarkan, karena emang ada di antara generasiku yang gaya idupnya ga sesuai kantong.
Oke, milenial yang beneran tajir banyak, sayangnya yang maksain-diri lebih banyak lagi. Pada generasi ini, ada fenomena FOMO (fear of missing out) yang semakin menyulitkan untuk hidup on budget, alokasi pendanaan lebih banyak berorientasi pada want, bukan need, seremnya lagi ada aja yang bela-belain ngutang demi konten. Etapi ga semuanya gitu kok, sebab pada generasi ini juga ada fenomena sandwich generation di mana dia harus menanggung tak hanya anak istri tapi juga keluarga besarnya, moga Allah berkahi.
(Ini paragraph intermezzo, tetiba keinget di tengah proses nulis, agak panjang jadi mangga di-skip).
Ngemeng-ngemeng soal rumah, gue takjub melihat bagaimana Allah mampukan orang-orang untuk punya rumah. Setelah ku liat-liat, nampaknya ini bukan soal gede-gedean penghasilan, tapi emang soal ikhtiar pake cara yang Allah suka. Beneran deh.. Ustadz tahsinku suatu ketika pernah ngomong begini ke kami di sesi taujih “kalo ngandelin gaji, duh berapa sih gaji guru ngaji, tapi kita ga ngandelin gaji, kita andelin Allah. Dan alhamdulillah, kalo dipikir-pikir, saya juga ga nyangka bisa punya rumah” beuh… magis! :’)
Lalu ada lagi, seorang kakak (yeu, ngaku-ngaku aje lu yan), pengusaha Brand Fashion Arfa, Mbak Syifa namanya. Dia santai aja tuh pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain selama bertahun-tahun, ga maksakeun. Tahun lalu Mbak Syifa dan suami melaksanakan ibadah haji (ya udah pasti ONH plus lah yak biar antre-nya ga selelet reguler, dan sudah tentu berkali lipat biayanya dibanding haji reguler). Katanya, soalnya Allah ga memerintahkan kita ‘punya’ rumah, tapi kalo haji jelas-jelas jadi rukunnya islam. Takjub sih gue, sungguh ini mindset mahal cui, karena zuzur kalo gue di posisinya belom tentu sanggup memenangkan haji dibanding ego ingin-segera-punya-rumah wkwk. And guess what? Tahun ini Allah mampukan Mbak Syif beli rumah bekas, cash! mencoba menghindari riba katanya :’)
Berkah. Kita cari berkah. Saldo banyak kalo ga ada ridho Allah, ya bakal abis ga jelas juntrungannya. Receh, jika Allah berkahi, akan panjang manfaatnya.
Well, gue bukan pakar keuangan haha, makanya karena bodoh soal alokasi duit, gue cari tau lah pegimane idealnya manajemen keuangan. Ada banyak banget metodenya, macemnya juga banyak, ada yang buat single, pasutri, keluarga dengan anak, silakan digali sendiri, sebab hari ini ga mau ngomongin teknis (ga bisa juga sih wkwk ga kredibel).
Gue nemu ulasan singkat ini dari salah satu bukunya Ust. Salim Fillah yang (menurut gue sih) harus-banget dijadiin mindset perihal menghabiskan uang. Yok lihat contohnya langsung dari sosok yang harus kita cinta melebihi kecintaan pada diri sendiri, sosok yang telah Allah jadikan pada dirinya suri tauladan terbaik: Rasulullah Muhammad saw.
Sudah jadi rahasia umum kalo gaya hidup Rasulullah sederhana. Rumahnya sederhana, perkakas perabot di dalamnya juga sederhana –dan minimalis: kalo ga fungsional, ga akan ada di dalam rumah Rasul. Gaya hidup minimalis ala Marie Kondo sudah Rasulullah contohkan 1400 tahun lalu :’)
Apa-apa yang menempel di tubuhnya seperti pakaian dan sandal, sederhana jugak, jika sobek maka Rasulullah akan menjahitnya sendiri. Apakah penampilan Rasulullah terlihat seperti gembel? Oh tentu tidak, cek saja di berbagai riwayat shahih, Rasulullah ganteng, eh, maksudnya rapi. Tetap nikmat dipandang dalam kesederhanaannya. Also, he had a good taste, beliau suka memakai baju dari kain hibarah. Rasulullah pandai merawat dirinya, ia sering menyisir dan minta disisirkan oleh Aisyah. Salah, salah banget kalo ukhti-sistur mentang-mentang gamau tabarruj lantas asal berpakaian, apalagi kalo ditambah (maaf) bau. Baiknya nda begitu ya, sebab setiap kita adalah human representative-nya islam :’) kata umiku, berpenampilan baik itu salah satu cara kita menghormati diri sendiri. Santai, gak harus pake maxi dress Zara, outer Gucci, kerudung Dian Pelangi, lengkap dengan kets Nike –GAK WOY, GAK GITU WKWK ngausah menghamba pada merk.
Makanan, berkali-kali kita dengar Rasulullah hanya sahur dengan kurma dan air zam-zam. Rasulullah menyukai paha kambing, tapi jangan lupa juga bahwa Rasulullah jauh lebih sering memakan sya’ir yakni gandum dengan mutu rendah, tapi cukup gizi. See? Urusan perut, sederhanakan saja, yang penting gizinya terjaga. Ga perlu keju tiap hari, negeri kita kaya akan ikan teri Bung, sumber protein dan kalsium yang affordable.
Sekarang, mari cek fasilitas yang beliau gunakan untuk memudahkan ibadah (dalam hal ini dakwah dan jihadnya). Kendaraan, rasulullah punya unta putih yang tangkas, gesit, sehat! Kuda beliau juga merupakan yang tercepat, saking cepatnya, suatu ketika ada kegaduhan di pinggir kota, tim ronda hendak memeriksa namun Rasulullah sudah kembali dengan kudanya sambil berkata “tenanglah kalian, tidak ada apa-apa” ulala bole juga tu kuda. Pedang Rasulullah, jangan ragukan kualitas logamnya, ditempa sedemikian rupa, tajam bukan buatan, bahkan ada yang bilang beberapa kilogram emas dibutuhkan untuk melapisi dan menciptakan efek kilat saat tertimpa matahari (berguna untuk memberi kode dan aba-aba kepada pasukan di kejauhan). Apakah unta, kuda, sampai pedang Rasulullah tadi adalah sesuatu yang murah? Tentu tidak, Puan Muda.
Jadi, sudah bisa simpulkan bagaimana Rasulullah menghabiskan uangnya?
Beliau alihkan materi jadi fasilitas yang memudahkan ibadah, dakwah dan jihadnya. Beliau alihkan jadi hal yang menitikberatkan kualitas.
Aih, menjadi mukmin ternyata mahal ya? Hitung saja berapa biaya les renang, berkuda, dan memanah. Tambah lagi biaya sekolah sampai doktor, les Bahasa, privat mengemudi, seminar ini-itu, ikut course programing atau menjajal kemampuan desain (beli gadget spek bagus, beli aplikasi yang ori 😂), atau bahkan kursus jahit dan masak (bila memang ga ada SDM yang bisa, sedangkan kemampuan tersebut sudah diperlukan dakwah sampai tahap urgent, sikat lah, investasikan waktu dan uang untuk skill tersebut).
Benar ternyata, jadi mukmin harus kaya cui 😂 (mari saling doakan? wkwk), dan jangan sampai tertukar: letakkan dunia di tangan, sedang akhirat di hati.