Hanya saja aku tidak baik baik saja dengan segala keadaan ini ...

Game Changer & Make Some Noise
★
sheepfilms
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Noah Kahan
🩵 avery cochrane 🩵
ojovivo
Keni
tumblr dot com
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Color Me Curious
taylor price
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!
Doug Jones
$LAYYYTER
Interview Vampire Daily
Sade Olutola
One Nice Bug Per Day
seen from Germany
seen from Bangladesh

seen from France
seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Vietnam

seen from Georgia
seen from Malaysia
seen from Nepal

seen from Germany
seen from Ukraine

seen from Germany

seen from Chile
seen from Pakistan
seen from Colombia
seen from Bangladesh

seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@djuliaarahmi-blog
Hanya saja aku tidak baik baik saja dengan segala keadaan ini ...
Kamu dan hujan; sama
Kamu dan hujan selalu menjadi perbincangan asyik. Kamu dan hujan selalu menjadi butir kata-kata paling menarik. Kamu dan hujan selalu menjadi kisah paling periodik. Kamu dan hujan selalu menjadi hal yang paling. Iya, paling dari segala hal di dunia ini.
Kamu…
Serupa hujan yang kerap dirindukan. Dinginnya menyejukkan. Gemuruhnya menggemaskan.
Lalu ternyata…
Kamu dan hujan itu memang sama. Sama-sama yang aku suka meski hanya sementara adanya.
Ya, benar saja….
Kamu dan hujan itu memang sama. Sama-sama kucintai tanpa bisa kuhentikan.
Lalu bagaimana dengan rinai yang kian membulir? Adakah ia menyakitimu atau justru mendatangkan bulir doa pada setiap hela napasmu?
Meski begitu, ada beberapa hal yang kubenci dari kamu dan hujan. Aku benci menjadi selaiknya musim kemarau yang menunggu hujan tanpa kepastian.
Akan tetapi, ketika hujan tak ada lagi dibumi, masihkah kamu hadir menemani? Atau bahkan ikut pergi, membiarkanku terkapar bersama gersangnya taman mimpi.
Kamu dan hujan memanglah sama. Sama-sama mencandui penggilanya. Diriku misalnya.
Maka ketika hujan tak lagi ada. Kamu dan hujan akan tetap sama dan paling. Sama-sama kurindukan, pun paling kutunggu kembali hadirnya.
Meski kutahu sejuk rinaimu tak hanya tertuju padaku. Layaknya senyum itu, yang selalu menjadi alasan betapa mudahnya kau tuk dikagumi, termasuk aku.
Rumpun Aksara, 9 April 2017
Kolaborasi prosa oleh @ibnufir @duatigadesember @hujankopisenja @rizadwi @gelangkaret @jendelamerahjambu @fauzihawi5 @risnasanbe @biashujan @Evelina
Lettering oleh @rumpunaksara
Aku suka hujan, dan kamu tentunya 😊
Pic from @grafolio_official
●●●
→ Teruslah Melihatnya dan Aku Akan Tetap Melihatmu ←
Kau selalu melihat ke arahnya, meski saat ada aku di sampingmu. Kau selalu membicarakannya, meski saat kita sedang berbincang tentang satu sama lain.
Kau selalu melihat ke arah lain. Tetapi aku selalu melihat ke arahmu. Seandainya kau mengalihkan pandanganm sedikit saja. Kau mungkin akan mampu melihatku. Namun kau justru menjauh. Semakin jauh. Dan aku merasa tak mungkin meraihmu. Apakah aku harus melepaskanmu begitu saja?
Tidakkah kau melihatku? Tidakkah kau mendengarku? Berdiri begitu setia. Berada begitu dekat. Berteriak begitu lantang
“AKU MENCINTAIMU”
Mendengar penolakanmu, mungkin seharusnya aku sudah siap. Namun aku menolaknya. Mati-matian menolaknya.
Pada akhirnya, harus kuakui. Berada dekat denganmu saja, sudah cukup bagiku. Silakan terus melihatnya Silakan… Dan aku akan terus melihatmu. Dari tempatku berada.
Seandainya suatu waktu kau menoleh dan melihatku. Kurasa itu saja cukup bagiku.
-
© Tia Setiawati | Palembang, 3 Februari 2017
Kosong
Aku selalu hanya bisa menebak. Menerka-nerka apa yang ada di dalam kepalamu saat kita bertukar kata-kata. Aku hanya melihat segunduk gunung es. Tanpa pernah tahu badai macam apa yang tercipta di dalamnya.
Tak apa. Aku memakluminya. Dari awal, aku sudah mengira. Aku akan kesulitan menerjemahkanmu. Kau perempuan rumit. Ribuan puisi tak membuatmu goyah. Pun dengan jutaan bunga mawar, sedikitpun tak akan bisa meruntuhkan pendirianmu.
Aku tak tahu. Luka masa lalu seperti apa yang membuat seseorang menjadi berbeda. Membangun belantara dalam hatinya. Membuat orang lain tersesat ketika berusaha bertahan di dalamnya. Atau, Tuhan memang menciptakanmu dengan cara yang berbeda(?)
Entahlah…
Aku hanya bisa berdiam diri. Menatap kekosongan dari matamu ketika menatapku. Bahkan, tulisan ini juga kosong. Hampa, tak berarti apa-apa.
|| Ruang, 11 April 2017, 18.30 ||
Kursor itu tampak berkedip-kedip hampa di layar segi empat yang kupunya. Mataku isyarat ragu, begitu juga hatiku. Di kejauhan sana, aku tahu kamu tengah menyebarkan kode agar pesan itu segera sampai padamu. Tapi dengan segala kekeraskepalaanku, aku tak kunjung beranjak.
Akan tiba satu hari ketika kita didera sebuah pertanyaan, “sampai kapan begini?”. Waktu telah membawa kita pada malam-malam panjang dan bertumpuk-tumpuk obrolan yang menyenangkan. Namun, aku masih tidak cukup berani untuk memulainya.
Bukannya aku tidak ingin peduli, bukannya aku tidak menganggapmu ada, bukannya aku tidak menyukai segala yang ada padamu. Aku hanya tidak tahu bagaimana caranya. Dan aku selalu merasa aku tak pernah punya waktu yang baik untuk menghampirimu.
Gelap semakin jatuh. Aku masih merasakan dengan jelas debar tersebut. Satu kata itu terjepit. Aku tak punya jalan untuk melepaskannya. Pada belokan itu, aku berlari menjauh. Jauh sekali. Pergi ke tempat di mana kata-kata kita tak sempat bertukar dan jiwa kita tak mungkin bertemu.
Tak pernah kurasakan jarak yang sejauh ini, denganmu. Dekat tapi tak mau memanggil. Lantas, aku memilih bertahan dengan kebenaran yang kuyakini
: tidak menyapa bukan berarti tidak rindu.
Perasaanku mengatakan perasaanmu telah paham. Aku bisa merasakan anggukan kepalamu. Lalu, kita akan kembali seperti biasa dengan kamu sebagai penentu arah, penunjuk jalan, dan pembuka percakapan. Sementara aku, hanyalah pengikut cahaya yang kuanggap berasal dari matahari. Begitu mengagumkan.
Namun, setelah ini kamu akan tahu, akulah hujan itu, hujan yang meniadakan kehadiranmu. Kita tidak akan ada harapan.
Hari ini, aku membatalkan keinginanku lagi. Sembari menatap lirih kepada kursor itu, aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam pikiranku. Juga meminta maaf karena tidak jadi membuatmu bahagia. Padahal aku tahu, kamu hanya menanti sebuah pesan dengan 3 huruf, huruf-huruf yang membentuk sebuah kata: . . . . . . . . . . “Hai.”
#kunamaibintangitunamamu #cindyjoviand #sinjof #absurditaspuisi #puisimalam #produksihuruf #prosa #fff #lfl #instapuisi #instapoem #poemporn #puisilover
Berikan aku ruang untuk tak lagi mengusik kita. Cukupkan aku dengan kesibukanku, dan cukuplah kamu dengan duniamu.
Mendung, 3.50 PM (via basicallysc)
😭
Jika Nanti.
Suatu hari. Akan datang sebuah masa dimana ..
Kamu akan merasa sangat lelah untuk membalas pesanku padahal kamu tidak sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Kamu akan merasa sangat terganggu dengan kehadiranku padahal aku tidak mendekatimu. Kamu akan merasa sangat muak dengan suaraku padahal aku hanya mengingatkanmu untuk berkendara dengan hati-hati atau makan tepat waktu. Kamu akan merasa sangat membenciku walau hanya dengan membayangkan seperti apa rupaku.
Tak apa .. Aku tak akan melepas perhatianku sedikitpun walau terkadang menjadi tak terlihat memang melelahkan. Aku tak akan berhenti mengingatkanmu akan sesuatu walau seringnya kau lebih memilih lupa daripada diingatkan.
Kita akan bertemu pada masa itu. Dan aku akan belajar menerima. Walau tak bisa sepenuhnya berlapang dada. Mungkin sulit, tapi tak apa .. Karna aku tahu untuk mencintai dan dicintai olehmu bukan perkara mudah.
Aku baru akan berhenti nanti, Jika kamu sudah memutuskan untuk memilih. Bahwa bukan aku sosok yang baik dalam hal menemani maupun menanganimu. Aku baru akan menjauhkan langkahku nanti, Jika kamu sudah menyuruhku untuk melepaskan diri.
Aku tak ingin mengucapkan selamat tinggal lebih dulu, karna aku takut akan memintamu kembali jika sudah disiksa rindu. Setidaknya jika nanti kamu yang meminta perpisahan itu dan aku sudah mulai rindu. Aku cukup tahu diri untuk memintamu kembali. Mengingat betapa aku tak pantas untuk kamu ingini hadirnya.
Saat ini .. Aku hanya sedang memperlakukan cinta dengan selayaknya. Bahwa yang ku berikan tak sebatas gurauan saja dan rasa yang kamu terima pernah menghangatkanmu juga.
Bahwa sebelum kamu menganggapku tak terlihat hingga sosok seorang aku akhirnya kamu hilangkan. Aku pernah selalu ada.
10:28pm. Friday, March 10. 2017
“Kita tidak perlu membuktikan pada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.” *Tere Liye, novel "RINDU" (at Batam, Riau, Indonesia)
"Aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. Percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain terus menyibukkan diri dan membiarkan waktu menjadi obatnya." --Tere Liye, novel "Sunset & Rosie" (at Coastarina Beach, Batam)
Setiap kali ada yang mengatakan mendapatkanku adalah sebuah keberuntungan, maka aku ingin kamu yang mendapatkannya. Tersebab melihatmu berbahagia adalah satu-satunya keberuntungan yang ingin kudapatkan.
K. Aulia R. (via ourmetime)
Tentang suatu hal yang tak selesai
Seorang kawan belum lama ini mengatakan, “Apa yang kau lakukan selama ini, itu seperti bonsai. Kau berusaha menekan perasaanmu seperti bonsai, tetap berukuran kecil tapi terus ada di sana, tak kemanapun.” Mungkin itu adalah sebentuk paranoid, sebab sebelumnya tak pernah aku memikirkan orang lain sedalam itu.
Bagi sebagian orang, cinta mungkin adalah suatu permainan mengenai waktu. Tapi bagiku, ketika Masnawi Rumi tak sekedar kutipan-kutipan indah, ia terlihat begitu sakral. Ketika kau memutuskan untuk mencintai orang lain, kau mesti membunuh egomu hingga kau tak mengenali lagi dirimu sendiri. Itulah jalan Shams Tabrizi dan orang-orang yang mengikuti jejaknya.
Tentang pertemuan-pertemuan singkat itu, penghindaran-penghindaran yang sebenarnya tak perlu, aku perlu untuk meminta maaf kepadamu. Tentu saja tak mungkin aku membenci orang sebaik dirimu, aku hanya berusaha mengalihkan ketidaknyamanan pikiranku ketika aku merasa aman hanya lewat tatapanmu yang teduh. Ketika pertama kali mataku bertemu dengan wajahmu, seluruh semesta hilang dari jiwaku. Aku mengenali Perbendaharaan Tersembunyi melalui ketenangan perilakumu di setiap ruang waktu.
Delusionalkah diriku? Aku tak terlalu mengerti tentang kondisi jiwa seperti ini. Sudah lama aku menenggelamkan diri dalam bacaan mengenai filsafat, teologi, science, ataupun culture. Ketertarikanku terbatas pada kebenaran-kebenaran pasti seperti angka-angka dan matematika atau usaha memahami cara kerja dunia. Percakapan denganmu merusak seluruh perjalanan intelektual dan ruhaniah itu. Tak apa, justru kebenaran akhir adalah ketika eksistensiku melebur bersama dengan yang noneksisten, kemudian kau memberikan pemahaman yang benar mengenai pengetahuan dengan kehadiranmu.
Kapan-kapan aku akan menulis caption khusus untukmu. Kata-kata absurd semacam itu adalah dalih sebenarnya. Sebab kata-kata, sejatinya adalah penghalang untuk mendekati kebenaran sesungguhnya. Kau megajariku bagian itu, kebenaran tampak nyata justru dalam kesunyian bahasa.
Beristirahatlah dari kata-kata Lim, kau tahu betapa manipulatifnya bahasa. Sudah berapa banyak kawanmu yang salah menerjemahkan kebijaksanaanmu? Kau hanya perlu diam sejenak dan mendengarkan.
Menjadikan perasaan itu seperti bonsai, bukan hanya tentang menekan perasaan. Namun, lebih kepada membuatnya tetap indah dengan segala pertanyaan yang tak terjawab. Pada akhirnya, bukankah itu artinya kita menahan diri dari ketakutan menghadapi kenyataan yang (mungkin) mengecewakan?
Melepasmu
Aku ingin bilang jika melupakanmu aku bisa. Meski dada harus diterpa sesak bertubi-tubi, seperti dihujani selongsong timah panas. Dadaku terluka. Tubuhku berdarah-darah. Seperti itulah rupanya jika kau bertanya bagaimana perasaanku ketika kaupergi dan tak mengatakan apa-apa lagi.
Mungkin, aku bukan lelaki yang pantas untukmu. Aku hanyalah seorang lelaki yang patah menjadi keping-keping ketiadaan di matamu. Aku hanyalah seorang lelaki yang luruh dari separuh menjadi separuhnya lagi. Lalu, tiada.
Entahlah, apa arti keberadaanku di matamu. Pertemuan memang menyenangkan pada mulanya. Kala debar-debar berbeda mulai riuh di dalam dada kita. Kala tali takterlihat laik mengikat kedua diri kita dalam sebuah simpul senyum terindah yang pernah kutatap.
Namun, semua memudar begitu saja. Bayangmu yang kerap berkelindan di dalam ruang pikiran kini tersapu, entah hilang ke mana. Dan tanpamu, aku berusaha untuk melepaskan. Mencari cara untuk tidak menyakiti diri sendiri. Mungkin, waktu yang sudah terlewati selama ini cukup untuk membuatku sadar seperti apa rasanya berjuang sendirian.
Aku memilih untuk memulai kembali perjalanan.
Jakarta | 4 Februari 2017
Entahlah. Aku bahkan ragu bagaimana menemukanmu. Sementara aku sudah lupa cara jatuh cinta. Atau barangkali takut jatuh cinta. Ah tidak, aku takut terluka lagi. * Ahimza Azaleav.. Cinta yang Baru (2017) (at Turi Beach Nongsa Batam Indonesia)
Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita suka. Takdir bahkan basa-basi menyapa pun tidak. Kita tak dapat mengendalikannya, namun kita dapat mengendalikan diri sendiri untuk menyikapinya. Bersedia menerimanya atau mendustakannya. (Tere Liye – novel "Rindu": hal. 471) #djr #2017 #djuliaa #turibeachresortbatam #tereliye (at Pantai Turi Beach Resort, Batam)
Berbahagialah karena kau menaruh hatimu di tempat yang semestinya. Berbahagialah karena kau menjalankan semuanya sepenuh hati. Berbahagialah karena tidak semua orang bisa sepertimu... *FAHD PAHDEPIE #djuliaa #djr #2017 #panasonic #gathering #family #PGI #GDN #GOTRANS (at Turi Beach Resort, Nongsa Batam, Indonesia)
#nomatterhowhardistillcansmilewithallofmyheart #gathering #family #panasonic #2017 #djr #djuliaa #ann 💕💕 (at Turi Beach Resort)
_ Ada rasa yang harus kau hapuskan, lalu kau tinggalkan perlahan ... -karena dia memang tak pernah menyediakan hatinya untuk mu ...